Jung - All Post
Jadi Pemuda Yang Kreatif

Well, first of all, what do you think about being creative and creative thinking? Sebelum gue menanyakan kedua konsep tadi ke diri gue sendiri, gue terlebih dahulu nanya beberapa temen kuliah gue. Apa atau gimana, sih, pandangan mereka soal kreatif dan berpikir kreatif. Secara, kan, mereka juga masih muda, dan kata Jung di dalam salah satu postingannya kemarin, yang muda itu yang mikir. Dan kita masih muda, tapi apa kita mikir? Mikirlah pasti, tapi konsep 'mikir' yang kayak gimana dulu yang diacu di sini.

Jawaban dari temen-temen gue macem-macem. Mulai yang dari idealis dan panjang lebar, sampe ada yang bilang, "Creative thinking itu, yaa berpikir kreatif." Okay, nice try, Pal. Tapi nggak gitu juga keleess -__- *sembur pake air kembang*. Kalau gue ambil benang merah dari semua jawaban mereka soal creative thinking adalah berpikir yang nggak biasa, unik, out of the box, berani beda dari yang lain, create the newest thing, yang "gue banget gitu, lho!".

Ada juga yang bilang, "Karena berpikir kreatif melahirkan sesuatu yang beda, kadang sesuatu yang beda itu pada awalnya sulit diterima, karena ada patokan atau konsep dasar yang dimodif, diubah. Unsettled."

Terus ada yang menambahkan begini, "Nggak cuma itu, kalau menurut gue antara kreatif dan berpikir kreatif itu beda, walau keliatannya sama ujung-ujungnya pasti dibilang kreatif. Kreatif itu adalah tindakannya atau prosesnya, ada implementasinya, tapi kalau berpikir kreatif adalah otak dari tindakan kreatif itu sendiri. Sederhananya, sebelum lo jadi orang kreatif, lo kudu punya otak yang kreatif dulu." Ini sejalan, nih, sama pendapat Jung yang bilang, yang namanya kreatif itu nggak tiba-tiba langsung ada jatuh dari langit.

Kalau tadi pendapat dari temen-temen gue, sekarang boleh, ya, giliran gue yang berpendapat. Bagi gue, kreatif itu nggak melulu produce a new product, nggak melulu making atau creating something real, concrete things. Kreatif juga bisa sebuah gerakan atau kegiatan. Tapi bukan sekadar gerakan atau kegiatan biasa. Ada visi dan misinya untuk perubahan.

Baca juga: Memulai dari Nol atau dari Referensi?

Nggak usah muluk-muluk dulu, deh, buat perubahan bangsa dan negara, buat diri sendiri, lingkungan rumah, dan pertemanan aja dulu. Gue juga berpandangan kalau there’s no something very new in the world. Mungkin ada, tapi mungkin cuma 0,1 % dari keseluruhan. Dan kalaupun ada, s/he is so awesome, karena gue belum bisa seperti dia (catatan: gue suka terpesona sama orang yang bisa melakukan sesuatu yang nggak gue bisa).

Karena pandangan gue tadi, gue merasa kalau yang terjadi berikutnya adalah sebuah proses pengulangan. Nah, di sinilah peran otak kreatif kita sebagai manusia dibuktikan. Pengulangan berarti recreate, remake, reproduce, modified, dan fungsi otak kreatif kita itulah yang bisa menggerakan proses yang tadi gue sebutin.

Gimana kita bisa sampai di tahap seperti itu, memberdayakan otak kita biar kreatif? Kalau menurut gue, kita cuma perlu peka sama keadaan sekitar. Sebenarnya kita udah disediakan clue-nya, tinggal bagaimana kita menemukannya dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Setiap tindakan kreatif pasti punya peluang buat direalisasikan, dan peluang itu didapat dari clue atau kepekaan kita.

Big-Hero-6-Team
image credit: comicvine.com


Pernah nonton film Big Hero 6, dong, pasti? Dalam sebuah adegan si tokoh utama (siapa, tuh, namanya?) membuat semacam penemuan baru yang dia dapat setelah dia melihat robot rakitannya sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Dia dapat idenya setelah dia melihat sesuatu yang udah ada sebelumnya, kan? Boleh, dong, kalau kita sepakati kalau itu adalah salah satu contoh being creative dan creative thinking?

Selain itu, gue juga beranggapan bahwa menjadi kreatif sama aja dengan kita menunjukkan dan mempertahankan eksistensi diri. Kadang tanpa kita sadari, saat kita menjadi kreatif kita memiliki rasa pengin diakui keberadaannya.

Baca juga: Kalo Cuman Ngomong Doang, Kapan Bisa Nyelesein Masalah?

Ada hal yang pengin kita tunjukkan yang kemudian berimbas kepada pengakuan diri dari lingkungan sekitar. Hal ini, selama bernilai baik dan postif, nggak jadi soal, asal jangan sampe jadi besar kepala, angkuh, dan egois ya, Guys. Sekreatif-kreatifnya kita tentu ada batasannya yang mengacu kepada norma-norma, ya.

Mungkin dengan tulisan ini, bukan berarti gue udah bisa atau melakukan segalanya untuk perubahan yang lebih baik. Tapi seenggaknya tulisan gue ini bisa jadi reminder buat kalian yang ngakunya masih muda dan produktif untuk terus mengasah otak dan skills kita dengan hal-hal yang kreatif.

Karena jadi kreatif itu menyenangkan, membuat kita nggak cepet tua. Lah, kok bisa? Yaa orang yang dikerjain sesuatu yang fresh dan menyenangkan, kok, gimana bisa cepet tua? So, bisa jadi obat awet muda juga, dong. Just give it a try kalau begitu.


Image credit: pixabay.com

Tentang penulis
+Titi Iskandar . Demen jalan kaki dan doyan ngopi. Ngeblog sejak tahun 2014 di Ruang Titi. Ada yang mau nemenin gue? Just mention me on Twitter at @titiskandar

Guest post adalah artikel yang ditulis oleh kontributor jungjawa.com. Bulan September ini jungjawa.com bakalan ngebahas tentang Creative Thingking. Pengen ikutan bikin guest post juga? Prove your existence and send your email to hello@jungjawa.com with subject [Guest Post]_Judul Post_Author. Good luck! 


"The young man knows the rules, but the old man knows the exceptions" - Oliver Wendell Holmes, Sr.

Sadar nggak kalo kemampuan berpikir kita itu dipengaruhi oleh keturunan dan dibarengi dengan kondisi lingkungan? Kalo kata Einstein sih, kreativitas itu muncul dengan cara saling menghubungkan berbagai hal yang udah ada. Kemudian kita gabungkan berdasarkan asumsi-asumsi yang kita dapatkan. Terus gimana caranya biar kita terus-terusan eksis dan berpikir kreatif?

Nice question. Bulan September ini gue bakalan ngomongin lebih jauh tentang creative thingking. Nggak cuman ngomongin doang kok, gue juga bakalan ngebahas implikasi pemikiran kreatif dalam berbagai bidang, salah satunya adalah pendidikan. Selain itu, kayaknya belum lengkap kalo nggak ngomongin kreativitas orang Indonesia.

Baca juga: FoPo: Belajar Menangani Masalah Pangan dengan Kreativitas

Ngomongin tentang kreativitas pasti kita juga harus punya role model buat jadi acuan. Seenggaknya kita bisa belajar dari acuan kita tadi kok. Entah itu temen kita, pengusaha sukses atau bahkan dari seorang ilmuwan. Bisa dari mana aja deh. Nggak tau kan inspirasi itu datangnya dari mana?

Tapi nggak usah jauh-jauh deh cari role model, bisa kita lihat dari pendiri bangsa sendiri kok. Bung Karno dan Bung Hatta tentu tidak hanya berjuang melalui bidang ekonomi dan politik saja untuk meraih kemerdekaan. Mereka juga ikutan ambil bagian di bidang literasi, pendidikan dan kreativitas lainnya. Kita bisa belajar dari semangat mereka loh. Nah kalo semangat kek gini terus diturunin dan bikin kita lebih menggelora, gue yakin untuk saat ini pemuda dapat ambil bagian yang lebih banyak.

Coba tarik garis waktu dan ngelihat sejarah dulu. Ceileh jasmerah, jangan pernah melupakan sejarah. Masih inget Sumpah Pemuda kan? Kalo kita udah bisa mencerna isi dari sumpah tersebut, gak perlu ditanya lagi deh gimana peran pemuda buat kemajuan bangsa. Emang yang muda yang harusnya mikir, kalo bisa sekalian eksekusi. Udah nggak jaman pemuda cuman bisa omong doang.

Baca juga: Kalo Cuman Ngomong Doang, Kapan Bisa Nyelesein Masalah?

Selain itu, jejeran eksekutif perusahaan juga bisa direngkuh oleh anak muda. Ya karena mereka punya skill dan udah pasti masih memegang teguh idealisme mereka. Udah usia muda, punya usaha terus bermanfaat buat masyarakat, kurang apa coba? Itu semua karena mereka terbiasa mikir kreatif.

Seru banget kan? Ngomongin tentang kreativitas ya emang nggak akan ada habisnya. Sehingga gue ngerasa perlu pembahasan lebih jauh tentang kreativitas. Kalo lo emang interest dengan topik creative thinking, lo bisa ikutan mikir kok.

Well, bagi lo yang emang niat untuk menjadi 'tamu', dengan senang hati gue menyambut kalian yang mau berkunjung dan menjadi Guest Blogger di blog ini. Kita bakalan sama-sama ngebahas tentang kreativitas lebih jauh. Oh yap! Pemuda emang harus punya wadah untuk menyalurkan ide-ide kreatif mereka. Jangan lupa juga buat berkolaborasi, bukankah negara kita terkenal dengan rakyatnya yang semangat buat gotong royong?

Baca juga: Ngapain Takut Bikin Perubahan?

Kalau aja nih, lebih banyak anak muda mau mengubah cara kerjanya dan berpikir, pasti negara ini nggak serumit sekarang. We're talking big business here. Indonesia, dari Sabang sampai Merauke pasti menyimpan banyak talenta-talenta yang cemerlang. Apalagi buat para talenta muda, yang kebanyakan punya waktu dan mau mikir lebih keras. 

Zaman udah berubah. Gak harus yang tua yang turun tangan. Udah saatnya yang muda yang mikir. Kalo yang muda yang bisa mikir dan bikin lebih baik, kenapa nggak?



Creativity is just an action to create something. Kalo kata Steve Jobs sih, connecting the dots yang bisa diartikan juga gimana caranya kamu memecahkan masalah dengan connecting the things.

Masih inget kan, kasus di Cikajang Garut, dimana harga tomat jadi rendah banget sehingga banyak tomat yang dibuang dengan sia-sia disepanjang jalan? Coba kalo fenomena ini disikapi dengan teknologi mengenai food tech, kemungkinan besar hal tersebut bisa diminimalisir kok.

Seperti yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa Universitas Lund di Swedia bernama Kent Ngo. Kent yang mengambil jurusan mechanical engineering, mampu berpikir secara kreatif dan berusaha untuk menyelesaikan masalah pangan ini. Kemudian lahirlah brand FoPo alias Food Powder dari kreasinya dengan beberapa orang partner. FoPo sendiri dibuat untuk menjawab permasalahan makanan basi dan menyadarkan banyak orang kalo hal sepele tersebut bisa diubah jadi lebih bermanfaat.

Asalkan kamu tau, jika 1.76 juta ton makanan basi atau kalau diuangkan bisa mencapai sekitar 750 juta dolar. Selain itu masih banyak saudara kita di belahan dunia lain yang ga bisa makan. Kebayangkan perbedaannya? Disatu sisi ada yang kelebihan dan disisi lain ada yang kekurangan dan membutuhkan banyak bantuan.

Nah, itu dia permasalahannya. Disinilah peran krusial dari sebuah sistem distribusi. Secara umum kita tau kalo, makanan itu cepet banget expired alias kadaluwarsa. Sehingga ini bakalan jadi masalah di sistem distribusi makanan dan FoPo hadir untuk menjadi ice breaker buat ngatasin masalah ini. Gimana caranya?

Buat kamu yang udah pernah belajar masalah mikrobiologi pangan atau teknik pangan pasti tau banyak nih kalo di dalam makanan, buah-buahan atau sejenis bahan makanan lainnya, ada yang namanya aktivitas air. Aktivitas air ini digunakan untuk mengukur ketersediaan air untuk fungsi-fungsi biologis dan berhubungan dengan air yang berada dalam bentuk bebas dalam bahan pangan yang dikenal dengan air bebas.
Nah, air bebas ini dalam pangan dapat digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme, semakin tinggi nilai aktifitas air dalam bahan pangan, maka semakin tinggi air bebasnya sehingga kemungkinan untuk cepat membusuk semakin tinggi. Sebagai perbandingan nih, untuk makanan yang berbentuk kering seperti sereal, susu bubuk, crackers, hanya memiliki nilai aktifitas air antara 0,10 sampai dengan 0,20. Sedangkan pada buah-buahan dapat mencapai 0,98 sampai dengan 0,99.

FoPo sendiri tidak menciptakan produk baru ataupun teknologi baru, tetapi mereka menciptakan nilai baru dari sistem pangan konvensional yang tidak efisien. Inovasi dari bisnis ini tidak lain hanyalah menggunakan buah-buahan dan sayuran yang hampir kadaluwarsa untuk kemudian dibuat dan dikeringkan sampai menjadi bubuk sehingga makanan bisa awet lama. Bahkan hingga 2 tahun!

Produk dari FoPo ini juga telah dinilai mampu mempertahankan nilai gizinya sebesar 30% sampai dengan 80%. FoPo sendiri hadir dengan tiga varian rasa seperti pisang, raspberry dan mangga. Selain itu FoPo berencana untuk menambah varian rasa baru seperti nanas.

FoPo sendiri dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam yogurt, smoothies atau ditaburkan untuk menjadi topping diatas es krim. Makanan kering ini juga cocok untuk dikonsumsi ketika camping, travel adventures atau bahkan digunakan saat kondisi darurat untuk membantu korban bencana.

Baca juga: September Kreatif

See, dengan melihat dari sudut pandang lain, selain dapet untung, kita juga bisa support ending world hunger juga kan. Kalo kita semua udah terbiasa berpikir kreatif, semua masalah pasti bisa dicari solusinya :)



Image credit: Fopo Food Powder

About author
Justina Landhiani. Marvel enthusiast and coffee addict. Currently working at Katanium. You can contact me through justinalandhiani@gmail.com or just visit my blog.

Guest post adalah artikel yang ditulis oleh kontributor jungjawa.com. Bulan September ini jungjawa.com bakalan ngebahas tentang Creative Thingking. Pengen ikutan bikin guest post juga? Prove your existence and send your email to hello@jungjawa.com with subject [Guest Post]_Judul Post_Author. Good luck! 

"Creative thinking inspires ideas. Ideas inspire change" - Barbara Januszkiewicz
Gue sering banget ngebahas kalo kreativitas itu penting banget. Ya, karena emang pada dasarnya kreativitas itu asalnya dari proses berpikir atau creative thinking. Nggak datang gitu aja tiba-tiba dari langit terus luckily jatuh ke diri lo.

Well, maka dari itu selama bulan September, gue ingin mendorong lebih banyak pembaca blog gue untuk lebih ngerti tentang creative thinking dan hubungannya sama berbagai bidang yang memerlukan kreativitas (keknya semua bidang emang butuh kreativitas deh..).

Gak kebayang kan kalo ide-ide baru bakalan terwujud demi masyarakat yang lebih baik gara-gara masyarakatnya sendiri udah terbiasa untuk berpikir kreatif?

Lo juga bisa ikut berkontribusi kok. Soalnya gue ngebuka guest post yang mengangkat tema creative thinking. 
  1. Artikel ditulis dengan mengangkat tema creative thinking.
  2. Tulisan dapat dimuat dalam bentuk bentuk share pengalaman, tips, sudut pandang atau apapun yang berkaitan dengan creative thingking.
  3. Konten dari artikel seenggaknya mampu bikin anak muda Indonesia tergugah untuk berpikir kreatif lebih jauh dan ngerasa harus ngelakuin sesuatu untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
  4. Penulisan artikel bebas, soalnya yang penting enak dibaca. Artikel ditulis dalam 250 kata atau lebih. Kalo perlu penjabaran, semakin panjang akan lebih baik. 
Kirim artikelmu ke hello@jungjawa.com. Jangan lupa subjeknya [Guest Post]_Judul Post_Author. Gue bakalan nunggu artikel kalian dari sekarang sampai dengan 29 September 2015.

Imagine all possible with your creative thinking.



Image credit: pixabay.com
cuman ngomong doang, kapan nyelesein masalah


Belakangan, media sosial rame banget ngebahas tentang website yang dibangun dengan nilai milyaran rupiah. Well, padahal belum lama ini banyak isu tentang melemahnya rupiah terhadap dollar US yang rame dibahas di media sosial juga. Uniknya, website yang (katanya) menelan biaya fantastis tersebut down dalam beberapa hari terakhir.

Tapi, coba lihat lebih dekat, beberapa pengguna sosial media yang mencoba untuk menyebarkan berita “heboh” tersebut tanpa melakukan kroscek? Okelah kalo memang pemerintah ngehabisin dana sebesar itu untuk pembuatan website. Tapi, apakah dibenarkan kalo kita ikut-ikutan terpancing suasana dan menyebarkan berita yang belum tentu benar adanya? Emangnya lo udah liat rincian dana pembuatannya? Turning to positive, don't think negative.

Baca juga: Ngomongin Clean Tech, Emangnya Udah Ngerti?

Banyak polemik di Indonesia ini dan nggak sedikit juga rakyat (kita) yang sukses meramaikan polemik tersebut. Namun, apakah menghujat adalah cara yang benar untuk menyikapinya? Bro, lo tinggal di mana sih? Kok berani-beraninya ngehujat negara sendiri?

Hari kemerdekaan baru aja lewat, tapi keknya banyak pemuda Indonesia udah lupa gimana caranya ngisi kemerdekaan. Apakah dengan menghujat di media sosial bahkan di khayalak umum bakal nyelesain masalah? Gue rasa nggak.

Kalo emang lo berniat buat nyelesein masalah, stop menghujat! Saatnya tunjukkin aksi lo, gak cuman omong doang. Apa perlu negara ini punya Kementrian Pemuda Omong Doang? No. It was very unimportant.

Baca juga: Berhenti Sok Keren dengan Gelar Agent of Change

Pemerintah nggak bisa kerja sendiri, kita harus paham dan ngerti akan hal itu. Masih inget kan, kalo negara demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Lalu kenapa kita selalu menuntut semuanya “untuk rakyat”? Dimanakah aksi “dari rakyat” tersebut?

Coba pikirkan lagi.



Image credit: pixabay.com


Sering nggak denger istilah 'harga teman'? Atau lo termasuk orang yang sering banget make istilah ini. Jujur, gue sering bermasalah dengan istilah ini. Sebab selalu berkaitan mengenai harga dan tawar menawar barang.

Dulu gue pernah bertekat buat ngilangin yang namanya 'harga teman'. Sampe sekarang juga masih sih. Kalo dulu masalahnya ada di gue. Karena di bujuk dikit bisa jadi, gambar yang mereka pesen gue kasih harga 20 ribu bahkan gue kasih gratis. Nah, kurang baik apa coba? Orang ganteng emang pengennya selalu jadi baik kok.

Lupakan masalah orang ganteng. Sebenernya mahal atau murah itu relatif. Again, its relative. Tapi apa iya terus-terusan mau dimurahin gitu. Mungkin sebagian dari temen kalian adalah mereka yang hobi gambar dan tentunya kalian seneng banget. Kenapa? Kali aja bisa digambarin, gitu kan?

Baca juga: Wajib Ngerti: Nyantumin Foto Buat Blog Lo

Seringkali temen lo yang suka gambar (kita sebut saja artworker) ini bikin lo iri. Kok bisa? Ya mau gimana lagi, timeline Instagram isinya postingan wah dari dia setiap hari. Belum lagi kalo kita terlalu kepo terus liat galeri Instagram punya dia. Rasanya kek kebanting banget deh.

Kemudian beberapa teman dari artworker tadi pesen gambar, ya buat digambarin gitu. Seminggu kemudian jadi dan hasilnya memuaskan. Lanjut ke tahap pembayaran, namun temen tadi kaget begitu artworker bilang harga dan minta diturunin dikit dengan dalih 'harga teman'. Lah kok bisa?

Padahal yang dibeli cuman satu dan dengan entengnya minta potongan harga dengan alasan pertemanan. Logikanya mungkin karena teman dekat, jadi ada potongan harganya gitu. Ya kan?

Artworker tadi ya cuman bisa meringis, ya relain sedikit aja deh gak papa. Itung-itung bisa balik modal beli kertas gambar sama tinta dikit. Terus masalahnya muncul, kalo misal nih sering beli barang apapun dan kita selalu meminta harga teman, bukankah itu merugikan teman kita?

Lalu, dimanakah arti dari kata 'teman' didalam 'harga teman' itu sendiri? Bukankah teman itu seharusnya saling membantu dan saling menguntungkan. Padahal artworker tadi sedang merintis usahanya, udah hasilnya nggak seberapa mau lo kurangin lagi? Iya sih, pedagang emang butuh lebih banyak pelanggan apalagi pelanggan loyal. Tapi tetep aja, pedangang butuh laba. Emang ada pedagang yang nggak mau usahanya berkembang? Nggak ada. Maka dari itu dia butuh laba.

Baca juga: Resiko Desainer Grafis

Kalo udah kayak kini namanya bukan harga teman lagi. Padahal kalo emang lo bener-bener menganggap dia teman, seharusnya beli dengan harga sewajarnya. Seenggaknya harga normal udah ngebantu dia banget kok. Bagusnya sih kalo lo bisa bayar sedikit lebih, karena dengan cara itu lo bisa bantu mengapresiasi karya temen lo tadi. Atau dengan cara lain kalo lo handal di bidang marketing, lo bisa ngebantu dia promosiin jualannya dia. Mungkin aja dia bakal kasih diskon kan buat lo? Keep in mind aja, kalo usaha lo ngebantu orang itu emang amal baik dan sebagai makhluk sosial emang seharusnya gitu.

Jujur nih, kebanyakan orang bakalan males buat diminta ngerjain kerjaan dari temen yang sering banget ngasih dalih 'harga temen'. Ya, karena ngerasa bukan tanggung jawabnya. Nah, emang mental orang-orang harga temen kayak gitu deh yang ngga bakalan bisa maju.

Tapi gue punya solusi buat lo yang sering kejebak sama manisnya harga teman. Solusinya adalah mendiskon harga dengan catatan, temen lo tadi bisa ngasih order ke lo. Artinya dia cuman bayar setengah tapi ngebawain project baru alias pelanggan lain buat lo. Jadi kalo emang dia maksa buat ngedapetin harga temen, mau gak mau dia harus 'jadi temen' buat ngepromosiin jualan lo. Fair enough?

Baca juga: Desain Grafis bukan Desain Gratis


Image credit: pixabay.com


Buat lo yang make Blogger untuk mengelola blog/website, mungkin udah mendapatkan notice dari Google tentang cookies policy. Notice dari Google terlihat kayak gambar dibawah ini:

Image credit: twitter.com/safiranys

European Union law requires all websites to notify their European Union readers about cookies used on their websites. At the moment, If you access Blogger or a blogspot blog from a European Union country, you will see a notice asking you to agree with Google’s use of cookies. Today, we are launching an updated notice that better informs visitors about how Google uses cookies, including Google Analytics and AdSense cookies.

Sebagai bagian dari layanan, kami telah menambahkan pemberitahuan di blog Anda untuk menjelaskan penggunaan Google akan cookie Blogger dan Google tertentu, termasuk penggunaan cookie Google Analytics dan AdSense.

Anda bertanggung jawab untuk mengonfirmasi bahwa pemberitahuan ini benar-benar berfungsi di blog dan dapat ditampilkan. Jika Anda menggunakan cookie lainnya, misalnya dengan menambahkan fitur pihak ketiga, pemberitahuan ini mungkin tidak berfungsi. Pelajari lebih lanjut tentang pemberitahuan ini dan tanggung jawab Anda.


Gampangnya, notice di atas nggak begitu berpengaruh buat blog/website yang sumber pengunjungnya dari Indonesia. Hal ini dikarenakan maksud notice tersebut sangatlah jelas untuk negara-negara Uni Erop. "Hukum Uni Eropa mengharuskan Anda untuk memberikan informasi kepada pengunjung Uni Eropa tentang cookie yang digunakan di blog." Jadi, nggak usah khawatir terjadi sesuatu di blog kita, dipahami aja udah cukup kok.

Jadinya, kalo lo nggak memiliki pengunjung dari Uni Eropa, ya fine-fine aja blog milik lo. Terus kenapa deh kita dikasih notice kayak beginian? Kayak yang udah gue bilang diatas,  Uni Eropa memiliki kebijakan baru tentang penggunaan cookies di web/blog, termasuk Blogger (blogspot) dari Google. Sehingga Google memberikan pemberitahuan kepada pengguna layanannya mengenai pembaruan mengenai kebijakan tersebut. Perhatian amat ya si Google, dah kek pacar.

Tapi, web/blog yang memiliki iklan atau menggunakan cookies dari user sebaiknya memperhatikan hal ini. Termasuk blog yang menggunakan iklan Adsense dari Google atau juga tools Analytic. Baik menggunakan Blogger, Wordpress ataupun self-hosted sendiri.

Sebelumnya udah ngerti cookies? Jadi gini, semisal lo lagi asik browsing nyari smartphone maka blog-blog yang menggunakan Adsense akan mencoba menampilkan iklan smartphone yang lagi lo cari, baik dari merek maupun harganya. Ini juga berlaku semisal lo juga nyari tiket pesawat.

Baca juga: Wajib Ngerti: Nyantumin Foto Buat Blog Lo

Adsense akan mencoba mempelajari kebiasaan pengguna dengan mencocokan data yang dimasukkan oleh pengguna. Baik itu menggunakan search engine atau mencari konten di blog. Nah, data ini dinamakan cookies. Begitu juga Analytic, ia menggunakan cookies untuk meng-generate laporan harian atau bulanan dari pengunjung web/blog tersebut.

Gue sih lebih suka penjelasan apa itu cookies dari All About Cookies, cookies are usually small text files, given ID tags that are stored on your computer's browser directory or program data subfolders. Cookies are created when you use your browser to visit a website that uses cookies to keep track of your movements within the site, help you resume where you left off, remember your registered login, theme selection, preferences, and other customization functions.

Menurut gue, lebih baik web/blog yang menggunakan Adsense atau Analytic untuk segera memberikan notifikasi penggunaan cookies. Tak terkecuali pengguna Wordpress, Tumblr dan berbagai platform blogger lainnya. Soalnya, dari apa yang diumumin oleh Google melalui forum, pemberitahuan ini berlaku untuk semua pengguna Adsense dan Analytic. Walaupun kamu bukan berasal dari Uni Eropa.

Terus gimana caranya ngasih pemberitahuan cookies kepada pengunjung? Secara default, kamu nggak usah panik. Soalnya Google akan memberikan notifikasi dengan sendirinya pada blog yang menggunakan platform Blogger, yaitu blogspot. Jadi jika diakses melalui Uni Eropa akan menampilkan pemberitahuan cookies. Kalian bisa nyoba sendiri pada blog kalian. Misal url blog lo adalah domaingue.blogspot.com, coba deh akses menggunakan domain Jerman yang menggunakan de. Coba akses melalui domaingue.blogspot.de. Ntar ada pemberitahuan gitu tentang cookies diatas blog kalian.

Namun, jika lo adalah pengguna Adsense dan Analytic dan tidak menggunakan platform Bloggger, ini yang harus diperhatikan. Sebab, yang bisa mengakses situs lo itu seluruh dunia, tidak terkecuali Uni Eropa. Toh juga nggak ada salahnya kan bikin notifikasi cookies di situs lo? Biar lebih profesional gitu.

Bikin Privacy Policy dan Cookies Policy

Nah ini sih gue juga barusan aja bikinnya, bisa lo liat di footer blog gue ini. Untuk ngebuatnya gampang. Lo bisa make tools online privacy policy generator dan apalah-apalah lainnya yang ada di internet. Asalkan ada embel-embel generator-nya. Setelah itu lo bikin halaman khusus tentang tiap section tadi.

Contohnya gue punya halaman Disclaimer, Privacy Policy, dan Cookies Policy. Halaman-halaman ini wajib kalian pasang di blog/web milik kalian kalo emang serius menggeluti internet. Kenapa? Ini sebagai bentuk tanggungjawab atas konten yang kalian buat dan sebarluaskan di internet. Gitu.

Image credit: jungjawa.com

Balik lagi ke topik cookies, lo bisa make cookiechoices.org buat belajar lebih banyak tentang cookies.. Disana juga ada online generator kok. Coba aja dicari, deh. Kalo mau juga lo bisa bikin halaman disclaimer, privacy dan lain sebagainya.

Ngasih Pemberitahuan di Blog

Terus kalo udah bikin halaman-halaman diatas, lo harus ngasih tau pengunjung tentang penggunaan cookies. Hal ini penting agar seluruh dunia tau kalo blog/web milik lo make cookies untuk ‘memberikan pengalaman’ lebih kepada pengunjung. Kayak notifikasi di bawah blog gue ini. Seenggaknya lo bakalan aman, sehingga kalo ada pengunjung yang nggak mau cookies-nya dipelajari ya bisa ninggalin situs.

Lo bisa dengan gampang bikin pemberitahuan kayak gini di Silktide. Penjelasannya cukup gampang dan mudah banget dimengerti. Tinggal klik-klik aja dah jadi kok.

Image credit: silktide.com

Don’t wait any bad things, prepare yourself for anythings! 

Baca juga: Does Design Really Matter for Your Blog?

Image credit: pixabay.com

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2022