Jung - All Post


Udah pernah baca tentang artikel gue yang berjudul Rahmat Hidayat, Arti Dari Konsistensi atau Uni Dzalika: Cewek Itu Harus On Fire?

Yap! I will fire up your inspiration from Indonesian Local Heroes. Bisa aja secara nggak langsung kita nggak sadar kalo disekitar kita banyak orang-orang kreatif yang memiliki karya berkualitas. Mungkin juga mereka yang memiliki pemikiran visioner, apalagi yang udah punya movement. Bisakah kita sebut mereka dengan orang-orang pemikir kreatif? Atau mungkin mereka lebih pantas disebut visioner?

Oke. Gue setuju sama maksud dari keduanya. These people have inspired others by their various achievements but also their attitude and values, right?



Jadi disini gue mengajak kalian untuk berbagi inspirasi maupun value tentang bagaimana sih menjadi creative thinker itu? Apakah harus ngerti seni biar dibilang kreatif? Atau mungkin harus bisa main musik? Take it easy aja kok. Gue secara sederhana akan bikin interview dan mempublikasikannya di blog ini.



Keren gak sih kalo talenta yang kalian miliki mampu menginspirasi orang lain bahkan memberikan suatu perubahan?

Image credit: artworkelectric.com

#LocalHero adalah artikel maupun Q&A Jungjawa mengenai Indonesian Creative Thinker. Are you creative thinker? Prove your existence! To becoming my next Local Hero, please send your email to hello@jungjawa.com with subject 'Local Hero'. Good luck! 
Disclaimer: Pada Tahun 2016, Startup Shopious sudah menutup layanannya.


“If men liked shopping, they'd call it research.” - Cynthia Nelms
Tau nggak pengguna internet aktif di Indonesia ini berapa? Menurut laporan WeAreSocial, Indonesia memiliki 72,7 juta pengguna internet aktif dan 72 juta pengguna aktif media sosial. Angka ini dibarengi dengan prospek e-commerce di tahun 2015 yang akan meningkat sebesar 60%-70%. Gede banget kan? Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas memiliki pasar e-commerce yang cukup besar. Hal inilah yang membuat banyak pelaku toko online di Indonesia menggunakan social-media sebagai tempat berjualan.

Salah satu social-media yang sering digunakan untuk berjualan secara online adalah Instagram. Yap! Menurut survey yang dilakukan oleh JakPat, sebesar 52% dari 379 responden senang menggunakan Instagram untuk jualan fashion ataupun sekedar mencari fashion yang mereka sukai. Tentu saja ini adalah big opportunity bagi para pelaku bisnis online.


Namun hal itu tentu saja masih memiliki kendala seperti ada aja kok konsumen yang khawatir sama peristiwa penipuan-penipuan toko online yang ngerugiin banget. Plus masalah kartu debit dan kredit yang masih minim digunakan sama orang-orang Indonesia masih menjadi kendala lain yang harus dihadapi para pelaku bisnis online.

Selain itu kalo pelaku bisnis online make social-media sebagai media promosi maka pasar dari toko mereka terbatas banget. Ya cuman mereka yang ngefollow atau unfortunately end up and catch-up dengan keyword dagangan mereka.

Untungnya ada Shopious yang bakalan ngebantu permasalahan diatas. Shopious ini secara sederhananya adalah agregator toko online di Instagram. Jadi buat kamu yang punya toko online dan berniat melebarkan pasar kayaknya layanan Shopious ini pas banget deh buat kamu. Cucok!



Kalo mau jualan caranya gimana?


Gampang. Cukup daftarin akun Instagram toko online kamu melalui Shopious. Dari sana kamu bakalan dihubungi sama pihak Shopious untuk lebih lanjut. Tapi perlu di inget nih, tim Shopious akan melakukan seleksi ketat terhadap toko-toko yang dipajang di layanan mereka. Apalagi dengan sistem membership yang dilakukan guna menciptakan ekosistem yang trusted. Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan konsumen kedepannya. Jadi buat kamu yang mau tipu-tipu minggir dulu aja deh.

Boleh tau cara kerjanya?


Boleh banget! Jadi gini, kamu gak perlu ribet-ribet buat ngebikin toko online dan belajar skill coding buat bikin web toko online kamu. Simply, Shopious akan mengambil foto koleksi barang dagangan kamu dari Instagram untuk dipajang di website Shopious. Jadi yang perlu kamu lakukan cuman duduk manis dirumah sambil update produk-produk aja lewat Instagram. It’s a good thing, right?

Oh iya, jangan lupa buat bikin toko mu jadi berkualitas. Tentunya selain foto produk yang oke, detail dari produk yang kamu jual juga harus kamu berikan sejujur mungkin dan spesifik. Jangan lupa juga untuk memberikan kontak yang lengkap. Nggak mau kan calon pembeli yang highly potential pergi karena susah ngehubungin kamu? 

Nantinya calon pembeli akan menghubungi penjual secara langsung dan transaksi jual beli dilakukan langsung oleh pembeli dan pedagang. Dari sini Shopious menyerahkan transaksi kepada kedua belah pihak secara langsung.



Shopious juga mengembangkan fitur like mirip Instagram berbentuk hati yang menambah pengalaman belanja kamu. Cara kerja dari fitur ini simpel banget kok. Setiap kamu vote up/down barang maka Shopious akan memahami selera belanja kamu. Harapannya kedepan Shopious mampu memberikan rekomendasi barang yang relevan buat kamu.


Jadi sekarang ini social media commerce emang lagi ngehits banget di Indonesia karena penduduknya yang sangat sosial dan jumlah pengguna yang banyak. Disitulah Shopious hadir guna menjembatani para pelaku social media commerce. Kalo memang layanan ini bagus, boleh kok kamu coba. Seenggaknya kamu ngebantu menyebarkan informasi ini kepada mereka yang membutuhkan. At the end tentunya dengan menumbuhkan industri e-commerce dan mampu menggerakan ekonomi baru di Indonesia kedepannya. Kalo nggak sekarang kita yang nggerakin mau siapa dan kapan lagi?


Header image credit: www.ruevenue.com

“You need the creativity and free-flowing thought that comes with the artistic process and the direction and collaboration of design.”

Kalo kamu pengguna Instagram aktif pastinya nggak bakal asing sama foto-foto yang bagus. Entah itu foto-foto artistik atau tentang desain. Tapi tunggu sebentar, seni dan desain itu seperti mata uang. Saling bertolak belakang namun begitu dekat sehingga sulit untuk dipisahkan.

Baca juga: Instagram: Social Media dengan Etika, Bukan Kekinian Semata

Apalagi kalo dihadapkan sama mereka yang secara langsung berkecimpung didunia desain maupun visual art, sangat-sangat berdekatan. Kadang juga sampai kepada presepsi umum kalonya bisa desain poster berarti jago gambar, kalo suka nge-doodle berarti bisa bikin brosur. Padahal belum tentu loh.

Lalu bagaimana kita menentukan sebuah karya? Desain ataukah seni?

Coba kita definisikan terlebih dahulu, seni adalah gimana caranya kita membuat suatu karya dengan ekspresi dan mengekspresikannya. Dalam seni, tidak penting apakah orang lain menangkap nilai dan maksud ekspresi tersebut. Sebab hal tersebut terlalu subjektif, berdasarkan sudut pandang.

Sedangkan desain adalah saat dimana kita harus bisa membuat suatu karya yang mempunyai pesan dan nilai tertentu. Sehingga pesan tersebut harus bisa tersampaikan oleh semua orang.

Secara sederhana kalo seni itu tentang hubungan manusia dengan manusia. Sedangkan desain bertujuan sebagai problem solver.

Desainer grafis atau graphic designer mungkin terlihat keren. Tapi perlu digaris bawahi loh kalo mereka nggak cuman bikin logo gitu aja, tetep ada pemecahan masalahnya. Mencoba membuat logonya dapat diaplikasikan diberbagai media sehingga dapat menyampaikan pesan dari company itu sendiri.


Who are they? What do they need? What is their problem? How can we solve the problem? Sejumlah pertanyaan ini adalah cara bagaimana seorang desainer mendapatkan feedback dari klien itu sendiri. Kalo misal nggak fokus sama si klien, desainer kadang juga bingung mau mulai dari mana. Parahnya lagi kalo misal project sudah jadi tapi klien malah ngomong 'Loh kok kayak gini?'. Serba salah deh.

Seorang desainer grafis yang baik bukan hanya mereka yang mengerti penggunaan Photoshop ataupun CorelDraw aja sih. Juga bukan mereka yang hanya mix-match warna sehingga mampu membuat visual yang menarik. Seorang desainer seharusnya memiliki rasa empati. Yap! Mampu mendengarkan masalah dari orang lain dan mencoba membantu memecahkan masalah tersebut. Desainer yang baik adalah mereka yang mengkombinasikan seni dan fungsionalitas secara seimbang.

Lalu bagaimana dengan desain yang artistik? Nah loh bisa jadi seni dan desain saling berkolaborasi. Nggak salah kan kalo analogi gue diatas tentang koin. Yap! Desain sama seni itu nggak bisa dipisahin. Dengan membiarkan seni dan desain berjalan bersama bisa bikin something unique. Karena terkadang kita butuh kreativitas dan kebebasan seperti pada proses seni dan juga tujuan dan konsep seperti pada desain.


Nggak ada definisi benar atau salah dalam membuat desain maupun seni. Tapi kalo bicara masalah kualitas yang ada ya something 'good' atau something 'bad'So think about it. If you hire designers’ service, please pay them properly. And if you proclaim yourself a designer, please do not just be creative. Be logical, because you are a designer.



Passion is one great force that unleashes creativity, because if you're passionate about something, then you're more willing to take risks. - Yo Yo Ma

Setiap orang pasti punya passion. Yap, apapun passion yang dimiliki pastinya itulah hal yang disenangi. Ibaratkan sama mobil nih, passion itu ya bahan bakarnya. Tapi apakah tanpa bahan bakar, mobil bisa berjalan? Jelas bisa! Didorong atau ditarik. Cepat atau lambatnya mobil bergerak bergantung pada usaha untuk mendorong atau menarik mobilnya bukan?

Dan bicara tentang passion, siapa sih yang nggak mau kerja sesuai passion? Kerjanya enak, santai, punya banyak waktu karena kerja berasa nggak kerja, dapet gaji gede dan lain sebagainya. Tapi sebenarnya kita bener-bener ngerti tentang passion gak?

"Passion lu apa boy?"

*diem* *bingung*

Ada istilah dari orang Jawa yang berbunyi 'witing tresno jalaran e soko kulino'. Artinya kesukaan atau passion itu bisa dibentuk karena kebiasaan. Simpelnya sih passion bakal kebentuk disaat kita nyobain dan take a risk dengan segala hal. Kalo nggak pernah nyoba apa-apa gimana bisa tau passion milik kita, kan?

Baca juga: Resiko Desainer Grafis

Tapi ekspektasi hasil dari passion harus dibarengi dengan kerja keras dari proses yang panjang. Ngerti nggak? Jadi gini, misal lu mau jadi insinyur aerodinamika yang handal dengan harapan mampu mewujudkan kejayaan RI di wilayah udara nusantara. Bikin burung besi sekelas Boeing atau Airbus. Mulia banget kan?

Terus balik lagi ke diri lu tadi, sudah usaha apa sejauh ini? Lu memang punya big idea yang keren banget, tapi apakah lu peduli tentang hal-hal kecil untuk mewujudkan big idea yang udah lu rencanakan? Belajar sana-sini, update informasi terkini tentang teknologi, sepik-sepik mereka yang ada dibidangnya. Udah belum?

Semua orang pengen sukses tapi kerjaan lu supaya sukses aja masih males-malesan. Nggak ada kesuksesan yang instan bro. Emang sih generasi sekarang serba gampang. Kehadiran internet salah satunya bikin pengetahuan tersebar melalui internet, social-media tinggal pilih, cari bahan riset tinggal ketik di search engine. Kalo udah punya passion, tekuni dan nikmati. Terus pengen sukses dari passion ya beda lagi, perbanyak materi, kejar mereka yang ada dibidangnya. Tiap usaha pasti ada hasilnya, entah kecil apa besar, susah atau gampang, naik atau turun itu udah resiko. Karena untuk sukses dari yang kita inginkan itu bukan hanya tentang hasil, tapi apakah lu suka sama prosesnya?

Baca juga: Creativity (Creative Activity)

Dan satu lagi nih, passion itu bukan untuk terlihat keren atau bikin sesuatu yang something cool. Tapi dibalik passion itu ada kemauan untuk bekerja keras dengan konsekuensi trial and error yang tinggi.

The world keeps changing, guys, and you should too.





Header image credit: www.ipixel.com.sg


Bicara sosial media emang mengasyikan apalagi dibumbui dengan interaksi-interaksi menarik di dalamnya. Tapi nggak banyak user yang aware dengan etika apalagi creative copyright dalam menggunakan sosial media. Udah banyak sih kasus yang terbukti melanggar etika apalagi hak cipta. Tapi apakah setiap kasus tidak bisa diambil pelajarannya dan terus terulang?

“The Internet is the first thing that humanity has built that humanity doesn't understand, the largest experiment in anarchy that we have ever had.” ― Eric Schmidt

Salah satu social media yang lagi ngehits saat ini adalah Instagram. Social media berbasis foto bagi penggunanya. Sama seperti era Twitter ketika belum jaya seperti sekarang, Instagram masih menjadi lahan basah bagi mereka yang ends up pengen banget jadi Selebgram.

Baca juga: 12 Akun Instagram Inspirasi Desainer Grafis

Masalahnya adalah keinginan dan hasrat yang berbenturan akibat kondisi yang memaksa. Terlalu haus akan sebuah ketenaran dan tidak mau tau bisa menjadi serangan balik bagi mereka yang nggak mau belajar. Bahkan sampai etika-etika copyright pun dilanggar. Tipikal mereka yang tidak mau belajar dari kesalahan.

Sebagai contoh sebuah akun yang kita tidak usah sebutlah namanya. Menurut seorang penulis yang nggak usah disebut namanya juga, telah menegaskan konten-konten tweet di akun Twitternya telah di copas habis-habisan oleh akun Instagram tersebut tanpa menyertakan copyright. You name it lah.

Padahal kreativitas itu ada hak ciptanya. Nggak mudah untuk menjadi kreatif. Emang mau sini yang mikir, situ yang dibayar? Nggak kan. Mental copy paste inilah yang harus dibenahi. Kalo mindset udah nggak bener ya jangan harap kesuksesan akan berlangsung lama. Bahkan menjadi the ugly truth di suatu saat nanti.

Baca juga: Berbagai Pilihan Media Kreativitas

Copy paste itu udah so last year banget. Udah saat nya kita berusaha untuk menjadi diri sendiri. Dengan nggak copy paste, seenggaknya kita menghargai proses kerja kita loh. Kalo menurut Austin Klein di bukunya Steal Like An Artist kita harus tiru-tiru dalam artian yang baik bukannya langsung mengambil mentah-mentah.


Kalo sampe sekarang masih kebawa arus dan ego untuk tampil kekinian dengan copy paste punya orang lain ya semoga cepat sadar. Minimal dikurangin. Sebab sebagus apa atau sehebat apa kamu akan nggak ada apa-apanya kalo cuman bisa copy paste. Good product will sell itself.

Header image credit: www.mk-stern.de

Be as smart as you can, but remember that it is always better to be wise than to be smart. - Alan Alda
Mungkin bagi sebagian orang kreatif sering ditunjukkan kepada mereka yang bergelut di dunia seni, musikus, penulis, fashion designer, visual artist atau segala bidang yang berbau seni. Padahal kreativitas bukan hanya untuk mereka yang bekerja di industri kreatif.

Lebih baik kata 'kreatif' kita asumsikan sebagai kegiatan yang menyenangkan. Nggak heran kalo orang-orang kreatif selalu terlihat gembira setiap harinya. Hal ini wajar mengingat mereka melakukan sesuatu yang sesuai dengan passion mereka.

Bagaimana menempatkan passion pada tempatnya?

Salah satunya adalah memilih untuk memiliki media kreativitas. Dengan adanya internet dan pendukungnya maka media kreativitas sangat beragam dan memiliki ruang lingkup masingg-masing. Sebagai contoh mereka yang memiliki passion dalam bidang kepenulisan dapat memiliki blog. Bahkan seorang yang memiliki hobi desain maupun fotografi dapat memilih platform Instagram guna menunjang media kreativitas mereka.


Karena passion akan terus terasah dengan baik jika kita mau menerima masukan-masukan dari orang lain. Tentu memilih media yang tepat akan sangat penting dan sekaligus dapat dijadikan sebagai portfolio pribadi. Sehingga kreatif bukan lagi barang eksklusif.

Seorang blogger misalnya akan selalu dituntut untuk berfikir secara kreatif. Kenapa? Karena tidak mungkin konten tulisan yang ia tulis di blognya mengcopy-paste blog lain. Nggak banget kalo seorang blogger dicap sebagai blogger copas.


Coba kita melihat sedikit di bidang pendidikan. Misalnya saja perguruan tinggi atau universitas akan selalu menuntut mahasiswanya menjadi insan-insan kreatif melalui karya yang mereka hasilkan. Baik itu secara akademik maupun non-akademik. Hal ini ditujukkan agar kita memiliki generasi unggul, bukan generasi pekerja.

Kesimpulannya...

Kreatif bukanlah hal yang dibawa sejak lahir. Ini penting mengingat kita juga mengenal kata 'kreativitas' yang menurut saya berarti aktivitas untuk menjadi kreatif. Perlu diasah.


Kemudian menentukan media untuk meletakan 'aktivitas' tersebut. Udah nggak jaman ide-ide yang kita punya disimpen rapat-rapat. Lebih baik langsung saja eksekusi ide-ide tersebut.

As a graphic designer, where do you put the creative activity?

Baru-baru ini saya bersama +Royan Romadhon  merilis clothing line dengan nama Kaosan. Dimana produk utama menyasar ke mahasiswa yang ingin tampil hip namun tetap bangga dengan almamater mereka.

Namun nggak bisa dipungkiri juga, kami akan senang hati jika bisa membantu kalian yang ingin memiliki kaos namun masih bingung mau pesan dimana. Kami akan sangat senang membantu ataupun hanya sekedar say hello di @kaosanco

Untuk pemasaran, Kaosan masih memilih social media sebagai lini utama memperkenalkan produk-produknya. Hmmm... bagi yang penasaran bisa di cek di Instagram maupun Twitter dengan username @kaosanco.

Header image credit: imgkid.com


You can't do sketches enough. Sketch everything and keep your curiosity fresh. John Singer Sargent


Pada era sekarang ini sepertinya nggak mungkin memiliki ide yang original tanpa ada kemiripan dengan hal-hal yang sudah ada. Kebanyakan sih sudah ada pendahulunya sebagai referensi atau hanya memperbaiki hal yang sudah ada. Hanya saja yang membedakan adalah saat ide tersebut dieksekusi sebagai hasil nyata.

Saya yang sedikit banyak bergelut di dunia desain pun mengalami hal yang sama. Terkadang ada kemiripan logo yang baru dirancang oleh seorang desainer terhadap logo yang sudah ada. Lazimnya hal seperti ini terjadi di situs-situs crowdsourcing desain seperti 99design maupun Sribu.com.

Baca juga: Desain Logo Plagiat

Lantas manakah yang lebih baik?

Memiliki sebuah ide adalah hasil kreativitas seseorang. Menurut Steve Jobs, kreativitas hanyalah menghubungkan hal-hal yang sudah ada. Yang paling penting adalah bagaimana hal-hal yang kita hubungkan tadi dieksekusi secara unik dan berbeda dengan kompetitor yang sudah ada.


Apakah salah memulai sesuatu dari nol?

Nggak. Namun untuk memulai sesuatu dari nol kita membutuhkan effort yang lebih banyak. Sedangkan saat ini kita harus berkompetisi dengan kompetitor lainnya. Coba kita lihat yang dilakukan oleh Apple melalui iPod-nya sebentar.

Pemutar musik biasa tentu tidak menarik daripada iPod. Padahal Apple hanya memperbaiki hal yang sudah ada pada pemutar musik biasa dan mengubahnya dengan sederhana agar mudah digunakan oleh konsumen.

Tetapi memulai sesuatu dari nol terkadang juga harus kita lakukan agar berbeda dari kompetitor. Kenapa? Karena sesuatu yang sudah ada akan menjadi pembeda ide yang kita miliki.

Baca juga: Creativity (Creative Activity)

Sekali lagi, ide atau kreativitas bukanlah hal yang pasti dalam menciptakannya. Namun lebih penting adalah bagaimana ide tersebut terwujud dalam hal nyata.

"Nothing is original, so strive for something fresh instead. After all, it’s how others respond to your ideas that counts most.” - John Hegarty, Co-founder, BBH


Header image credit: mashable.com

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2022