Judul artikel ini terinspirasi dari komentar Imama yang ia tulis di artikel Mengasah Otak, Membunuh Hoax. Thanks before!

Kenapa dengan hoax? Ada apa dengan hoax?

Gue menulis artikel ini karena gemes banget dengan orang-orang yang masih ngeyel dengan berita hoax dari website atau blog yang mereka percayai. Padahal, website tersebut ya abal-abal.

Alasan kenapa hoax menjadi gampang tersebar adalah internet. Kenapa internet bikin artikel hoax makin merajalela? Ya, karena tanpa internet, berita hoax masih cukup sulit disebarkan. Dulu, mereka harus mendapatkan atensi dari koran kalau mau bikin berita hoax.

Masih inget kan, dulu sebelum jejaring sosial dan aplikasi chat menjadi populer, banyak sms dengan isi seperti ini "Hey, sebarkan ke 10 kontak kamu, kalau tidak pesan ini akan meledak. Boom!". Ya kalo kontak di hapenya cuman 5 udah pasti meledak gitu? Plis nggak logis dan nggak penting banget.

Itu tadi adalah cara kerja hoax sebelum kids zaman now terbiasa dengan internet. Hoax lebih mudah disebarkan menggunakan media komunikasi seperti jejaring sosial, chat group atau fake account.

Terus, kenapa sih ada aja penulis handal yang hobi membuat artikel hoax? Jawabannya sih gampang. Ya, ngomongin aja soal perut yang ujung-ujungnya tentang uang.

Mayoritas berita hoax saat ini terkait dengan politik. Itu adalah lahan basah dimana berita hoax sering muncul. Argumentasi politik lah yang membuat hoax laris manis melalui media. Mungkin saja, mereka digunakan oleh pihak tertentu untuk kepentingan politik loh. Uhuk... Saracen!

Cara kerja lain dari berita hoax untuk mendapatkan keuntungan adalah dengan membuat website atau blog yang menampilkan iklan. Mereka ingin sekali artikel hoax yang dibuat bisa menjadi viral dan dibagikan banyak orang.

"Ngapain sih capek-capek bikin blog atau website untuk viral buat ngehasilin berita hoax?"

Ya supaya makin banyak orang yang mengunjungi blog atau website tersebut. Pengunjung sama dengan traffic dan traffic tinggi akan mengasilkan uang. They wants your click, they wants you making money for them!
Jadi, gampangnya, berita hoax adalah mesin uang mereka. Kalo kamu terus-terusan ngeklik berita hoax, ngikutin akun hoax di media sosial, scroll lini masa mereka di Instagram ya terserah kamu aja sih. Gue udah ngasih tau kalo kalian itu sedang digunakan untuk memberikan mereka penghasilan. Ya kalo artikel informatif, lha ini, artikel hoax. Damn!


Ada link-nya? Duh gusti, ini yang bikin gue pengin hijrah ke Mars
Everywhere in internet. They wants your attention to click and open up their website or blog. That's really ugly place with massive traffic for ads.

"Loh, gue kan cuman klik dan scroll. Nggak ngerugikan gue dong."

Nah, ini mindset dan statement yang salah. Benar-benar salah. Kenapa salah? Gini, gue kasih tau.

Pada dasarnya, kita semua adalah media. Kita yang bisa menentukan media. Kita yang mempengaruhi artikel mereka. Ini disebut dengan public act making media. We're all the media.

Karena, blog atau website tersebut akan mencatat perilaku kamu ketika mengakses berita hoax. Seperti usia kamu, lokasi saat mengakses, jenis smartphone dan browser yang kamu pakai sampai dengan provider internet yang kamu pakai!

Artikel hoax selalu dibuat berdasarkan preferensi dan selera publik. Kalo publik nggak suka berita hoax, ngapain mereka bikin berita hoax? Bikin capek aja kan? Nggak menghasilkan traffic ke blog atau website mereka. Logikanya gitu aja.

Nggak ada algoritma rahasia dari industri media. Ya kalau publik suka, ya media bakalan bikin berita gitu terus sampai selamanya.

Kalo kita ingin menghentikan berita hoax, ya berhenti klik judul artikel yang kira-kira hoax. Terus berhenti juga membagikannya ke orang lain. Ya daripada nge-share berita hoax, mending share artikel informatif kan.

Menghindari artikel hoax

Berhenti nge-klik artikel hoax adalah syarat utama menghentikan hoax yang menyebar. Artikel hoax gampang kok lihatnya. Judulnya bombastis, nggak menjawab langsung apa yang mau diomongin. Dan bikin kita penasaran. Pokoknya judulnya udah nggak jelas.

Tips menghindari berita hoax dari Kaskus
Artikel hoax juga bisa dilihat dari siapa yang menyebarkannya. Kalo kamu di Twitter atau Facebook, lihat dulu profil yang nge-share. Asli apa bukan, bisa kelihatan. Kalo mayoritas yang dia share selalu artikel dengan 'nada' sejenis, besar kemungkinan dia adalah fake account yang memang digunakan untuk menyebarkan hoax.

Kalau kalian sudah terlanjur click dan mengunjungi blog atau website tersebut, STOP! Nggak perlu membagikannya ke orang lain. Cukup kalian tau kalo yang kalian klik tadi adalah hoax. Bagusnya lagi kalo kalian kasih tau, ini adalah berita hoax. Be a hero!

Jangan lupa untuk selalu banyakin membaca. Kalo kita udah baca ini itu dari media manapun dan sumber manapun, ya kita dengan gampangnya bisa ngebedain mana yang hoax dan mana yang nggak. Ok?

Everything we blog, everything we tweet, every we click, everything we share can shape the future of internet. If someone abused online, be a hero! Tell them and spread positive things. You're not a fish, don't like to be clickbaited by hoax.

Foto header artikel ini diambil dari post Irwan Khoiruddin di Brilio.net

Komentar 5

Sampaikan pendapatmu di sini:

  1. Stop hoax!
    Dan menyebarkannya.

    Miris itu kalau mendapati sesama teman mahasiswa yang melakukan hal ini. Mahasiswa loh, mahasiswa....yang katanya agent of change. Untuk selevel mahasiswa, harusnya sudah tidak jamannya berkutat pada hal2 yg triggering, apalagi yg mengandung info sensitif.

    Lucu dan miris+geleng2 kepala, waktu itu mengenai harpitnas (hari kejepit nasional). Biasalah, siapa sih yg gak ingin ada libur tiba2 di hari aktif?

    Nah ada yg share di grup, comot dari web, screenshot surat edaran dari kemnaker. Saya mah juga seneng, tapi rasanya kok aneh. Saya cek deh lgsg ke web nya. Nah, bahkan sampai di web nya itu ada konfirmasi mengenai hoax yg beredar viral bgt ttg hari libur itu. Akhirnya saya share ke grup itu, bahwa info dr temen sebelumnya salah, hoax.

    Yah yah, semoga kita selalu diberi mata+pemikiran+rasa tajam utk memilah info, amin :)

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah nggak pernah baca berita hoaks lagi. Akhir-akhir ini soalnya saya lagi baca novel. Wqwq. Sejauh ini, saya udah nggak pernah baca berita yang selalu pakai kata; "Wow", "Mengejutkan", "Astaga", dst.

    O iya, akun yang clickbait di Twitter itu lumayan menghilangkan penasaran. Biasanya, kan, ada tuh artikel-artikel yang berjudul saru. Padahal isinya ... gitu deh. Otak memang mudah sekali tergoda dengan yang mesum, pasti banyak yang refleks ngeklik. :(

    BalasHapus
  3. Mungkin mereka cuman mau meraup banyak keuntungan. Toh masyarakat indonesia suka banget berselancar di internnet. Kebanyakan dari mereka suka baca yang judulnya wow padahal isinya hoax. memamng sungguh memprihatikan negeri ini

    BalasHapus
  4. dan masih banyak temanku di FB yang menyebarkan berita hoax dari blog abal-abal. Ketika dikomentari dengan link gambar aslinya. Mereka cuma jawab, saya hanya membagikan.

    Kan kampret orang seperti itu hahahhaha

    BalasHapus
  5. Sekarang saya lebih milih2 kalau baca berita. Males banget kalau kejebak di berita hoax, udah jarang nonton tv, eh pas nyari berita di online gak taunya hoax, kan Bete. Sekarang bacanya di situs berita yang pasti2 aja.

    BalasHapus

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2017