Telegram, Terorisme dan Pro Kontra Pemblokiran, Salah Siapa? | Good Ideas. Great Stories.
Artikel ini disponsori oleh Kumparan, platform media kolaboratif Indonesia sebagai wadah membaca, membuat dan berbagi beragam berita dan informasi.
Beberapa hari ini saya sibuk mengikuti pemberitaan mengenai pemblokiran Telegram oleh pemerintah melalui Kumparan. Justru hal ini membuat saya teringat dengan salah satu artikel saya yang membahas tentang hacking sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan.

Hampir satu minggu ini, baik pemberitaan di televisi maupun aplikasi berita seperti Kumparan ramai membahas pemblokiran Telegram. Mulai dari yang menghujat, memaki-maki hingga bercanda atas usaha pemerintah untuk melakukan pemblokiran aplikasi dari Pavel Durov tersebut.

Duh, padahal mau kalian pro dan kontra terhadap usaha pemerintah melakukan pemblokiran Telegram, saya yakin pelaku terorisme akan terus mencari celah lain untuk bisa berkomunikasi.

Saya lebih memilih untuk tidak memilih. Tidak terjebak di pro atau kontra atas usaha pemerintah untuk melakukan pemblokiran terhadap Telegram. Apalagi sampai kepada aksi memblokir presiden. Saya cuman tidak ingin terpengaruh dan mempengaruhi orang lain dan memaksakan keyakinan.

Mari kita bicara pelan-pelan saja.

Telegram adalah sebuah aplikasi, saya adalah salah satu pengguna aktifnya. Fiturnya pun cukup lengkap, layaknya aplikasi tandingannya, Whatsapp.

Namun, dari berbagai fitur yang ada, enkripsi dan delete automatically adalah celah yang bisa dimanfaatkan oleh orang (yang bermaksud) jahat untuk melakukan aksinya. Seperti aksi terorisme misalnya.

Enkripsi konon menjadikan pesan yang dikirim menggunakan Telegram menjadi 'tidak terjangkau' oleh kuasa pemerintah. Buat kalian yang ngerti atau pernah nonton film Snowden atau The Imitation Game pasti sedikit ngerti tentang pemberitaan mengenai Telegram ini.

Tapi, jika hal itu dikesampingkan, akan ada banyak sekali manfaat dari aplikasi ini. Salah satunya adalah fitur channel yang berguna untuk mencari lowongan kerja namun lagi-lagi dimanfaatkan untuk aksi terorisme. Bedebah!

Terorisme selalu beraksi untuk menyebarkan teror. Menciptakan kondisi yang tidak aman dan bisa meruntuhkan kedaulatan sebuah negara. Sekeumpulan orang-orang dengan faham ekstrim untuk melakukan segala hal yang menurut mereka benar. Menghilangkan nyawa orang lain, itu tidak masalah selama itu sejalan dengan keyakinan. Sungguh biadap!

Aplikasi Telegram via bbc.com
Nah, Telegram sendiri adalah sebuah aplikasi yang bisa saya sebut sebagai aplikasi terbaik untuk berkomunikasi. Terutama masalah privasi yang ada. Kembali kepada fitur enkripsi dan cloud based yang ada di Telegram.

But, great power comes great responsibility. Kehadiran Telegram dengan fitur enkripsinya secara tidak langsung membuat pemerintah yang memerlukan tindak pengawasan dan pencegahan terorisme menjadi cukup sulit karena enkripsi.
Maka, solusi cepat dan tepat adalah melakukan pemblokiran yang secara tidak langsung membuat Durov juga terpaksa bertindak cepat dan merespon usaha pemerintah untuk melakukan pemblokiran Telegram.

Hasilnya? Durov mengatasi masalah ini dengan mengimplementasi tiga langkah untuk bisa mengembalikan akses Telegram di Indonesia.

Pemblokiran Channel

Channel Telegram menjadikan informasi bisa menyebar dengan cepat dan massal. Seperti sebuah group, namun dapat memiliki ribuan anggota.

"Kami sudah memblokir semua kanal publik terorisme yang sebelumnya dilaporkan Kemkominfo. Saya sudah mengirim email balik ke Kemkominfo untuk membangun komunikasi langsung, yang bisa membuat kami bekerja lebih efisien dalam mengidentifikasi dan memblokir propaganda teroris ke depannya," papar Durov.

Ya, satu-satunya jalan untuk menghancurkan channel adalah dengan turun tangannya pihak Telegram agar menanganinya.

Tim Moderator dalam Bahasa Indonesia

Selain itu, Telegram juga akan membuat sebuah tim moderator yang memiliki kemampuan bahasa Indonesia agar mempercepat proses penanganan konten terorisme.

Tapi, menurut saya ada sebuah celah lebar di sini. Pelaku terorisme tidak mungkin sebodoh itu menggunakan Bahasa Indonesia saja. Apalagi jika mereka memiliki anggota yang banyak, ada kemungkinan besar mereka menggunakan sandi dalam berkomunikasi. Seperti kode Enigma yang digunakan Nazi dalam Perang Dunia ke 2.

Bekerja Sama dengan Pemerintah

Durov menyatakan telah mengirim email ke Kementerian untuk membentuk saluran komunikasi langsung, yang memungkinkan tim Telegram bekerja lebih efisien dalam mengidentifikasi dan menghalangi propaganda terorisme.

"Telegram adalah aplikasi yang sangat terenkripsi dan pribadi, tapi kami bukanlah teman dari teroris. Faktanya, setiap bulan kami memblokir ribuan kanal publik ISIS dan mempublikasikan hasilnya di @isiswatch. Kami dengan gigih terus mencegah penyebaran propaganda terorisme secara efisien, dan selalu menerima ide untuk menjadi lebih baik dalam hal ini," lanjutnya.

"Pemblokiran itu kalau sudah meng-address permasalahannya, ada proses normalisasinya. Kita lihat saja dalam waktu dekat ini, kan harus ada komunikasi yang intens dengan mereka," ujar Semuel A. Pangerapan, Dirjen Aptika Kemkominfo, dalam pesan singkat kepada kumparan (kumparan.com), Minggu (16/7).

Pemblokiran layanan Telegram di Indonesia saat ini baru sebatas Domain Name System (DNS) sehingga hanya web saja yang tak bisa diakses, sementara aplikasinya masih bisa digunakan. Tidak menutup kemungkinan Telegram akan diblokir sepenuhnya jika tidak bisa memenuhi regulasi yang berlaku di Indonesia.

Telegram di blokir via vox.com
Tidak ada yang salah dalam isu pemblokiran Telegram. Satu-satunya yang perlu disalahkan adalah tindakan terorisme. Itu saja.

Pun kita sebagai netizen masa kini yang bisa mendapatkan informasi dari mana saja, gali terus menerus. Jangan mau mengikuti arus besar tanpa memeriksa beritanya terlebih dahulu.

Opini milik siapa? Kok mau-maunya disetir. Baca semua summber berita. Cari dari berbagai sumber. Atau, kalau kalian perlu banyak referensi, ada banyak sekali forum dan blog untuk mencari opini plus solusi atas masalah ini.

Pokoknya jangan mau saling menyalahkan. Bikin capek.

Usaha pemblokiran kok dibalas blokir. Ya kalau gitu sama aja dong. Seperti tidak mengedukasi masyarakat saja, pukul dibalas pukul. Apa kita sudah lelah?

Mungkin.


Kalian bisa mengikuti tentang isu pemblokiran Telegram ini di Kumparan.com

Komentar 1

Sampaikan pendapatmu di sini:

  1. Banyak teman yang menggunakan Telegram sebagai aplikasi berkomunikasi. Bahkan ketika ada berita diblokir pun sangat ramai. Sayang saya tidak mengikuti sejak awal ehehhheheh.

    BalasHapus

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2018