Jung - Insight Jung: Insight - All Post
Tampilkan postingan dengan label Insight. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Insight. Tampilkan semua postingan
Photo by Karolina Grabowska

Saya menulis artikel ini bukan sebagai referensi investasi atau pun spekulasi harga untuk mengambil keuntungan berlebih. Menulis digital aset justru bagus dilakukan pada kondisi bear market seperti sekarang. Bear market adalah kondisi dimana harga aset sedang turun.
Catatan ini saya tulis setelah hampir 4 tahun (sejak 2018) mempelajari dan menggunakan aset digital ini yang akan menjadi landasan revolusi keuangan.

Bagaimana jika digaji menggunakan Bitcoin?

Mengapa revolusi keuangan? Karena sistem keuangan yang sekarang itu rusak. Uang yang ada sekarang adalah uang fiat, bukan uang jaminan dengan aset lain seperti emas.

Lantas, mengapa uang kertas sekarang tidak berlandaskan emas? Apakah uang kertas pernah berlandaskan emas? Jika pernah emas menjadi jaminan uang kertas, mengapa kemudian dilepaskan jaminannya?

Nah, untuk menjawab itu semua kita harus membahas banyak hal. Seperti sejarah uang, tentang uang sebagai penyimpan nilai (Store of Value), uang sebagai alat tukar (Medium of Exchange), dan uang sebagai satuan hitung (Unit of Account).

Uang fiat yang sekarang itu gagal untuk memenuhi syarat tersebut. Sehingga, pada prakteknya di kenyataan, uang fiat terus menerus mengalami pergeseran makna dan nilai, sehingga semakin menjauhi sifat dasar uang.

Mengapa bisa demikian? Jika pernah menonton Money Heist, akan jauh lebih mudah menjelaskannya. Apa yang terjadi di dalam serial Netflix tersebut adalah kenyataan, terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saya bukan membahas perampokan bank dan penculikan sandera-nya loh ya. Namun lebih kepada isi dari serial tersebut.

Print saja semua uang itu, seperti bank sentral via filmdaily.co

El Professor menunjukkan bahwa pemerintah dapat mencetak uang dengan mudah seperti apa yang mereka lakukan. Perbedaannya adalah, jika dilakukan oleh pemerintah, maka tindakan tersebut legal.

Namun, jika bukan dilakukan oleh lembaga yang memiliki otoritas seperti bank sentral, maka merupakan tindakan ilegal.

Sekilas tampak tidak ada yang salah jika bank sentral menginstruksikan perusahaan percetakan uang untuk mencetak uang. Tetapi, justru inilah sumber masalahnya.

Sejarah Uang

Uang menjadi sejarah panjang dan sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Setelah membaca beberapa buku seperti Bitcoin Standard karya Saifedean Ammous, saya banyak menemukan kenyataan bahwa hal-hal yang selama ini terlihat benar, ternyata salah. Sudah tidak sesuai dengan sifat-sifat uang.

The Bitcoin Standard: The Decentralized Alternative to Central Banking via crypto.news

Manusia memenuhi kebutuhan moneternya untuk pertama kali dengan sistem barter. Walaupun secara catatan sejarah sulit untuk membuktikan bahwa sistem barter adalah cikal bakal keuangan modern seperti saat ini.

Anggap saja jika pertama kali manusia melakukan barter, sistem ini sepertinya lumayan berjalan cukup baik jika dilakukan dalam komunitas kecil dalam kelompok. Bertambahnya jumlah manusia dan variasi kebutuhan yang berbeda menjadikan sistem barter adalah opsi yang semakin sulit dilakukan.

Sistem barter memiliki kesulitan untuk mencari manusia dengan kebutuhan yang pas dan sama. Jika saya hanya membutuhkan 1 kilogram daging sapi dan bersedia menukarkannya dengan 1 kursi, maka si pemilik sapi harus menyembelih sapinya terlebih dahulu untuk saya dan menunggu orang lain untuk menukarkan daging sisanya.

Tentu daging akan membusuk sebelum menemukan orang yang mau melakukan barter dengan barang yang sesuai. Apakah menukarkan 1 kursi dengan 1 sapi menjadi logis untuk si pemilik sapi? Belum tentu. Sulit.

Hal ini menyebabkan manusia semakin mencari cara untuk menganggap benda lain lebih berharga. Mulai dari batu-batuan kecil, kerikil, kerang, daun, tulang belulang binatang, gigi dan lain sebagainya. Namun, semua hal tersebut juga menimbulkan masalah karena kualitasnya yang tidak sama rata dan cara mendapatkannya mudah.

Ayo kumpulkan kerang sebagai alat tukar via Photo by Anthony from Pexels

Kemudian manusia pada era logam menemukan hal-hal seperti besi, perunggu, dan akhirnya emas yang dapat dibentuk menjadi pecahan-pecahan kecil. Inilah yang digunakan oleh manusia pada 3.000 tahun yang lalu.

Adanya emas sebenarnya sudah memecahkan masalah uang untuk kondisi saat itu walaupun belum sempurna. Karena jika menggunakan emas, kita masih kesulitan untuk menukarkannya hingga unit terkecil dan kemudahan membawanya kemana-mana tidak sederhana seperti uang kertas sekarang.

Gagasan untuk menggunakan emas justru dalam catatan sejarah dilakukan oleh dinasti Song di China. Mereka menyebutnya dengan jiaozi sebagai bukti kepemilikan emas dalam bentuk catatan kertas pada abad ke 10 Masehi. Kemudian sistem ini yang menghasilkan uang kertas dengan perbandingan 1:1 dengan emas yang disimpan.

Sejak saat itu, uang kertas adalah bukti kepemilikan emas dibaliknya sebagai jaminan. Jika kita memiliki 100.000, maka dibaliknya memiliki nilai emas yang sama dan dapat ditukarkan dengan emas fisiknya.

Hingga pada akhirnya adanya Perang Dunia Kedua dan Perjanjian Bretton Woods pada 1944, Amerika dengan dollar USD menggantikan emas sebagai patokan mata uang negara lain.

Gambaran sederhana dari Perjanjian Bretton Woods via bullionbypost.co.uk

Alasan ini dilakukan dengan aturan bahwa percetakan USD akan dijaminkan dengan emas pada kenyataannya. Masalahnya, perjanjian ini membuat negara lain tidak menggunakan emas sebagai jaminannya, melainkan USD dengan anggapan bahwa USD dijamin dengan emas.

Tentu, jika terjadi pergolakan ekonomi di Amerika akan berpengaruh terhadap kebijakan negara lain karena mereka menyimpan mata uang nasional dengan menjaminkannya pada USD.

Sampai pada akhirnya peristiwa Nixon Shock terjadi di tahun 1971 karena presiden Amerika saat itu, Richard Nixon melepaskan jaminan standar emas untuk dollar.

Alasannya adalah cadangan emas tidak dapat memenuhi jumlah transaksi lagi. Sedangkan percetakan uang selanjutnya diatur dengan kebijakan dari bank sentral atau The FED (Federal Reserve).

Tentu hal ini mengakibatkan gejolak ekonomi yang sangat besar untuk sistem keuangan global. Negara lain secara tidak langsung dapat mengalami kebangkrutan jika sistem kebijakan moneter yang dilakukan oleh The FED sangat agresif.

Mengapa? Karena negara-negara tersebut telah menyimpan cadangan mata uang mereka dalam bentuk dollar. Sejak saat itulah uang kertas yang kita kenal disebut dengan uang fiat, dalam bahasa Latin yang artinya ‘biarlah terjadi’.

Apakah Indonesia menggunakan sistem fiat dalam penerbitan uangnya? Jawaban yang mungkin kita semua inginkan adalah tidak, namun kenyataannya adalah iya. Indonesia mencetak uang tidak dengan jaminan aset, namun kepada kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral dengan memperhatikan situasi ekonomi negara.

Sebenarnya tujuannya mulia, namun penjelasannya tidak sederhana karena pencetakan uang fiat memiliki isu kepercayaan seperti yang dijelaskan oleh El Professor. Bagaimana kita percaya kepada kebijakan bank sentral jika pemangku kebijakan politik adalah orang yang korup.

Hasilnya bisa terjadi seperti krisis moneter 1998  di Indonesia karena sistem kebijakan bank sentral yang lemah. Bahkan fakta paling jelas adalah kebangkrutan karena krisis KPR di Amerika untuk pasar perumahan pada tahun 2008.

Apakah harus masih percaya kepada kebijakan bank sentral? Apakah tidak ada solusi moneter yang lain.

Mungkin jawaban singkat saya adalah, Bitcoin. Pada tahun 2018, saat saya sedikit mempelajari Bitcoin pada level harga $15.000 dan hanya melihatnya sebagai potensi kenaikan harga terhadap fiat. Sebelumnya saya hanya bermodal membaca artikel dan tulisan baik oleh penulis luar atau orang Indonesia, seperti Andrew Ryan Sinaga di Medium pada 2017.

Belum mengenal tujuan utama diciptakan Bitcoin oleh Satoshi Nakamoto. Belum banyak mengenal kerusakan yang diakibatkan oleh uang fiat. Namun, justru saya semakin mempelajarinya.

"The problem with fiat money is that it rewards the minority that can handle money, but fools the generation that has worked and saved money." - John Adam Smith, filsuf berkebangsaan Skotlandia yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern.
Menjadi Bitcoin Maximalist (menganggap aset terbaik hanyalah Bitcoin) bukanlah perjalanan yang singkat. Mulai dari melihat-lihat Bitcoin yang dulu pada tahun 2010 sampai 2012 belum begitu bernilai (ya sudah bernilai tapi masih diremehkan) karena sama seperti mainan software dalam game.

Lebih berharga sebuah arcana Dota 2 daripada menggunakan Bitcoin sebagai sebuah aset via Merah Putih

Perjalanan panjang yang melalui proses naik turun mencoba berbagai hal. Mulai dari hal-hal kecil dan beberapa yang harus dibayar mahal hanya untuk mempelajari Bitcoin.

Sama seperti perjalanan mata uang, ada yang harus ditukarkan untuk mencari mata uang ideal. Hingga pada akhirnya saya memiliki keyakinan bahwa Bitcoin adalah hard money, bukan easy money.

Secara aset saya juga menyatakan bahwa Bitcoin jauh lebih berharga daripada emas, sehingga ia dapat dianalogikan sebagai digital gold.

Bagaimana Bitcoin bekerja, mengapa ia dapat menggantikan emas sebagai penyimpan nilai, menentang sistem fiat yang rusak dan lain sebagainya, akan coba saya bahas di tulisan selanjutnya. See you!

Jangan percaya, tapi lakukan verifikasi. Selamat belajar.

***

Indeks artikel terkait Bitcoin:
- Catatan Tentang Bitcoin (Bagian 1: Uang) artikel yang saat ini Anda baca


Artikel ini dimulai dengan pertanyaan: Bagaimana memudahkan orang lain dalam mengerjakan hal-hal yang biasa ia lakukan? Sehingga bisa dipercepat atau membuatnya lebih efisien. Ya gimana lagi ya, wong semuanya mau serba cepat dan tepat.


Hwayoooo~

Contoh saja, jasa transportasi online. Padahal layanan ini memang sudah ada dari dulu dan kalau kita perhatikan lagi, ya memang banyak yang menggunakannya.

Tujuan saya menulis artikel ini adalah mencoba untuk membantu mereka yang mungkin pernah memiliki permasalahan yang sama dengan saya. Tetapi, artikel ini perlu divalidasi lebih dalam lagi karena pernyataan yang ada di dalam artikel ini hanya sekadar asumsi belaka. Masih belum bisa dijadikan dasar sebagai acuan literasi atau sebuah anjuran woro-woro.

Singkat cerita, di tahun 2016 saya masuk ke tahap akhir perkuliahan dan bergelut dengan skripsi. Begitu pula dengan kawan angkatan yang lain. Di jurusan yang berbeda. Di kampus yang berbeda.

Rutinitas yang hampir saya lakukan setiap bulan adalah konsultasi mengenai skripsi dengan dosen pembimbing. Setiap konsultasi, saya harus membawa beberapa paper internasional, jurnal penelitian dan draft proposal yang sudah saya susun sebagai bahan diskusi. Wis padakke mahasiswa biasane wae ~

Namanya juga mahasiswa, ngeprint ya mepet-mepet deadline. Sungguh, bottleneck selalu terjadi di tempat fotokopian mas-mas sekitar kampus.

Kenapa bisa begitu?

Ternyata selain kakak-kakak tingkat yang ndableg kuliah, adek-adek gemes pun ikut mengantri untuk sekadar ngeprint dan membuat suasana menjadi sumringah berjubel-jubel di sana. Saling bergantian colokin flashdisk di komputer printing. Ya, bikin repot.

Ruamene poool! - printfotocopybali.blogspot.com


Hingga seorang mahasiswi nyeletuk bahwa file yang akan ia print ketinggalan. Pupus sudah harapan ngeprint tepat waktu. Saya melihat ini sebagai sebuah permasalahan. Ribet. Ruwet. Semrawut.

Misal saja, satu jurusan di kampus memiliki printing activity sebanyak 50 kali selama satu hari, ada berapa total dari satu fakultas? Bahkan untuk satu kampus? Satu kampus provinsi? Ini perumpamaan yang minimalis banget loh. Tanpa add-on.

Spoiler Alert:
Artikel ini benar-benar oversimplified karena saya hanya berasumsi dan sebisa mungkin memaparkannya agar mudah dipahami. Bagi kalian yang mungkin pernah terjun secara real time atau real good, silakan mengemukakan argumen di kolom komentar yang sudah disediakan. Ingat, ojo gelut! Terimakasih.

Kesimpulannya, ada beberapa poin penting (bisa lebih sih) dari masalah ini. Masalah yang bisa jadi sebuah ide bisnis. Printing solution. Mari kita jabarkan sodara-sodara.

1. Permasalahan

Dalam menulis skripsi, saya belajar untuk merumuskan masalah dan memasukkannya di dalam BAB 1. Andaikan sebuah bisnis, maka saya harus menemukan masalahnya terlebih dahulu, baru kemudian mencari solusi yang paling praktis dan efektif.

Coba kita jabarkan permasalahan yang mungkin terjadi dalam hal traditional/konvensional printing activity:

  • tempat fotokopian/printing penuh, sesak, tidak ada lahan parkir dan tidak ada database informasi akan hal ini
  • tidak ada listing harga printing di lokasi sekitar kita. Sebentar, dimana ya fotokopian yang bisa cetak ukuran A1 sih?
  • flashdisk/data rawan hilang dan corrupt, sebaiknya menggunakan email. Tapi....

Saya pernah berfikir untuk mengirimkan email ke mas-mas fotokopian untuk ngeprint skripsi saya. Tapi, ada hal sepele. Mas-mas fotokopian enggak se-woles itu untuk ngebalesin 50 printing activity setiap harinya dan sangat kecil kemungkinannya mereka memberikan notifikasi ke pengguna bahwa order mereka telah selesai. See?

Mulai dari sini, saya sadar bahwa printing ini adalah hal sepele tapi memang benar-benar bermasalah. Oke, akan saya jabarkan diakhir artikel bahwa bisnis ini tidak terbatas pada market kampus dan mahasiswa saja. Hehehe... sebuah trik supaya artikelmu dibaca sampai habis.

Lanjut ngomongin printing solution, ada kriteria tertentu agar sebuah bisnis bisa sustainable dan menjadi sebuah startup.

  1. Market Size, banyak orang yang akan menggunakan printing solution ini. Tapi, target market kampus yang utama, kita kerucutkan di sana terlebih dahulu.
  2. Scalability, ini penting untuk bisa scale up. Usaha ini akan sustainable nggak sih nantinya? Ojo mung bondo nekat!

Asumsi saya, bisnis ini sama seperti kos-kosan. Selama kampus masih berdiri, masih ada market utama. Selama kertas dan produk printing masih dibutuhkan dalam dunia literasi dan administrasi, maka layanan ini masih jadi solusi.

Pun sama seperti jasa ojek online. Sebelum ada layanan printing online pun telah ada puluhan bisnis printing di sekitar kampus. Kalau ditotal satu provinsi di Jawa Tengah sudah ratusan (?). Tapi apakah bisnis ini nantinya akan mengeliminasi bisnis konvensional yang sudah ada tersebut? Saya rasa tidak.

Ide bisnis ini memiliki visi untuk membuat proses printilan printing menjadi lebih mudah untuk semua orang. Bahkan bagi pelaku bisnis printing sekalipun. Sehingga, kuncinya adalah tantangan scalability. Itu menurut saya.

2. Metodologi - How to start?

Setelah kita tahu permasalahan yang terjadi, saatnya membuat rincian lebih detail bagaimana memecahkan tantangan yang ada.

Market Size

Apakah pasar yang ada cukup besar?
Apakah akan bertahan lama?
Apakah perlu dilakukan kalkulasi sehingga mendapatkan angka yang mendekati kondisi nyata di lapangan?

Karena bisnis ini akan berkembang sangat cepat, perlu dilakukan riset yang lebih matang. Kemudian, bagaimana strategi ekspansi pasar yang kita gunakan di awal? Secara vertikal atau horizontal?

Mungkin secara vertikal, kita bisa melakukan penetrasi pengguna printing dengan sasaran mahasiswa kampus dan konsentrasi di Pulau Jawa terlebih dahulu.

Mungkin juga menggunakan pendekatan horizontal dengan melahirkan lini produk tidak hanya printing, tapi juga ke percetakan dan pernak-pernik seperti banner, vendel, map, poster, mug dan lain sebagainya.

Contoh kalkulasi kasar dari saya:
Dari sebuah kampus kita ambil rata-rata ada minimal 10 tempat printing dengan masing-masing minimal 50 printing activity per hari. Setiap printing activity minimal senilai dengan 10 lembar kertas. Anggap saja hanya print hitam putih seharga 200 rupiah per lembar. Maka, potensi market layanan ini:

(10 x 50 x 10 x 200)/2 adalah Rp. 500.000, ini secara kasar untuk sebuah kampus dalam hitungan hari. Kenapa dibagi dua, biar lebih murah saja sih. Hehehehe....

Ya kalo layanan ini lebih mahal atau sepadan dengan harga yang sekarang ya kurang menarik. Toh, kalau layanannya lebih mudah dan murah, pengguna tentu bisa memilih yang mana.

Kalau dihitung perbulan untuk satu kampus dengan hitungan di atas, sebagai early stage bussiness sudah bisa jalan 15jt-an. Pendapatan kotor loh ya.

Challenge

Tantangannya adalah bagaimana menemukan mereka yang mau membayar untuk layanan ini.

Ya soalnya kalau mahasiswa sih maunya hemat, daripada keluar banyak mending ke tempat print sendiri. Eittsss... itu asumsi, apa betul begitu?

Apalagi kalo hujan deres begini - ahmadshofwan.wordpress.com


Bagaimana cara mengetahuinya? Testing!
Caranya?

Awalnya memang butuh effort lebih sih.
Perlu sumber daya yang cukup sebelum progress pembuatan aplikasi.

Keuntungannya? Biaya lebih rendah dan kita bisa tahu ketika testing dengan kondisi real di lapangan.

Caranya, buat saja call center/email center yang nantinya dipakai sebagai pusat data. Ingat, pakai excel untuk mencatat transaksi yang ada. Hal ini bertujuan agar semuanya bisa di-tracking dengan benar.

Pengguna menghubungi server database dan mengirim dokumen yang akan masuk ke mitra printing. Sebelumnya, kita memerlukan mitra printing yang bisa diajak bekerjasama. Bisa diambil sampel 2-3 tempat. Usahakan dekat dengan server/call center kita.

Setelah pengguna mengirimkan file artinya melakukan order, kita mengantarkan file ke mitra printing, setelah selesai, berikan opsi. Apakah hasil printing perlu dikirimkan ke pengguna, atau pengguna mengambil sendiri ke mitra printing.

Tentu di sini ada peluang kolaborasi dengan layanan jasa antar, bukan? Kalau pengguna masih 'males' mengambil sendiri, ada opsi send by jasa kurir online dikemudian hari.

Biaya dan cara yang digunakan relatif simpel daripada langsung melakukan uji coba dengan melempar aplikasi ke pengguna. Di tahap ini, perlu juga dilakukan kalkulasi biaya terkait bagaimana operasional layanan bisa tercukupi. Terlihat simpel. Saya belum melakukan uji coba sampai tahap ini.

Distribusi Layanan

Ketika kita sudah menemukan pasar dan formula pricing yang pas, selanjutnya bagaimana layanan ini bisa digunakan. Bagaimana cara kita melempar layanan ini ke early adopters sungguh krusial.

Sebaiknya fokus ke pasar yang lebih kecil dahulu. Jika targetnya mahasiswa, maka lebih spesifik lagi, kita bisa melemparnya ke organisasi. Contohnya adalah BEM, Badan Eksekutif Mahasiswa.

Kita perlu feedback dari mereka. Seandainya berhasil, kita sudah punya orang-orang yang menjadi early adopter di kampus. Lebih valid.

Saran saya kepada founder, berikan layanan trial/promosi kepada mereka. Itu menjadi salah satu daya tarik agar tercipta mindset 'apa salahnya sih mencoba'.

Jika sudah berjalan selama satu bulan. Bisa dilanjutkan dengan 10 lembar printing gratis dengan milestone printing 50 lembar. Hal ini akan memicu pengguna untuk melakukan retensi terhadap layanan.

Penting untuk menghindari iklan ditahap awal. Apalagi ketika market, ekosistem dan kompetisi belum tercipta. Jangan sampai ujung-ujungnya kok kayak cuman bakar duit aja. Hehehehe...

3. Iteration

Langkah selanjutnya boleh diasumsikan bahwa layanan ini telah berjalan 3 bulan dimulai dengan versi aplikasi paling sederhana. Tentu saja selain menangani bug, pekerjaan menjadi semakin banyak karena muncul berbagai permasalahan baru. Diantaranya yang mungkin terjadi:
- mitra printing tidak bisa menghandle order yang terlalu banyak
- pengguna tidak puas terhadap hasil printing karena kualitas print yang berbeda di setiap mitra

Wajar terjadi karena tidak ada SOP dan standarisasi layanan. Mengapa layanan transportasi online bisa sustain? Karena memiliki standar, skema pricing dan alur yang jelas. Demikian dengan layanan printing ini.

Sebenarnya simpel. Hanya selembar kertas printing. Tapi, hasil printing pun akan berbeda-beda. Bahkan mitra printing memberikan layanan yang berbeda pula. Apalagi ketika peak day atau peak hours di masa Ujian Tengah Semester misalnya. Di sini, konsistensi layanan kita akan diuji. Lalu, apa usulan solusinya?

Ekspansi selanjutnya memerlukan teknologi dan modal. Kenapa saya katakan demikian? Karena sudah seharusnya IoT (Internet of Things) diimplementasikan. Apakah mungkin dengan perangkat Arduino atau Raspberry Phi yang bekerja pada sebuah printer yang terhubung ke internet dapat secara otomatis melakukan layanan printing?

Jika memungkinkan, maka mitra printing tidak perlu lagi menyediakan printer. Layanan kita yang justru menyediakan printer yang terintegrasi dengan app melalui minikomputer. Sehingga, mitra printing hanya perlu mengawasi, maintain dan menyerahkan hasil printing kepada pengguna ketika mereka mengambilnya.

Akhirnya tempat mas-mas ngeprint bukan jadi arena pertarungan barbar antrian lagi - pelangifotocopy.blogspot.com


Permasalahan mitra printing tidak bisa meng-handle order pun teratasi oleh server yang menggunakan algoritma mirip seperti layanan transportasi online untuk menentukan mitra mana yang paling dekat dan memiliki queque paling sedikit untuk pengguna.

Kualitas hasil printing juga terus dijaga karena menggunakan standar layanan, bukan lagi bergantung pada aset milik mitra printing. Pernah dengar eFishery? Coba cari tahu lagi. Layanan ini juga bisa mirip-mirip ke sana.

Oh iya, di awal artikel saya menyatakan bahwa layanan ini tidak terbatas pada printing saja. Tepat sekali. Saya pernah menemui sebuah case, seseorang pebisnis yang sedang dalam perjalanan bisnis. Ia ingin melakukan presentasi dan memerlukan print. Selain print biasa, ia juga memerlukan poster dan banner.

Ia bertanya pada staff hotel apakah di hotel tersebut terdapat printer. Atau bahkan digital printing terdekat dari hotel tempat ia menginap. Apabila ia harus mencari, ia tidak kenal tempat tersebut. Tentu buang-buang waktu saja.

Akan lebih baik apabila ada sebuah layanan yang mengakomodir hal itu disetiap kota. Mudah bukan?

Case lain adalah pengalaman pribadi saya disebuah site project di Kalimantan. Tentu jauh sekali apabila harus menuju ke kota terdekat untuk menemukan digital printing. Sehingga, digital printing melalui sebuah aplikasi akan jauh lebih mudah daripada pergi sejauh 60 km hanya untuk mencetak sebuah banner ukuran 1x5 meter saja.

Oh iya, saya lupa. Layanan sejenis yang hampir mirip dengan hal ini sebenarnya sudah ada. Contohnya Printerous, Prinzio, atau Gogoprint. Tapi, saya belum menemukan layanan printing masif yang tersedia di setiap kota sebagai franchise layanan printing.
Mungkin ada alasan tersendiri akan hal ini dan saya belum menemukan jawabannya. Saya akan mencoba update artikel ini jika ada hal baru yang saya temukan. Okay.

Na, sudah kepikiran? Atau punya pemikiran lain setelah membaca uraian saya di atas? Silakan share di kolom komentar ya.

Demikian artikel singkat dari saya. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Have a nice day!


Para pemilik website dan orang-orang yang berkecimpung di dunia blogger tentunya sudah tak asing lagi dengan SEO atau Search Engine Optimization. Sekedar pengetahuan untuk kamu yang belum tahu, SEO ini memiliki 2 tipe yang biasa dipakai untuk optimasi website atau pun blog yakni SEO onpage dan SEO offpage.

Meski memiliki 2 tipe, tapi tujuan dari SEO tetap sama, seperti yang dilakukan IDwebhost yakni menaikkan traffic dan ranking laman atau website di search engine. Setiap orang yang memiliki website tentu ingin websitenya muncul di halaman pertama bukan? Dengan meningkatnya ranking website di mesin pencari akan membuat brand awareness dan traffic website meningkat.

Kemudian hal itu akan membuat website anda secara langsung bisa menghasilkan unlimited money untuk kamu. Entah itu website jualan, atau hanya website blog yang mengandalkan ads atau iklan.

Kali ini kita tidak akan membahas secara utuh mengenai 2 tipe tersebut. Hanya salah satu tipe yang akan kita bahas yakni SEO offpage. Apa sebenarnya SEO Offpage dan bagaimana cara-cara serta perkembangannya? Berikut pembahasannya:

SEO-Offpage-01


Apa itu SEO Offpage?

Dalam ruang lingkup SEO, offpage ini lebih mengacu pada hal-hal yang tidak berhubungan dengan website anda secara langsung. Kalau Onpage itu lebih secara langsung berhubungan dengan website anda seperti misalnya link internal, konten dan kata kunci, offpage lebih kepada back linking atau link building.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tujuan dari pemakaian SEO ini tak cukup dengan peduli pada website dan brand saja. Kamu juga harus meningkatkan reputasi di mata para calon pelanggan agar mereka semakin ingin mengunjungi dan mengenal lebih jauh tentang website dan bisnis yang sedang kamu bangun dengan website tersebut.

Apa yang membuat SEO Offpage menjadi penting?

Ketika seseorang sedang mencari info tentang brand, biasanya orang tersebut punya pendapat tersendiri atas produk tersebut. Entah dari review, komentar kolega mereka, atau kenalan di dunia maya. Nah, Offpage SEO ini pada dasarnya sama dengan logika itu. Pada tipe SEO yang ini, mereka akan memberi tahu search engine seperti google mengenai pendapat para pengunjung tentang websitemu.

Kemudian pendapat tersebut bisa membuat websitemu meningkat visibilitasnya dan mendapatkan peringkat yang baik di mesin pencari. Teknik ini juga bisa membuat para pengunjung websitemu menyebut brand milikmu dan kemudian menautkannya di konten yang ada di dalam websitemu.

SEO-Offpage-03


Banyak orang yang berpikir bahwa Offpage SEO ini hanya soal link building. Padahal pada kenyataannya ada banyak cara untuk optimasi penggunaan SEO Offpage.


Metode Jadul Offpage SEO

Berikut ini beberapa metode jadul yang dipakai pada Offpage SEO.

Promo Di Forum-Forum

Metode ini adalah salah satu metode yang paling jadul untuk offpage SEO. Metode ini sebenarnya tidak merugikan, tapi metode ini menurut banyak pihak memakan waktu banyak. Dalam metode ini kamu akan diminta untuk menyebutkan brand milikmu di forum-forum yang sesuai dengan brand milikmu. Menurut banyak pihak, dari pada menghabiskan waktu untuk melakukan itu, kamu disarankan melakukan hal yang lebih penting untuk websitemu seperti misalnya menaikkan kualitas dan kuantitas konten.

Memastikan Website Ada Dalam Mesin Pencari

Cara ini sangat umum dilakukan dulu. Kamu harus memastikan apakah websitemu muncul dalam pencarian Google atau mesin pencari yang lain. Tapi dengan perkembangan algoritma yang makin rumit, cara ini bagi sebagian pihak yang sering menggunakannya merasa bahwa cara ini tidak memberikan hasil yang signifikan lagi.

Buat Konten Untuk Direktori Artikel

SEO-Offpage-04


Menulis atau membuat sebuah konten untuk direktori artikel juga jadi cara jadul yang biasa dilakukan. Tapi pada kenyataannya cara ini juga tidak maksimal. Banyak orang yang tidak membaca website direktori ini. Biasanya karena artikel yang tidak berkualitas, atau tidak relevan. Cara ini tetap bisa kamu pakai dengan catatan artikel yang kamu buat adalah artikel berkualitas dan relevan. Bahkan semenjak Google Panda muncul, website direktori adalah website yang trafiknya menurun drastis.

Mengikuti Reddit dan Sosmed Sejenis

Dulu mengikuti Reddit atau StumbleUpon dan sosmed sejenis bisa memberikan efek yang cukup bagus untuk website anda. Tapi dengan catatan apa yang anda share disana menjadi viral. Tapi kesempatan itu sangat kecil. Pertama untuk menjadi viral itu masih terlalu sulit untuk menemukan formulanya, dan yang kedua, di website semacam ini pembaruannya sangat cepat. Sehingga ketika kamu posting sesuatu, dalam waktu beberapa jam postingan itu bisa hilang.

Metode Offpage SEO Kekinian

Zaman sudah berubah. Metode jadul kini sudah jarang dipakai. Berikut ini beberapa metode offpage Seo kekinian yang bisa kamu coba.

Link Building

Metode yang satu adalah salah satu metode paling populer dan efektif sekarang ini dalam ruang lingkup tipe offpage SEO. Dalam metode ini kamu pada dasarnya berusaha mengumpulkan votes sebanyak-banyaknya ketika memberikan link eksternal untuk kontenmu. Sehingga hal tersebut bisa menaikkan peringkat website dan mengungguli kompetitormu. Sama halnya seperti konten, kamu harus memastikan mendapatkan backlink yang punya kualitas bagus. Akan jadi sia-sia jika kamu mendapatkan backlink banyak tapi kualitasnya buruk. Ada banyak hal yang menentukan sebuah link itu berkualitas atau tidak. Pertama adalah konteks yang relevan dengan kontenmu, backlinks yang populer, dan link natural yang bukan berbentuk seperti javascript. Nah, untuk yang terakhir ini, kamu pasti bertanya, bagaimana cara mendapatkannya?

SEO-Offpage-02


Sekedar pengetahuan, link yang natural atau natural link ini adalah link yang paling disukai mesin pencari. Natural ini artinya websitemu disukai oleh pemilik website yang lain dan kemudian mereka memberikan link ke websitemu karena isi konten yang sesuai dengan website yang kamu punya.
Untuk bisa mendapatkan natural link ini cukup sulit. Salah satu cara terbaik adalah mengupload konten dengan kualitas yang bagus dan layak untuk dijadikan backlink website orang lain. Jangan hanya mementingkan kuantitas konten terus-terusan. Kamu juga harus memperhatikan kualitas kontenmu.

Selain itu ada cara lain yang bisa kamu pakai untuk membangun link yakni dengan memposting di blog lain. Tapi untuk cara yang satu ini jangan terlalu sering dilakukan karena aturan pemakaian backlink ini selalu berubah.

Pergunakan Social Media Sebaik Mungkin

SEO-Offpage-05


Tadi di atas sempat disebutkan bahwa menggunakan Reddit adalah salah satu cara kuno. Iya. Itu merupakan salah satu cara kuno yang tidak bisa kamu pakai di Indonesia. Kenapa? Selain alasan yang disebutkan di atas, Reddit itu diblokir di Indonesia penggunaannya. Selain itu bisa dipastikan Reddit bukan sosmed yang sering dipakai orang Indonesia. Tapi jika kamu menggunakan sosmed yang lain pada metode SEO Offpage ini, seperti misalnya menggunakan Facebook, Instagram, dan Twitter, maka itu bisa jadi salah satu metode yang bagus untuk meningkatkan traffic websitemu. Memang biasanya link yang ada di sosmed tersebut adalah no-follow links, tapi link tersebut tetap berharga. Dengan mempromosikan websitemu di sosial media seperti Facebook dan Instagram, akan membuat traffic websitemu naik signifikan.

SEO Lokal

SEO lokal atau Local SEO ini juga menjadi salah satu cara kekinian SEO Offpage yang bisa kamu pakai. Seperti yang kamu tahu, sekarang ini pengguna smartphone semakin meningkat. Selain itu koneksi internet juga semakin baik dan tersebar rata dan semakin luas. Metode ini bisa menjadi salah satu metode yang cukup efektif untuk optimasi websitemu. Local SEO ini lebih berfokus memberikan hasil pada pencarian yang berkaitan dengan lokasi penggunanya saat itu.

Jika kamu ingin menggunakan Local SEO, kamu bisa memakai Google Places for Business Page dan melengkapi semua infor yang dibutuhkan. Kemudian tinggal menyinkronkan dengan akun Google+ milikmu. Google akhir-akhir ini baru saja mengeluarkan data yang menyatakan bahwa 87% orang memakai HP mereka ketika dalam perjalanan dan 95% mencari informasi lokal melalui HP mereka.

Baca Juga: Cara Redirect Website dan Apa Manfaatnya

Itu tadi sedikit penjelasan tentang apa itu SEO Offpage, metode jadul dan metode kekiniannya dan kenapa Offpage SEO ini penting. Sekarang pilihan tinggal ada pada dirimu sendiri-sendiri. Mana yang menurutmu paling cocok untuk kamu pakai di websitemu. Atau, kamu bisa mencoba semuanya dan melihat hasilnya lalu memformulasikannya sendiri.


Agak selo dan memang kurang kerjaan, tadi malam saya mencoba mencari-cari tahu tentang statistik jahanam yang bernama Domain Authority. Walaupun saya sendiri agak kurang sreg dengan model metrik berbasis angka dengan dasar dari link building.

Selain njlimet, saya agak bingung dengan faktor DA ini. Sudah susah cari tau faktor naiknya Domain Authority, job placement mensyaratkan DA pula. Kalo nggak cepat-cepat naik, bisa jadi blog ini nggak kebagian jatah monetisasi alias konten berbayar dong? Hehehe...

Baca juga: Memperbaiki Page View Blog dengan Optimasi CTR

Utik-utik sana sini, saya mencoba beberapa alamat blog dan saya masukkan secara random ke Open Site Explorer (OSE) milik Moz. Ya, dimana lagi nyari tau nilai DA blog kita selain dari Moz. Lha wong DA kan bikinan Rand Fish dan koleganya.

Oh iya, nggak usah nanyain tentang Page Authority juga. Toh metrik yang dipake juga sama. Mirip-mirip lah ya. Satunya adalah domain, satunya page individual.

Ada 6 blog yang saya coba lihat. Saya namain saja lah pakai urutan abjad. Hasilnya bisa dilihat di bawah.

Ada 6 blog yang ditaburi dengan background rainbow. Yummy!
Urutannya dari kiri ke kanan. Kiri punya nilai DA paling kecil dan semakin ke kanan semakin besar. Warna hijau menunjukkan nilai yang 'lebih tinggi'. Sedangkan warna merah menunjukkan nilai yang 'paling kecil'.

Baca juga: Seberapa Cepat Loading Blog Milikmu?

Dari tabel yang bisa bikin edan di atas, kita lihat kalo blog F punya DA paling tinggi dan metrik pendukung DA berwarna hijau semua. Mutlak. Cakep!

Tapi, di sini saya ingin mencari metrik apa yang paling penting. Iya sih, kita bisa ngelakuin semua metrik di atas. Tapi buat apa? Toh dari data tersebut terdapat anomali.

Lha kalo semuanya linear, kenapa metrik blog A nggak berwarna merah semua? Dari 6 blog tadi, blog A punya Domain Authority paling rendah. Harusnya dia punya metrik yang paling jelek dong. Tapi ternyata nggak. Terus gimana dong?

Data tersebut saya ekstrak. Blog F saya hapus karena metriknya terlampau tinggi. Kemudian blog C juga saya hapus karena buat apa nilai tengah? Saya hanya memerlukan nilai paling tinggi dan paling rendah untuk menentukan linear apa tidak. Tolong dikoreksi seandainya saya salah.

Baca juga: Seberapa Pentingkah Asumsi Data?

Selanjutnya, data anomali juga saya hapus. Karena jika blog dengan DA paling rendah ternyata memiliki nilai metrik yang lebih tinggi, saya asumsikan bukan metrik yang penting. Seandainya itu adalah metrik penting, maka nilai DA nya juga ikut tinggi. Betul tidak?

Sudah diseleksi. Dikurangi. Hingga akhirnya pusing sendiri.

Nah, hasilnya begini. Rainbow table yang nyatanya bukan rainbow cake jadi ya jelas, nggak bisa digigit.


Nah, dari statistik njlimet di atas, ada 6 metrik yang kira-kira bisa naikin nilai DA. Kalo nggak percaya, coba bantu saya membuktikan.

Eitss.. ini bukan berarti kalau cara ini berhasil 100% yak. Kan sudah dari awal saya bilang, statistik angka DA ini bikin mumet. Serius.

Baca juga: Yuk Belajar Serba-serbi SEO

Saya nggak begitu respek terhadap metrik DA ini. Buat apa sih? Monetisasi. Mungkin kalo untuk monetisasi, angka DA bisa dipakai petunjuk paling mudah karena value sebuah blog bisa terukur.

Ada kok blog dengan nilai DA tinggi tapi isinya kosong. Berarti, metrik DA ini nggak valid dong?

Biasanya, campaign yang biasa mensyaratkan DA seringkali meminta backlink untuk situs tertentu. Sedangkan syaratnya dengan DA di atas 15, misalkan. Yang kita tahu kalo 15 itu adalah angka authority. Sistem DA Moz ini mirip Page rank juga sih. Membanding-bandingkan sesuatu yang berasal dari nilai DA situs/blog lain.

Jadi mereka (brand) ingin DA situs mereka naik dengan sumber backlink dari blog/situs dengan DA yang baik pula. Persetan dengan kontennya mau kayak gimana.

Baca juga: Gimana Sih Cara Menulis Blog Tanpa Keyword?

Lucu sih ini, jual beli backlink. Ya kalian bisa simpulkan sendiri lah. Tapi kalo kalian mau coba, silakan. Hehehe...



Siapa sih yang nggak kenal game kayak Super Mario dan Tetris. Game yang menjadi legenda dengan gameplay sederhana tersebut masuk ke Indonesia pada tahun 90-an. Dulu, game di Indonesia ya cuman gitu-gitu aja. Soalnya, industri game tanah air masih berperan sebagai distributor aja. Kemudian pada penghujung 90-an, Nintendo bersama PlayStation yang masuk pada tahun 1997 mengubah pasar game di Indonesia.

Nah, mulai tahun 2000-an ketika internet sudah digunakan untuk mendukung platform online gaming, pelaku industri game di Indonesia nggak cuman sebagai distributor saja, tapi menjadi publisher. Beberapa game dengan story line yang memorable seperti Ragnarok Online (2002-2003), Seal dan GunBound masuk ke tanah air dan menjadi kian populer. Main game di warnet selama berjam-jam dengan pilihan paket pun menjadi primadona. Duh, jadi teringat masa-masa ABG labil nih :p.

Ngomongin game memang nggak bisa lepas dari masa kecil kita. Buat kamu yang lahir di tahun 90-an, pasti nggak asing dengan judul game seperti Final Fantasy, Warcraft, DotA dan beberapa yang saya sebutin di atas (Ragnarok, Seal dan GunBond). Asal kamu tau aja, jajaran game tersebut adalah game dari luar negeri loh. Terus, pernah kepikiran nggak sih, gimana kabar industri game dari dalam negeri sendiri?

Whoops! Sebenarnya Indonesia punya banyak sekali developer game lokal kok. Seperti Own Games, Agate Studio, Alegrium, Matahari Studios dan masih banyak lagi. Tapi, dua yang saya sebutkan diawal, yakni Own Games dan Agate itu developer yang baru-baru aja muncul. Ya, sekitar tahun 2010-an ke atas lah. Alegrium saja awalnya bukan sebagai game studio, tapi digital agency yang dibentuk pada tahun 2010. Justru, developer game lokal pertama yang ada di Indonesia adalah Matahari Studios yang memulainya di tahun 1998. Sayangnya Matahari Studios sudah tutup pada tahun 2010 yang lalu. So sad :(

Fyi aja sih, pada tahun 2013 ada sekitar 24 juta pengguna game online di Indonesia. Termasuk yang bermain melalui konsol atau melalui perangkat mobile. Sedangkan prediksi total gamers di Indonesia adalah 40 juta pengguna dan saat ini ada lebih dari 400 developer game lokal yang menghasilkan lebih dari 1000 game.

Nah, salah satu dari developer game lokal tersebut adalah Guklabs. Saya baru tahu kalau Guklabs akan ngerilis game dengan genre action adventure. Buat lo yang belum tau genre action adventure kayak gimana, game kayak Tomb Raider, Assassin Creed atau The Resident Evil bisa jadi contohnya. Seperti itu deh yang namanya genre dari action adventure.

Assassin's Creed Revelations


Game dari Guklabs yang berjudul WISGR ini sungguh menarik. Beberapa portal berita seperti JawaPos, Kumparan, dan GameSpot menyatakan bahwa Guklabs merancang WISGR untuk dapat bersaing pada skala internasional. Well, I can’t wait how they prove their words :D

WISGR sendiri memilih genre action adventures dengan mengutamakan game story yang original. Background story yang menarik ini akan di-handle oleh orang-orang yang berpengalaman di bidangnya dengan ditambah bumbu-bumbu twist story yang menarik. Kalo udah ngomongin twist story, bisa jadi akan banyak ‘kejutan jalan cerita’ di dalamnya. Kok saya jadi membayangkan ujung cerita yang berbeda-beda untuk setiap pengguna ya? How about you?

Tapi sayangnya, Guklabs belum mau membuka lebih jauh tentang seluk-beluk game ini, baik melalui laman Facebook Guklabs maupun akun @guklabs di Instagram. Hingga saat ini belum ada tanggal pasti kapan WISGR akan rilis. Rumornya, demo dari WISGR bisa kita dapatkan di awal tahun 2018 mendatang. Berarti tinggal hitungan beberapa minggu lagi dong ya!

WISGR


Pasar industri game kita mungkin nggak stabil seperti Jepang, Korsel maupun AS yang lebih dulu melangkah. Tapi, nyatanya kita juga nggak tinggal diam kok. Lihat saja komunitas-komunitas game yang tumbuh, developer lokal yang semakin banyak hingga berbagai event gaming yang digelar. Membuktikan bahwa tanah air kita begitu antusias untuk mengembangkan industri game lokal dengan melahirkan ide-ide kreatif.

Come and play the game!
Artikel ini disponsori oleh PouchNation, startup yang bergerak dibidang event management solution.


Kalo kamu belum tau apa itu NFC artikel ini pas banget loh buat dibaca. Soalnya, kita akan ngebahas apa itu NFC beserta aplikasinya. Singkatnya, NFC atau Near Field Communication adalah teknologi konektivitas yang memungkinkan pertukaran data tanpa menggunakan kabel dalam jarak dekat. Fitur NFC ini menggunakan RFID atau Radio Frequency Identification. Sederhananya, NFC bisa dianggap bluetooth jarak dekat namun proses autentifikasi atau pengenalan antar device berlangsung sangat cepat. Nggak heran kalau teknologi tap to pay ya memakai NFC ini kan.

Banyak sekali manfaat yang bisa kita kembangkan menggunakan NFC. Selain untuk pertukaran file seperti gambar, audio dan video, teknologi ini memungkinkan menjadi penghubung antar perangkat elektronik yang memiliki fitur NFC juga. Perangkat lain bisa mengenali NFC dari perangkat lain pula.

Is That NFC The Next Big Opportunity?

Coba kita pahami dulu, apa yang membuat NFC menjadi primadona dan bisa diaplikasikan dimana saja. Intinya, teknologi ini memungkinkan untuk diaplikasikan pada aktivitas kita yang membutuhkan pertukaran data atau transaksi. Wajar kalau fitur NFC ini memberikan kita kesempatan besar untuk diaplikasikan di ranah apapun.

Hal yang paling bisa kita lihat jelas adalah penggunaan NFC sebagai wearable device untuk sebuah event atau festival. Sebelum NFC, kita masih menggunakan cara konvensional untuk memastikan pengunjung yang masuk ke event adalah mereka yang sudah registrasi dengan menunjukkan tiket yang disobek.

Ya, disobek. Benar-benar disobek!

Well, itu masih konvensional banget. Nggak ramah lingkungan lagi. Bahkan, masih ada saja event yang menggunakan stamp pada kulit untuk memberikan tanda pada peserta acara. I think, we missed big opportunity here.

Padahal NFC bisa digunakan sebagai event management solution. Masih belum kebayang? Gini, ada banyak data yang bisa diambil dengan fitur NFC ini. Tentu saja, stamp dan tiket yang disobek tadi tidak bisa digunakan sebagai alat pembayaran, tracking pergerakan pengunjung dan lain sebagainya. Great things might happen with NFC!

Nah, inilah kenapa fitur NFC ini sangat bagus digunakan apalagi untuk EO (Event Organizer) yang bergerak di sport event management, music festival, art exhibition dan lain sebagainya. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh salah satu startup asal Singapura, PouchNATION.

PouchNATION via pouchnation.com
PouchNATION memberikan solusi kepada sebuah event untuk mengambil data menggunakan teknologi NFC yang mereka sematkan pada wirstband yang dikenakan pengunjung. Nah, wirstband sebagai wearable device ini tadi nggak cuman sebagai entry pass aja, dia juga bisa dipakai untuk melakukan transaksi di dalam event tersebut.

Hmmm...untuk mengisi saldonya, pengunjung bisa mengisi melalui deposito bank atau menggunakan kartu kredit sebelum memasuki venue. Enaknya buat pengunjung sih nggak perlu bawa dompet atau uang banyak. Ya hitung-hitung bisa menghindari kecopetan, kan kalo event besar pasti crowded banget tuh.

Buat merchant (owner) produk makanan atau minuman, semua transaksi bisa terekam, sehingga bisa dianalisis performa penjualan dari sebuah event. Sebab teknologi ini bisa memberikan heatmap sehingga spot-spot yang jarang dikunjungi bisa terekspos.

Teknologi NFC juga bisa digunakan oleh organizer untuk membatasi akses ketika ada pengunjung yang memasuki restricted area. Gila gila... zaman sekarang serba teknologi. Itu semua bisa terjadi. Eh, memang benar-benar sudah terjadi sih!

***

Is that NFC the next big opportunity? Of course! Please don't print your ticket unless you really need to. Wristbands which replace paper tickets as passes and are used to pay for goods inside the venue, allowing people to go cashless.

Save Trees.. !
Header image credit: pexels.com
Sebuah pertanyaan yang cukup sederhana pernah diajukan oleh salah satu teman saya. Ia adalah seorang blogger. Cukup lama ngeblog hingga akhirnya memiliki statistik blog yang cukup memuaskan.

Tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal. Begini, “Bagaimana caranya menaikan page view sebuah artikel blog?”

Secara keseluruhan, total page view harian blog tersebut sudah cukup bagus. Namun, jika ia publikasikan artikel baru, ingin mencari 100 page view dalam satu minggu saja susahnya minta ampun.

Tentu saja ia ingin secara organik. Cukup publish dan ingin sekali page view mengalir begitu saja. Ndak harus pusing-pusing bikin strategi konten di media sosial untuk meningkatkan engagement. Ra gagas cak!

Lalu saya memberikan sebuah solusi sederhana. Saya memperkenalkannya pada SEO. Sebuah teknik yang bagus untuk meningkatkan artikel untuk mencapai target page view tersebut.

Caranya? Cukup membuat artikel yang sangat informatif dan ditambahkan dua sendok SEO friendly, maka page view akan datang begitu saja. Voila! Sajikan selagi hangat.

Fyi aja sih, artikel ini cocok sekali dibaca untuk kalian yang masih pusing mencari cara untuk meningkatkan page view sebuah blog post. Atau sponsored post dimana post tersebut punya target page view yang sudah ditentukan oleh klien.

Cara meningkatkan page view dengan CTR

Sebelum kita membahas cara menaikkan page view post blog, ada baiknya kamu yang belum kenal betul dengan SEO bisa membaca artikel saya tentang serba-serbi SEO dan alasan kenapa blogger harus mempelajari SEO.

Dan kemudian berlanjut dengan memperbaiki CTR yang ada di blog kita. Terutama post yang memiliki target page view berdasarkan keyword tertentu.

Apa Itu CTR

CTR atau Click Through Rate di mesin pencarian adalah rasio antara impresi sebuah artikel dibandingkan dengan jumlah klik yang dihasilkan. Dihitung berdasarkan persen antara 0 sampai dengan 100.

Maka, jika nilai CTR semakin tinggi, bisa dikatakan banyak sekali klik yang dilakukan atas impresi yang tertampil di hasil pencarian.

Baca juga: Seberapa Cepatkah Loading Blogmu?

CTR bisa dijadikan parameter ‘ketertarikan’ pengguna search engine terhadap target keyword milik kita. Soalnya begini, sebuah artikel yang ada di halaman pertama bahkan posisi pertama belum menjamin akan memiliki page view yang lebih tinggi daripada artikel yang berada di posisi kedua.

Kenapa bisa begitu?

Karena perilaku pengguna internet itu berbeda-beda. Preferensi mereka untuk melakukan sebuah klik juga bervariasi. Ada banyak faktor. Tapi saya sederhanakan saja ya, biar ndak mumet.

Kebanyakan pengguna search engine akan melakukan klik berdasarkan:
  • Judul Artikel
  • Relevansi Deskripsi
  • Domain yang digunakan
  • Popularitas Blog
Judul artikel adalah poin utama agar pengguna melakukan klik pada blog post kita melalui search engine. Bagaimanakah caranya?

Kalo kamu berminat, bisa mempelajari teknik copywriting ini lebih dalam. Wo jangan salah… ada ilmunya loh ya.

Struktur sederhana sebuah hasil pencarian
Relevansi deskripsi artikel kita juga perlu diperhatikan. Sebagaimana saya pernah membahas bagaimana komentar meningkatkan visibilitas blog post kita di hasil pencarian.

Meta deskripsi pun digunakan untuk mendapatkan hasil pencarian yang tepat dan related dengan pengguna. Misal, pengguna ingin mencari ‘cara menjemur baju’, maka artikel kita tadi harus bisa menampilkan cara menjemur baju secara garis besarnya. Ini yang penting.

Kemudian, domain atau url blog post yang digunakan juga berpengaruh meningkatkan kemungkinan klik atau CTR tadi.

Gampangnya seperti ini.

Kalo kamu nih ya, mencari informasi kemudian mendapatkan dua buah blog. Blog A menggunakan top level domain dengan .com. Sedangkan blog B masih menggunakan blogspot/wordpress untuk provide artikel dengan keyword yang sama. Mana yang lebih banyak dipilih?

Tentu saja Blog A, karena top level domain akan meningkatkan authority. Jadi, top level domain (TLD) enggak hanya untuk cari job review saja. Bisa kita gunakan untuk membuat blog kita trusted. Apalagi dengan enkripsi atau https. Maknyuss nde…

Tingkat popularitas sebuah blog juga ikut mempengaruhi loh. Enggak percaya?

Gini deh, umpamakan saja sebuah situs dan kalian mencari sebuah informasi dari search engine, dimana menemukan situs yang lebih familier di mata kalian melalui hasil pencarian, maka secara tidak sadar pasti kita ingin klik artikel tersebut.

Karena kita sudah pernah mengunjunginya. Kita sudah kenal dan-sayang-tapi-diputusin-pas-lagi-sayang-sayangnya.

Anggap saja Hipwee vs Jungjawa.com, mana yang akan kalian pilih? Hehehehe....

Statistik CTR bisa dilihat dimana?

Eh, ini dari tadi ngomongin CTR tapi saya tidak menunjukkan dimana kita bisa menemukan statistik tersebut. Gampang kok!

Untuk mengetahui CTR blog kita, cukup mudah kok. Caranya, kalian harus memiliki salah satu atau kedua tools ini. Yakni Google Webmaster dan Google Analytics.

Di Google Webmaster, nilai dari CTR bisa dilihat berdasarkan keyword tertentu yang nantinya akan diperbaiki.


Nah, di atas adalah gambar yang saya ambil di Google Webmaster. Kotak merah tersebut adalah poin-poin penting yang harus diperhatikan.

Search Analytics adalah bagian yang akan kita fokuskan. CTR bisa kita lihat di 4 opsi di atas, dimana terdapat Clicks, Impressions, CTR dan Position.

Dibagian bawah, terdapat keyword dan statistik keempat parameter tersebut.


Di Google Analytic tentu lebih lengkap. Tapi untuk mendapatkannya, kalian harus setup Analytics kalian untuk terhubung dengan Google Webmaster Console terlebih dahulu. Gampang kok.

Di atas kalian bisa lihat dengan mudah, di bagian sidebar Acquisition pada Search Console, ada beberapa opsi untuk mendapatkan statistik CTR. Bisa kita ambil melalui Landing Pages, Countries, Devices dan Queris. Inilah nanti yang akan mempermudah analisis kita.

Misalnya saja untuk keyword no 3 tersebut, memiliki CTR yang rendah 20%. Ini bisa kita selidiki lagi kenapa bisa serendah itu. Atau kalau kita ingin menaikkan CTR kueri "baju NDX a.k.a" untuk konversi penjualan baju NDX misalnya, ini bisa banget kita jadikan acuan dan monitoring dengan interval waktu tertentu.

Melakukan Analisis CTR

Jadi, ketika sebuah artikel kita muncul dengan keyword yang sudah kita set up di awal, kita juga harus memperhatikan performa post tersebut menggunakan CTR. Hal ini ya kita monitoring untuk bisa melakukan improvement pada artikel tersebut.

Baca juga: Seberapa Penting Asumsi Data?

Analisisnya sederhana saja, jika impresinya cukup tinggi tapi tidak menghasilkan clik, ada kemungkinan besar judul yang kita gunakan kurang memberikan value terhadap user. Mereka melihat artikel kita, namun tidak melakukan klik karena mungkin saja merasa tidak related.

Impresi yang tinggi tapi jumlah klik dan CTR rendah pasti ada yang salah. Padahal itu adalah keyword yang sangat bagus dan volume pencariannya besar.

Artinya apa?

Sumber page view yang melimpah. Sehingga kemudian muncul pertanyaan:

Apa yang harus dilakukan?

Bisa jadi judul artikel yang kita setup tadi kurang menarik pengunjung. Maka, pelajarilah copywriting. Buatlah judul yang semenarik mungkin. Tapi secara wajar. Loh kenapa?

Karena ketika pengguna merasa mereka dibohongi oleh janji palsu wakil rakyat judul artikel yang kita buat. Maka mereka seketika akan melakukan close tab tanpa perlu berlama-lama di situs kita. Apa yang akan terjadi?

Bounce rate kita akan naik dan ini pertanda buruk. Kenapa? Karena bounce rate bisa digunakan oleh Google sebagai sinyal relevansi sebuah artikel terhadap keyword. Bisa jadi karena bounce rate kita jelek, artikel kita semakin menurun posisinya dan paling fatal adalah deindexing atau dihapus dari hasil pencarian. Google menilai bahwa blog post kita enggak bagus. Medeni tenan cak!

Baca juga: Gimana Sih Caranya Menulis Blog Tanpa Keyword?


Mari bermain-main di sektor CTR
Gambar di atas adalah performa sebuah blog post yang diambil dari Google Webmaster. Bisa dilihat bahwa ada 3 statistik yang bisa kita utak-atik di sini. Yakni Click, Impression dan CTR.

Optimalisasi CTR menggunakan keyword



Analisisnya sebenarnya gampang banget. Kita hanya perlu melihat statistik impresi dan CTR.

Impresi adalah banyaknya tayang atau artikel kita tertampil di hasil pencarian. Sedangkan CTR adalah perbandingan antara jumlah klik dan impresi yang terjadi.

Ketika ada sebuah keyword memiliki CTR yang rendah, ada yang tidak beres pastinya. Bisa kita lihat bahwa Keyword A, B, C di atas harus dioptimalkan kembali. Salah satunya adalah dengan mengubah judul agar related dan memainkan meta deskripsinya.

Mari kita optimasi CTR untuk meningkatkan page view blog kita



Gambar berikut ini adalah modifikasi yang saya lakukan terhadap sebuah blog post. Yang saya ubah adalah judul artikel saja.

Terdapat tren kenaikkan CTR dan jumlah klik yang terjadi. Bahkan ketika impresinya menurun, jumlah klik tetap banyak. Malah cenderung naik terus.

Hubungan antara CTR dan posisi SERP artikel


Dari grafik gambar di atas, kita bisa melihat dengan jelas bahwa ketika CTR mulai naik, posisi pencarian juga semakin membaik. Hal ini secara tidak langsung bisa dikatakan bahwa untuk menaikkan posisi kita di search engine, maka kita harus menganalisis CTR yang ada di blog kita.

Sehingga kita bisa memanfaatkannya untuk dikonversi menjadi page view. Tidak dalam bentuk impresi saja.

Itulah sebabnya kenapa kita harus memperhatikan CTR. Ini termasuk dalam strategi SEO loh. Makin mantap aja page view blogmu kalo bisa utak-atik statistik satu ini. Sip lah, selamat mencoba!

P.S. Kalo ada bisik-bisik tentang page view dan CTR, tulis aja di kolom komentar. Siapa tahu saya bisa diskusi kita :p



Sebenarnya ini adalah materi yang cukup lama. Beberapa bulan yang lalu saya membawakannya di acara Emak-emak Blogger Solo, namun kali ini saya akan menuliskannya di sini agar lebih mudah dipahami. Ya, semoga lebih mudah dipahami.

Artikel ini cukup panjang. Ada lebih dari 2.000 kata. Jadi buat kalian yang enggak sempat baca, bisa simpan saja artikel ini.

Selamat membaca!

*** 

Oke, apa yang akan kamu pikirkan pertama kali ketika mendengar kata SEO?

Sebuah kota di Korea? Itu Seoul

Seorang pimpinan perusahaan? Itu CEO

Mendapatkan posisi ‘terbaik’ di hasil pencarian? Nah!


SEO sendiri adalah sebuah teknik yang cukup umum dan sejujurnya sangat mudah dipahami. Boleh dikatakan setiap hari kita adalah seorang SEO Engineer.

Kita bisa mempelajari diri kita sendiri untuk memahami bagaimana pengguna menggunakan search engine. Sepertinya mudah, tapi prakteknya sulit. Apalagi jika hal-hal yang sangat dasar saja kurang bisa dimengerti. 

Kenapa SEO?

Apa sih untungnya menggunakan SEO? Mungkin terdengar klise, padahal untuk mempelajari SEO sendiri butuh waktu yang tidak sebentar.

Dan mungkin saja bagi beberapa orang terkesan njlimet.

Tapi, dengan menggunakan SEO, kita bisa mendapatkan traffic yang cukup banyak dan murah. Kok murah?

Karena jika dibandingkan dengan beriklan di media konvensional atau pun menggunakan ads dari pihak ketiga, SEO jauh lebih murah. Itulah solusi yang ditawarkan dari SEO.

Saya pernah menuliskan alasan kenapa belajar SEO itu penting. Ya, akan lebih mudah jika kita tau alasan belajar suatu hal.

Bagaimana SEO bisa meningkatkan traffic sebuah website?

Ya karena search engine menawarkan traffic gratis dan penelusuran yang bisa berulang-ulang atau repetitif. Apalagi jika kita bisa membuat sebuah target dengan kata kunci tertentu.

Nah, dari traffic tadi kita bisa mencari traffic yang berkualitas untuk mendapatkan relevant traffic. Fungsinya?

Salah satunya adalah untuk mendapatkan goals dari situs atau blog yang kita kelola. Bisa CTA (Click to Action) seperti register/sign up sebuah layanan, berbelanja, download dan lain sebagainya.

Sumber traffic sebuah situs- brightedge.com


Studi dari Brightedge.com menyebutkan bahwa lebih dari 50% traffic berasal dari search engine. Ya, SEO menyumbang setengah dari total kunjungan sebuah situs. Baik itu melalui hasil pencarian situs maupun pencarian gambar.

Jadi, SEO itu Google?

Emmm… Bisa dibilang iya dan bisa juga tidak.

Market share bisnis pencarian di tahun 2016 - allwebco-templates.com


Dalam bisnis search engine, Google memiliki market share terbesar untuk saat ini. Sebenarnya layanan lain juga ada, seperti Bing atau Yahoo Search. Namun, Google lebih populer. Sehingga ya bisa dibilang SEO ya sama juga Google.

Pengecualian untuk di China, karena di sana Baidu lebih populer daripada Google.

Say hello to Baidu


Jadi, buat kalian yang ingin menyasar SEO untuk segmen China, ada baiknya mulai memahami Baidu :D

Apa yang harus dipelajari dari SEO?

Banyak sekali. Saya juga mumet kalau belajar semuanya. Namun, secara garis besar ada dua hal yang perlu diperhatikan. On-page SEO dan Off-page SEO.

Atau bisa lebih mudah, internal SEO dan eksternal SEO. Faktornya ada banyak sekali. Seperti penggunaan kata kunci, meta deskripsi, judul artikel, url artikel dan lain sebagainya. Itu hanya untuk internal SEO.

On-page dan Off-page - softloom.com


Kalau eksternal SEO lebih kepada faktor-faktor yang sebenarnya sulit kita kontrol secara langsung. Seperti bagaimana distribusi konten kita di media sosial, tautan balik dari situs lain dan lain sebagainya.

Bagaimana cara menggunakan SEO?

Setelah memahami cara kerja SEO, selanjutnya hal ini bisa diterapkan di situs atau blog yang kita miliki. Permasalahannya adalah, bagaimana menggunakannya?

Secara teori mungkin sudah khatam tentang internal SEO dan eksternal SEO. Sudah mengerti harus begini dan begitu.

Namun, seringkali saya menemukan bahwa tidak banyak yang mengerti cara mengembangkannya.

Pada dasarnya cukup mudah. Kita bisa membuat siklus penggunaan SEO. Sederhana saja.



Sebuah situs yang akan kita optimasikan kontennya harus dievaluasi terlebih dahulu. Baru kemudian bisa kita lakukan research untuk menemukan konten apa yang bisa dioptimalisasikan dan bagimana strategi kedepannya.

Setelah research tadi dilakukan, ada hal penting yang sering luput dari siklus ini. Yakni mengukur performa SEO tadi.

Kebanyakan orang enggak mengerti bagaimana SEO memberikan dampak kepada situs mereka karena tidak mengukurnya. Jadi tidak bisa membandingkan antara sebelum menggunakan SEO dan setelah dioptimalisasikan.

Padahal, dengan adanya pengukuran tadi bisa kita evaluasi lagi dan lanjut mencari solusi. Begitu seterusnya.

“Saya tidak bisa melakukan evaluasi sebuah situs. Terus bagaimana?”

Ya namanya juga sebuah siklus. Bisa dimulai dari mana saja. Mau mulai dari pencarian insight untuk research kata kunci? Boleh. Nanti tinggal kita ukur dan evaluasi. Kemudian ya research lagi.

Research

Proses untuk melakukan research keyword bisa dimulai dari hal sederhana. Pokoknya, nanti dari hasil research ini kita bisa melihat peluang keyword yang akan kita gunakan.

Gunakan juga beberapa opsi keyword di mana nantinya bisa kita gunakan untuk meningkatkan variasi sebaran keyword yang akan kita gunakan.



Oh iya, kalau sekarang ini lagi ngetrend sebuah konten yang memiliki keterkaitan sebuah tempat atau lokasi. Contohnya?

Begini, ibaratkan sebuah kata kunci pencarian “tempat nongkrong”. Oke, untuk kata kunci ini terlihat lebih umum dan memiliki cukup banyak kompetitor.

Nah, untuk menyingkirkannya kita bisa mentargetkan keyword ini untuk lokasi tertentu. Hal ini untuk meningkatkan konversi kata kunci tadi. Lebih spesifik akan lebih baik.

Rumusnya cukup sederhana sih ya.

[Kata Kunci] + Lokasi + Value 

Misal nih, kita ingin membuat sebuah konten “tempat nongkrong” tadi untuk lokasi di Semarang. Nah, kita bisa menggunakan rumus tadi untuk menentukan judul sekaligus topik yang akan diangkat.

Variabel value bisa digunakan untuk memberi nilai tambah dari artikel yang kita buat. Bisa saja sesuatu yang lebih murah, lebih mudah, lebih ngehits atau apapun. Tergantung kreatifitas dan bagaimana audiens kita berprilaku.

Sehingga, hasilnya bisa saja seperti ini:
1. Tempat Nongkrong di Semarang yang Instragramable banget Buat Kamu dan Dia
2. Tempat Nongkrong di Semarang yang Bikin Seru Malem Mingguanmu Bareng Keluarga

Tentu saja, rumus di atas enggak harus sesuai kok. Bisa lepas dari pakem di atas. Nah, makanya, research diperlukan untuk menentukan target dari pembaca yang akan kita tuju.

Enggak ada keharusan. SEO itu fleksibel.

Keyword Research bisa didapatkan dari mana?

Untuk hasil kata kunci kita bisa gunakan pencarian dari Google. Salah satunya adalah Quick Search atau pencarian relevan yang terkait kata kunci tersebut.

Kata kunci lain yang bisa didapatkan di Quick Search


Atau kalau kamu punya kemampuan untuk mengerti Google Analytics dan Keyword Planner, bisa kok menggunakan tools tersebut. Bebas.

Selain itu, jangan lupakan related queries yang ada di bagian bawah hasil pencarian. Ini menunjukkan bahwa mereka yang mencari keyword tersebut juga mencari keyword lain yang serupa.

Related keyword di bawah hasil pencarian


Ada tips yang penting kamu tahu bahwa forum diskusi seperti Quora atau Kaskus bisa digunakan untuk validasi keyword. Loh, kok bisa?

Ya, sebab dari sebuah forum kita bisa melihat apakah ada yang mencari konten tersebut atau bisa saja tidak ada sama sekali. Sehingga kita bisa menentukan keyword yang spesifik dengan lebih efisien.

Bonusnya, kita bisa saja mendapatkan jawaban praktis dari berbagai forum tersebut kemudian bisa kita kompilasi menjadi satu di artikel yang kita buat. 

Nah!

Measure

Nah, setelah kita menentukan kata kunci dengan Research selanjutnya adalah mengukur performa dari artikel yang sudah dibuat. Di sini, sebisa mungkin kita menggunakan tools untuk mendapatkan data dan menarik kesimpulan.

Saya menyarankan buat kamu yang memang ingin mendalami SEO, mengerti tentang cara menggunakan berbagai software untuk mengukur performa SEO.

Sebab, dengan kemampuan kamu menggunakannya akan mempermudah untuk membuat konten yang relevan kedepannya. Ya, biar keep on track gitu konten yang dibuat.

Salah satu tools yang bisa digunakan untuk mengukur performa SEO adalah Google Analytics. Atau kalau mau yang sederhana tapi memang tetap powerfull, kamu bisa coba Google Webmaster.

Kita bisa memonitor performa artikel kita di Webmaster


Nah, di Google Webmaster, kamu bisa lihat performa SEO dari artikel kamu. Mulai dari jumlah klik yang dihasilkan hingga perubahan posisinya hingga 90 hari terakhir. Mantep kan?

Dari Google Analytics pun kita bisa menganalisis performa dari SEO artikel tadi. Contohnya, jika kita menemukan sebuah konten dengan bounce rate tinggi dari Organic Search. Maka kemungkinan besar konten kita tadi “cukup” membosankan untuk audiens.

Nah, agar lebih baik, kita bisa membuat konten yang lebih atraktif sehingga audiens enggak segera pergi dari artikel kita. Seenggaknya dia punya waktu yang lebih lama, kita bisa melihat Average time On Page-nya juga.

Setelah kita optimasi lanjutan atau revisi konten tadi. Selanjutnya kita ukur. Bisa jadi satu minggu kedepan dan dilihat, apakah ada perubahan atau tidak. Nah, gampang kan?

Evaluate

Berbagai hal yang sudah kita ukur di tahap sebelumnya akan lebih baik jika dilanjutkan dengan evaluasi. Ada berbagai macam cara untuk mengevaluasi performa SEO dari artikel kita. Namun, saya akan menyederhanakannya saja.


1. Mencari Peluang Keyword lainnya.

Apa yang sudah kita tulis mungkin masih memiliki konten yang belum mendalam. Sebagai contoh jika kita menulis tentang bakso. Akan ada banyak peluang keyword lainnya seperti bagaimana cara membuat bakso, tempat makan bakso yang enak dan lain sebagainya.

Nantinya, hasil dari evaluasi peluang keyword ini bisa kita gunakan untuk mengembangkan konten selanjutnya.

Justru inilah yang kita harapkan. Sehingga akan ada banyak sekali konten serupa atau niche di blog kita. Hal ini akan menjadikan sinyal relevansi konten blog kita semakin kuat.

Ups, sebentar. Apakah keyword adalah segalanya? Tentu saja tidak. Jika kamu punya waktu, saya pernah membahas akan hal ini.

Sesungguhnya kita bisa membuat sebuah blog post tanpa harus memikirkan keyword.

Caranya? Saya sudah menjelaskannya di artikel tersebut.

2. Membandingkan dengan Sebelum Optimasi

Gampang saja, kita bisa membandingkannya dengan data yang diambil dari tools, salah satunya adalah Google Analytics. Atau kalau mau gampang, dashboard analytics platform blog kita juga bisa kok.

Nah, untuk melakukan analisis, saya dibantu oleh Analytics


Jadi, bisa dilihat performa SEO-nya dari waktu ke waktu. Mulai dari posisi di SERP (Search Engine Position). Apakah mengalami penurunan atau stabil aja. Bisa juga dilihat dari jumlah %NewUser yang dilihat juga dari channel atau medium pengunjung kita. Apakah benar-benar dari organic search atau enggak. Gitu.

3. Melirik Kompetitor

Mungkin ini bonus dari evaluasi ya. Jadi kita juga perlu melihat kompetitor dan menganalisis kekurangan konten mereka. Gunanya untuk apa?

Agar pengunjung punya experienced yang lebih dari kompetitor kita. Misalnya saja, kompetitor belum memiliki rich content seperti infografis atau video, maka sebisa mungkin kita menyediakan itu semua.

Tentu saja, ini nanti lebih kontekstual yang artinya menyesuaikan konten yang kita buat. Sehingga, pengunjung akan menilai lebih terhadap artikel kita.
Pun begitu juga dengan search engine.

Jangan lupakan juga hal-hal fundamentar seperti desain dari konten kita, termasuk desain situs secara keseluruhan. Kecepatan situs, letak navigasi, penggunaan font dan sebagainya.

Mungkin saja, pengunjung langsung kabur ketika melihat desain blog atau situs kita. Sebab, ketika pengunjung merasa tidak nyaman, maka saat itu juga mereka akan angkat kaki dari situs kita.

Wah, gawat dong!

SEO or Design?

Dua hal ini sebenarnya sangat berkaitan. Secara umum, website yang SEO friendly memang memiliki desain yang cukup baik. Tapi tidak berlaku sebaliknya loh ya, soalnya belum tentu.

Keramahan blog atau situs terhadap perangkat mobile juga dinilai


Sejak tahun 2015, Google memperbarui algoritmanya dengan menambahkan faktor mobile friendliness untuk dimasukkan dalam penilaian hasil pencarian.

Oh iya, kalau ingin memeriksa apakah blog/situs yang kita punya sudah mobile ready atau belum, bisa menggunakan Mobile-Friendly Test yang memang disediakan oleh Google.

Mobile-Friendly Test dari Google
Plus, sudah ada report mengenai permasalahan pemuatan halaman di dalamnya. Lengkap kan.

Fyi aja sih, pembaruan Mobilegeddon memasukkan usability, design dan readability untuk dimasukkan dalam perhitungan.

Apa itu SERP (Search Engine Result Page)?

Hasil pencarian akan ditampilkan secara list oleh Google. Sistem ini akan membuat list ranking dari 1 sampai tak hingga.

List ini berada di dalam halaman yang disebut dengan SERP (Search Engine Result Page). Umumnya, satu halaman SERP akan menampilkan 10 list.

Hasil pencarian Google terkait kota Banjarmasin


Pada kondisi tertentu, Google akan memberikan informasi khusus terkait hasil pencarian. Bisa jadi lokasi, quick answer dan snippet lain yang memanjakan pengguna Google.

Semua orang yang berkecimpung di dunia SEO menginginkan blog atau konten situs mereka muncul di halaman pertama SERP.

Karena dengan adanya posisi konten di halaman pertama, maka diharapkan akan mendatangkan trafik dengan lebih mudah. Pengunjung akan lebih sering melihat konten mereka dengan keyword tertentu.

Tapi sebenarnya, posisi pertama pun bukan tolak ukur yang menyebabkan trafik melimpah. Perilaku pengguna agak sulit ditebak di sini.

Kalau mau aman, posisikan konten kita di ranking 1 sampai 5. Sebab, posisi above the fold *) tersebut tidak membuat pengunjung melakukan scrolling dan diharapkan akan meningkatkan rasio klik.

*) above the fold: posisi yang akan dilihat oleh para pencari tanpa harus melakukan mouse scrooling

SEO Tools

Sebenarnya ada banyak sekali SEO Tools di luar sana. Baik yang berbayar maupun yang gratis.

Tapi, untuk memudahkan, kalian bisa menggunakan beberapa tools gratis SEO berikut ini. Saya juga menggunakannya kok.

Oh iya, tools ini memang sangat basic, tapi cukup powerfull sebagai acuan dasar kalian untuk mempelajari SEO. Bisa digunakan untuk benchmarking strategi SEO yang digunakan.

***

SEO Quake: Plugin sederhana yang bisa digunakan di browser kalian (saya menggunakan Chrome). Enaknya, plugin SEO Quake ini bisa kita pakai untuk mengaudit artikel kita secara SEO.

Google Analytics: Wah, tools ini rasanya cukup wajib lah ya. Isinya lengkap, kita bisa menentukan mencari jenis dan behaviour audiens artikel dari search engine. Hal utama yang saya suka adalah tools ini gratis. Hehehe….

MOZ: Sebenarnya ini bukan tools sih ya, bisa jadi karena mereka menentukan DA/PA melalui OSE (Open Site Explorer). Tapi, resource yang cukup berharga adalah Moz Blog yang menyajikan banyak sekali insight untuk belajar SEO. Woah, I liked their Whiteboard Friday so much. Love it!

SumoMe: Kalau ini memang tools yang sebenarnya. Freemium kok. Jadi, bisa digunakan dengan kemampuan terbatas untuk versi gratisnya. Cukup bagus dan bisa melakukan click map. Cobain deh. Asik tuh!

Webmaster Tools & AdWords: Saya jadikan satu saja. Toh kedua tools ini hampir mirip lah ya (boleh dibilang begitu padahal enggak). Webmaster Tools untuk memberikan ‘pengaturan’ kepada aset kita (blog dan situs). Sedangkan AdWords bisa digunakan untuk mencari peluang kata kunci. Eh, sebisa mungkin biar enggak pakai AdWords ehehehe…

***

Wah, panjang juga ya mengenai serba-serbi SEO. Tapi enggak masalah, toh semuanya bisa dipelajari pelan-pelan kok. Semangat!

Oh iya, materi presentasi dalam bentuk PDF bisa kamu download. Gratis! Klik tombol di bawah ya.



P.S. Yuk diskusi di kolom komentar di bawah. Siapa tau kita bisa saling bertukar pikiran :D

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2022