Jung - All Post


Saya pernah mendapatkan kuliah tentang kehidupan dari seorang dosen. Pelajarannya cukup sederhana, amatilah huruf T dan carilah makna apa yang bisa dijelaskannya.

Awalnya, saya cukup bingung. Mengingat, apa yang bisa kita lihat dari bentuk huruf T? Hanya ada tiga garis (atau dua) dengan 4 titik (atau tiga) yang saling dihubungkan. Bagaimana bisa huruf T dipandang hingga merefleksikan sendi-sendi kehidupan?

Ternyata...

Pertama, adalah bentuk tiga garis tadi. Jika dibagi menjadi dua jenis, huruf T memiliki 2 jenis garis. Yakni garis vertikal dan horizontal.

Kedua, garis inilah yang mencerminkan pengetahuan akan kehidupan. Sebuah makna vertikal untuk mendalami dan horizontal untuk memperluas. Maka, sederhananya, ketika huruf T memiliki jenis garis yang dominan, itulah yang tercermin dari diri kita.

Bukan, artikel ini bukan membahas ramalan kehidupan manusia. Hanya saja, kita bisa berusaha untuk belajar dari bentuk huruf T. Memilih untuk mempelajari segala hal (horizontal) atau mendalami yang kita pelajari (vertikal).

Baca juga: Mimpi + Eksekusi = Sempurna

Tentu saja, huruf T akan dikatakan berbentuk huruf T ketika garis vertikalnya cukup panjang. Mendalami sebuah ilmu pengetahuan secara spesifik dan memberikan unique point tersendiri. Bukan maruk ke mana-mana tapi tidak paham sama sekali.

Pun demikian dengan makna huruf T, bisa sefilosofis ini. Berusaha untuk ahli dalam suatu bidang, bukanlah mudah. Gampangnya, jika kita analogikan dengan dunia blogging dan blogger. Wah, mulai menarik nih.



Jika saya adalah huruf T, maka saya akan menciptakan unique point tersendiri. Pokoknya berbeda dari blogger lain. Mulai dari bahasan, gaya bahasa sampai niche yang (mungkin) sangat segmented.

Menjadi expert dan antusias di bidang tertentu bukanlah perkara mudah. Konsistensi? Ya, hukumnya fardhu 'ain. Barangkali jika boleh berkata, segala sesuatu haruslah dilakukan dengan tumaninah.

Ketika saya tidak mengerti apa itu spesifikasi kompresi sepeda motor, torsi maksimum atau apa itu ABS (Anti-lock Braking System), maka saya tidak akan membahasnya. Lha piye? Ndak ngerti og.

Bahkan jika boleh, apapun jenis job yang diberikan, mau itu review motor sekalipun, kalau tidak mengerti, saya, lebih baik tidak. Ibarat nongkrong di warung kopi, ngomong ngeciwis tapi ndak ngerti apa yang diomongin. Jika ada yang bertanya, hanya plonga-plongo. Garuk-garuk pala nih pakdhe.

Baca juga: Ngapain Takut Bikin Perubahan?

Huruf T mengajarkan untuk mendalami suatu bidang. Entah itu niche yang segmented atau topik yang benar-benar dikuasai. Tidak perlu iri dan cemas jika orang lain memiliki topik yang sangat 'wah' dan memiliki penghasilan dari sana.

Lha gimana, dia expert di bidangnya kok. Lha sampeyan? Topik apa aja diembat. Ndak ngerti juntrungannya yang penting sikat. Bodo amat.



Jika digambarkan dengan huruf T, maka sampeyan itu huruf T yang rakus. Enggan berbagi space dengan huruf disekitarnya. Semuanya disuruh minggir supaya disemua tempat, sampeyan bisa terlihat.

Namun, jika huruf T dengan makna mendalam, ia akan berbagi tempat dengan yang lainnya. Huruf disekitarnya boleh mendekat. Huruf T ini sadar (tidak seperti sampeyan) bahwa melebarkan garis horizontal tidak pada tempatnya itu kurang baik. Memakan tempat orang lain yang justru lebih pantas dari dirinya. Ia sadar, maka lebih bijak untuk memanjangkan garis vertikal yang ia miliki. Walaupun ia tau, porsi sebelah sangat menjanjikan, tapi itu tidak benar.

Melalui artikel ini, saya hanya ingin mengajak untuk membuka mata. Belajar dari huruf T yang (seharusnya) memberikan kebijaksanaan bukan rasa iri dan rakus memenuhi hasrat diri. Bukan saling sikut karena ingin karena iri hati.

Terkadang, kita mungkin lupa, bahwa dunia dan seisinya hanyalah sementara. Tidak selamanya bisa kita genggam dan kuasai. Berusaha untuk sabar dan nerimo ing pandum. Rejeki ndak bakal kemana.

"Tapi kan gue pengin banget ikut acara ini itu. Bisa jalan-jalan gratis ke Timbuktu selama dua tahun sama dikasih hadiah sikat gigi elektronik loh! Keren banget dah pokoknya!"

Keren banget mbahmu kiper!
A video posted by Arif Munandar (@jungjawa) on

Form factor dari Xiaomi Yi 4K sendiri sudah membuat saya jatuh hati. Bentuknya yang ringkas dan minimalis dengan fitur hampir 'sama' dengan GoPro Hero 4. Siapa yang menolak untuk meminangnya?

Ketika akhirnya memilih, saya juga ikut memikirkan budget yang harus dikeluarkan dengan tambahan aksesoris. Ya, action cam rasanya kurang menggigit jika tanpa adanya aksesoris. Minimal seperti waterproof case dan monopod.

Baca juga: Xiaomi Yi 4K: Siap Bersaing dengan GoPro?

Ada beberapa poin yang membuat saya sedikit was-was saat meminang gadget ini. Khawatir jikalau kualitas gambar, fitur dan video tidak sebaik yang ditawarkan. Ah, jatuh hati memang selalu membuat kita berdebar lebih kencang.

Slow Motion (up to 1/8)

Menyenangkan sekali saat action cam digunakan untuk merekam secara slow motion. Ala-ala Sam Kolder yang sering saya lihat di Youtube. Bagaimana ia mengkombinasikan timelapse dan slowmo dengan begitu apik dan ciamik. Iya sih, editingnya juga juara.



Nah, slow motion di Instagram saya (post IG di atas) adalah slowmo yang dihasilkan oleh Xiaomi Yi 4K ini. Saya mencoba menggunakan perlambatan 1/8. Hasilnya? Maybe I'm dreaming. Smooth sekali bahkan tanpa editing sekalipun. Saya hanya menambahkan filter black and white saja.

Slowmo seperti ini memang baik digunakan untuk slow intro dan digabungkan dengan slow BGM pula, just like Alan Walker - Faded. Ah, dream come true (again).

Baca juga: [Bukan] Review Action Cam Xiaomi Yi 4K: 90% GoPro Hero 4 Killer
Sebenarnya, jika ingin lebih smooth lagi bisa sampai 240fps, sayangnya resolusinya harus turun ke 480p. Huh. Padahal, standar kalo mau bagus ya sebisa mungkin set di 720p. Poin minus nih buat Xiaomi Yi 4K.



Slowmo emang asik untuk menunjukkan landscape, emosi dan activity yang perlu fokus di sana. Ah, jadi ndak sabar buat nyoba slowmo di tempat lain lagi. Hehehe...






Sedikit kepo dan diracuni oleh Udafanz, saya mencoba melirik-lirik kamera aksi untuk segera dipinang. Puas lirik-lirik dan baca review sana-sini, maka jadilah 'checkout' dengan Xiaomi Yi 4K.

Fyi aja sih, untuk Yi 4K sendiri ada dua versi. Versi internasional dengan based bahasa Inggris dan versi China dengan bahasa mandarin (versi bahasa Indonesia mana ya?). Nah, soal harga, keduanya dibanderol dengan harga yang berbeda pula.

Versi internasional sedikit lebih mahal. Ya, worth it lah daripada harus belajar bahasa mandarin atau repot setting firmware internasional. Selain ribet, ntar malah jadi pusing sendiri. Ya wis lah.

Sebenarnya ini bukan review ya, sudah sesuai dengan judul di atas. Bukan review. Hanya impresi pertama. Bukan juga unboxing, karena udah keluar kotak dan nggak kepikiran buat ngerekam. Sing penting dinggo dan dicoba hasile koyo piye. Yha tho? Pokok e joss guandoz!

Boleh dibilang, Xiaomi Yi 4K memang benar-benar GoPro killer. Terutama 'membunuh' GoPro Hero 4. Seperti ulasan saya sebelumnya, secara spesifikasi memang boleh di adu. Namun ada yang kurang. Seperti saturasi warna yang 'kurang dapet'.


Tapi, boleh editing sedikit, hasilnya tetap maksimal kok. Review Yi 4K di situs lain pun cukup positif. Perkara foto underwater, saya belum sempat mencoba. Mungkin next post bisa deh diulas lagi.

yi-4k-lensa-fish-eye

Kelengkungan lensa sendiri sudah lumayan oke menurut saya, cuman ada sedikit perbedaan saat tertampil di LCD dan ketika di transfer ke PC/Laptop. Fitur EIS untuk stabilizer juga lumayan oke. Kemudian untuk resolusi, nah ini yang sedikit bermasalah ketika saya mencoba untuk memahami UI-nya pertama kali. Cukup sulit untuk memilih setting terbaik di antara banyaknya mode pilihan.

Fitur lain yang ingin saya coba adalah timelapse. Bagaimana kinerja baterai 1400mAh mampu mengakomodasinya. Saran saya, jika kamu tertarik untuk membeli Yi 4K ini, lebih baik sekalian satu paket dengan extra battery. Supaya apa? Ya biar kalo travelling enggak harus colok-colok power bank dong ya.



Low lightnya cukup memuaskan, meskipun saya harus menggunakan shutterspeed paling rendah. Tapi, dengan budget 'cukup mahal', ya worth it lah. Enggak jauh-jauh banget dengan merek sebelah alias GoPro.


Last, upgrade action cam yang cukup brilian dari Xiaomi. Dengan banderol harga cukup ediyan, Yi 4K bisa disandingkan dengan merek lain, bahkan bisa dibilang 90% GoPro Hero 4 killer (100% jika external audio juga diikutsertakan). Oh iya, minus untuk audio juga sih.
blogging-tanpa-peduli-konten


Jika dihadapkan pada sebuah etalase produk dengan banyak sekali pilihan dan sedikit pilihan, mana yang akan kamu pilih? Sebagian besar mungkin akan memilih etalase produk dengan bermacam-macam variasi.

Sederhananya, hal ini terjadi ketika kita memilih sebuah toko untuk berbelanja. Wajar jika memilih toko yang memiliki berbagai produk dari banyak brand. Sedangkan toko sebelah, hanya menampilkan dari satu brand saja. Kalau saya, lebih banyak pilihan akan lebih baik. Ada keleluasaan di dalamnya.

Sama halnya ketika hal ini diterapkan pada aktivitas blogging. Kuantitas dari konten lebih baik daripada konten itu sendiri. Wait... Biasanya kan kualitas lebih penting, ini kok kuantitas?

Sebuah blog dengan tujuan awal untuk dimonetisasi melalui ads (oke, saya beri model monetisasi berupa ads karena ini yang paling gampang dicerna) akan mengejar kuantitas trafik, bukan kualitas trafik.

Kuantitas trafik dapat dilihat dari jumlah view halaman, bounce rate, sessions, unique visitor dan lain sebagainya yang dapat 'diukur'. Kalau ngeblog dengan tujuan cari duit (ya, tujuan nyari duit enggak salah kok), tentu jumlah trafik menjadi pengaruh besar untuk memperbaiki kualitas blog kita.

Sebuah blog MFA (Made for Ads) akan berusaha untuk menaikkan trafik kunjungan yang akan berimbas pada ranking Alexa dengan cara apapun. Termasuk memperbaiki nilai Domain Authority, Page Authority dan ujung-ujungnya balik lagi ke SEO. Namun ada yang aneh di sini. Saya tidak akan membahasnya sekarang, mungkin di lain waktu. Jika kamu jeli, mungkin akan tau ke mana arah pembahasan saya.

Increase your traffic

Sejauh pengamatan saya, menaikkan trafik banyak bergantung pada kuantitas blog post tersebut. Sebuah aktifitas blogging tanpa harus berbicara kualitas konten. Mengapa kuantitas lebih penting daripada kualitas? Kembali lagi ke perumpaan etalase toko tadi. Seperti itulah.

Rajin menulis (walaupun random dan cuman sedikit), dapat menaikkan trafik dan ranking. Seriously. Percaya atau enggak, saya pernah mengetahui hitungan kasar sebuah blog dengan 4 artikel baru setiap harinya. Sebuah blog dengan niche yang sangat segmented tersebut mampu mendapatkan trafik sebesar 3 juta page view per bulan.

Bahkan ketika blog tersebut update artikel, kontennya langsung viral. Bagaimana bisa? Secara kedalaman artikel, konten blog tersebut biasa saja. Namun, ada hal yang dikemas secara cerdas. Bahasa yang digunakan cukup renyah dan mudah dicerna, bahkan orang awam sekalipun. Selain itu, blog tersebut memiliki fresh content yang dicari oleh banyak orang.

Saya tidak sedang melakukan brainwash loh ya. Ndak gitu. Kualitas konten itu juga penting. Sebuah basic fundamental yang ada melalui kualitas konten bisa dikembangkan lagi lebih dalam. Ada masa di mana trafik blog kita naik secara signifikan pada waktu tertentu. Bukan perkara mitos atau hal gaib lainnya, tapi ya konten kita sedang 'mendadak' banyak dicari orang.

Konsisten ngeblog? Susah sih


Konsisten ngeblog itu sulit, apalagi kalau enggak tau caranya. Lebih sulit lagi jika memiliki branding diri. Tulisannya ndak bisa sembarangan. Tapi, persetan dengan kualitas konten, jika trafik yang dikejar, kuantitas konten boleh dicoba. Lha kalo blognya sudah jarang update, kualitas konten juga kurang begitu dalam, mau trafik dari mana? Spider? Robot?

Take it all easy, bro. Jangan terlalu dipikir berlebihan. Mau blogging dengan kualitas atau kuantitas, itu pilihan. Ndak bisa dipaksakan. Sudah dewasa dan tau mana yang pantas dan tidak, kan? Be wise not only for yourself, but also for the others. Ngopi dulu, biar ndak sepaneng.



Header image credit: pexels.com


Belakangan, saya sering sekali blogwalking. Entah hanya sekadar mencari bahan bacaan maupun iseng membaca tulisan yang random. Terakhir, saya jadi tahu tentang Aeroterrascan. Sebuah project ambisius dan menarik sekali untuk dibahas (mungkin next time saya akan membahasnya, ingatkan saya).

Urusan blogwalking juga bukan perkara mudah. Apakah harus pilih-pilih bahan bacaan? Tidak. Justru jika menemui sebuah artikel content placement maupun job review, saya menjadi sangat antusias. Tertarik sekali bagaimana blog tersebut mengemas sebuah artikel bersponsor dengan luwes.
Namun, tak jarang pula blogwalking membuat saya sakit hati tak berkesudahan. Sekaligus saya ingin menjerit dan mengumpat sejadi-jadinya. Marah? Mungkin iya. I'm so sorry for this.

Sumber dari Google

Ya, kegiatan blogwalking saya sering kali terhenti ketika membaca sebuah caption di bawah gambar, "Sumber dari Google". Sialnya, saya sering membaca ketika makan, minum es teh maupun nyeruput kuah rujak. Coba tebak, apa yang terjadi? Tersedak!

Percaya atau tidak, kelakuan tim #SumberDariGoogle banyak membuat saya geli, heran, kagum dan sekaligus terkejut. Apakah mencari sumber gambar sesulit itukah? Atau jangan-jangan Google membuatnya menjadi lebih mudah dengan adanya Penelusuran Gambar?

Okay, first of all, saya berpikir positif bahwa "Sumber dari Google" digunakan oleh mereka yang baru saja berhasil menulis di internet, khususnya blog. Mengapa demikian? Ketidaktahuan. Ya, semuanya butuh proses. Mulai dari bawah sebagai proses pendewasaan.

Saya juga demikian, pernah melakukan tindakan tidak terpuji dengan menulis "Sumber dari Google". Tapi, sudahlah, saatnya berdamai dengan masa lalu. Kemudian #terusbelajar untuk memperbaiki kesalahan.

So blogging about this! via warriorwriters.wordpress.com


Hak cipta dari sebuah konten berupa gambar yang dicari melalui hasil penelusuran Google bukanlah milik Google. Layanan pencarian ini hanya menampilkannya saja. Bukan memiliki.

Pemegang hak cipta tetaplah website atau blog yang bersangkutan. Sudah selayaknya "Sumber dari Google" kita buang jauh-jauh. Bahkan kalau bisa, tidak usah sama sekali akan lebih baik.

Solusinya? Melek Referensi

Jika kesulitan menemukan gambar melalui Google, bisa menggunakan layanan free-license images. Banyak sekali, seperti Pixabay, Pexels, Gratisography, Kaboom Pics dan lain sebagainya. Sebelumnya saya pernah menuliskan tentang pencantuman gambar pada blog, mudah sekali.

Nah, semuanya sudah jelas dan gamblang tho? Kalo nulis artikel ya mbok sebisa mungkin bagus. Jelek ndak masalah, tapi #terusbelajar. Gitu sih.

Kan, blogger dekat dengan dunia referensi. Melek ya harus dong. Lha kalo nggak melek referensi, berarti masih merem. Yawis, gek ndang bangun. Sudah pagi, nanti rejekimu di pathok ayam lho.

iBlogMarket meluncurkan platform baru


Halo bro (dan juga sist). Ada berita penting nih terkait iBlogMarket, platform advertising untuk blogger. Kaget rasanya ketika mendapat notifikasi email kemarin sore. Sembari meracik artikel yang sudah tersusun rapi di draft, perasaan senang jadi tidak enak setelah membaca isi email tersebut.

Sembari kucek-kucek mata pertanda heran sekaligus bingung, saya mencoba menelaah isi email tersebut. Ternyata tidak salah lagi iBlogMarket tutup sementara waktu! Ealah, bakalan sepi job iki ceritane? Hehehe...

Mendapatkan informasi yang cukup penting ini, rasanya harus mulai berbenah diri. Setelah membaca keseluruhan isi email, gamblang sudah ceritanya. Pasalnya platform advertising untuk blogger ini sedang berbenah diri dengan meluncurkan sistem baru.

Email dari iBlogMarket


Jelas sudah, sistem yang disebut iBlogMarket versi 2016 ini terlihat lebih fresh. Gambar yang terlampir di email juga menunjukkan bahwa terdapat fitur baru yakni 'Circle'. Saya sendiri belum memiliki gambaran yang jelas akan hal ini.

iBlogMarket versi 2016

Sebuah fitur yang akan ditunggu-tunggu. Apakah hanya fitur tambahan atau sebagai fitur utama. Sebab, jika menelisik posisi penempatan menu di sebelah Advertiser dan Influencer, maka akan menimbulkan kebingungan. Apakah posisinya akan seperti Influencer atau Advertiser. Atau jangan-jangan untuk pengguna saling berhubungan. Entahlah.

Namun bisa sedikit ditebak (jika asumsikan dengan term pada Google+) bahwa iBlogMarket akan meluncurkan sebuah fitur social networking di dalam platform barunya tersebut. Lebih penting lagi, platform iBlogMarkot akan di-shutdown sementara pada hari Sabtu, 22 Oktober 2016. Wah, jaga-jaga yuk bro dan sist!

Jelasnya, dari email pemberitahuan tersebut seluruh sistem akan migrasi ke platform yang baru. Namanya juga migrasi loh bro-sist, kekhawatiran hal-hal yang akan bermasalah pun muncul. Makanya, lebih baik sekarang (bagi pengguna iBlogMarket) segera melakukan backup manual. Buat jaga-jaga saja jika ada hal bermasalah, kita masih memiliki data cadangan seperti jumlah deposit, aktifitas campaign maupun task yang sudah dijalankan.

Soalnya nih, sistem ini memerlukan waktu lebih dari seminggu untuk 'on-air' lagi (tepatnya hampir dua minggu). Platform ini akan bisa diakses kembali pada tanggal 7 November 2016. Wah lama juga ya ternyata.

Last, jangan panik dan bingung loh bro-sist. Ini cuman email pemberitahuan. Jadi ndak perlu baper, kangen mantan apalagi sampe mager. Informasinya sudah jelas dan gamblang tho. Ya, semoga platform baru bisa lebih memberi nilai positif. Harapan Jungjawa.com cuman satu. Semoga kualitas advertising blogger akan lebih baik lagi. Semoga saja. Amin.
sidang tugas akhir itu gampang! ini caranya


Oke, tulisan ini tidak bermaksud untuk merendahkan, satire atau pun sarkas. Tantangan apapun itu harus dihadapi. Namanya juga hidup.

...

Pertama, saya percaya bahwa mahasiswa memiliki pandangan terdepan dalam hal memahami problematika yang ada. Tak terkecuali sebuah tantangan akhir dalam menyusun skripsi atau tugas akhir.

Sayangnya, masih banyak yang khawatir menghadapi serangan fajar berupa sidang di akhir masa perkuliahan. Entah memang tidak begitu memahami atau bawaan sejak lahir. Bayangkan saja, jika ada sarjana bisnis namun tidak memiliki kapabilitas yang memadai dalam bidang bisnis, wajar jika ia akan merasa was-was menghadapi sidang tugas akhir. Apakah mereka bisa disebut sarjana gagal? Saya harap tidak.

Kuliah dengan jumlah semester mencapai dua digit membuat saya menyadari bahwa pendidikan di kampus itu sangatlah penting. Tentang sebuah pembelajaran baik secara teknis atau non-teknis. Melakukan studi di bawah institusi untuk menuntut ilmu. Setidaknya, setiap mahasiswa memiliki kesempatan terbaik untuk mendapatkan kompetensi dan kapabilitas yang memadai.

Momok yang paling menyebalkan adalah tugas akhir dan skripsi. Sebuah target sekaligus tantangan akhir bagi seorang mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjana. Kemudian, setelah berbulan-bulan (bahkan ada yang sampai hitungan tahun) mengerjakan skripsi, pembuktian terakhir pun segera dilaksanakan.

Sebuah sidang yang harus dipertahankan di depan dosen penguji. Hasil dari tugas akhir yang dikerjakan akhirnya selesai juga dan harus dipertanggungjawabkan. Sehingga, muncul pertanyaan "Bagaimana menghadapi sidang tugas akhir dengan lancar?"

Stay calm. Sleep well.

Oke, ini adalah komponen utama sebagai kunci sukses menghadapi sidang tugas akhir. Jangan panik dan milikilah waktu istirahat yang cukup. Eh, ngomong-ngomong saya menyimpulkan hal ini dari pengalaman teman-teman loh ya. Kalau saya sendiri sudah cukup puas melihat mereka disidang. Hehehe...

tidur-untuk-keberhasilan-sidang-skripsi
Go to bed right now. Please... via  newbornhub.com


Istirahat yang cukup merupakan kunci dasar sebuah kesuksesan. Genderang perang boleh saja sudah ditabuh. Namun, tenang dalam pikiran dan perbuatan adalah wajib hukumnya. Tidak boleh ditawar!

Maka, menenangkan diri adalah polemik tersendiri. Terutama untuk tidur nyenyak malam sebelum perang tiba. Ada baiknya mengetahui terlebih dahulu bagaimana tidur yang baik. Kenikmatan tidur adalah koentji.

Jangan mudah sakit hati

Sebuah pertanyaan "Kapan lulus" tentu sangat kurang ajar sekali jika dihadapkan pada mahasiswa yang jelas-jelas akan sidang tugas akhir esok paginya. Entah si penanya memang kurang bisa memahami situasi dan kondisi atau passion bawaan sejak lahir.
Everything gonna be okay - via yantinainggolan.wordpress.com


Saya memahami perasaan seseorang yang akan menghadapi sidang tugas akhir. Tidak mudah memang. Bahkan, sentilan sentilun kecil bisa berujung baper. Jika ingin dilanjutkan, lebih baik menyanyi saja.

Sakitnya tuh di sini di tugas akh... (ah embuh!)

Percaya diri ketika manggung

Kunci sukses membawakan diri saat sidang adalah memiliki rasa percaya diri yang sempurna. Bagaimanakah percaya diri yang baik? Ya, tidak lebih tidak kurang. Kombinasinya harus pas layaknya penggabungan antara perjalanan menggunakan bus dan irama dangdut pantura.

apapun resikonya tetap bangga dan percaya
Percaya diri saja! via colinhiles.com


Ketika berada di panggung presentasi, jangan mudah gugup. Usahakan menatap mata dosen penguji. Tapi sebentar, bukan mata kaki apalagi mata batin. Plis deh.

Akan lebih baik jika kamu mampu menguasai setiap elemen dalam tugas akhirmu. Baik itu elemen api, tanah, udara, maupun air. Eh, itu elemen avatar ya. Hehehe...

Presentasi yang baik akan membawa kebahagiaan abadi. Jangan lupa untuk membuat background presentasi yang cukup kontras dengan konten yang dibawakan. Jika kesulitan, mungkin kamu perlu tahu bagaimana caranya membuat background untuk presentasi yang baik.
Jadi gini, fokus utama membawakan presentasi sidang tugas akhir adalah sebuah ujian kompetensi bagaimana penguasaan elemen pokok dari penelitian yang kita kerjaan. Jadi, apapun pertanyaan dosen penguji, jawablah dengan yakin dan sesingkat-singkatnya. Semangat, Bung!

Hati-hati. Jangan neko-neko

Yakinkan dirimu untuk menghadapi sidang tugas akhir dengan lancar. Apapun resikonya, kamu harus yakin. Tentu saja dibarengi dengan persiapan yang matang.

Jangan gegabah dengan begadang semalam suntuk untuk belajar. Ada baiknya kamu tidur lebih awal. Matikan semua notifikasi grup di smartphone kamu. Jangan neko-neko dengan bermain game Werewolf di Telegram hingga larut malam.

Jika memungkinkan, keluarlah dari grup apapun atau matikan notifikasinya. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir distraksi yang tentu saja akan sangat mengganggumu. 

Jaga perasaanmu

Sidang tugas akhir bukanlah perkara mudah. Sudah banyak pengalaman yang bercerita tentang seram dan horornya tantangan pamungkas ini. Membiarkan diri berbahagia tentu menjadi sebuah pilihan mujarab.

Sesungguhnya, di dalam diri yang bahagia terdapat kebahagiaan yang haqiqi. Beidewei, kebahagiaan sejati adalah ketika kita mengerti akan arti bahagia yang sebenar-benarnya. Bukan berpura-pura bahagia atas cinta yang bertepuk sebelah tangan. Lah?

Yakinkan dirimu! Tegarkan perasaanmu! via uncletypewriter.com


Setidaknya, ada beberapa kesimpulan yang akhirnya saya dapat dari hasil pengamatan saya dalam beberapa peserta sidang tugas akhir:

  • Jangan gampang menyerah adalah kunci. Teruslah berlatih untuk mempersiapkan presentasi sidang tugas akhir dengan baik. Berjuang terus untuk hasil yang maksimal. Hormatilah proses, karena mengerjakan skripsi itu adalah hal yang menyenangkan.
  • Tataplah segalanya dengan keyakinan. Baik itu dosen maupun pertanyaannya. Mereka adalah bahan bakar untuk menyalakan api semangatmu!
  • Salah dan kalah itu adalah konsekuensi biasa. Bukan akhir segalanya. Menurut saya, yang penting adalah usahanya. Kalah tak menyerah, menang tak jumawa.
  • Hormati proses. Rasakan keberhasilan.
  • Berhenti mengeluh dan bersikaplah optimis. Berhentilah berpikir pesimis, mari berjuang bersama!



Header image credit: pixabay.com

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2022