Jung - Tutorial Jung: Tutorial - All Post
Tampilkan postingan dengan label Tutorial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tutorial. Tampilkan semua postingan


Marhaban ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa dan ramadhan. Kali ini, saya ingin membagikan beberapa rekomendasi font gratis yang bisa kalian gunakan sebagai desain Ramadhan dan Lebaran.


Kumpulan font yang ada di sini bisa kalian gunakan untuk desain spanduk, e-flyer, poster hingga sebagai tipografi feed IG atau media sosial lainnya dalam nuansa Ramadhan dan Lebaran. 

Arabian Script

Arabian Script font by Royaltype on Dafont


Font jenis script ini di desain oleh Royaltype dengan lisensi penggunaan free for personal use only. Font jenis ini cocok sebagai decorative font maupun digunakan untuk styling handbrush typography pada saat ramadhan dan lebaran.

Berkah Ramadhan

Berkah Ramadhan font by Madatype Studio


Rekomendasi font selanjutnya yang dapat digunakan sebagai font marhaban ya ramadhan adalah Berkah Ramadhan dari Madatype Studio. Font ini rilis di tahun 2020 melalui Dafont. Font decorative ini berjenis handwritten brush yang dapat dengan mudah diaplikasikan dengan ditemani serif font.

Ramadhan Kareem

Ramadhan Kareem font


Nah, font kali ini adalah Ramadhan Kareem dengan jenis kaligrafi. Dimana, font dengan style kaligrafi memang cocok digunakan untuk style mediteranian. Termasuk penggunaan font untuk nuansa desain ramadhan dan lebaran. Font dari Adefa Studio ini dapat digunakan dengan lisensi personal use only.

Ramadhan Karim

Ramadhan Karim font by Mikrojihad


Font dengan jenis typeface selanjutnya adalah Ramadhan Karim. Arabic typeface besutan Mikrojihad ini dapat digunakan sebagai desain ramadhan dan lebaran dengan lisensi personal use only. Font ini tersedia dengan gratis melalui Dafont.

Sketsa Ramadhan

Sketsa Ramdhan font by Hendra Pratama


Terakhir, font typeface Sketsa Ramadhan besutan Hendra Pratama ini saya rekomendasikan untuk kalian para desainer. Font dengan alternates ini dapat di download melalui Dafont dengan lisensi personal use only ya.

***

Sekian rekomendasi font gratis untuk desain ramadhan dan lebaran kali ini. Beberapa font yang bisa kalian gunakan untuk pekerjaan desain ya. Kalau kalian ada permintaan rekomendasi font lain, saran atau komentar bisa dilanjut dibawah.

Sebuah pertanyaan yang cukup sederhana pernah diajukan oleh salah satu teman saya. Ia adalah seorang blogger. Cukup lama ngeblog hingga akhirnya memiliki statistik blog yang cukup memuaskan.

Tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal. Begini, “Bagaimana caranya menaikan page view sebuah artikel blog?”

Secara keseluruhan, total page view harian blog tersebut sudah cukup bagus. Namun, jika ia publikasikan artikel baru, ingin mencari 100 page view dalam satu minggu saja susahnya minta ampun.

Tentu saja ia ingin secara organik. Cukup publish dan ingin sekali page view mengalir begitu saja. Ndak harus pusing-pusing bikin strategi konten di media sosial untuk meningkatkan engagement. Ra gagas cak!

Lalu saya memberikan sebuah solusi sederhana. Saya memperkenalkannya pada SEO. Sebuah teknik yang bagus untuk meningkatkan artikel untuk mencapai target page view tersebut.

Caranya? Cukup membuat artikel yang sangat informatif dan ditambahkan dua sendok SEO friendly, maka page view akan datang begitu saja. Voila! Sajikan selagi hangat.

Fyi aja sih, artikel ini cocok sekali dibaca untuk kalian yang masih pusing mencari cara untuk meningkatkan page view sebuah blog post. Atau sponsored post dimana post tersebut punya target page view yang sudah ditentukan oleh klien.

Cara meningkatkan page view dengan CTR

Sebelum kita membahas cara menaikkan page view post blog, ada baiknya kamu yang belum kenal betul dengan SEO bisa membaca artikel saya tentang serba-serbi SEO dan alasan kenapa blogger harus mempelajari SEO.

Dan kemudian berlanjut dengan memperbaiki CTR yang ada di blog kita. Terutama post yang memiliki target page view berdasarkan keyword tertentu.

Apa Itu CTR

CTR atau Click Through Rate di mesin pencarian adalah rasio antara impresi sebuah artikel dibandingkan dengan jumlah klik yang dihasilkan. Dihitung berdasarkan persen antara 0 sampai dengan 100.

Maka, jika nilai CTR semakin tinggi, bisa dikatakan banyak sekali klik yang dilakukan atas impresi yang tertampil di hasil pencarian.

Baca juga: Seberapa Cepatkah Loading Blogmu?

CTR bisa dijadikan parameter ‘ketertarikan’ pengguna search engine terhadap target keyword milik kita. Soalnya begini, sebuah artikel yang ada di halaman pertama bahkan posisi pertama belum menjamin akan memiliki page view yang lebih tinggi daripada artikel yang berada di posisi kedua.

Kenapa bisa begitu?

Karena perilaku pengguna internet itu berbeda-beda. Preferensi mereka untuk melakukan sebuah klik juga bervariasi. Ada banyak faktor. Tapi saya sederhanakan saja ya, biar ndak mumet.

Kebanyakan pengguna search engine akan melakukan klik berdasarkan:
  • Judul Artikel
  • Relevansi Deskripsi
  • Domain yang digunakan
  • Popularitas Blog
Judul artikel adalah poin utama agar pengguna melakukan klik pada blog post kita melalui search engine. Bagaimanakah caranya?

Kalo kamu berminat, bisa mempelajari teknik copywriting ini lebih dalam. Wo jangan salah… ada ilmunya loh ya.

Struktur sederhana sebuah hasil pencarian
Relevansi deskripsi artikel kita juga perlu diperhatikan. Sebagaimana saya pernah membahas bagaimana komentar meningkatkan visibilitas blog post kita di hasil pencarian.

Meta deskripsi pun digunakan untuk mendapatkan hasil pencarian yang tepat dan related dengan pengguna. Misal, pengguna ingin mencari ‘cara menjemur baju’, maka artikel kita tadi harus bisa menampilkan cara menjemur baju secara garis besarnya. Ini yang penting.

Kemudian, domain atau url blog post yang digunakan juga berpengaruh meningkatkan kemungkinan klik atau CTR tadi.

Gampangnya seperti ini.

Kalo kamu nih ya, mencari informasi kemudian mendapatkan dua buah blog. Blog A menggunakan top level domain dengan .com. Sedangkan blog B masih menggunakan blogspot/wordpress untuk provide artikel dengan keyword yang sama. Mana yang lebih banyak dipilih?

Tentu saja Blog A, karena top level domain akan meningkatkan authority. Jadi, top level domain (TLD) enggak hanya untuk cari job review saja. Bisa kita gunakan untuk membuat blog kita trusted. Apalagi dengan enkripsi atau https. Maknyuss nde…

Tingkat popularitas sebuah blog juga ikut mempengaruhi loh. Enggak percaya?

Gini deh, umpamakan saja sebuah situs dan kalian mencari sebuah informasi dari search engine, dimana menemukan situs yang lebih familier di mata kalian melalui hasil pencarian, maka secara tidak sadar pasti kita ingin klik artikel tersebut.

Karena kita sudah pernah mengunjunginya. Kita sudah kenal dan-sayang-tapi-diputusin-pas-lagi-sayang-sayangnya.

Anggap saja Hipwee vs Jungjawa.com, mana yang akan kalian pilih? Hehehehe....

Statistik CTR bisa dilihat dimana?

Eh, ini dari tadi ngomongin CTR tapi saya tidak menunjukkan dimana kita bisa menemukan statistik tersebut. Gampang kok!

Untuk mengetahui CTR blog kita, cukup mudah kok. Caranya, kalian harus memiliki salah satu atau kedua tools ini. Yakni Google Webmaster dan Google Analytics.

Di Google Webmaster, nilai dari CTR bisa dilihat berdasarkan keyword tertentu yang nantinya akan diperbaiki.


Nah, di atas adalah gambar yang saya ambil di Google Webmaster. Kotak merah tersebut adalah poin-poin penting yang harus diperhatikan.

Search Analytics adalah bagian yang akan kita fokuskan. CTR bisa kita lihat di 4 opsi di atas, dimana terdapat Clicks, Impressions, CTR dan Position.

Dibagian bawah, terdapat keyword dan statistik keempat parameter tersebut.


Di Google Analytic tentu lebih lengkap. Tapi untuk mendapatkannya, kalian harus setup Analytics kalian untuk terhubung dengan Google Webmaster Console terlebih dahulu. Gampang kok.

Di atas kalian bisa lihat dengan mudah, di bagian sidebar Acquisition pada Search Console, ada beberapa opsi untuk mendapatkan statistik CTR. Bisa kita ambil melalui Landing Pages, Countries, Devices dan Queris. Inilah nanti yang akan mempermudah analisis kita.

Misalnya saja untuk keyword no 3 tersebut, memiliki CTR yang rendah 20%. Ini bisa kita selidiki lagi kenapa bisa serendah itu. Atau kalau kita ingin menaikkan CTR kueri "baju NDX a.k.a" untuk konversi penjualan baju NDX misalnya, ini bisa banget kita jadikan acuan dan monitoring dengan interval waktu tertentu.

Melakukan Analisis CTR

Jadi, ketika sebuah artikel kita muncul dengan keyword yang sudah kita set up di awal, kita juga harus memperhatikan performa post tersebut menggunakan CTR. Hal ini ya kita monitoring untuk bisa melakukan improvement pada artikel tersebut.

Baca juga: Seberapa Penting Asumsi Data?

Analisisnya sederhana saja, jika impresinya cukup tinggi tapi tidak menghasilkan clik, ada kemungkinan besar judul yang kita gunakan kurang memberikan value terhadap user. Mereka melihat artikel kita, namun tidak melakukan klik karena mungkin saja merasa tidak related.

Impresi yang tinggi tapi jumlah klik dan CTR rendah pasti ada yang salah. Padahal itu adalah keyword yang sangat bagus dan volume pencariannya besar.

Artinya apa?

Sumber page view yang melimpah. Sehingga kemudian muncul pertanyaan:

Apa yang harus dilakukan?

Bisa jadi judul artikel yang kita setup tadi kurang menarik pengunjung. Maka, pelajarilah copywriting. Buatlah judul yang semenarik mungkin. Tapi secara wajar. Loh kenapa?

Karena ketika pengguna merasa mereka dibohongi oleh janji palsu wakil rakyat judul artikel yang kita buat. Maka mereka seketika akan melakukan close tab tanpa perlu berlama-lama di situs kita. Apa yang akan terjadi?

Bounce rate kita akan naik dan ini pertanda buruk. Kenapa? Karena bounce rate bisa digunakan oleh Google sebagai sinyal relevansi sebuah artikel terhadap keyword. Bisa jadi karena bounce rate kita jelek, artikel kita semakin menurun posisinya dan paling fatal adalah deindexing atau dihapus dari hasil pencarian. Google menilai bahwa blog post kita enggak bagus. Medeni tenan cak!

Baca juga: Gimana Sih Caranya Menulis Blog Tanpa Keyword?


Mari bermain-main di sektor CTR
Gambar di atas adalah performa sebuah blog post yang diambil dari Google Webmaster. Bisa dilihat bahwa ada 3 statistik yang bisa kita utak-atik di sini. Yakni Click, Impression dan CTR.

Optimalisasi CTR menggunakan keyword



Analisisnya sebenarnya gampang banget. Kita hanya perlu melihat statistik impresi dan CTR.

Impresi adalah banyaknya tayang atau artikel kita tertampil di hasil pencarian. Sedangkan CTR adalah perbandingan antara jumlah klik dan impresi yang terjadi.

Ketika ada sebuah keyword memiliki CTR yang rendah, ada yang tidak beres pastinya. Bisa kita lihat bahwa Keyword A, B, C di atas harus dioptimalkan kembali. Salah satunya adalah dengan mengubah judul agar related dan memainkan meta deskripsinya.

Mari kita optimasi CTR untuk meningkatkan page view blog kita



Gambar berikut ini adalah modifikasi yang saya lakukan terhadap sebuah blog post. Yang saya ubah adalah judul artikel saja.

Terdapat tren kenaikkan CTR dan jumlah klik yang terjadi. Bahkan ketika impresinya menurun, jumlah klik tetap banyak. Malah cenderung naik terus.

Hubungan antara CTR dan posisi SERP artikel


Dari grafik gambar di atas, kita bisa melihat dengan jelas bahwa ketika CTR mulai naik, posisi pencarian juga semakin membaik. Hal ini secara tidak langsung bisa dikatakan bahwa untuk menaikkan posisi kita di search engine, maka kita harus menganalisis CTR yang ada di blog kita.

Sehingga kita bisa memanfaatkannya untuk dikonversi menjadi page view. Tidak dalam bentuk impresi saja.

Itulah sebabnya kenapa kita harus memperhatikan CTR. Ini termasuk dalam strategi SEO loh. Makin mantap aja page view blogmu kalo bisa utak-atik statistik satu ini. Sip lah, selamat mencoba!

P.S. Kalo ada bisik-bisik tentang page view dan CTR, tulis aja di kolom komentar. Siapa tahu saya bisa diskusi kita :p


Aplikasi Google Analytics Android


Artikel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi ketika Google Analytics—sebuah tools yang sangat powerful—yang digunakan pada smartphone Android milik saya bermasalah.

Bagi kalian yang belum tahu banyak tentang Google Analytics, tools ini merupakan layanan gratis dari Google yang berfungsi untuk menampilkan statistik pengunjung pada web atau blog yang kalian miliki. Tidak hanya jumlah kunjungan, Google Analytics bisa melihat user behaviour seperti durasi kunjungan pengunjung di situs kalian dan dari mana mereka berasal.

Google Analytics
Aplikasi Google Analytics di Android

Google Analytics semakin mempermudah seorang webmaster dalam mengelola dan mengatasi data situs atau blog dengan adanya aplikasi yang tersedia di platform Android (and of course for the other OS too). Ya, kalian bisa dengan mudah mengakses website dan blog dikelola di manapun saja. Sembari ongkang-ongkang di café atau angkat kaki menikmati pecel di pinggir jalan pun bisa. Ah, syurgawi dunia memang nikmat rasanya.
Tapi, bagaimana cara mengatasinya jika Google Analytics tersebut bermasalah dengan otorisasi akses? Ya, saya pernah mengalaminya di smartphone Android milik saya. Sangat annoying rasanya dan pengin saya kremus saja gawai ini. *kriuk*

No Account Access Google Analytics
No Account Access


Sebab, tidak ada badai apapun, secara makjegagik muncul pesan “No Account Access”. Loh, saya kan sudah login di Google Analytics, kok ya bisa enggak ada akses akun. Pun ketika saya lihat Account Access authorization beberapa aplikasi lain tidak bermasalah.

Tapi aplikasi ini lain cerita, ia tidak bisa memunculkan data yang seharusnya bisa diperlihatkan. Saya sudah menutup aplikasi Google Analytics beberapa kali, namun hasilnya sama saja. Nah, kali ini saya akan mencoba membantu kalian yang tentu saja membaca artikel ini untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Cara menyelesaikan “No Account Access” di Google Analytics Android?

Jadi begini, saya ingin memberikan tips terlebih dahulu. Ini bukan tentang aplikasi Google Analytics saja, tapi semua aplikasi. Jika ada aplikasi yang bermasalah, cukup lakukan pertolongan pertama dengan melakukan restart ulang device tersebut.

Jangan gunakan cara lain yang justru bisa saja salah. Sederhana saja. Matikan device yang bermasalah kemudian hidupkan kembali. Kemudian lihat aplikasi yang bermasalah tersebut. Apakah masih bermasalah atau sudah normal kembali.

Jika masih bermasalah? Kalian bisa menyelesaikan “No Account Access” yang menyebalkan ini dengan cara berikut ini:

1. Gunakan hanya satu akun Google saja

Kemungkinan yang pertama, akun Google kalian mengalami crash authorisasi. Jika begini adanya, ya sudah. Logout semua akun Google yang ada di device Android milikmu.

Account Delete Google Analytics di Android
Hapus saja akun Google-nya!

Hal yang bisa kamu lakukan adalah menghapus akses dari semua akun milikmu. Sisakan satu atau login menggunakan satu akun saja. Inilah yang bisa kamu lakukan:
  • Buka Setting
  • Masuk ke menu Accounts
  • Tap Google Account
  • Hapus akun Google yang lain. Sisakan satu saja
  • Restart ulang Android kamu
  • Buka aplikasi Analytics

Menghapus Akun Google Analytics
Sinkronisasi akun Google melalui Accounts
Setelah itu, periksa aplikasi Analytics milikmu, apakah masih bermasalah atau tidak. Jika sudah tidak bermasalah, tambahkan akun yang lainnya kembali dan berbahagialah.

2. Cobalah hapus data dan cache aplikasi GoogleAnalytics

Mungkin saja data aplikasi di Android Google Analytics bermasalah, jika begini adanya, kamu harus mencoba menghapus data aplikasi tersebut. Enggak mengerti caranya? Gampang kok:
  • Buka Settings
  • Masuk ke Apps atau Manage Apps
  • Carilah aplikasi Google Analytics atau Analytics
  • Simpel saja, tap Clear Data dan Clear Cache
Clear Cache dan Clear Data Analytics Android
Clear Cache dan Data Google Analytics

3. Mungkin Google Service Framework-nya bermasalah

Google Service bisa saja mengalami crash walaupun aplikasi ini termasuk pre-installed app yang ada hampir di semua device Android. Fungsinya? Ya untuk melakukan sinkronisasi data dengan Google, sehingga (seharusnya) bisa berjalan dengan baik.
  • Buka Settings
  • Masuk ke Aplikasi atau App Manager
  • Cari dan buka Google Service Framework
  • Tap Force Stop dan Clear Cache
  • Restart 

Menghapus Google Service Framework
Google Service Framework
Tidak ada aplikasi yang benar-benar sempurna, termasuk aplikasi dari Google. Mungkin saja, ini adalah bug yang harus segera dibereskan oleh Google. Ada baiknya, setiap pembaruan aplikasi langsung kalian perbarui. Jika masih bermasalah, periksa versi Analytics milikmu. Jika ada versi terbaru, lakukan update alias pembaruan untuk mengurangi bug yang ada.

Apakah Google Analytics kamu masih bermasalah? Atau kamu punya cara lain untuk mengatasinya? Silakan share di kolom komentar di bawah ya. Hope this helped and have a nice day!
membuat jump link dalam satu halaman


Ngeblog memang gampang tapi kadang bisa jadi susah. Lha pie to? Gini, ngeblog memang gampang. Tapi kalau dibarengi dengan keinginan belajar lebih lagi, bisa makin susah. Ya, memang resiko. Tapi ini yahud banget kok untuk dipelajari. Yakin lah, ora marai mumet. Gampang!

Jadi beberapa waktu yang lalu ada yang curhat ke dapur jungjawa.com, terkait masalah blog. Weleh, pie ki? Jadi gini, Mas Abdus Salam menanyakan tentang membuat daftar isi di sebuah post. Terutama menggunakan platform Blogger.

Mungkin, agak mirip-mirip Wikipedia gitu lah ya. Pembaca bisa melihat daftar isi dan tidak perlu repot-repot scrolling untuk melihat konten yang diinginkan. Cukup klik dan makjegagik, layar sudah berpindah otomatis dan menampilkan konten yang dimaksud. Penak po ra? Pancen penak zamanku kok.

Pertanyaannya, mungkinkah ini bisa dilakukan di platform Blogger atau blogspot?

Woh, ya bisa dong. Kalau kalian ndak pengin membaca tutorial step by stepnya, bisa lanjut ke bawah dengan cara klik link ini saja. Wes, dicoba dulu. Enggak perlu banyak protes.

Ambil ancang-ancang bikin jump link dulu

Sebelumnya, ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan untuk membuat link (jump link) atau daftar link pada sebuah blog post. Sebuah link memerlukan target dan clickable link yang bisa kita gunakan menuju target link tersebut.

Secara teori, membuat link di dalam sebuah halaman hanyalah menghubungkan tag <a href> dengan kondisi tag yang ada. Ya, inilah yang dinamakan jump link. Apakah hanya terbatas digunakan dalam satu halaman? Tidak. Kita bisa langsung lompat ke halaman lain (dalam hal ini alamat url yang berbeda) dan langsung menuju section yang diinginkan. Woaah.. ngganteng ki!

Target link pada blog post

Mudah saja, pilih bagian pada artikel ingin dijadikan sebagai target link, bisa berupa sebuah paragraf, sub judul atau apapun yang kita inginkan. Supaya tidak jenuh, jangan lupa bahagia karena hidup tanpa bahagia akan terasa hambar.

Saran saya, ada baiknya target kita masukkan dalam section sub judul. Bisa tag H2, H3 maupun H4. Terserah. Tergantung struktur situs atau blog sampeyan. Jangan ke tag paragraf (p). Karena pembaca nanti akan puyeng, terjatuh dan tak bisa bangkit lagi tenggelam dalam lautan luka yang dalam.

Ketika sudah menentukan target, kita berikan identitas dalam bentuk id="nama-link". Nah, properti "nama-link" inilah yang akan menjadi penghubung antara link dan target. Usahakan bikin yang pendek-pendek saja. Kalau bisa, tanpa spasi lebih enak karena biar ndak error.

Fyi aja sih ya, karakter space atau spasi akan berubah menjadi "%20" ketika masuk ke dalam alamat pada addres bar peramban kamu. Jadi, ya nanti bisa kisruh alias ruwet bin mumet.

Contoh Jump Link yang dibuat

Nah, membuat jump link sendiri gampang sekali. Kalau kamu menggunakan platform Blogger atau blogspot, masuk ke bagian HTML editor, bukan compose loh ya.

Membuat Jump Link Blogspot
Klik yang HTML ya gaes

Supaya ndak bingung, saya menyiapkan langkah-langkah membuat jump link dengan gambar sebagai berikut:

membuat tag link tautan
Masukkan #nama-link yang diinginkan dalam tag <a href>



tag index jumplink menggunakan id
Buatlah target dengan menyisipkan id="nama-link"

Penerapan kodenya seperti ini:
<a href=”#nama-link”>link yang bisa di klik</a>


<div id=”nama-link”>

//nama-link digunakan sebagai target

//konten apa aja yang kamu suka. bisa blog post atau yang lainnya

</div>

Kalau sudah jadi, hasilnya bisa seperti ini:
Klik di sini biar bisa ambil ancang-ancang.

Lha kalo mau langsung ke bagian lain di halaman yang berbeda, ya sama aja. Gampang, tinggal tambahkan id dari properti yang akan kita tuju. Contohnya seperti di bawah ini.

<a href=”alamat_halaman.html#nama-link”>link teks</a>

Wes, gampang tho? Jump link ini berguna sekali ketika kita membuat artikel panjang yang memiliki rincian penjelasan yang berbeda. Biar pembaca bisa dengan mudah mencari apa yang diinginkan, kita berikan saja jump link untuk mempercepat pencarian informasinya.

Masih enggak paham?


P.S. Jangan lupa menambahkan tanda pagar (#) dalam tag a href hal ini berpasangan dengan tag id yang digunakan. Selamat mencoba!


"Yaelah cuy, bikin konten tutorial mulu. Gak bosen?

"Bikin tutorial tuh capek bro. Belum editnya sama bikin deskripsinya. Apalagi kalo yang baca tutorial kita malah makin enggak ngerti. Makin capek deh. Fiyuh..."

***

Ya, beberapa blogger secara sederhana membuat artikel dalam bentuk tutorial. Tentang bagaimana cara melakukan sesuatu hal seperti yang dimiliki oleh WikiHow atau bagaimana tips mengerjakan sesuatu. Wes pokok e tumpek blek ning Google.

Konten tutorial sebenarnya hanyalah sebuah artikel dengan solusi praktis dan aplikatif dari seorang blogger. Satu hal yang bisa didapat dari konten tutorial, pembaca menemukan solusi sederhana dari permasalahan yang mereka hadapi.

Itu saja.

Mungkin beberapa orang merasa bahwa konten tutorial terlalu sederhana untuk dibuat. Belum lagi, saya pernah membaca sebuah artikel yang bernada skeptis terhadap konten tutorial. Marai pengin ngomong basingse

Prespektifnya, konten tutorial membuat pengguna internet khususnya generasi milenial menjadi sangat manja. Mau cari tutorial hijab, di Youtube ada. Mau cari resep masak? Tinggal Googling. Ya semudah itulah.

Seolah-oleh konten tutorial dengan mudahnya menyuapi pembaca dengan hal-hal aplikatif nan praktis. Saya sih ndak masalah dengan konten tutorial. Wong saya juga merasa terbantu dengan mereka yang dengan itikad baik membagi tips maupun langkah-langkah mengerjakan sesuatu.

Toh, problematika konten tutorial enggak usah dipikir njlimet layaknya gelaran pilkada. Biasa wae ah.

Ya kalau dengan konten tutorial bisa membantu banyak orang, kenapa ndak boleh tho? Kalau dengan menulis langkah-langkah yang aplikatif, mengapa harus menjejali isi otak dengan pernyataan teoritis? Tidak ada yang salah, justru semua benar adanya.

Kemajuan teknologi memang membuat segalanya lebih mudah, efisien dan praktis. Kita enggak perlu bingung caranya masak pakai rice cooker misalnya. Tinggal Googling. Tunggu sebentar. Matang. Kemudian hidangkan selagi hangat.

Laptop kamu mati karena blue screen. Googling aja untuk cari solusinya. Mau servis sepeda motor tapi enggak ngerti harga spare-part di pasaran? Cari di Google. Mudah, sekaligus kamu bisa membandingkan beberapa merk terkait. Mudah kan?

Konten tutorial ataupun penjelasan akan suatu hal bukanlah konten ecek-ecek. Wong niatnya juga membantu orang lain. Lha kita sebagai blogger ya cuman dapat sedikit pageview, dua sendok makan bounce rate dan satu tetes receh dalam bentuk dollar Adsense. Hehehehe...


Selain itu, enggak banyak yang mau memaksakan diri masuk ke dalam Quora, Stack Exchange, Kompasiana, Medium atau pun platform diskusi lokal seperti Kaskus untuk mencari solusi permasalahan yang dihadapi. Ribet bro.

Memang, saya tidak menunjukkan data pasti dan riset terkini. Tapi, dengan jelas bahwa dalam hal mencari informasi dan petunjuk, kita tidak perlu masuk ke situs tersebut. Cukup Googling dan biarkan mesin pencari ‘memikirkan’ petunjuk yang tepat dalam bentuk artikel tutorial.

Kalo ndak puas dengan penjelasan dalam bentuk tulisan, kita bisa lihat Youtube. Ingat, Youtube bukan hanya tentang vlogging saja. Banyak sekali edutaiment di dalamnya. Ya seperti yang saya bilang di atas tadi, ya tutorial hijab ya tutorial pakai sarung juga ada. Beres!

Jangan pernah berhenti membuat tutorial. Karena tutorial adalah bagian dari edukasi. Memiliki pendidikan tinggi bukan berarti pintar dalam segala hal sehingga tidak perlu tutorial. Pun begitu, sebegitu bodohnya hingga meremehkan internet sebagai tools kekinian adalah tindakan yang kurang tepat.
Lingkaran setan kurang membaca tidak akan pernah habis untuk dipikirkan. Kalau ingin pintar, bacalah dulu langkah-langkahnya. Sebuah produk pasti memiliki buku panduan dasar. Sungguh, bijak apabila membaca setiap langkahnya.

Jika saya boleh menjawab judul post ini, maka sederhana saja. Tidak akan pernah ada waktu untuk berhenti membuat konten tutorial. Ya, tutorial mengedukasi otak yang terlalu kosong untuk diisi. Menyuapi generasi muda dengan konten tutorial sehingga membuat manja? Tolol saja mempermasalahkannya.

#NowPlaying Sheila On 7 – Terima Kasih Tutorial
menghapus-file-log-plesk


Beberapa waktu yang lalu saya berencana untuk memindahkan host dari salah satu project web. Ndilalah kok ya apes bener. Lha, gimana ndak apes. Pengetahuan saya tentang sistem admin dan masalah manajemen hosting web memang cuman sak uprit.

Masalahnya, saya hanya bisa mengakses hosting dengan GUI dan masalah saya itu berkaitan dengan file log akses dan eror. Oke, untuk menghapus file log secara manual mungkin lebih mudah, tapi tidak efisien.

Sebentar, apakah file log error dan log akses aman untuk dihapus? Sebenarnya fungsi dari file log sendiri adalah mengumpulkan catatan debug. Baik itu error maupun akses ya sama. Error ya mengumpulkan kesalahan dan akses ya mengumpulkan histori akses user seperti alamat IP, browser dan sebagianya.

Tentu saja ukuran dari file log tersebut makin lama makin membengkak. Ujung-ujungnya menyita jatah space hosting yang kita miliki. Jadi, sebaiknya file log tersebut dihapus saja. Tapi secara otomatis, ndak manual. Pancen ribet nek manual ki.

GUI-disk-plesk
Ini kondisi sudah bersih, file lognya cuman kecil kan ya.
Saya akan menjelaskan bagaimana menangani file log ini dengan mudah di Plesk. Ya, kebetulan saya menggunakan Plesk untuk hosting salah satu website saya. Dari panel di atas dapat dilihat penggunaan disk saya sebenarnya hanya 4% dari total 10 GB atau sekitar 360 MB saja.

menghapus akses log yang membengkak
Mumet ndase ya, file log 265 MB. Bisa muat berapa post job review tuh? :p
Namun dengan adanya file log yang tidak 'diurus' dalam satu tahun terakhir, penggunaan disk saya mencapai 7% atau sekitar 700 MB. Wah, banyak juga ternyata.

Untuk mengatasi hal ini di Plesk, saya melakukan Log Rotation di mana file log akan dihapus secara otomatis. Tidak perlu repot-repot menghapusnya secara manual.

Menghapus file log otomatis dengan Log Rotation



Cukup mudah untuk melakukan setup Log Rotation di Plesk. Caranya saya jabarkan di bawah ini. Cukup sederhana, kamu cuman butuh laptop, kopi (iki penting) dan koneksi internet. Oh iya, akun Plesk juga.

  1. Login ke akun Plesk kamu dan masukkan username serta password. Inget loh ya, password, bukan PIN ATM
  2. Klik domain yang akan kita lakukan Log Rotation
  3. Nah, di sana akan ada Log Manager Button, klik saja
  4. Kemudian masuk ke Log Rotation
  5. Jika Log Rotation berwana hijau, maka Log Rotation belum diaktifkan. Klik saja.
  6. Pilih metode rotasi log. Bisa per hari atau dibatasi dengan ukuran maksimum file log
  7. Jika kamu menggunakan ukuran, set ukurannya dalam KB ya, di mana 1MB = 1024 KB. Got it?
  8. Boleh juga sekalian file log dikompresi atau bisa dikirimkan via email. Gampang tho?
  9. Jangan lupa klik tombol Update biar kesimpen. Beres
  10. Minumlah kopi yang disiapkan tadi. Keburu dingin lho ya.
Cara menggunakan Log Rotation
Itu ada tombol merah, artinya sudah aktif. Kalau masih hijau, klik saja untuk mengaktifkannya.
Panel lain seperti CPanel bisa menggunakan Cron Job. Secara teknis, mungkin sama. Jika ada waktu, mungkin akan saya tulis dikesempatan selanjutnya.
image optimizer


Kurang sreg rasanya ketika sebuah blog post tidak disertai gambar. Ibarat angkringan ya, sego kucing yang dipesen cuma teri thok, tanpa embel-embel tahu bacem dan koyor bakar. Ealah, ini mau bahas tools buat ngeblog apa ngobrol-ngobrol makanan tho?

Jadi gini, kebiasaan saya (dan juga mungkin beberapa blogger lainnya) adalah menyisipkan gambar pada sebuah blog post. Ya, tujuan awalnya sih untuk mempercantik artikel yang diterbitkan. Kan, katanya sebuah gambar mampu mewakili 1000 kata. Gitu kan ya?

Nah, kalo gambar yang diupload banyak, bagaimana? Usut punya usut nih, ternyata ukuran gambar adalah penyebab utama bertambah besarnya ukuran artikel blog kita.

Baca juga: Does Design Really Matter for Your Blog?

Misalnya gini, untuk satu buah gambar yang kita gunakan berukuran 1MB saja. Itu kalo gambar yang kita gunakan kita patok berasal dari jepretan kamera smartphone yang paling kecil. Padahal, untuk ukuran standar saja, rata-rata kamera ponsel bisa menyimpan gambar dengan ukuran lebih dari 2MB.

Bagaimana jika lebih dari satu gambar yang digunakan untuk artikel blog kita? Katakanlah ada 5 gambar saja dengan ukuran rata-rata per gambar adalah 1MB. Ya tinggal dikalikan saja. Hasilnya? Sebuah blog post dengan ukuran lebih dari 5 MB! Ediyaaan tenan.

Bisa jebol kuota paket data kalo gini caranya reeek!

Padahal, kalo ada gambar yang susah banget dimuat, pengunjung sudah buru-buru close tab. Lha, kan jadi ribet sendiri tho masalah ukuran gambar saja.

Solusi

Sebenarnya, solusinya sangat sederhana. Bagi yang bisa pake tools seperti Adobe Photoshop, bisa melakukan kompresi manual dengan cara Save as for Web. Selain itu, bisa menggunakan Microsoft Office Picture Manager untuk melakukan kompresi ukuran gambar.

Baca juga: Wajib Ngerti: Nyantumin Foto Buat Blog Lo

Tapi, solusi ini nggak sesimpel yang dibayangin. Lha gimana mau simpel kalo belum bisa mengoperasikan Photoshop? Ndak ngerti caranya mengubah ukuran gambar menggunakan Microsoft Office Picture Manager juga bisa jadi masalah lain. Pokoknya ribet!

Daripada pusing mending turu wae nde~ via favim.com


Mau pake plugin, eh kan ndak pake Wordpress. Jadinya ya tanpa plugin buat mengkompresi gambar. Padahal, nafsu untuk menulis di blog sudah mateng banget. Tinggal diceplok jadi telur dadar deh. Hehehe...

Compressor.io

Solusi lainnya adalah menggunakan online tools yang guampaaaang banget buat diakses. Istilahnya one click solution lah ya.

Beberapa hari yang lalu, saya nemu tools buat kompresi gambar, Compressor.io. Mungkin ini versi gratisnya dari Kraken.io ya. Walaupun gratis, saya rasa performance dari Compressor ndak kalah sama Kraken.

Dan juga kalo mau cari tools kompresi gambar yang lain bisa cari di Google dengan keyword image compressor yak.

Compressor.io is a powerful online tool for reducing drastically the size of your images and photos whilst maintaining a high quality with almost no difference before and after compression.

Compressor.io mengklaim mampu mengkompresi gambar hingga 90% tanpa harus mereduksi kualitas hasil dari kompresi yang dilakukan. UI dari Compressor pun tidak ribet. Cukup drag and drop saja image yang akan dikompresi, tunggu hingga proses upload selesai dan unduh hasil kompresinya. Tidak ada proses yang bertele-tele kok. Pendek saja.

reduksi gambar semakin kecil
Sebuah landscape photography yang saya reduksi menggunakan Compressor.io


Saya mencoba mengkompresi sebuah foto pemandangan dengan ukuran 4.8 MB. Hasilnya, Compressor.io mampu  mereduksi ukuran foto tersebut menjadi 1.02 MB saja. Hampir mereduksi ukuran gambar tersebut sampai 80%. Ya, tentu saja tanpa harus mengurangi kualitas gambarnya dong ya.

Enaknya nih, Compressor.io memberikan pilihan langsung untuk penyimpanan file yang telah dikompresi. Kita bisa menyimpannya di cloud storage populer seperti Dropbox dan Drive dari Google.

Simpan di cloud storage biar gampang nde! - via compressor.io


Sayangnya, fitur bulk upload alias kompresi rame-rame belum tersedia. Jadi, kalo mau melakukan kompresi foto secara massal, ya nggak bisa. Harus upload satu per satu gambar yang akan dikompresi.


A Picture Is Worth 1.000 Words

Bagaimana jika sebuah elemen foto menjadi hal krusial di blog kita? Bahkan foto atau gambar mampu memberikan sentuhan berbeda untuk artikel yang kita tulis.

Sayang sungguh sayang, apabila momen yang kita tangkap melalui kamera tidak sempat dinikmati oleh para pembaca akibat ukuran foto yang terlalu besar. Mereduksi ukuran gambar yang digunakan adalah solusinya.

Tentu saja, tidak hanya masalah ukuran gambar yang tereduksi, secara tidak langsung hal tersebut juga akan memengaruhi kualitas SEO halaman tersebut. Bagaimana bisa? Tunggu saja cerita saya selanjutnya. Lha kalo saya beberkan semua di sini, ndak ada cerita lanjutannya buat nanti. Hehehe...

Baca juga: Kenapa Sih Belajar SEO?

Ada yang tertarik untuk menggunakan Compressor.io? Atau sebagian dari kalian bahkan sudah memiliki tools alternatif lainnya untuk mengkompresi gambar? Share your thought di kolom komentar di bawah ini ya. For sure, I would love to know about them.



Apakah kamu termasuk pengguna internet yang akan menutup tab browser secepat-cepatnya ketika membuka sebuah situs atau blog dengan waktu loading yang begitu lama?

Jika iya, maka kita termasuk satu tim #TimCloseTab

Ketika mengunjungi sebuah blog dengan waktu tunggu yang relatif begitu lama, tentu saja kita akan merasa cepat bosan. Apalagi konten yang ada di blog tersebut lumayan berat, padahal koneksi internet yang kita gunakan tidaklah secepat alunan dangdut yang secara cerdas dimainkan oleh kondektur bus pantura.

Apa yang terjadi ketika sebuah blog memiliki waktu tunggu yang terlalu lama? Ya, seperti yang saya bilang tadi. Langsung close tab.

Saya menemukan beberapa faktor penting untuk mengoptimalkan kecepatan sebuah blog. Termasuk bagaimana SEO akan mempertimbangkan kecepatan situs tersebut. Sebab, semakin ke sini, Google (search engine) menggunakan kualitas UX dalam penilaian suatu situs. Termasuk kecepatan loading sebuah situs itu sendiri terhadap kenyamanan pengunjung.

Logikanya seperti ini, blog A memiliki load time 12 detik dan blog B memiliki load time 4 detik. Dengan asumsi kecepatan internet yang sama, konten yang sama dan hanya berbeda pada load time saja, maka pengunjung sudah dipastikan akan lebih memilih blog B.

Mengapa? Karena blog B lebih cepat menampilkan konten yang ia miliki. Bagaimanapun juga, waktu 1 detik yang digunakan oleh pengguna internet adalah hal yang sangat berharga.

Sederhananya, saya menemukan hal ini karena statistik blog yang saya kelola (termasuk jungjawa.com) memiliki tren average time on page yang menurun. Mungkin saja page load time memengaruhi secara keseluruhan. Namun, ada alasan khusus mengapa saya menyimpulkan demikian.

Hal ini saya curigai disebabkan karena SumoMe. Tools inilah yang membuat page load time saya menanjak seperti tebing terjal.

SumoMe via sumome.com

Tools SumoMe ini saya gunakan selama dua minggu di beberapa blog untuk melihat heat map dan click yang terjadi. Namun, akibat dari tools ini, saya mengorbankan load time untuk mendapatkan insight tersebut. Sungguh blunder yang menyebalkan.

Click position map yang masih sedikit.


Oh, tapi tidak juga. Akibatnya saya jadi bisa menuliskan tentang hal ini di blog. #AhAlesanAjaSih

Saya mencoba membandingkan data blog yang saya miliki dengan blog milik +uni dzalika. Fyi, blog miliknya memiliki lebih dari 1500 page view per hari. Sebuah statistik yang cukup mudah untuk dibandingkan karena sampel yang diambil bisa cukup banyak.

Hasilnya, blog saya (dengan SumoMe) memiliki tren average time on page yang menurun dalam jangka waktu 2 minggu terakhir sejak SumoMe saya gunakan.

Memang, pada awalnya saya menggunakan SumoMe untuk mendapatkan insight. Namun, tak disangka ternyata tools ini juga membuat time on page saya juga ikut menurun. Oke, selanjutnya saya harus memperbaiki time on page yang sudah ndak karuan kacaunya ini
Average time on page blog Uni Dzalika (atas) dan blog saya (bawah)

Dari data yang saya dapat dari Analytic di atas, memperlihatkan penurunan sebesar 10,92%. Sebenarnya, ini hanyalah gambaran kasar average time on page yang saya ambil. Bukan detail yang sebenarnya. Namun, sudah cukup memperlihatkan bahwa kecepatan memuat blog yang semakin lama akan membuat pengunjung enggan berlama-lama menunggu loading blog tersebut.

Mengapa saya menyimpulkan demikian? Saya mendapatkan load time yang lebih tinggi cenderung memiliki average time on page yang lebih rendah.

Blog Uni Dzalika (atas) dan blog milik saya (bawah)


Contohnya gambar di atas. Blog milik Uni memiliki load time 4.57 s dengan time finish 4.56s. Jika dibandingkan dengan statistik blog saya, hanya terpaut tidak lebih dari 5 detik. Well, maka dari itu saya harus memperbaiki kecepatan blog saya. Salah satunya dengan optimasi javascript yang saya gunakan.

SumoMe memang tools yang powerfull. Saya akui itu. Namun, untuk blog dengan statistik kurang dari 500 page view per harinya, saya rasa itu adalah hal yang sia-sia dan terlalu riskan.

Mengapa sia-sia?

Pertama, untuk melakukan mapping 50 klik saja sangatlah susah di setiap harinya. Jadi, saya rasa untuk mengetahui posisi di mana pengunjung melakukan klik tidak perlu repot-repot menggunakan SumoMe karena data yang didapat tidaklah begitu banyak.

Kedua, Google Analytics sudah memiliki fitur serupa yakni In-page Analytics dan Behaviour Flow. Ya, kurang lebih ya sama dan masih bisa diandalkan.

Kemudiaan, muncul pertanyaan. Bagaimana melakukan optimasi blog dari segi kecepatannya? Sebenarnya cukup mudah. Jangan gunakan script apapun. Karena akan memengaruhi kecepatan load time.

Namun, apakah cukup penting membuat blog dengan load speed di bawah 1 detik? Saya rasa tidak perlu. Karena 5 detik pun masih bisa dibilang cepat. Mungkin faktor yang menentukan apakah perlu ditingkatkan atau tidak adalah 'rasan-rasan' pemilik blog saja.

Jika memang perlu dipercepat, ya monggo. Silakan. Tapi, bagaimana caranya?

Gunakan ukuran gambar yang terkompresi

Siapa yang ingin membuka sebuah artikel blog dengan ilustrasi yang cukup berat? Sebuah gambar dengan size 500 kB misalnya? Saya sih ndak mau. Mending saya close lebih dahulu.

Sebab saya mencari konten berupa teks, bukan gambar. Terkecuali jika blog tersebut memang menonjolkan ilustrasi dan gambar. Fotografi dan infografis misalnya.

Selamatkan kuota internet dengan kompresi via websiteoptimization.com

Itulah sebabnya saya memiliki standar penting untuk mengkompres ukuran setiap gambar yang saya muat di blog ini agar tidak lebih dari 100 kB. Mengapa 100 kB? Untuk ukuran normal agar setiap gambar mampu dimuat dalam waktu kurang dari 1 detik saja.

Untuk mencari gambar sendiri tidak perlu repot-repot dan bingung. Ingat, copyright dari gambar yang diambil. Jika ingin aman, bisa menggunakan situs penyedia gambar dengan atribut free license untuk menyari ilustrasi blog. Tentunya akan lebih baik jika menyertakan atribusi.


Gunakan script seperlunya

Ini seperti blunder saya sebelumnya dengan memasang SumoMe. Saya terlalu memporsir ambisi untuk mendapatkan insight sebanyak-banyaknya. Hasilnya? Durasi page load saya membengkak yang berimbas pada average time on page yang menurun dengan signifikan. Penurunan 10% bukanlah sesuatu yang sepele.

Gunakan script yang sewajarnya dan memang benar-benar diperlukan. Saya pun lebih memilih untuk menghapus SumoMe daripada membuang waktu pengunjung blog untuk memenuhi ambisi yang ndak karuan itu.





Hasilnya cukup sederhana, load time menurun dari 8.10 s menjadi 3.93 s. Ah, hanya mengurangi sebuah request bisa membahagiakan juga.

Jangan lupa untuk mencoba kecepatan blog milikmu melalui browser atau peramban yang berbeda. Mungkin saja kemampuan Chrome dan Firefox sedikit berbeda. Namun, nggak ada salahnya toh dicoba?

Asal jangan menggunakan Internet Explorer saja. Ups!

Selain itu, cobalah akses melalui perangkat mobile. Apakah sudah cukup nyaman dari segi kecepatan loading blog milikmu.

Kesimpulan

Sebenarnya cukup sederhana dan mudah dilogika. Blog yang memiliki kecepatan load yang singkat membuktikan bahwa blog tersebut terawat dengan baik. Jadi, ya kalo mau pengunjung betah berlama-lama (average time on page), ya salah satunya adalah dengan memperbaiki kecepatan load blog milikmu.

  • Gunakan gambar yang terkompresi dengan baik. Let me say, di bawah 100 kB lah
  • Usahakan sedikit mungkin menggunakan external script yang akan membuat load page time semakin lama
  • Gunakan GTmetrix atau Google PageSpeed Insight untuk mengukur kecepatan blog kamu. Jika malas, bisa gunakan DevTool milik Chrome, jangan lupa untuk Disable cache untuk mendapatkan load time yang sebenarnya.
  • Pertimbangkan faktor SEO. Terkadang ada blogger yang bodo amat dengan time on page. Jika orientasinya adalah posisi Search Result, maka page load time perlu dipertimbangkan dan dipersiapkan untuk diperbaiki.
  • Perhatikan kode status resource yang ada. Bisa buka di Chrome DevTool > Network > Status Code. Apakah masih berfungsi dengan baik atau malah sudah 400 Bad Request
Terakhir dan yang paling penting adalah terus berusaha memperbaiki kualitas blog kita. Selain kualitas teknis, tentu harus dibarengi dengan kualitas konten yang dimiliki.

Jangan menunggu waktu untuk menulis lagi. Bahkan permasalahan kecil bisa jadi bahan untuk sebuah artikel. Ya, seperti saya ini. Hehehe...

Jadi, seberapa cepatkah loading blog milikmu? Boleh share di kolom komentar yak!





Header image credit: pixabay.com


Bagi seorang blogger, momen ketika tulisan kita dibaca oleh orang banyak adalah hal sederhana yang sangat menyenangkan. Tentu saja, hal itu akan tercapai ketika banyak sekali pengunjung yang mencari artikel kita kemudian membacanya. Lha kalo banyak yang baca kan menyenangkan, tho?

Baca juga: Dear Blogger, Bongkar Kebiasaan Berkomentar Milikmu!

Channel organic atau search engine adalah salah satu kanal yang bisa kita gunakan untuk mendapatkan traffic loh, guys. Jadi, kalo kita mau visibilitas blog kita terlihat baik di mata search engine, mau nggak mau ya harus cari tahu cara belajar SEO yang benar.

Tapi tunggu dulu. Belajar SEO untuk blog itu susah-susah gampang. Apalagi, SEO itu ndak seperti makan makanan pedas. Pas dimakan langsung terasa pedasnya. Ndak gitu.

Terus gini:

"Sudah serius belajar SEO tapi blognya nggak muncul juga di halaman pertama hasil pencarian. Jangankan halaman pertama, masuk ke hasil pencarian aja untung-untungan."

Sebenarnya gini, kemungkinan besar apa yang kita pelajari itu masih kurang loh ya. Kurang banget. Selain itu, bisa juga metode belajar kita yang masih salah. Mungkin, kita perlu lebih jauh ngobrol biar nyamain visi tentang masa depan rumah tangga bersama, ya kan? #ikiopo

Pendeknya, SEO hanyalah tools. Mengapa? Karena asumsinya sederhana. Penulis digital atau blogger yang ingin mempelajari SEO tentu sudah menguasai tentang bagaimana membuat artikel atau konten tulisan yang menarik. Nah, SEO tadi berguna untuk memperluas audiens penulis tadi melalui search engine.

Kenapa belajar SEO? Balik lagi ke alasan utama SEO sebagai tools. Ya untuk menghubungkan para pencari konten (pengguna search engine) dengan penyedia konten (blogger) dong ya.
Sebenarnya, alasan belajar SEO untuk saya yang masih pemula itu sangat sederhana sekali. Gini, traffic dari search engine itu kan gratis dan melimpah. Maka, boleh dikatakan, SEO itu adalah teknik yang cost-effective untuk mengakuisisi pengguna atau pengunjung. Karena gratis. Oke?

Kalo boleh dibandingkan. Ketika kita melakukan promosi konten melalui media sosial, maka kita memerlukan biaya untuk marketing. Got it?

Pengecualian untuk blog yang memiliki resource yang cukup tinggi di media sosial. Seperti fans Facebook Page yang melimpah ruah atau followers Twitter yang sangat banyak. Maka, cost marketing tadi 'mungkin' nggak seberapa besar jika dibandingkan traffic yang didapat.

facebook-ads-untuk-blog
Facebook Ads via pixabay.com


Sedangkan blogger atau penulis yang tidak memiliki resource media sosial yang memadai tentu akan sulit bersaing untuk mendapatkan traffic dari media sosial. Pengecualian lain ketika ia secara konsisten mampu memproduksi artikel-artikel viral. Wah, kalo itu pasti udah kece banget cara dia menulis.

Optimasi website di mesin pencari adalah proses yang harus kita lakukan secara berkala karena search engine (terutama Google) selalu memperbarui algoritma hasil pencarian mereka dan menampilkan website yang paling relevan dan teroptimasi dengan baik.

Oke, cukup basa-basinya. Artikel ini bukan 101 cara untuk memunculkan blog milik kita di hasil pencarian. Tapi, sebagai introduction tentang SEO dan hal-hal menarik ketika kita mempelajari SEO. Dan jungjawa.com sudah membuat podcast untuk artikel ini. Jadi, kalo kamu ndak punya waktu baca artikel ini, kamu bisa mendownload podcast ini dan mendengarkannya.



Konten yang ada di podcast dan di artikel ini sebenarnya sama aja. Cuman agak beda sedikit tapi nggak terlalu jauh kok. Cuman gimmick sederhana. Dan semoga dengan adanya podcast ini, kamu yang baca-baca tentang SEO semakin semangat untuk menerapkannya di blog. Yeay!

Oke, lanjut nih.

Kenapa sih belajar SEO?

Seperti penjelasan sebelumnya. SEO akan memperbanyak 'kemungkinan' pembaca blog milik kita. Kemudian, ketika blog kita memang memiliki goals tertentu, maka SEO akan mempermudah kita untuk mencapai goals yang kita inginkan.

Google Search Engine Indonesia
Google Search Engine via pixabay.com


Selain itu, seringnya blog kita muncul di hasil pencarian akan memperbesar kemungkinan blog kita makin terkenal. Apalagi blog kita punya hal-hal informatif yang dibutuhkan oleh pembaca.

Belajar SEO di mana ya?

Belajar SEO itu bisa otodidak. Materi belajarnya bisa kita cari di internet. Gampang kok. Kalo kamu mau belajar banyak ya bisa ke blognya milik Mas Sugeng. Kemudian, kalo kamu ingin belajar banyak tentang SEO dan materinya selalu update, kamu bisa ke blognya Moz.

Terus ada juga Quora dengan topik SEO, belajar dari blognya Sujan Patel atau juga bisa kita belajar dari Neil Patel. Pokoknya internet memberikan banyak sekali materi tentang SEO yang gampang untuk dipelajari. Tentu ya kita terapkan di blog, agar apa yang kita pelajari bisa langsung kita lihat hasilnya.

Hal teknis SEO itu seperti apa?

Jadi, masih banyak yang salah kaprah tentang SEO. Karena masih banyak blog yang salah menggunakan tag dan lain sebagainya. Teknis dari SEO sendiri itu termasuk kata kunci artikel tersebut, sampai hal teknis fundamental seperti pemilihan nama domain.

Hal-hal teknis dalam SEO
Hal-hal teknis dalam SEO via pixabay.com


Bahkan, desain dan loading yang baik akan menambah nilai SEO blog tersebut. Apapun yang relevan dengan konten akan membuat nilai SEO blog kita semakin meningkat, termasuk desain dan kecepatan situs tadi. Dasar-dasar penggunaan tag seperti H1, H2, H3, H4 itu juga perlu dipelajari. Termasuk penggunaan alt tag untuk gambar yang digunakan di blog kita.

Tapi jangan fokus di sana. Sebab, fokus kita adalah menulis artikel yang relevan dan baik untuk pengunjung. Dan hal-hal teknis seperti itu udah bisa kita dapatkan dengan mudah. Kalo di blogger, kita bisa dengan mudah mencari template yang sudah SEO friendly. Kalo kamu menggunakan Wordpress, kamu bisa install berbagai plugin SEO untuk menaikkan optimasi SEO yang sudah kita lakukan.

Tools buat SEO apa aja?

Sebenarnya, tools untuk cek SEO itu banyak banget. Mulai dari yang biasa aja sampai yang direkomendasikan untuk SEO expert. Kamu bisa menggunakan tools sederhana seperti SEO Quake, Keyword Planner dan Analytics sebagai alat untuk mengukur performa SEO blogmu.

SEO Quake via seoquake.com


Oh iya, mungkin juga butuh Copyscape buat jaga-jaga plagiarisasi konten yang kita tulis di blog. Sebab, duplikasi konten adalah hal yang bisa memperburuk kualitas sinyal SEO blog kita.

Jadi, kesimpulannya seperti ini, SEO membuat kita mengoptimasi tulisan yang ada di blog untuk human dan bot. Lalu, untuk membuat pengunjung human senang, kita harus membuat mereka menyukai relevansi konten yang kita buat.

Buatlah konten yang menggugah selera pembaca untuk membaca sampai habis hingga melakukan goal berupa share. Ketika pengunjung blog milikmu datang, buatlah navigasi yang mudah untuk mereka, termasuk mempermudah dengan adanya share button. Kenapa? Semakin banyak yang melakukan engagement terhadap kontenmu, maka akan memberikan sinyal relevansi kepada bot sebagai pertanda konten yang baik.

Buatlah konten untuk human! Kemudian buatlah bot mengerti konten apa yang kita buat. Itu saja sih, semua tentang SEO dan optimasi belajar SEO. Gimana, cukup menarik, kan?


Header image credit: pixabay.com

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2022