#TravelSeries: Pendakian Gunung Sindoro 3153 MDPL | Good Ideas. Great Stories.


Beberapa hari yang lalu atau tepatnya tanggal 21 Januari 2015 saya bersama empat teman saya yang lain telah melakukan pendakian ke puncak Gunung Sindoro. Sebelumnya atau lebih tepatnya tanggal 14 Januari, saya dan teman lainnya mendaki Merapi dengan kabut yang sangat tebal.

Pendakian Sindoro kali ini dilaksanakan pada 20 Januari 2015 dari Solo. Rencananya kami akan mendaki 2S yakni Sindoro dan Sumbing. Namun karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan setelah sampai di Sindoro maka kami memutuskan untuk mendaki Sindoro saja. Sedangkan Sumbing bisa kami daki lain waktu saat cuaca sudah memungkinkan.

Gunung Sindoro merupakan salah satu gunung di Jawa Tengah yang dekat dengan kota Temanggung. Gunung ini memiliki ketinggian 3.150 meter diatas permukaan laut. Gunung Sindoro sendiri memiliki kawah Jalatunda di puncaknya yang masih aktif mengeluarkan asap sulfatara.

Pendakian kami diawali dari perjalanan bus menuju Kledung. Berangkat dari Solo tanggal 20 Januari 2015 melalui terminal Tirtonadi pukul 13.00. Dengan menumpang bus Taruna kami menuju Bawen dengan ongkos Rp. 15.000/orang. Suasana didalam bus cukup nyaman karena cukup senggang. Bus yang kami tumpangi terlalu nyaman sehingga waktu 2,5 jam di bus tidak terasa sudah kami lalui. 

Pukul 15:38 kami tiba di Bawen dan turun mencari bus ke arah Kledung. Untuk sampai ke Kledung kami berganti bus dengan ongkos Rp. 25.000/orang. Lebih mahal daripada perjalanan Solo - Bawen dengan bus yang justru juga lebih bagus. Dan belakangan saya tau kenapa ongkos menuju Kledung lebih mahal.

Bus yang kami tumpangi melewati jalanan perbukitan yang menanjak dan sesekali turun. Dengan disuguhi pemandangan alam bus kami tetap melaju dengan kencang diatas jalan yang memiliki kemiringan yang cukup besar. Sekitar 30 menit dari Bawen hujan mulai turun. Hawa dingin pun mulai terasa saat saya memeriksa ketinggian di 900an mdpl. Pukul 17.00 kami sudah mendekati wilayah Gunung Sumbing dan Sindoro. Namun yang menyapa kami terlebih dahulu adalah Gunung Sumbing sedangkan Sindoro masih malu-malu tertutup awan hujan.

Gunung Sumbing yang menyapa kami tiba di Kledung
Tepat pukul 17.23 kami sampai di desa Kledung, gerbang utama untuk pendakian Gunung Sindoro jalur Kledung. Basecamp sendiri letaknya dipinggir jalan Kledung Pass yang kami lalui, sehingga tidak terlalu jauh untuk beristirahat sejenak.

Hujan yang turun sejak dari Bawen tadi tidak kunjung usai. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di basecamp dan mendaki keesokan harinya agar tubuh dapat beradaptasi atau bahasa kerennya aklimatisasi.

Pendakian Sindoro jalur Kledung via idiotraveler.blogspot.com 
Keesokan paginya kami bergegas bangun dan solat subuh di Masjid At-Taqwa yang letaknya bersebelahan dengan basecamp. Setelah berdoa dan sedikit briefing kami memulai perjalanan mendaki Sindoro. Keluar dari desa Kledung pukul 05.00 kami menyusuri ladang penduduk dengan ditemani hawa dingin hasil hujan tadi malam. Beruntung hujan sudah berhenti pagi ini walaupun masih menyisakan awan, puncak Sindoro tetap terlihat dengan gagahnya.

Ladang penduduk diantara jalan menuju Pos 1
Setelah 45 menit perjalanan atau lebih tepatnya pukul 05.45 kami tiba di Pos 1. Letaknya di ujung ladang penduduk. Padahal menurut keterangan peta yang kami dapat di basecamp, perjalanan ke Pos 1 kurang lebih ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Keterlaluan cepatnya kami berjalan, mungkin karena hawa dingin yang menusuk sehingga kami berjalan cepat untuk lebih hangat.

Dari Pos 1 (1600 mdpl)  kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 yang menyusuri hutan dengan vegetasi yang cukup lebat. Sepanjang perjalanan menuju Pos 2 kita akan menyusuri hutan dan melalui tiga jembatan kecil. Dimana jembatan pertama terbuat dari semen dan dua jembatan sesudahnya kita akan menemui jembatan kecil yang terbuat dari bambu. Perjalanan menuju Pos 2 kami tempuh dalam waktu 1 jam.

Lebatnya vegetasi hutan Sindoro

Jalur menuju pos 2
Pukul 06.52 kami tiba di Pos 2 (2120 mdpl) kemudian sarapan dengan roti untuk mengisi energi yang akan kami gunakan menuju Pos 3. Perlu diketahui bahwa perjalanan menuju Pos 3 agak sedikit menanjak dimana Pos 3 adalah setengah perjalanan menuju puncak Sindoro.

Pos 2 berada di ketinggian 2120 mdpl

Jalur mendaki menuju Pos 3
Perjalanan menuju Pos 3 kami mulai pukul 07.10 dari Pos 2. Perbedaan perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 adalah disini jalur menanjak didominasi oleh batu-batuan meskipun vegetasi masih sangat lebat seperti jalur sebelumnya. Sesekali kami beristirahat sekedar menghela nafas dan menikmati Sumbing yang tepat dibelakang kami dan sekedar memandang jauh Merbabu dan Merapi dibelakangnya lagi. Perlu diingat bahwa saat melakukan pendakian jangan istirahat terlalu lama karena tubuh akan mengalami penurunan suhu sehingga rawan kelelahan. Teruslah berjalan perlahan akan lebih baik. Sedapat mungkin mengatur langkah, nafas dan tempo pendakian.

Dibalik rimbunnya hutan. Merbabu - Merapi - Sumbing
Pukul 08:41 kami tiba di Pos 3 dengan disambut sampah yang berserakan dimana-mana. Sungguh tragis memang untuk disaksikan. Banyak pendaki yang lebih menikmati alam daripada merawatnya sehingga enggan untuk membawa turun sampah mereka. Semoga pembaca tulisan ini bukanlah orang yang senang naik gunung dan 'menaikkan' sampah nya pula.

Di Pos 3 (2530 mdpl) kami beristirahat sambil memasak mie instan. Dari Pos 3 kami melihat keatas yang ternyata jalurnya lumayan terjal. Tampak dari kejauhan kami melihat tas keril pendaki yang kami temui kemarin sore di basecamp. Kami pun bersemangat untuk menyusulnya..

Pos 3 berada di ketinggian 2530 mdpl
Pukul 09.00 kami bergegas untuk berkemas dan melanjutkan perjalanan karena udara sudah mulai panas. Dari Pos 3 kita akan masuk ke hutan lamtoro yang menjadi peneduh kami dari sengatan sinar matahari. Setelah 1,5 jam perjalanan vegetasi sudah mulai terbuka dan ini berarti kami sudah melalui hutan lamtoro dan memasuki kawasan Batu Tatah. Kawasan Batu Tatah sendiri merupakan rute terbuka dengan jalur yang melelahkan disertai terpaan angin langsung.

Sekitar pukul 11.00 kami melewati hutan lamtoro setelah Batu Tatah. Dari kejauhan puncak Sumbing sudah mulai gelap dan kabut sudah mulai naik dari Pos 3. Sepertinya akan turun hujan. Dan benar sekali, 15 menit kemudian hujan rintik mulai turun ketika kami memasuki Padang Edelweis yang konon katanya merupakan padang Edelweis terluas di gunung Indonesia.

Puncak Sumbing yang gelap

Kemiringan menuju puncak
Semakin kami naik keatas hujan turun semakin lebat disertai gemuruh petir dan angin yang berhembus kencang. Dengan ponco kami berusaha keras untuk mendaki di kemiringan lebih dari 30 derajat. Disela jalur pendakian kami bertemu dua pendaki wanita yang ternyata tidak kuat untuk naik keatas. Mereka adalah rombongan pendaki yang kami temui di basecamp tadi. Padahal cuaca sangat buruk sedangkan mereka hanya menggunakan ponco sambil menggigil kedinginan, entah mengapa anggota pendaki lainnya meninggalkan mereka. Hal ini tentu sangat berbahaya.

Pukul 12:30 kami sudah berada di ketinggian 3000 mdpl. Berarti tinggal 150meter lagi maka kami akan mencapai puncak. Kami pun bergegas keatas karena hujan yang semakin deras dan jalanan yang semakin licin karena jalur pendakian menjadi jalur aliran air. Sesekali kami berpegangan pada rumput agar dapat naik karena tidak ada rambatan lainnya. Jalur menuju puncak banyak ditemui sisa-sisa kayu yang terbakar yang kemungkinan besar adalah hasil kebakaran maupun pohon yang tersambar petir.

Sekitar 50 meter dari puncak bau belerang sudah dapat kami rasakan terbawa oleh air hujan. Bau belerang terasa seperti bau krupuk atau karak. Dan juga dapat diterjemahkan seperti bau busuk. Tanda alam ketika sudah mendekati puncak adalah jalur bebatuan yang kami lalui sudah berubah menjadi warna kebiru-biruan. Bebatuan ini bukan kedinginan namun warnnya berubah karena terkena sulfur. Tepat pukul 13.15 saya mencapai puncak Sindoro dan langsung mengeluarkan ponsel saya untuk memotret. Namun kondisi lensa yang berembun karena hujan membuat hasil jepretan saya tidak maksimal. Bau gas belerang yang sangat menyengat pun sangat mengkhawatirkan. Tidak sampai 30 detik di puncak Sindoro kami turun lagi, mengingat gas belerang dioksida (SO2) sangat berbahaya jika dihirup melebihi ambang batas karena menyebabkan kematian.

Kami pun bergegas segera turun kebawah karena hujan semakin deras. Hujan menyebabkan jalur menuruni bebatuan semakin licin dan air sudah menggenangi sepatu hingga rain cover keril saya. Dengan sangat berhati-hati kami sampai Pos 3 pukul 15.40 dengan selamat. Hujan sudah reda setibanya kami di Pos 3. Perjalanan turun masih jauh maka kami memutuskan untuk memasak dan ngopi di sini. Saya berganti pakaian dan melepas sepatu, begitu pula dengan beberapa teman saya yang lain.

Sepatu yang basah beserta kaos kakinya dapat menyebabkan kaki kurang optimal dalam melangkah. Saya memutuskan untuk melepas sepatu dan menggunakan sandal jepit serta celana pendek untuk perjalanan gunung. Sebenarnya tidak disarankan menggunakan sandal jepit untuk naik gunung apalagi kondisi basah setelah turun hujan karena jalanan akan semakin licin. Sandal jepit tidak memiliki alur seperti sepatu gunung ya.

#SelfieDulu
Setelah berfoto-foto di Pos 3 kami langsung turun pukul 17.14 karena takut hari sudah mulai gelap saat memasuki hutan nantinya. Kami menapaki jalan turun gunung dengan sangat cepat, tak terasa hanya 1,5 jam kami telah sampai di Pos 1 pukul 18.34 maghrib telah tiba. Semburat sinar matahari di ufuk barat seakan berkata "Pergi gelap. Pulang petang".

Lampu-lampu desa dan bayangan Gunung Sumbing menyambut kepulangan kami. Perjalanan masih dilanjutkan untuk turun ke desa sekitar 1 jam perjalanan santai. Langkah gontai kami akhirnya selesai juga di basecamp Sindoro saat Isya tiba. Sebenarnya ada ojek untuk turun dari Pos 1 dengan ongkos Rp. 15.000/orang untuk yang tidak kuat berjalan lagi.

Di basecamp kami memutuskan untuk pulang ke Solo karena tidak memungkinkan lagi untuk lanjut mendaki Sumbing. Selain tiga dari lima orang memilih untuk tidak mendaki, faktor cuaca dan pakaian yang basah juga kami pertimbangkan. Akhirnya kami pun pulang dengan menunggu bus dari arah Wonosobo menuju Bawen pukul 10 malam.

Bus yang kami tumpangi melaju sangat kencang meninggalkan Kledung dengan ongkos sebesar Rp. 30.000 per orang. Pukul 11 malam kami tiba di Bawen. Perut yang keroncongan membuat kami dengan segera harus menemukan tempat makan. Walhasil kami menemukan warung yang masih buka. Nasi Bebek Goreng kami lahap sampai habis. Nikmat sekali.

Setelah makan, kami menumpang bus jurusan Semarang - Solo untuk kembali pulang kerumah. Dan tepat pukul 1 dini hari kami tiba di terminal Tirtonadi. Alhamdulillah.

Salah satu kekurangan pendakian kali ini menurut saya adalah dari logistik. Walaupun sering makan namun kebutuhan akan asupan kalori masih kurang, sehingga kami mengalami kelelahan saat mendaki. Seharusnya asupan gizi dan kalori sangat diperhitungkan untuk aktifitas berat seperti mendaki gunung. Semoga dapat menjadi pembelajaran #TravelSeries selanjutnya.

#MendakiRinjani2015


Pendakian yang berhasil adalah mendaki dan sampai kembali dirumah dengan selamat
Bawa turun sampahmu atau bawa turun nyawamu!


CATATAN PENDAKIAN:

Akomodasi
13.00 Tirtonadi - Bawen Rp. 15.000/orang
15:30 Bawen - Kledung Rp. 25.000/orang
17:30 Kledung (Basecamp)

Registrasi Pendakian Rp. 5.000/orang

22.00 Kledung-Bawen Rp. 30.000/orang
23.00 Bawen - Tirtonadi Rp. 20.000/orang
-------------------------------------------------------+
TOTAL: Rp. 95.000/orang

Logistik 5 orang pendaki
Mie Instant 10 bungkus
Roti Tawar 2 bungkus
Kopi Sachet 5 bungkus
Margarin
Air Mineral 10 botol @botol 1,5L
Susu coklat 2 bungkus
Nutrijel 1 bungkus
Coklat Coki 10 buah


Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2018