Good Ideas. Great Stories - Jung

Ngomongin tentang blog dari sisi teknis ya emang nggak jauh-jauh dari pembahasan tentang hosting, pemilihan domain dan provider. Tentu saja, kalo soal mana yang lebih diutamakan, memilih domain harus lebih didahulukan. Misalnya memilih menggunakan custom domain, ya jangan lupa untuk cek ketersediaan domain terlebih dahulu. Ya, siapa tau kan, domain blog yang mau dipilih udah tidak tersedia.

Selanjutnya, yang enggak kalah penting adalah pemilihan hosting. Apa itu? Ya ibaratnya, kita butuh sewa space untuk menyimpan data blog kita di internet. Ngomong-ngomong tentang hosting, kita dihadapkan lagi dengan pilihan menggunakan VPS atau justru menggunakan Shared Hosting. Loh, apalagi itu?

Apa perbedaannya?

Ada VPS, ada Shared Hosting. Apakah berbeda? Ya tentu saja. VPS singkatan dari Viritual Private Server atau server fisik yang dedicated untuk kita gunakan. Sedangkan Shared Hosting adalah server fisik yang digunakan bersama-sama untuk beberapa account atau pengguna selain kita.

Jadi, bisa diilustrasikan kalo VPS, kita menyewa sebuah PC Server untuk kita kelola dan digunakan secara penuh. Baik itu untuk satu blog atau beberapa blog sekaligus. Sedangkan untuk Shared Hosting, kita 'patungan' dengan orang lain dan berbagi space untuk menyewa PC Server tersebut.

Terus, apakah kita perlu memakai VPS untuk blog?

Sebentar, setelah saya menjelaskan mengenai VPS, ada baiknya perlu memahami hal-hal terkait VPS jika dibandingkan dengan Shared Hosting.

Ini yang sensitif nih, masalah harga. Saya menemukan beberapa penyedia shared hosting dengan kisaran harga mulai dari Rp. 10.000 untuk term satu bulan. Sedangkan VPS Indonesia termurah yang saya temui berani mengajukan harga mulai dari Rp. 100.000 per bulan dengan spesifikasi RAM 512 MB, 1 CPU dan 10 GB SSD. Memang secara kasar hitungan harga, masih 10x lipat lebih tinggi. Namun, resource yang ditawarkan cukup menarik untuk dicoba apalagi penyedia hosting dalam negeri pun sudah berlomba-lomba memberikan harga Rp 100.000 untuk VPS dengan spesifikasi tersebut.

Lantas, apakah dengan harga bisa langsung menyimpulkan bahwa blog kita perlu menggunakan VPS? Belum tentu. Lanjut! Memiliki resource yang dedicated sesuai spesifikasi paket memang membuat kita gampang sekali memilih instalasi OS yang digunakan. Yah,walaupun ujung-ujungnya harus ubek-ubek 'forum' lagi. Tapi dari sini, kalian harusnya nyadar sih kalo menggunakan VPS itu emang nggak semudah yang dibayangkan. Ada drawback yang harus dipertimbangkan.

Keleluasaan kustomisasi dibarengi oleh kesulitan untuk melakukan kustomisasi. Ibarat sepeda motor ya, kalian bebas melakukan modifikasi knalpot, shockbreaker atau bore up mesin. Tapi, nggak semudah itu kan kalian bisa bongkar mesin dan menjadi mekanik dalam satu malam?

Balik lagi ke VPS. Menurut saya, ada baiknya penguasaan teknikal di blog dengan shared hosting sudah dikuasai terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berpindah ke VPS (ya walaupun enggak menutup kemungkinan untuk kalian yang niat belajar VPS untuk memilih menggunakannya).

Jadi, pakai VPS nggak nih?

Penggunaan VPS ya boleh-boleh aja kalo emang tujuannya buat belajar. Nah, beda lagi kalo untuk keperluan migrasi. Boleh dihitung juga misalnya dengan traffic blog kita sudah mencapai 1.000 atau 10.000 pageview per hari, ini bukan berarti VPS menjadi sebuah kewajiban. Kenapa? Karena kalo kita menggunakan resource yang berlebihan ya jatuhnya overkill dan overpriced sih. Terlalu ngoyo kalo dalam bahasa jawa.

Padahal dengan shared hosting aja mungkin sudah cukup. Bahkan dengan biaya 50.000 sampai dengan 75.000 per bulan sudah bisa mengakomodir hal tersebut. Ibaratnya nih ya, kalo pake VPS kalian bisa ngebut. Tapi, apakah perlu ngebut kalo emang nggak lagi buru-buru. Iya kan? Terus, buat kalian yang ngerasa hosting sekarang emang rasanya agak 'seret' atau mulai lelet, mungkin perlu optimasi beberapa hal. Seperti apa? Ya bisa dengan pake platform yang lebih ringan. Terus kalo kalian make WP ya bisa dengan bersih-bersih plugin yang nggak guna sih.



Provider hosting pasti sudah menyiapkan server mereka dengan baik dan sia-sia aja kalo kita sebagai pengguna nggak pake itu dengan benar. Eh, bukan benar ding, tapi maksimal. Sudah bayarnya lumayan mahal, eh cuman dipake gitu-gitu aja.

Kesimpulan

Hehehe.. sudah kayak laporan penelitian aja, ada kesimpulan pada akhirnya. Ya, dari yang saya jabarkan di atas, balik lagi ke kalian. Mungkin dengan mudah jika pertanyaannya seperti ini:

  • Apakah sudah cukup 'paham' dengan performa blog yang kalian kelola?
  • Apakah kalian bisa melakukan assesment dan audit blog untuk menentukan pemilihan hosting yang digunakan
  • Apakah secara operasional resource yang diperlukan sudah cukup besar?
  • Bagaimana dengan optimalisasi? Sudah dilaksanakan atau jangan-jangan belum sama sekali?

Nah, gimana? Sudah tau jawabannya dong. Kalo masih belum, ya boleh diomongin di kolom komentar aja. Kita bahas bareng.
Photo by rawpixel.com from Pexels




Judul artikel ini bukanlah sebuah gertakan. Tapi, asumsikan saja saya sedang bercerita dengan sedikit bumbu-bumbu serius. Nggak perlu skeptis. Santai saja.

***

Mungkin akan lebih mudah jika diawali dengan sebuah pertanyaan:
"Apa alasan kalian membuat sebuah blog?"
Jadi begini, konsep berbagi paling mudah yang saya dipahami dan sederhana adalah membagi pengetahuan yang dimiliki. Seandainya kalian suka tentang makanan? Silakan ngumpul bareng dengan geng kuliner di kelas. Perkenalkan diri kemudian bahas dikit tentang lokasi makan yang enak dan lain sebagainya.

Kalian bisa saling berbagi tentang hal yang disukai, lakukan atau pun juga hal-hal yang nggak menyenangkan. Nah, nggak cuman di dunia nyata. Konsep berbagi juga bisa digunakan di dunia maya atau internet.

Jika di dunia nyata, kalian bisa menulis menggunakan buku catatan harian dan membagikannya kepada teman-teman. Sekarang, kalian bisa dengan mudah menuliskan hal serupa menggunakan internet. Topik yang ditulis pun sesuai dengan kemampuan dan kegemaran kalian. Boleh juga pandangan kalian terkait suatu hal seperti isu sosial maupun membahas tensi politik. Tapi, kenapa harus membuat blog? Apa alasannya?

My Personal Reason

Sekitar akhir 2008-an, saya membuat blog. Ya, media yang bisa digunakan untuk saling berbagi dalam bentuk apapun terutama tulisan. Alasan saya juga beragam. Selain karena untuk berbagi, media blog juga cocok sebagai tempat belajar. Saat itu saya senang sekali belajar tentang personal branding, self development dan visual graphic. Kemudian di tahun 2011, saya sedikit tertarik tentang dunia marketing. Pada saat itu sudah banyak sekali blog yang membahas tentang marketing. Bahkan marketing pun terbagi-bagi lagi menjadi sub topik yang lebih kecil. Salah satu yang menarik bagi saya adalah digital marketing.

Ilmu digital marketing sangat penting dipelajari dalam mengelola sebuah blog. Loh, kenapa penting? Karena jika niat kalian adalah berbagai, kenapa nggak serius untuk membagikannya kepada khayalak umum? Jika cuman kalian tulis dan dibiarkan begitu saja, akan sia-sia karena setiap harinya selalu ada informasi baru dan berubah. Tentu kalian nggak ingin apa yang kalian bagikan tenggelam begitu saja. Itu alasan sederhana dari saya yang juga menjadi dasar untuk membuat layanan blog beberapa tahun yang lalu.

Ngomongin tentang digital marketing, saya berkenalan dengan topik ini pertama kali dari blog. Pada saat itu saya pernah mendapatkan kesulitan ketika diberikan tugas untuk memasarkan suatu produk, dalam hal ini affiliate produk. Kerjasama ini sedikit sulit karena pemasarannya harus melalui media internet. Sedangkan saya nggak memiliki latar belakang marketing sama sekali. Wong ya namanya jualan kan ada ilmunya, lha itu, saya nggak punya. Nah, dari blog saya banyak belajar dengan mereka yang berkecimpung dalam digital marketing.

Why Digital Marketing so important?

Dari digital marketing saya memahami Search Engine Optimization (SEO). SEO menjadi pakem umum sebagau acuan bahwa website kalian sudah muncul di hasil pencarian melalui search engine. Wait what? Marketing dan SEO? Yap, tepat sekali. SEO adalah teknik pemasaran digital yang secara teknis menggunakan hasil pencarian sebagai tools untuk menghubungkan apa yang kalian tawarkan menggunakan internet.

Photo by PhotoMIX Ltd. from Pexels


Apabila website belum memiliki performa SEO yang diinginkan, maka harus segera dibenahi. Visibilitas yang baik di search engine adalah strategi marketing digital yang penting. Sebab semakin banyak kemungkinan orang masuk ke website secara organik.

Selain melalui back-end dan coding, konten yang ada di blog kalian juga berperan penting untuk mengoptimalkan SEO. Salah satu caranya adalah dengan memastikan kamu memiliki konten yang up-to-date, ditulis dengan baik, dan konten juga memuat kata kunci penting terkait produk dan atau jasa.

Selain SEO, strategi digital marketing lain adalah Conversion Rate Optimization (CRO) sebagai acuan Untuk mengukur keberhasilan campaign atau metode digital marketing yang kalian lakukan. Semisalnya membeli suatu produk, mendaftarkan diri, membuka halaman tertentu, melihat video sampai habis dan sebagainya. Dalam meningkatkan conversion rate, kalian dapat memperbaiki website melalui pop up banner (walaupun ini annoying sih) atau sebuah main banner yang catchy.

Jadi, belajar ilmu marketing adalah salah satu alasan terkuat saya kenapa harus membuat blog. Kemudian kenapa saya sangat tertarik dengan SEO dan CRO? Karena kedua hal ini bisa langsung diaplikasikan dan dicoba hanya dengan sedikit effort. Ibaratnya, saya bisa melakukan trial-error untuk berbagai kasus yang berbeda.

Namun, bukan berarti membuat blog akan semudah menjentikkan jari. Kelemahan saya adalah sering stuck jika dipaksa membahas hal lain yang tidak saya kuasai. Dalam hal ini menulis topik di luar kemampuan saya. Hal ini baru saya sadari ketika menjalankan suatu project yang membutuhkan bidang lain dan saya nggak memiliki kenalan di sana. Ya, karena saya berteman dengan orang yang itu itu saja keahliannya. Saya sadar, bahwa harus ada 'jembatan' yang dibangun. Ini yang menjadi alasan lain kenapa saya masih bergelut mengelola blog. Ada beberapa alasan kenapa saya menulis sebuah blog sebagai 'jembatan', yaitu.

Pertama, pengetahuan. Ya, pengetahuan kalian bisa jadi lebih luas. Kalian bisa menanggapi topik tertentu dari sudut pandang yang berbeda. Pengetahuan semakin luas karena semakin banyak saya menulis. Ya karena saya harus semakin banyak membaca. Sometimes, I need to read before I write.

Kedua, sharing knowledge. Setelah saya mendapatkan pengetahuan, ada satu hal lagi yang perlu dilakukan yaitu sharing knowledge. Mengapa? Ya kalo ide menulis hanya ada di angan-angan, kadang kalian nggak tau kalo peluang lain juga menanti.

Beberapa teman saya yang hobi menulis sekarang sudah bekerja dari apa yang selalu mereka kerjakan. Ya jadi penulis konten artikel, penulis lepas atau content creator video maupun grafis. Writing and publishing are the most effective ways to serve the others.

Ketiga, jadi semakin banyak koneksi. Serius deh. Coba bayangkan jika semakin banyak orang yang kalian kenal dan mereka tau keahlian kalian, maka semakin mudah kalian direkomendasikan untuk mengerjakan suatu hal. Itu baru satu sisi positifnya, mungkin jika kalian merasakan sebuah kesulitan, orang lain bisa membantu kalian. Misal nih, kalian kebagian project sebuah desain blog dan main content di dalamnya. Sedangkan expertise kalian adalah copywriting dan content writing. Maka kalian membutuhkan partner untuk membuat tampilan website tersebut. Kalo networking sudah tercipta dan banyak, makan tugas ini akan mudah untuk dikerjakan.

Keempat, improve my writing skills. Seriously, kalo nulis cuman dibaca sendiri kadang-kadang jenuh juga. Ada saatnta saya membandingkan hasil tulisan saya dengan artikel milik orang lain. Bahkan jika networking kalian sudah terjalin dengan baik, ada saatnya teman kalian ikut mengkoreksi apa yang sudah dikerjakan. Tentu hal ini akan menambah wawasan dan meningkatkan keahlian kalian dalam menulis artikel

And here is a little secret

Ngomongin tentang blog nggak jauh dari dunia internet. Mulai dari hal teknis kepenulisan hingga operasional seperti domain dan web hosting. Teknis kepenulisan bisa kalian pelajari seiring berjalannya waktu. Entah itu dari teman-teman di komunitas maupun dari berbagai kompetisi yang diselenggarakan.

Lain halnya dengan sisi operasional seperti pemilihan nama domain, server dan web hosting. Poin utama adalah sumber daya yang reliable. Sehingga nggak ada alasan lagi blog milik kalian punya down time yang terlalu lama atau bahkan sulit diakses. Banyak sekali provider hosting di Indonesia. Namun, saya merekomendasikan web hosting murah 2019 bersama Domainesia.

Why Domainesia?

Simpelnya, harga yang ditawarkan cukup bersahabat yakni mulai dari Rp. 8.000/bulan hingga Rp. 64.000/bulan. Itu sudah pakai 100% Enterprise SSD untuk performa. Ya tau sendiri lah kecepatan SSD dibandingkan hosting konvensional yang masih menggunakan HDD.

Domainesia punya server di Jakarta. Server yang berdekatan dengan blog kalianya pastinya punya potensi secara efisien untuk dapat memiliki akses yang lebih cepat.

Pssstt... info penting nih buat kalian yang ingin beli hosting melalui Domainesia saya punya voucher potongan 20% nih dari Jungjawa. Tinggal masukin aja kupon 'JUNGJAWA20' pada pembayaran kalian. Enak kan? Paling penting menurut saya adalah support ke konsumen. Domainesia dalam hal ini sangat baik. Saya pernah mengalami permasalahan teknis dimana harus dikerjakan secepat mungkin. Admin chat support dari domainesia mampu melayani saya dengan baik pada saat itu. Wagelaseh!

Jadi, apakah kalian sudah menemukan alasan tersendiri kenapa harus membuat sebuah blog? Atau jangan-jangan kalian punya alasan lain yang jauh berbeda dengan saya, tidak masalah. Silakan, dunia itu memang nggak sempit kok. Bahkan kalian punya kesempatan untuk saling berdiskusi di kolom komentar. Happy blogging!

P.S. Just a small note, I think it can help me to read this article again to gain some reasons why I started create a Blog


Artikel terakhir di blog ini adalah sponsored post. Sedangkan artikel pure opini terakhir mengenai Digital Printing Solution sudah saya tulis setengah tahun yang lalu. Sad :(

Apa yang seharusnya saya lakukan?

Bukan tanpa sebab kenapa saya sulit menulis akhir-akhir ini. Selain karena urusan lain yakni pekerjaan, ada hal yang kurang mendukung saya. Saya baru sadar ketika laptop yang saya pakai sekarang tidak powerfull seperti laptop Asus X450JB sebelumnya.

Well, saya sering menggunakan laptop tersebut untuk editing foto untuk blog. Sekarang saya harus downgrade menggunakan laptop 12 inchi. Tentu saja kemampuannya tidak bisa dibandingkan dengan perangkat sebelumnya.

Hal tersebut membuat saya untuk mencari tools untuk blogging yang lebih mudah. Terakhir, saya menemukan artikel terkait Jekyll sekitar akhir tahun 2017. Saat itu saya mencoba membaca artikel tersebut masih merasa kurang cocok.

Building static site generator? Terdengar kurang familiar bagi saya. Walaupun setelah itu saya membuat akun Github dan 'hanya' menggunakannya untuk menyimpan source code beberapa script untuk blog yang saya kembangkan.

Namun, saya masih belum bisa move on dari blogspot untuk menjadikan domain jungjawa.com beralih dengan static page generator. Ya, walaupun saya sadar, blogspot memiliki banyak limitasi.

Dokumentasi yang kurang memadai menjadi alasan saya untuk segera berpindah dari platform ini. Selain itu, saya hanya melakukan manajemen untuk satu file XML saja. Selain sulit, ketergantungan kepada widget.js dan kawan-kawan dari Google JS yang lain menjadikannya sulit untuk local editing.

Dalam mengembangkan template blogspot pun saya harus dituntut untuk selalu memiliki konektivitas internet yang memadai. Setelah dilakukan editing secara lokal, saya harus copy paste XML tersebut dan testing di dummy blog. Melihat hasilnya, apakah bisa berjalan dengan baik, atau tidak.

Stackoverflow dan Github pun tidak banyak membantu untuk mencari dokumentasi blogspot. Ya, karena kebanyakan sudah mak plek jadi langsung pakai template saja.

Pada akhirnya, akhir Maret 2019 kemarin saya mulai beralih menggunakan Jekyll. Mempelajari bagaimana static page bisa digunakan untuk menulis blog dan ternyata, perbedaan signifikannya ada di loading time yang cukup cepat.

Jekyll saya gunakan di domain saya yang lain, yaitu dev.jungjawa.com. Sekalian belajar Jekyll, saya tuliskan saja beberapa tahapannya. Bisa jadi artikel kan. Lumayan.

Halo, kenalan dulu yak!


What is Jekyll

Sebelumnya, ada dua jenis website yang harus kita kenal: website dinamis dan website statis. Website dinamis dibuat menggunakan CMS atau Content Management System. Misalnya Wordpress, Blogger/Blogspot, Tumblr dan lain sebagainya. Konten yang dibuat disimpan dalam sebuah web database yang bisa sewaktu-waktu dipanggil ketika ada request.

Contohnya ketika kita membuka Tirto.id dan melakukan pencarian artikel 'teknologi informasi' misalnya. Tirto tidak menyediakan sebuah halaman HTML yang berisi artikel terkait teknologi informasi. Tapi, Tirto memiliki frame khusus untuk hasil pencarian artikel. Di belakang layar, mesin akan mencari artikel dengan kata kunci 'teknologi informasi' di database yang dimiliki oleh Titro. Kemudian hasil pencarian tersebut akan dimuat ke dalam frame hasil pencarian tersebut.

Sehingga ketika ada artikel-artikel baru yang masuk ke database, maka artikel tersebut dapat ditampilkan di hasil pencarian.

Baca juga: Catatan Tentang Jekyll untuk Pertama Kali (Part 1) — Introduction

Sedangkan untuk website statis, tidak menggunakan database. Konten yang ditampilkan pada halaman website statis memang sudah ada pada file HTML-nya. Tidak ada mesin yang mencari dari database. Wong database-nya wae ndak ada kok.

Artikel blog post yang ada di website statis, ditulis satu persatu menggunakan tekt editor seperti Sublime, Notepad atau VSCode.

Nulisnya ya kayak gini, huhuhuhu~


Menulis blog post di website statis, Jekyll menggunakan format Markdown dan HTML. File-file ini nantinya dikonfigurasi oleh sebuah file config untuk diupload ke server dan ditampilkan sesuai dengan theme atau HTML page yang sudah kita set.

Banyak kelebihan yang bisa saya rasakan ketika sudah menggunakan Jekyll ini jika dibandingkan dengan Wordpress maupun Blogger untuk aktivitas blogging, di antaranya:
  • Tidak berlebihan. Tidak seperti Wordpress yang memiliki banyak sekali plugin dan sangat sulit untuk tidak dimanfaatkan. Wordpress lebih cocok jika dikembangkan lebih dari sekadar blog. Bisa ecommerce maupun hal lainnya sesuai website dinamis. Jekyll lebih cocok sebagai blogging platform karena simple, apalagi hanya memiliki satu author untuk blog personal.
  • Page loading time absolutely unbelieveable. Memuat halaman tanpa harus melakukan request database ke server akan memangkas banyak sekali waktu load time suatu website. Apakah hal ini berpengaruh untuk SEO? Nah, ini menarik untuk dipelajari.
  • Security. Website statis 'mungkin' lebih secure. File yang ada di dev.jungjawa.com hanyalah file statis. Rasanya lebih aman dari gangguan hacker maupun malware. Kecuali username dan password bisa didapatkan. Jika dibandingkan dengan Wordpress yang memiliki banyak vulnerabilities.
  • Github. Nah, ini yang saya suka. Saya pernah kepikiran untuk membeli sebuah hosting di beberapa provider hosting lokal. Niatnya untuk membuat sebuah web blogging dan menyimpan file-file saya di hosting tersebut. Namun, setelah saya mengetahui bahwa dengan Github, bisa membuat sebuah blog. Tentu saja ...gratis.
  • Dokumentasi. Adanya Github di belakang Jekyll, maka akses untuk mempelajari dokumentasi, pengembangan source code atau diskusi dengan komunitas menjadi semakin terbuka. Memudahkan untuk saling kolaborasi.
  • Local edit. Blog post Jekyll bisa saya tulis di komputer lokal, dengan format Markdown maupun pure HTML. Selanjutnya, ketika ada koneksi internet, saya tinggal push ke Github milik saya. Tanpa harus editing tulisan dikasih bold, miring, menyisipkan gambar dan lain sebagainya.

Namun, dibalik banyaknya keuntungan menggunakan Jekyll, saya menyadari bahwa ada kekurangan yang saya temui di sini:
  • Menulis blog post menggunakan website statis berarti harus bertemu dengan teks editor dan murni formatting menggunakan simbol khusus Markdown atau HTML. Bagi yang terbiasa editor WYSIWYG tentu hal ini cukup merepotkan. Selain harus menghafal, tentu harus banyak sekali praktek yang dilakukan. Contohnya untuk membuat sebuah kata menjadi tebal, maka harus ditulis dengan tanda **kata** disetiap awal dan akhir kata. Mirip yang kita tulis di Whatsapp. Cukup repot.
  • Instalasi yang cukup ribet. Saya memerlukan sekitar satu hari untuk menciptakan 'ekosistem' Jekyll di laptop yang digunakan sekarang. Seperti instalasi Github Desktop, membuat Github Page, memasang Visual Studio Code dan lain sebagainya. Sangat berbeda apabila menggunakan Wordpress atau Blogger. Cukup dengan membuka web browser.
  • Tricky. Ada beberapa hal yang perlu dicari lebih dalam untuk menggunakan Jekyll. Saya harus benar-benar membaca troubleshooting yang sudah dilakukan oleh orang lain di Github. Memahaminya agar tidak terjadi error dalam development yang sedang saya kerjakan. Contohnya dalam mengubah tampilan blog. Jika dengan Wordpress dan Blogger bisa sekali klik, dengan Jekyll saya harus membuka root folder dan mencari file .scss dan variabel yang harus saya ganti.
Menarik enggak sih? Jika ada yang ingin didiskusikan terkait penggunaan Jekyll, bisa pakai kolom komentar di bawah nih. Jika sekedar say hello, bisa ke hello at jungjawa.com. Semoga bermanfaat dan have a nice day.


Banyak manfaat air alkali untuk kesehatan, sehingga bukan hal yang baru lagi jika seandainya beberapa orang memutuskan untuk rutin mengkonsumsinya. Namun tetap dengan beberapa batasan, karena air ini mengandung kadar pH yang basa, maka tidak boleh berlebihan dalam mengkonsumsinya atau nanti bisa menganggu kinerja dari pencernaan. Jumlah maksimal yang hendaknya dikonsumsi adalah 3 gelas perhari, tentunya dengan diselingi air putih atau air mineral biasa.

Namun meskipun jumlah yang dianjurkan untuk dikonsumsi minimal adalah 8 gelar air perhari, hanya saja banyak orang yang tidak melakukannya, konsumsi air putih kurang dari jumlah tersebut.

Sehingga sering kali mengalami dehidrasi, hati-hati karena dehidrasi ini bisa memicu berbagai macam masalah kesehatan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar Anda lebih suka minum air putih, diantaranya adalah:

  1. Cobalah untuk membiasakan minum air putih setelah buang air kecil, ini cara efektif untuk mengganti cairan yang sudah dikeluarkan oleh tubuh sebelumnya dengan yang baru, sehingga menjadi lebih segar.
  2. Biasakan untuk setidaknya minum air putih segelas sebelum makan, dengan demikian porsi makanan yang dikonsumsi juga semakin kecil karena sudah kenyang, hal tersebut sangat bagus untuk mereka yang menjalankan program diet.
  3. Buat infuse water, yaitu penambahan buah-buahan segar kedalam air sehingga bisa menambah cita rasanya, namun tidak mengurangi kandungan gizi yang ada di dalamnya. Hal ini dapat meningkatkan selera mengkonsumsi air putih.
  4. Mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar air tinggi, seperti diantaranya adalah buah dan juga sayur-sayuran, hal ini juga efektif di dalam mencukupi kebutuhan cairan di dalam tubuh, karena beberapa makanan mengandung air dalam jumlah yang tinggi.
  5. Cobalah untuk membuat jadwal minum air putih, diantaranya adalah dengan memakai alarm pengingat kapan waktu minum.
Mudah bukan, konsumsi air minum pH tinggi dari Pristine dan rasakan manfaatnya setelah pemakaian beberapa minggu, baik untuk menjaga kesehatan dan juga kecantikan. Namun tetap imbangi dengan konsumsi air putih biasa tentunya.
Artikel ini disponsori oleh Sewatama, perusahaan penyedia jasa solusi ketenagalistrikan

Photo by rawpixel.com from Pexels


Permasalahan yang terjadi pada penggunaan listrik di Indonesia saat ini memang kerap kali terjadi. Permasalahan tersebut dikarenakan seringnya pemadaman listrik di beberapa daerah, dan juga peningkatan harga tarif listrik yang semakin melonjak tinggi. Dengan adanya beberapa permasalahan tersebut, masyarakat yang perlu menyikapinya. Yang paling utama adalah dengan memanajemen penggunaan listrik tersebut sebaik mungkin. Ketika kita bisa menghemat listrik maka yang paling diuntungkan adalah dari penggunaan tersebut. Nantinya akan bisa mengatasi berbagai permasalahan yang ada pada listrik di Indonesia.

Apalagi untuk saat ini juga sudah banyak sekali teknologi yang dapat digunakan untuk menghemat listrik. Yaitu berupa alat yang bisa kita terapkan pada penggunaan listrik di rumah kita. Yang jelas dengan menggunakan beberapa alat penghemat listrik tersebut kita akan bisa memanajemen dan mengurangi biaya pengeluaran.

Ada banyak sekali keuntungan menggunakan penghemat listrik untuk saat ini.
  • Keuntungan yang pertama adalah menghemat dari pengeluaran biaya tagihan listrik yang pasti akan dibayarkan setiap bulannya. Jadi untuk anggaran bulanan listrik tersebut bisa kita alihkan ke hal yang lebih penting lagi.
  • Berikutnya untuk menghemat umur dari lampu ataupun barang yang menggunakan tenaga listrik tersebut. Dengan mengurangi penggunaan listrik tersebut secara otomatis akan memperpanjang usia dari alat ataupun lampu yang kita gunakan.
  • Ikut berpartisipasi dalam mencintai bumi karena kita di bumi ini menggunakan berbagai bahan yang pada umumnya dari bumi. Karena semua pembangkit listrik pasti memanfaatkan kekayaan alam di bumi ini.
  • Untuk menghemat bahan bakar fosil, karena energi dari listrik tersebut didapat dari pengolahan bahan fosil.

Apalagi untuk kalian yang menjadi pelaku usaha dalam bidang industri. Penggunaan penghemat listrik untuk industri memang perlu di manajemen sebaik mungkin. Memerlukan alat yang nantinya akan bisa memanajemen pengeluaran listrik tersebut. Biasanya untuk industri pasti mengeluarkan tekanan yang sangat kuat dan pastinya akan banyak sekali mengeluarkan biaya. Cara yang paling ampuh yaitu dengan menggunakan penghemat listrik tersebut untuk mengantisipasi berbagai kendala ataupun permasalahan
Artikel ini disponsori oleh Traveloka, solution for all your travel needs

Photo by Nubia Navarro (nubikini) from Pexels



Penghujung tahun yang ditunggu telah tiba! Ya, bisa sedikit berbahagia karena ada waktu untuk mengambil jatah cuti tahunan, libur natal dan tahun baru. Saatnya piknik, du du du~

Salah satu hal yang sedang saya rencanakan untuk agenda akhir tahun adalah mengakhirinya dengan berlibur. Ya, mau gimana lagi. Wong kerja lembur bagai quda setiap harinya. Libur tipis-tipis bakalan worth-it banget nih.

Karena, stress management itu penting.
Banget.

Tahun ini saya bekerja di luar Pulau Jawa. Tepatnya di Kalimantan Timur. Terdengar menarik, tapi di sini saya sulit menemukan destinasi wisata. Ya, atau mungkin saya belum mengeksplor lebih jauh lagi.

Serius, di sini mau bepergian cukup susah dan jauh. Akses jalan dan moda transportasi yang tersedia cukup minim. Apalagi kalau lokasi tempat tinggal berada di pelosok. Bukan di perkotaan.

Bisa saja pakai kendaraan pribadi, namun cukup menyita waktu dalam perjalanan dan tentu saja sangat melelahkan. Pokoknya enggak semudah di Pulau Jawa.Titik.

Sehingga, pilihan libur akhir tahun saya jatuh kepadaaa..... Kota Bandung.
Yes!

Well, saya tidak menampik bahwa umur yang masih muda adalah kesempatan emas untuk melancong jauh dari rumah dan zona nyaman. Begitupun mengenai pilihan berlibur. Selayaknya juga jauh dari tempat kerja.

Baca juga: Kenapa Anak Muda Harus Travelling? 

Kenapa Bandung?

Simple saja sih. Bandung sebagai kota pilihan lain selain Jogja. Ya, mosok Jogja mulu. Hambok ya sekali-sekali sunda pisan euy hehehe....

Saya pernah ke Bandung. Tapi, short trip saja.

Pada tahun 2014 saya melakukan short trip ke Bandung. Hanya satu hari dan tidak banyak destinasi wisata yang bisa saya kunjungi. Kota dengan luas 167.7 km persegi ini sebenarnya menyajikan banyak sekali pilihan wisata.

Kalau saya sih ingin menikmati wisata kulinernya terlebih dahulu di daerah perkotaan. Toh katanya ada Martabak Andir yang tersohor itu. Penasaran gimana rasanya.


Martabak maknyus by Andir (?) yang bikin penasaran. Foto via iklantravel.com


Kota yang Review-able

Banyak hal di Bandung yang menyita perhatian saya sewaktu short trip 4 tahun lalu seperti alun-alun kota Bandung, Trans Studio, Kawah Putih Ciwidey, Observatorium Bosscha, Paskal Food Market, dan lain sebagainya.

Kalau saya browsing di internet, wisata unggulan di Bandung cukup banyak. Bahkan sebagai pilihan destinasi akhir tahun saja sepertinya masih tidak cukup mengingat saya hanya memiliki libur dua sampai tiga hari saja.

Jadi, saya harus membuat travel plan yang cukup jitu.

Baca juga: Jalan-jalan ke Bandung

Affordable Price

Mungkin bagi sebagian orang, harga di Bandung mahal. Tapi bagi sebagian lainnya merasa cukup murah. Ya, kalau seperti ini tinggal pintar-pintarnya saja untuk menentukan destinasi dan akomodasi saat travelling.

Saya mencoba melihat beberapa hotel yang ada di Bandung melalui jasa pemesanan tiket hotel online. Hasilnya, masih ada kok harga hotel di bawah 500-an ribu. Ya, tinggal tentukan saja kriteria hotel yang dicari sesuai kebutuhan.

Transportasi ke Bandung

Rute paling enak menuju Bandung ya flight dari Balikpapan langsung menuju Bandung. Tapi, pilihan terbang pagi secara direct tidak ada. Padahal saya menginginkan flight pagi agar sesampainya di Bandung bisa explor terlebih dahulu sebelum check-in hotel.

Nah, justru pilihan lainnya saya harus ke Bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Rute penerbangan Balikpapan-Jakarta memiliki pilihan flight schedule yang lebih banyak. Bahkan saya bisa flight jam 7 pagi.

Walaupun, nanti saya harus mencari akomodasi tambahan dari Jakarta ke Bandung. Tapi saya tidak khawatir karena untuk travel bandung jakarta, saya bisa mengandalkan Traveloka. Cukup tentukan tanggal, maka pilihan beberapa penyedia travel akan ditampilkan.



Travel bus yang bisa digunakan dari Jakarta ke Bandung. Foto via Instagram @daytransshuttle


Hal ini mempermudah saya untuk menyusun itenary, sehingga moda akomodasi sudah saya susun sedemikian rupa untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mungkin di post lain saya akan memberikan sedikit tips bagaimana menyusun travel plan yang sederhana. Enggak rumit kok.

Fyi aja sih, jangan lupa untuk buka Gmaps ketika mengunjungi kota wisata kita. Soalnya, untuk travel plan, aplikasi ini bisa diandalkan sebagai 'travel guide' kita.

Terakhir, saya membuat list tempat-tempat yang akan saya kunjungi, lalu tentukan waktu, penginapan, akomodasi transportasi lokal dan travel plan terbaik di Bandung yang paling tepat buat kamu.

Dalam pemilihannya saya harus memerhatikan aksesbilitas, dekat lokasi wisata tujuan, fasilitas lengkap, dan harga ramah di kantong. Jangan lupa juga untuk membaca review pengguna sebelumnya.

Jika sudah selesai, waktunya memesan tiket travel dan reservasi kamar hotel. Yuk, saatnya ke Bandung!


Artikel ini dimulai dengan pertanyaan: Bagaimana memudahkan orang lain dalam mengerjakan hal-hal yang biasa ia lakukan? Sehingga bisa dipercepat atau membuatnya lebih efisien. Ya gimana lagi ya, wong semuanya mau serba cepat dan tepat.


Hwayoooo~

Contoh saja, jasa transportasi online. Padahal layanan ini memang sudah ada dari dulu dan kalau kita perhatikan lagi, ya memang banyak yang menggunakannya.

Tujuan saya menulis artikel ini adalah mencoba untuk membantu mereka yang mungkin pernah memiliki permasalahan yang sama dengan saya. Tetapi, artikel ini perlu divalidasi lebih dalam lagi karena pernyataan yang ada di dalam artikel ini hanya sekadar asumsi belaka. Masih belum bisa dijadikan dasar sebagai acuan literasi atau sebuah anjuran woro-woro.

Singkat cerita, di tahun 2016 saya masuk ke tahap akhir perkuliahan dan bergelut dengan skripsi. Begitu pula dengan kawan angkatan yang lain. Di jurusan yang berbeda. Di kampus yang berbeda.

Rutinitas yang hampir saya lakukan setiap bulan adalah konsultasi mengenai skripsi dengan dosen pembimbing. Setiap konsultasi, saya harus membawa beberapa paper internasional, jurnal penelitian dan draft proposal yang sudah saya susun sebagai bahan diskusi. Wis padakke mahasiswa biasane wae ~

Namanya juga mahasiswa, ngeprint ya mepet-mepet deadline. Sungguh, bottleneck selalu terjadi di tempat fotokopian mas-mas sekitar kampus.

Kenapa bisa begitu?

Ternyata selain kakak-kakak tingkat yang ndableg kuliah, adek-adek gemes pun ikut mengantri untuk sekadar ngeprint dan membuat suasana menjadi sumringah berjubel-jubel di sana. Saling bergantian colokin flashdisk di komputer printing. Ya, bikin repot.

Ruamene poool! - printfotocopybali.blogspot.com


Hingga seorang mahasiswi nyeletuk bahwa file yang akan ia print ketinggalan. Pupus sudah harapan ngeprint tepat waktu. Saya melihat ini sebagai sebuah permasalahan. Ribet. Ruwet. Semrawut.

Misal saja, satu jurusan di kampus memiliki printing activity sebanyak 50 kali selama satu hari, ada berapa total dari satu fakultas? Bahkan untuk satu kampus? Satu kampus provinsi? Ini perumpamaan yang minimalis banget loh. Tanpa add-on.

Spoiler Alert:
Artikel ini benar-benar oversimplified karena saya hanya berasumsi dan sebisa mungkin memaparkannya agar mudah dipahami. Bagi kalian yang mungkin pernah terjun secara real time atau real good, silakan mengemukakan argumen di kolom komentar yang sudah disediakan. Ingat, ojo gelut! Terimakasih.

Kesimpulannya, ada beberapa poin penting (bisa lebih sih) dari masalah ini. Masalah yang bisa jadi sebuah ide bisnis. Printing solution. Mari kita jabarkan sodara-sodara.

1. Permasalahan

Dalam menulis skripsi, saya belajar untuk merumuskan masalah dan memasukkannya di dalam BAB 1. Andaikan sebuah bisnis, maka saya harus menemukan masalahnya terlebih dahulu, baru kemudian mencari solusi yang paling praktis dan efektif.

Coba kita jabarkan permasalahan yang mungkin terjadi dalam hal traditional/konvensional printing activity:

  • tempat fotokopian/printing penuh, sesak, tidak ada lahan parkir dan tidak ada database informasi akan hal ini
  • tidak ada listing harga printing di lokasi sekitar kita. Sebentar, dimana ya fotokopian yang bisa cetak ukuran A1 sih?
  • flashdisk/data rawan hilang dan corrupt, sebaiknya menggunakan email. Tapi....

Saya pernah berfikir untuk mengirimkan email ke mas-mas fotokopian untuk ngeprint skripsi saya. Tapi, ada hal sepele. Mas-mas fotokopian enggak se-woles itu untuk ngebalesin 50 printing activity setiap harinya dan sangat kecil kemungkinannya mereka memberikan notifikasi ke pengguna bahwa order mereka telah selesai. See?

Mulai dari sini, saya sadar bahwa printing ini adalah hal sepele tapi memang benar-benar bermasalah. Oke, akan saya jabarkan diakhir artikel bahwa bisnis ini tidak terbatas pada market kampus dan mahasiswa saja. Hehehe... sebuah trik supaya artikelmu dibaca sampai habis.

Lanjut ngomongin printing solution, ada kriteria tertentu agar sebuah bisnis bisa sustainable dan menjadi sebuah startup.

  1. Market Size, banyak orang yang akan menggunakan printing solution ini. Tapi, target market kampus yang utama, kita kerucutkan di sana terlebih dahulu.
  2. Scalability, ini penting untuk bisa scale up. Usaha ini akan sustainable nggak sih nantinya? Ojo mung bondo nekat!

Asumsi saya, bisnis ini sama seperti kos-kosan. Selama kampus masih berdiri, masih ada market utama. Selama kertas dan produk printing masih dibutuhkan dalam dunia literasi dan administrasi, maka layanan ini masih jadi solusi.

Pun sama seperti jasa ojek online. Sebelum ada layanan printing online pun telah ada puluhan bisnis printing di sekitar kampus. Kalau ditotal satu provinsi di Jawa Tengah sudah ratusan (?). Tapi apakah bisnis ini nantinya akan mengeliminasi bisnis konvensional yang sudah ada tersebut? Saya rasa tidak.

Ide bisnis ini memiliki visi untuk membuat proses printilan printing menjadi lebih mudah untuk semua orang. Bahkan bagi pelaku bisnis printing sekalipun. Sehingga, kuncinya adalah tantangan scalability. Itu menurut saya.

2. Metodologi - How to start?

Setelah kita tahu permasalahan yang terjadi, saatnya membuat rincian lebih detail bagaimana memecahkan tantangan yang ada.

Market Size

Apakah pasar yang ada cukup besar?
Apakah akan bertahan lama?
Apakah perlu dilakukan kalkulasi sehingga mendapatkan angka yang mendekati kondisi nyata di lapangan?

Karena bisnis ini akan berkembang sangat cepat, perlu dilakukan riset yang lebih matang. Kemudian, bagaimana strategi ekspansi pasar yang kita gunakan di awal? Secara vertikal atau horizontal?

Mungkin secara vertikal, kita bisa melakukan penetrasi pengguna printing dengan sasaran mahasiswa kampus dan konsentrasi di Pulau Jawa terlebih dahulu.

Mungkin juga menggunakan pendekatan horizontal dengan melahirkan lini produk tidak hanya printing, tapi juga ke percetakan dan pernak-pernik seperti banner, vendel, map, poster, mug dan lain sebagainya.

Contoh kalkulasi kasar dari saya:
Dari sebuah kampus kita ambil rata-rata ada minimal 10 tempat printing dengan masing-masing minimal 50 printing activity per hari. Setiap printing activity minimal senilai dengan 10 lembar kertas. Anggap saja hanya print hitam putih seharga 200 rupiah per lembar. Maka, potensi market layanan ini:

(10 x 50 x 10 x 200)/2 adalah Rp. 500.000, ini secara kasar untuk sebuah kampus dalam hitungan hari. Kenapa dibagi dua, biar lebih murah saja sih. Hehehehe....

Ya kalo layanan ini lebih mahal atau sepadan dengan harga yang sekarang ya kurang menarik. Toh, kalau layanannya lebih mudah dan murah, pengguna tentu bisa memilih yang mana.

Kalau dihitung perbulan untuk satu kampus dengan hitungan di atas, sebagai early stage bussiness sudah bisa jalan 15jt-an. Pendapatan kotor loh ya.

Challenge

Tantangannya adalah bagaimana menemukan mereka yang mau membayar untuk layanan ini.

Ya soalnya kalau mahasiswa sih maunya hemat, daripada keluar banyak mending ke tempat print sendiri. Eittsss... itu asumsi, apa betul begitu?

Apalagi kalo hujan deres begini - ahmadshofwan.wordpress.com


Bagaimana cara mengetahuinya? Testing!
Caranya?

Awalnya memang butuh effort lebih sih.
Perlu sumber daya yang cukup sebelum progress pembuatan aplikasi.

Keuntungannya? Biaya lebih rendah dan kita bisa tahu ketika testing dengan kondisi real di lapangan.

Caranya, buat saja call center/email center yang nantinya dipakai sebagai pusat data. Ingat, pakai excel untuk mencatat transaksi yang ada. Hal ini bertujuan agar semuanya bisa di-tracking dengan benar.

Pengguna menghubungi server database dan mengirim dokumen yang akan masuk ke mitra printing. Sebelumnya, kita memerlukan mitra printing yang bisa diajak bekerjasama. Bisa diambil sampel 2-3 tempat. Usahakan dekat dengan server/call center kita.

Setelah pengguna mengirimkan file artinya melakukan order, kita mengantarkan file ke mitra printing, setelah selesai, berikan opsi. Apakah hasil printing perlu dikirimkan ke pengguna, atau pengguna mengambil sendiri ke mitra printing.

Tentu di sini ada peluang kolaborasi dengan layanan jasa antar, bukan? Kalau pengguna masih 'males' mengambil sendiri, ada opsi send by jasa kurir online dikemudian hari.

Biaya dan cara yang digunakan relatif simpel daripada langsung melakukan uji coba dengan melempar aplikasi ke pengguna. Di tahap ini, perlu juga dilakukan kalkulasi biaya terkait bagaimana operasional layanan bisa tercukupi. Terlihat simpel. Saya belum melakukan uji coba sampai tahap ini.

Distribusi Layanan

Ketika kita sudah menemukan pasar dan formula pricing yang pas, selanjutnya bagaimana layanan ini bisa digunakan. Bagaimana cara kita melempar layanan ini ke early adopters sungguh krusial.

Sebaiknya fokus ke pasar yang lebih kecil dahulu. Jika targetnya mahasiswa, maka lebih spesifik lagi, kita bisa melemparnya ke organisasi. Contohnya adalah BEM, Badan Eksekutif Mahasiswa.

Kita perlu feedback dari mereka. Seandainya berhasil, kita sudah punya orang-orang yang menjadi early adopter di kampus. Lebih valid.

Saran saya kepada founder, berikan layanan trial/promosi kepada mereka. Itu menjadi salah satu daya tarik agar tercipta mindset 'apa salahnya sih mencoba'.

Jika sudah berjalan selama satu bulan. Bisa dilanjutkan dengan 10 lembar printing gratis dengan milestone printing 50 lembar. Hal ini akan memicu pengguna untuk melakukan retensi terhadap layanan.

Penting untuk menghindari iklan ditahap awal. Apalagi ketika market, ekosistem dan kompetisi belum tercipta. Jangan sampai ujung-ujungnya kok kayak cuman bakar duit aja. Hehehehe...

3. Iteration

Langkah selanjutnya boleh diasumsikan bahwa layanan ini telah berjalan 3 bulan dimulai dengan versi aplikasi paling sederhana. Tentu saja selain menangani bug, pekerjaan menjadi semakin banyak karena muncul berbagai permasalahan baru. Diantaranya yang mungkin terjadi:
- mitra printing tidak bisa menghandle order yang terlalu banyak
- pengguna tidak puas terhadap hasil printing karena kualitas print yang berbeda di setiap mitra

Wajar terjadi karena tidak ada SOP dan standarisasi layanan. Mengapa layanan transportasi online bisa sustain? Karena memiliki standar, skema pricing dan alur yang jelas. Demikian dengan layanan printing ini.

Sebenarnya simpel. Hanya selembar kertas printing. Tapi, hasil printing pun akan berbeda-beda. Bahkan mitra printing memberikan layanan yang berbeda pula. Apalagi ketika peak day atau peak hours di masa Ujian Tengah Semester misalnya. Di sini, konsistensi layanan kita akan diuji. Lalu, apa usulan solusinya?

Ekspansi selanjutnya memerlukan teknologi dan modal. Kenapa saya katakan demikian? Karena sudah seharusnya IoT (Internet of Things) diimplementasikan. Apakah mungkin dengan perangkat Arduino atau Raspberry Phi yang bekerja pada sebuah printer yang terhubung ke internet dapat secara otomatis melakukan layanan printing?

Jika memungkinkan, maka mitra printing tidak perlu lagi menyediakan printer. Layanan kita yang justru menyediakan printer yang terintegrasi dengan app melalui minikomputer. Sehingga, mitra printing hanya perlu mengawasi, maintain dan menyerahkan hasil printing kepada pengguna ketika mereka mengambilnya.

Akhirnya tempat mas-mas ngeprint bukan jadi arena pertarungan barbar antrian lagi - pelangifotocopy.blogspot.com


Permasalahan mitra printing tidak bisa meng-handle order pun teratasi oleh server yang menggunakan algoritma mirip seperti layanan transportasi online untuk menentukan mitra mana yang paling dekat dan memiliki queque paling sedikit untuk pengguna.

Kualitas hasil printing juga terus dijaga karena menggunakan standar layanan, bukan lagi bergantung pada aset milik mitra printing. Pernah dengar eFishery? Coba cari tahu lagi. Layanan ini juga bisa mirip-mirip ke sana.

Oh iya, di awal artikel saya menyatakan bahwa layanan ini tidak terbatas pada printing saja. Tepat sekali. Saya pernah menemui sebuah case, seseorang pebisnis yang sedang dalam perjalanan bisnis. Ia ingin melakukan presentasi dan memerlukan print. Selain print biasa, ia juga memerlukan poster dan banner.

Ia bertanya pada staff hotel apakah di hotel tersebut terdapat printer. Atau bahkan digital printing terdekat dari hotel tempat ia menginap. Apabila ia harus mencari, ia tidak kenal tempat tersebut. Tentu buang-buang waktu saja.

Akan lebih baik apabila ada sebuah layanan yang mengakomodir hal itu disetiap kota. Mudah bukan?

Case lain adalah pengalaman pribadi saya disebuah site project di Kalimantan. Tentu jauh sekali apabila harus menuju ke kota terdekat untuk menemukan digital printing. Sehingga, digital printing melalui sebuah aplikasi akan jauh lebih mudah daripada pergi sejauh 60 km hanya untuk mencetak sebuah banner ukuran 1x5 meter saja.

Oh iya, saya lupa. Layanan sejenis yang hampir mirip dengan hal ini sebenarnya sudah ada. Contohnya Printerous, Prinzio, atau Gogoprint. Tapi, saya belum menemukan layanan printing masif yang tersedia di setiap kota sebagai franchise layanan printing.
Mungkin ada alasan tersendiri akan hal ini dan saya belum menemukan jawabannya. Saya akan mencoba update artikel ini jika ada hal baru yang saya temukan. Okay.

Na, sudah kepikiran? Atau punya pemikiran lain setelah membaca uraian saya di atas? Silakan share di kolom komentar ya.

Demikian artikel singkat dari saya. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Have a nice day!

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2018