Kerja Apa Saja Asal Bisa Makan | Good Ideas. Great Stories. -->




"Those who not work, shall not eat"
Saya memiliki frekuensi yang cukup tinggi untuk membeli makanan di luar atau sebut saja dengan jajan. Ya, enak sekali.

Bahkan, saya memiliki beberapa warung langganan yang kebetulan entah bagaimana caranya, saya juga suka dengan cita rasa masakan dan tentu saja yang paling penting, harganya.

Mudah saja bagi saya untuk akrab dengan beberapa penjual makanan. Mulai dari teteh-teteh Burjo dan kantin sego pecel di sekitar UNS hingga mas-mas warteg di sekitaran Cawang. Bahkan hingga penjual nasi goreng asal Tegal dengan rasa yang maknyus di Senipah, Balikpapan.

Atau kadang kala, mengisi kekosongan waktu dengan nongkrong di Pesta Buntel bersama penguasa Karesidenan Surakarta, Den Bagus Ilham di Pesta Buntel.

Seringnya intensitas saya jajan tentu menambah frekuensi ngobrol saya dengan penjualnya. Ya, sekadar basa-basi hingga belajar banyak sekali ilmu untuk hidup.

Apa yang bisa saya pelajari dari mereka adalah bekerja (melakukan sebuah pekerjaan yang menghasilkan) apa saja untuk hidup dan hidup untuk memaknai pekerjaan itu sendiri.

Baca juga: Tentang Passion dan Impian yang Lo Kejar

Ya, jual nasi goreng, jualan warteg, jualan sepatu di PGC Cililitan, berdagang sembako dan lain sebagainya. Well, ya kerja apapun asal halal, tidak mengganggu orang lain dan bisa mendapatkan keuntungan.

Lah, ya iya dong, masak kerja nggak untung.

Pasar Bisa Diciptakan Begitu Pun Lapangan Pekerjaan

Menarik sekali memang mendengar cerita para penjual yang saya jumpai. Tapi ada satu hal yang mereka tanamkan cukup dalam.

Bekerja jauh dari rumah untuk meninggalkan zona nyaman dan mendapatkan pendapatan untuk kehidupan yang lebih baik. Dari Tegal terbang jauh ke Balikpapan untuk berjualan nasi goreng. Pergi jauh dari Klaten ke Jakarta untuk berdagang pakaian dan lain sebagainya.

Mereka yang pergi merantau menciptakan pasar. Menjual nasi goreng pun begitu, tidak serta merta memiliki kios untuk berjualan. Dimulai dari emperan toko dan kemudian bisa menyewa tempat.

Pasar bisa menerima. Pasar bisa diciptakan sesuai dengan produk yang kita jual. Terutama untuk kebutuhan pokok, ya jual apa saja. Kerja apa saja. Yang penting bisa makan. Nggak perlu gengsi kerja apa. Toh gengsi nggak bisa memberi kita sesuap nasi untuk esok hari.

Oke mz, kwietiaw goreng versi lompat tali satu ya, pedes!


Tempo hari, Twitter ramai memperbincangkan sebuah twit yang konon dicuitkan oleh seorang selebtwit yang agar lebih mudah bisa kita sebut saja sebagai Paijo.

Paijo berpendapat bahwa orang bekerja sejak pagi dan selama satu hari penuh hingga lembur berjam-jam dan pulang hingga larut malam. Sedangkan upah yang ia dapatkan hanya sekadar lewat saja itu merupakan tindakan untuk mengerjai diri sendiri.

Saya pikir, Paijo masih belum mengerti bahwa pekerjaan bukan hanya perkara gaji. Pekerjaan, pendapatan hingga hiruk pikuk dapur agar mengepul tidak segampang menyebutkan bahwa kita bekerja apa dikerjain.

Kerja Apa Dikerjain? 

Bekerja bukan hanya perihal uang. Kadang saya lebih memilih untuk menjadi bodoh. Sehingga kebodohan, bisa saya pelihara untuk masa depan yang lebih baik.

Masalah pekerjaan tidak semudah terima gaji diawal bulan dan sesulit menumpuk piutang diakhir bulan. Life is unfair.

Terkadang, ada orang yang leha-leha untuk pekerjaannya dan dibayar mahal untuk itu. See? Terlihat gampang sehingga kadang kala sifat asli keluar. Mudah saja untuk menjustifikasi bahwa mereka yang bekerja terlalu keras untuk pekerjaan, sedang dikerjai oleh pekerjaannya sendiri.

Baca juga: Kalau Semua Orang Jadi Entrepreneur, Siapa yang Jadi Pegawai? Atau Sebaliknya?

Kalau dipikir lagi, "kamu siapa?". Memberikan label pada orang lain padahal tidak ada kaitannya dengan orang yang bekerja keras untuk membuat dapur mengepul.
Meminjam kata-kata bahwa keadilan adalah istilah utopis yang tidak mungkin dapat dicapai tatkala kita tidak mampu bersikap adil untuk diri sendiri. Hidup macam apa yang adil?

Apa yang lebih menyebalkan daripada beban pekerjaan? Tidak ada pekerjaan untuk dikerjaan. Apa sih enaknya pengangguran?

Dari hal itu saya sedikit memberikan kesimpulan. Hidup kita tentang pekerjaan, ya berujung untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Makan. Kalau kita masih mengeluh untuk memenuhi kebutuhan makan (atau bahkan "mengeluhkan" hidup orang lain-yang-nggak-ada-hubungannya) ya boleh dibilang konyol.

Kerja apa saja ya asal bisa makan. Kalau dirasa berat, ada baiknya perlu sedikit introspeksi bahwa mungkin saja hidup itu nggak sulit, kita yang terlalu lemah.

***

Versi asli artikel ini pertama kali dipublikasikan melalui akun saya di Medium dengan judul Kerja Apa Saja Asal Bisa Makan

Komentar 18

Sampaikan pendapatmu di sini:

  1. Enggak tau mau komen apa, selain sepaham aku mz sama kamu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemahaman memang tidak selamanya harus dikomentari :)

      Hapus
  2. Selalu ku tertohok oleh tulisan2mu mz.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terkadang, bukan tulisan yang membuat seseorang tertohok.

      Hapus
  3. Seperti lagu Efek Rumah Kaca - Pasar Bisa Diciptakan :-)

    Kalau kata orang rumah, seng penting disyukuri & iso nabung, tur halal :-)

    BalasHapus
  4. Kerja apa dikerjain. Hmmm, good words. Hidup nggak sulit, kita yang terlalu lemah. Good point! Yuk, mbuntel meneh, nde.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kui sak jane mung pemahaman lain dari ora obah, ora mamah, Ham.

      Hapus
  5. Jung. Emang pasta buntel ganti nama ya?

    BalasHapus
  6. Terus tanggapan untuk blogger ngebuzz yang dibilang nyampah, gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini ada temenku yg jd blogger nyampah, tapi bisa mbantu Ibunya dan menghidupi keluarganya.

      Selagi kita gak merasa dirugikan, its oke kali ya. Hee..

      Hapus
  7. Sebagai seseorang yang memasuki yang namanya Quarter Life Crisis, tulisan ini menyadarkan banget kalau nggak perlu terlalu worry tentang rejeki :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Quarter Life Crisis lagi jadi buzzword nih?

      Hapus
    2. Sepertinya.. usia seangkatan kita tampaknya sedang galau-galau~

      Hapus
  8. Aiihh udah lama nggak komen di mari *komen nggak penting

    Kerja apa saja asal halal dan bisa makan. Setujah!

    Kadang bagi sebagian orang melihat pekerjaan X harus menulis xx artikel dan fee only xxx, langsung melengos, bilang gini-gitu. Padahal ya banyak hal yang dipertimbangkan oleh seseorang mengambil resiko pekerjaan tersebut. *ini kok malah curhat

    Dan, yeah pekerjaan itu memang mesti dinikmati, ya. :D

    Paragraf terakhirmu itu, udah bijaksana banget mas hihihihh :p

    BalasHapus

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2018