Menyakitkan untuk Didengar, Merindukan untuk Diputar | Good Ideas. Great Stories.


Tidak ada kata terlambat untuk jatuh cinta. Pun begitu ketika saya baru menyadari untuk jatuh cinta kepada Ghibli untuk film Spirited Away layaknya Chihiro yang kesengsem pada Haku.

Tunggu dulu! Agar artikel ini dibaca dengan niat yang tulus dan sungguh-sungguh, maka akan lebih baik jika sembari memutar Always With Me dan The Name of Life atau jika kamu pengguna Spotify, bisa memutar playlist Joe Hisaishi
Pun, saya tak perlu menyalahkan Hayao Miyazaki yang membuat sebagian orang seperti saya ikut hanyut dalam Spirited Away. Sebuah film anime yang rilis di tahun 2001. Ya, 16 tahun yang lalu dan baru saat ini saya jatuh cinta.

Bercerita tentang kehidupan di dunia roh, Spirited Away tidak menyeramkan seperti Sadako maupun Hantu-hantu Bersusu versi Indonesia yang justru membuat penonton semakin gelisah. Geli-geli basah.

Spirited Away melahirkan hantu dalam bentuk yang berbeda. Ya memang harus beda dong, memangnya anak-anak kepikiran buat mesum saat menonton Sandy Cheeks berbikini? Hambok pikir cah cilik ameh ngaceng nonton striptis tupai? Lak yo lucu!

Sebuah versi sensor yang sangat embuh - via Bain Saptaman di Kompasiana


Ada satu lagu dari Spirited away yang membuat saya kesengsem. Telinga saya seperti habis ena-ena dan untuk memaknai jargon internesynel dalam istilah kekinian disebut dengan eargasm. Lagu dengan judul The Name of Life tersebut diramu dengan apik oleh Joe Hisaishi.

Tak hanya Spirited Away, The Name of Life pun cocok untuk dinikmati semua umur. Ya, bagi kalian yang kebetulan terjebak kemacetan atau terjepit nyaman di dalam kereta komuter, lagu ini sudah sepantasnya menemani headset yang menyumpal lubang telinga. Sungguh.

The Name of Life muncul pertama kali dalam film ini ketika Chihiro dan orang tuanya mengendarai sebuah mobil sedan menuju rumah pindahan. Pada saat itu, Chihiro digambarkan sebagai anak yang menyebalkan dan senang menggerutu. Sebuah sindiran bagi generasi super-mega-duper-instan versi kekinian yang cuman mau enaknya saja.



Ketika mendengarkan The Name of Life, dentingan piano terasa sungguh menyakitkan. Ya, sebuah alunan untuk mengingatkan Chihiro yang kelak akan mengubah kedua orang tuanya menjadi babi. Dentingan ketamakan kedua orang tua Chihiro yang mengusik dunia arwah.

Progresi chord yang ada di The Name of Life memang menyakitkan untuk didengar. Namun, itulah letak kerinduannya untuk diputar kembali. Sejauh ini, hanya ada dua alunan serupa yang pernah saya tahu. Yakni Sukima Switch dengan Boku Note dan Nobue Uematsu dengan Suteki Da Ne.

Saking indahnya, The Name of Life seolah memberikan dua nuansa yang dicampur jadi satu. Merasakan kesedihan yang dialami Chihiro dan petualangan di dunia arwah bersama Haku dan Nenek Imoet Yubaba.

Selain The Name of Life, Spirited Away juga mengenalkan karya lain dari Joe Hisaishi seperti Always With Me (Itsumo Nando Demo). Mungkin, saya sedang jatuh cinta pada Joe Hisaishi dan karya-karyanya.

Ya, alunan denting piano yang menangis dan sedih ketika didengar. Akan tetapi, selalu rindu untuk terus diputar.

It hurts to hear, but it's good. I feel the same. It's so sad yet makes you feel happy.




Header image credit: Inquirelive

Komentar 11

Sampaikan pendapatmu di sini:

  1. HEHAHAHAHAHA gak jadi nikmatin lagu dengan baca postingan gegara gambar Sandy make beha ungu! Sungguh sendor yang fail.

    Bahasa postingannya sedikit beda ya Kak, ini instrumennya lumayan juga, kayanya emang tambah menghayati kalo udah pernah ena-ena nonton langsung dulu. Nonton Spirited Away bukan yang lain.

    BalasHapus
  2. Nonton Spirited Away... nggak paham saya!

    Tapi baca review dari para mastah, katanya film ini coba menyodorkan kritik atas perdagangan anak yang ada di Jepang pada masanya.

    BalasHapus
  3. Iya musiknya memang enak didengar. Bikin mellow..huhuhu... Aku juga suka filmnya. Agak rumit memang jalan ceritanya, terutama pas tiba-tiba ada kembarannya Yubaba. Hehe..

    BalasHapus
  4. Jung. Ini kayak film ghost at school juga ya. Salah satu film favorit yg dulu tayang di telepisi setiap abis magrib...

    BalasHapus
  5. Pertama kali nonton ini waktu masih SMP. Ajaib sih, mudah dipahami pesannya. Tapi nggak gitu ngerti musik jadi ya nggak bisa perhatiin. Yang jelas film Ghibli gak pernah bikin bosen. Dan color tone-nya hampir mirip semua 😂

    BalasHapus
  6. Eh, aku fokus nang sendy berbikini. Serius itu di tipi disensor?

    BalasHapus
  7. Duh musiknya emang bikin ena kuping!

    BalasHapus
  8. Coba dengerin The Name of Life di kuping kanan dan Piwales Tresno di kuping kiri. Lalu review itu.

    BalasHapus
  9. antara penasaran sama musiknya, atau penasaran sama filmnya, ujung-ujungnya didownload juga ...

    BalasHapus
  10. eh tapi lucunya , kok aku bisa koemntar disini ya? di tulisan soal google adsene dan nurani kok gak bisa komentar? :l

    BalasHapus
  11. Saya kebetulan udah lama download film ini, tapi sampe skarang blum nonton2.
    Pas baca ini, kelihatan nya menarik dari segi soundtrack dan alur ceritanya

    BalasHapus

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2018