Yuk, Jadi Pemuda Yang Kreatif!

Jadi Pemuda Yang Kreatif

Well, first of all, what do you think about being creative and creative thinking? Sebelum gue menanyakan kedua konsep tadi ke diri gue sendiri, gue terlebih dahulu nanya beberapa temen kuliah gue. Apa atau gimana, sih, pandangan mereka soal kreatif dan berpikir kreatif. Secara, kan, mereka juga masih muda, dan kata Jung di dalam salah satu postingannya kemarin, yang muda itu yang mikir. Dan kita masih muda, tapi apa kita mikir? Mikirlah pasti, tapi konsep 'mikir' yang kayak gimana dulu yang diacu di sini.

Jawaban dari temen-temen gue macem-macem. Mulai yang dari idealis dan panjang lebar, sampe ada yang bilang, "Creative thinking itu, yaa berpikir kreatif." Okay, nice try, Pal. Tapi nggak gitu juga keleess -__- *sembur pake air kembang*. Kalau gue ambil benang merah dari semua jawaban mereka soal creative thinking adalah berpikir yang nggak biasa, unik, out of the box, berani beda dari yang lain, create the newest thing, yang "gue banget gitu, lho!".

Ada juga yang bilang, "Karena berpikir kreatif melahirkan sesuatu yang beda, kadang sesuatu yang beda itu pada awalnya sulit diterima, karena ada patokan atau konsep dasar yang dimodif, diubah. Unsettled."

Terus ada yang menambahkan begini, "Nggak cuma itu, kalau menurut gue antara kreatif dan berpikir kreatif itu beda, walau keliatannya sama ujung-ujungnya pasti dibilang kreatif. Kreatif itu adalah tindakannya atau prosesnya, ada implementasinya, tapi kalau berpikir kreatif adalah otak dari tindakan kreatif itu sendiri. Sederhananya, sebelum lo jadi orang kreatif, lo kudu punya otak yang kreatif dulu." Ini sejalan, nih, sama pendapat Jung yang bilang, yang namanya kreatif itu nggak tiba-tiba langsung ada jatuh dari langit.

Kalau tadi pendapat dari temen-temen gue, sekarang boleh, ya, giliran gue yang berpendapat. Bagi gue, kreatif itu nggak melulu produce a new product, nggak melulu making atau creating something real, concrete things. Kreatif juga bisa sebuah gerakan atau kegiatan. Tapi bukan sekadar gerakan atau kegiatan biasa. Ada visi dan misinya untuk perubahan.

Baca juga: Memulai dari Nol atau dari Referensi?

Nggak usah muluk-muluk dulu, deh, buat perubahan bangsa dan negara, buat diri sendiri, lingkungan rumah, dan pertemanan aja dulu. Gue juga berpandangan kalau there’s no something very new in the world. Mungkin ada, tapi mungkin cuma 0,1 % dari keseluruhan. Dan kalaupun ada, s/he is so awesome, karena gue belum bisa seperti dia (catatan: gue suka terpesona sama orang yang bisa melakukan sesuatu yang nggak gue bisa).

Karena pandangan gue tadi, gue merasa kalau yang terjadi berikutnya adalah sebuah proses pengulangan. Nah, di sinilah peran otak kreatif kita sebagai manusia dibuktikan. Pengulangan berarti recreate, remake, reproduce, modified, dan fungsi otak kreatif kita itulah yang bisa menggerakan proses yang tadi gue sebutin.

Gimana kita bisa sampai di tahap seperti itu, memberdayakan otak kita biar kreatif? Kalau menurut gue, kita cuma perlu peka sama keadaan sekitar. Sebenarnya kita udah disediakan clue-nya, tinggal bagaimana kita menemukannya dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Setiap tindakan kreatif pasti punya peluang buat direalisasikan, dan peluang itu didapat dari clue atau kepekaan kita.

Big-Hero-6-Team
image credit: comicvine.com


Pernah nonton film Big Hero 6, dong, pasti? Dalam sebuah adegan si tokoh utama (siapa, tuh, namanya?) membuat semacam penemuan baru yang dia dapat setelah dia melihat robot rakitannya sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Dia dapat idenya setelah dia melihat sesuatu yang udah ada sebelumnya, kan? Boleh, dong, kalau kita sepakati kalau itu adalah salah satu contoh being creative dan creative thinking?

Selain itu, gue juga beranggapan bahwa menjadi kreatif sama aja dengan kita menunjukkan dan mempertahankan eksistensi diri. Kadang tanpa kita sadari, saat kita menjadi kreatif kita memiliki rasa pengin diakui keberadaannya.

Baca juga: Kalo Cuman Ngomong Doang, Kapan Bisa Nyelesein Masalah?

Ada hal yang pengin kita tunjukkan yang kemudian berimbas kepada pengakuan diri dari lingkungan sekitar. Hal ini, selama bernilai baik dan postif, nggak jadi soal, asal jangan sampe jadi besar kepala, angkuh, dan egois ya, Guys. Sekreatif-kreatifnya kita tentu ada batasannya yang mengacu kepada norma-norma, ya.

Mungkin dengan tulisan ini, bukan berarti gue udah bisa atau melakukan segalanya untuk perubahan yang lebih baik. Tapi seenggaknya tulisan gue ini bisa jadi reminder buat kalian yang ngakunya masih muda dan produktif untuk terus mengasah otak dan skills kita dengan hal-hal yang kreatif.

Karena jadi kreatif itu menyenangkan, membuat kita nggak cepet tua. Lah, kok bisa? Yaa orang yang dikerjain sesuatu yang fresh dan menyenangkan, kok, gimana bisa cepet tua? So, bisa jadi obat awet muda juga, dong. Just give it a try kalau begitu.


Image credit: pixabay.com

Tentang penulis
+Titi Iskandar . Demen jalan kaki dan doyan ngopi. Ngeblog sejak tahun 2014 di Ruang Titi. Ada yang mau nemenin gue? Just mention me on Twitter at @titiskandar

Guest post adalah artikel yang ditulis oleh kontributor jungjawa.com. Bulan September ini jungjawa.com bakalan ngebahas tentang Creative Thingking. Pengen ikutan bikin guest post juga? Prove your existence and send your email to hello@jungjawa.com with subject [Guest Post]_Judul Post_Author. Good luck! 

Komentar

  1. See you on the next post(s), Pal! ^_^

    BalasHapus
  2. Anakku paling suka nonton Big Hero 6, terutama sama Yamada...

    BalasHapus
  3. Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa antara berpikir kreatif dengan kreatif itu beda. Secara langsung kan bisa kita lihat. Dan menurut saya, sebaik-baiknya hasil dari ide-ide kreatif itu tentu nya adalah sebuah karya (pekerjaan) yang nantinya bisa bermanfaat bagi orang banyak.

    BalasHapus
  4. Itulah tantangannya berpikir kreatif kan? "Perlu peka dengan keadaan sekitar", ngeliat sesuatu dari sudut pandang berbeda, try to think out of the box.

    Ya, setuju, berpikir kreatif sama aja dengan menunjukkan dan mempertahankan eksistensi diri, suatu hal yang ga semua orang "mau" nunjukkin hehe. Lagipula, menjadi kreatif diperlukan di dunia modern yang terus berubah ini.

    BalasHapus
  5. Itulah tantangannya berpikir kreatif kan? "Perlu peka dengan keadaan sekitar", ngeliat sesuatu dari sudut pandang berbeda, try to think out of the box.

    Ya, setuju, berpikir kreatif sama aja dengan menunjukkan dan mempertahankan eksistensi diri, suatu hal yang ga semua orang "mau" nunjukkin hehe. Lagipula, menjadi kreatif diperlukan di dunia modern yang terus berubah ini.

    BalasHapus
  6. Gue pernah tanya juga sama boss gur magang dulu. Gimana sih berpikir kreatif itu? Dia jawab, kalau berpikir yg membuat dirinya dan orang lain kerjaanya menjadi mudah

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Post

Pengalaman Pengembalian Dana (Refund) Tiket Pesawat di Traveloka

LOGO BARU PIZZA HUT

Sebenarnya, +62282 Ini Nomor Siapa Sih? Kok Misterius.