Dear Blogger, Bongkar Kebiasaan Berkomentar Milikmu! | Good Ideas. Great Stories.
kebiasaan berkomentar blogger


Buat kalian yang sering blogwalking, pasti udah paham banget ya, gimana caranya berkomentar. Entah itu isi komentar maupun etika berkomentar saat blogwalking itu sendiri. Di sini, saya akan memberikan opini dan sedikit saran ketika memberikan komentar untuk blog yang sedang dikunjungi. Ya, sejauh yang saya tau dan pandangan awam banget. Kalo ada salah ya, monggo, bisa dibetulin dikit-dikit lewat kolom komentar ya.

Oh iya, sebelumnya, artikel ini murni opini pribadi. Tentu dengan sumber tertentu yang saya baca dan coba pahami. Artikel ini ndak disetting buat SEO banget. Jadi, ndak bakalan nemu di search engine. Lha wong cuman artikel seadanya. Serius. Makanya kalo mau, dibookmark aja *ealah

Oke, sebagai awalan, saya yakin, diantara kalian yang memang rajin blogwalking pasti pernah menemukan link aktif di kolom komentar. Apa itu link aktif? Ya, ada komentar dengan link yang menuju website atau blog lain. Kayak gambar di bawah ini.

link aktif pada kolom komentar
Link aktif pada kolom komentar

Komentar Ca Ya adalah komentar dengan sisipan link aktif menuju blog cahcilik4869. Kalo di klik, menuju blog tersebut. Makanya disebut link aktif (clickable).

Terus ada lagi yang namanya komentar dengan sisipan link yang tidak aktif atau ndak bisa diklik. Itu namanya link pasif. Seperti yang saya tunjukkan pada gambar di bawah ini.

link pasif pada kolom komentar
Link pasif pada kolom komentar

Perbedaannya, link aktif akan dirayapi atau ditelusuri oleh bot/spider mesin pencari seperti Mbah Google. Sedangkan link tidak aktif atau pasif tidak bisa ditelusuri oleh bot dan spider tadi. Untuk poin ini, saya masih ragu. Tapi sejauh yang saya tahu, ya seperti ini.

Permasalahan di kolom komentar pun dimulai dari perbedaan dua jenis link ini. Terkadang, ada beberapa pemberi komentar yang boleh dibilang sedikit 'nakal' dan memberikan link aktif yang tidak bertanggung jawab.

Kenapa saya bilang tidak bertanggung jawab? Karena dia tidak mengurus tautan tersebut dan mengelola sepenuhnya. Alasannya banyak sekali. Bisa karena url tautan tersebut mati (dalam kasus ini seperti domain yang sudah expired). Atau link tautan tersebut tidak relevan dengan konten yang sedang dibahas oleh artikel yang dikomentari. Bisa juga penulisan link secara manual dan sedikit typo, sehingga akan menemukan halaman 404 page not found. Misalnya seperti itu.

Agar lebih mudah, saya contohkan ya. Mas Paijo membuat sebuah artikel dengan topik Sego Pecel misalnya. Nah, kemudian si Surti sedang blogwalking ke blog Mas Paijo tadi dan membaca artikel Sego Pecel. Sedangkan blog Surti itu nggak suka Sego Pecel, dia suka balapan. Otomotif banget lah pokoknya.

Karena Surti pengen punya banyak backlink ke blognya dia, maka, dia bikin komentar di blognya Mas Paijo seperti ini:

"Wah, artikelnya keren! Mantap gan! Kunjungan balik ya ke surtiotomotifgowesgowes.com"

Dengan disertai link aktif ke surtiotomotifgowesgowes.com tadi. Secara logika nih ya, blog kuliner milik Mas Paijo yang ngebahas Sego Pecel tadi ndak ada relevansinya sama sekali dengan blog milik Surti yang ngebahas otomotif.

Kalo dinalar nih, robot atau spider akan bingung melakukan indexing untuk konten yang berbeda namun memiliki keterkaitan. Lha mosok ya, kontennya nggak relevan kok bisa saling terkait. Kan bisa dianggap sebagai aktifitas yang tidak wajar. Spam!

Pada ujungnya, bisa saja menyakiti inang (blognya Mas Paijo) dan juga berakibat tidak baik pada blog yang berkomentar (milik Surti). Hal ini dikarenakan konten kedua blog tersebut tidak relevan. Sinyal buruk untuk kualitas konten kedua blog tersebut.

Ya walaupun secara default, link pada kolom komentar akan diset dengan tag no-follow. Jadi, hal ini akan mengurangi sinyal relevansi tautan atau link tersebut. Nah, apa itu tag no-follow pada sebuah link?

Nih, saya mengutip dari pramudito.com tentang link no-follow dan dofollow:
Link Dofollow sebaiknya diberikan kepada website yang menurut kamu bermanfaat dan tidak berbahaya. Karena Dofollow berarti merekondasikan Website tersebut kepada Googlebot.
Sederhananya, tag no-follow itu sebagai pertanda untuk bot atau spider tadi agar tidak menelusuri link tersebut. Karena mungkin saja link yang dituju tidak memiliki konten yang begitu relevan. Hal ini untuk menghindari relevansi sinyal negatif dari bot atau spider. Mosok ya sego pecel mau dihubung-hubungin sama oli samping. Lak yo lucu ndes!

Komentar itu sangat tajam dan bisa berakibat baik dan buruk. Loh kok gitu? Jadi gini, adanya kolom komentar akan membuat halaman blog tersebut akan selalu update. Konten dari post di blog tersebut akan semakin bertambah dengan adanya komentar. Kenapa? Karena bot atau spider akan merayapi seluruh text, termasuk komentar.

Seperti artikel milik Mbak Susi tentang resep masakan ini ya. Pada kolom komentar, sudah seharusnya memiliki komentar yang relevan tentang masak-memasak. Bisa dilihat dari screenshot yang saya ambil langsung dari blog Mbak Susi.

komentar masak memasak
Yuk masak yuk!

Relevansi beberapa komentar (hingga 9 komentar pertama) cukup baik karena tidak melenceng dari pembahasan tentang masakan. Ya, walaupun belum ada yang memiliki prominence atau tingkat kepentingan yang masuk dalam densitas yang diharapkan. Tapi ini sudah bagus kok.

Terus apakah komentar tersebut akan membuat konten situs tersebut menjadi lebih berisi? Jawabannya adalah, ya! Saya ambil original text dari isi post tersebut.

original text sebuah komentar blog
Original text dari post milik Mbak Susi

Nah, teks yang saya blok dengan warna biru tersebut adalah konten dari 9 komentar tadi. Scrapping teks yang dilakukan mulai dari angka tanggal hingga teks reply dan delete. Nah, jika memang kualitas komentar akan semakin baik, maka konten original text akan semakin rich dan relevan.

Bagus kan? Apalagi kalo komentar yang ada itu berbobot dan relevan banget dengan apa yang dibahas pada artikel utama. Maka, isi (secara keseluruhan) dari artikel tersebut akan semakin padat. Sebab, hasil dari komentar akan memperkaya konten yang lebih banyak lagi.

Kalo ndak percaya, coba kamu lakukan pencarian di Google misalnya dengan pencarian 'opini saya tentang kualitas helm'. Nah, di halaman pertama ada blog milik Wak Haji tmcblog.com yang menyertakan kolom komentar sebagai hasil kueri pencarian.

keyword helm di kolom komentar
Nah kan, komentar pun muncul di hasil pencarian

Komentar nomor 25 padahal hanya menuliskan 'cuma opini saya saja', namun muncul di kueri pada hasil pencarian. Padahal di halaman tersebut, hasil pencarian kata kunci 'opini' hanya muncul satu kali saja. Bayangkan, satu kata kunci yang muncul dari kolom komentar akan sangat berarti. Paham, nggih?

Sedangkan pada deskripsi hasil penelusuran, keyword dari 'opini saya', 'helm' dan 'kualitas' juga muncul dari kolom komentar. Padahal, kalo orang mencari sesuatu melalui search engine biasanya akan menuliskan seperti yang ada di kolom komentar. Seperti permasalahan bahkan Q&A suatu produk. Jadi, memang komentar yang benar-benar relevan akan membuat blog tersebut menjadi lebih baik.

Sisi buruk dari adanya kolom komentar muncul ketika artikel tersebut punya banyak komentar yang sama sekali ndak relevan dengan konten yang ada. Kalo ndak percaya, cobain aja deh mengkomentari artikel dengan isi yang ndak relevan sama sekali. Kalo saya sendiri lebih suka untuk memoderasi komentar dalam jangka waktu 30 hari ke atas, setiap komentar akan dimoderasi.

Gunanya untuk mencegah spam atau menyeleksi komentar yang penting atau tidak untuk ditampilkan. Kalo memang ndak perlu, ya ndak usah ditampilin saja.

Memang sih, moderasi kolom komentar akan bikin ribet. Tapi kalo bisa menghindari komentar blog yang spammy kan akan lebih baik. Blognya juga bisa jadi lebih sehat.

Begitu juga dengan adanya link di kolom komentar. Kalo semisal yang memberikan komentar menyisipkan link dan bener-bener relevan, apalagi blog yang dituju punya reputasi yang lebih baik (ditandai dari berbagai macam metriks dan kualitas SERP miliknya), maka ini akan menguntungkan dua blog tadi. Sama-sama naik. Kalo nggak relevan, ya bisa jadi sama-sama turun.

Kalo saya, mau ngasih link di kolom komentar blog lain pun selalu lihat-lihat. Apakah link yang akan dipasang ini memang berguna apa nggak. Dan efeknya untuk blog yang saya komentari. Sebab, secara nggak langsung juga berimbas ke blog saya juga tho ya.

Jadi, saya lebih senang kalo ada kolom komentar yang menyertakan link, saya kosongin saja. Kalo pun mau dikasih link, ya saya isi dengan url Twitter. Toh jalan-jalan ke blog orang lain kan buat menjalin silaturahmi dan tali jodoh *eh?

Lagian, buat yang nyari-nyari backlink nih, udah ndak keren lagi loh. Iya sih, backlink bisa jadi sumber traffic untuk blog, tapi udah ndak jadi sinyal relevansi utama untuk menentukan ranking sebuah blog. Karena Google menganggap, jika link tetap dianggap dalam perhitungan kualitas suatu blog atau website, maka akan ada banyak sekali link spam. Wah, gimana tuh?

Mosok ya sudah bikin blog bagus-bagus. Kontennya juga bagus, keluar modal sana-sini dan ujung-ujungnya dianggap spam sama si Mbah Google. Ealah.

Terakhir, yang saya tahu ya, Google sekarang pake yang namanya Knowledge-based Trust (KBT). Nah, si KBT ini fungsinya adalah untuk mempermudah Google melakukan perhitungan ranking suatu situs, termasuk blog.

Knowledge-Based-Trust-dari-Google
Knowledge-based Trust via brightedge.com


KBT akan membandingkan kualitas per situs. Yha! Langkah positif dari Google untuk membuat ranking kualitas dari suatu situs. Selain untuk menghindari konten yang copy paste dan spammy sites, Knowledge-Based Trust (KBT) akan memberikan peluang bagi situs yang secara metriks tidak populer namun memiliki konten yang berkualitas dan bisa dipertanggungjawabkan. Kan, bikin lega buat kita yang ndak jago-jago banget memanipulasi ranking.

Kesimpulan dari tulisan saya, buatlah komentar yang baik dan relevan. Content is king! Sudah, gitu aja. Ndak susah kan? Kalo ndak bisa bikin komentar yang bagus, silent reader adalah pilihan bijak. Silakan dipilih sendiri mau jadi yang mana. Toh saya juga ndak memaksa sampeyan, nggih?

Bukan komentar yang asal komentar dengan harapan biar dapet kunjungan balik, nggak gitu dong ya. Kalo memang mau dikunjungi balik, itu bonus. Toh, kalo kamu bisa ngasih komentar yang bagus, pemilik blog nggak segan-segan buat ngunjungin blog kamu kok. Kebiasaan berkomentar yang jelek-jelek gitu ndak bikin blog kamu bakalan lebih bagus. Ya, yang ada kualitas blog kamu ndak bakalan naik.

Terus untuk pemilik blog yang memang kebelet 'pengen' dikomentari, kejar kualitas konten. Kalo konten yang kita bikin bisa berkualitas, orang-orang juga nggak akan segan buat ngasih komentar yang berkualitas. Begitu kan? Ah, malah jadi chicken-egg problems kalo kayak gini. Hehehe...



Header image credit: pixabay.com

Komentar 50

Sampaikan pendapatmu di sini:

  1. Beberapa tulisan di blogku kadang ada yang nyisipin link aktif mas. Bingung juga mau dihapus atau dibiarkan. Kalau sekiranya memang terlihat nyepam aku biasanya hapus. :-D

    BalasHapus
  2. Ini masuk banget sama bahasan tempo hari di grup tentang broken link. Jadi harus makin aware sama masalah kayak gini. Saya biasanya membiarkan saja komentar macam apa juga yang masuk (walo yang komen nggak banyak sih). Mulai sekarang, harus cek dan ricek dulu model-model komen yang mampir. Terima kasih Pakde Jung.

    BalasHapus
  3. Owalah, ini to maksudnya yang kapan hari dibahas di grup. Saya baru mudheng. Hehe.
    Hhmm.. Kayaknya memang perlu ya memoderasi komen supaya lebih aman *kayak blog-mu rame komen aja, Flo! Ehehehe=D
    Makasih banget infonya mas Jung :)

    BalasHapus
  4. Tadi katanya silent reader aja nggak papa
    Tapi sekarang selasa i

    Kejam lah ternyata link dofollow itu
    Hiks

    BalasHapus
  5. Wah, bahasan di grup kemarin berbekas banyak juga.

    Emm, dari sudut pandang gue sebagai awam dari dunia per-SEOan, link-linkan dan tetek bengek semacam itulahya.

    Komentar yang tidak relevan itu pun mengesalkan. Nulis panjang lebar kemudian hanya ditanggapi : Oh gitu, bagus ya, and something fucking like that lah.

    Lebih kesal lagi, pas bahas apa, komentarnya apa.

    Jika tidak mengetahui fungsi fungsi link dalam komentar, dengan berkomentar sesuai dengan konten. Setidaknya itu cara yang terbaik untuk menghargai si penulis.

    Kalau itu juga tidak bisa, saya sepakat. Lebih baik diam saja.

    BalasHapus
  6. Wah, terima kasih telah menuliskan bahasan ini dengan sederhana. Setidaknya bisa dimengerti oleh saya yang awam sekali tentang topik ini. Ternyata ada beberapa "aturan main" ya dalam berkomentar yang baik saat blogwalking, termasuk menulis link dalam kolom komentar.

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah saya belum pernah mendapatkan komentar yang ada link aktifnya. Padahal betul juga ya, nda usah ngasih link jug pasti yang udah komentar bakal dikunjungi balik..

    BalasHapus
  8. Oalah, baru ngeh aku mas :D
    Betul juga kata sampean, kalau dirasa ga tau mau komentar apa, mending jadi silent reader. Aku sering begitu juga soalnya :D

    BalasHapus
  9. aku baru kemarin check, banyak juga yang nyisipin link aktif di kolom komentar yang ternyata broken link. kesal dan ngabisin waktu juga tuh ngapusinnya :(

    BalasHapus
  10. Ini jawaban banget kalo ada yang nanya lagi, kenapa blog Tulisan Wortel dari dulu gue moderasi. Iya, menghindari spam begitulah. Lagian kalo ada link aktif, buru-buru gue hapus aja mas. Toh, akan ngefek buruk keduanya.

    Belum lagi soal Link DoFollow yang sering banget disalahgunakan sama yang maunya backlink melulu. Padahal, Content nomor 1 banget.

    Gue juga setuju banget soal relevansi komentar. Makanya mas, di blog gue pernah bahas tentang komentar yang seharusnya di blog tulisan wortel itu harus gimana? Ya, bukan apa-apa mas. Gue sendiri suka risih baca komentar yang emang gak nyambung banget sama isinya. Tapi, kalo masih nyambung, ya gue publish.

    Cuman soal Silent Reader itu emang kembali ke pribadi masing-masing, ya. Gue BW juga karena pengen nyari ide. Jadi, kalo udah baca dan gak komentar itu rasanya kurang lengkap. Tapi, alhamdulillah, dari awal ngeblog selalu berusaha relevan sama komentar blog.

    Sekali lagi. Makasih sudah share relevansi komentar ini mas.

    BalasHapus
  11. Wahh tulisan ini pasti terinspirasi dari diskusi di grup wa waktu itu ya mas? Hehehe

    Tulisan yang sederhana tapi banyak pelajaran yang bisa diambil dari tulisan ini. Semoga yang suka meninggalkan link aktif di komentar membaca tulisan ini dan cepat sadar atas apa yg mereka perbuat.

    Saya pribadi sih, kalau ada yg meninggalkan link aktif di blog lebih baik langsung delete permanen komentarnya daripada nanti jadinya broken link

    BalasHapus
  12. Ternyata begitu ya... Kalau saya dari awal berani komentar saat BW, selalu berusaha komentar yang relevan dengan blogpostnya. Tapi lebih sering silent reader. :D

    BalasHapus
  13. dulu sih, kalau ada orang yang kasi link-link begitu, saya biarkan mas.
    karena itung2 nambah komentar.
    tapi setelah belajar broken link kemaren, kayaknya memang harus difilter yang begitu-begitu.

    BalasHapus
  14. hmm...jadi bingung mas mau komen apa. *tutup muka malu*. Yang jelas berasa dapat ilmu banget. Broken link kemarin aja masih ngisain PR dan beberapa tanda tanya.
    Biasanya kalau ga paham-paham banget emang cuma jadi silent reader. Tapi seperti kata Zaini, hari ini hari selasa, wajib komen. Eh jadi silent reader pun bukan berarti ga dibaca ya. Tetep rajin dibaca kata per kata.

    BalasHapus
  15. Kalau ngebahas soal nofollow dan dofollow aku masih suka salah paham. Udah beberapa kali coba cek komentar untuk memastikan ada tidaknya link aktif dan ujung-ujungnya aku kebingungan.

    BalasHapus
  16. Di blog aku juga, banyak yang naroh link hidup yang nggak nyambung dengan bahasan, kalau free pengen banget ngapusin satu-satu

    BalasHapus
  17. Sebaiknya jangan menampilkan link hidup di komentar karena bakalan broken link. Kalau mau komentar memang harus sesuai apa yang akan dibahas sih biar nyambung. Saya beberapa bulan ini komentar blog di modernisasi soalnya banyak banget komentar yang bikin spam. Mari lah berkomentar yang sopan dan tidak merugikan yang punya blog :)

    BalasHapus
  18. baca artikel ini sambil ber-ooooh. Artikel yang bagus tentang cara berkomentar yang tepat saat blogwalking, membuat saya lebih berpikir dulu saat akan menuliskan komentar.

    BalasHapus
  19. Saya juga melakukan moderasi di kolom komentar yang masuk ke blog saya. Ya itu, untuk menghindari ada yang meninggalkan link hidup.

    Harapannya, sih, yang berkomentar bisa meninggalkan komentar yang berbobot dan ada relevansinya. Seperti kata Kak Jung :)

    Dan bukan yang hanya bilang : "nice post" he he he

    BalasHapus
  20. Saya sih kalau berkomentar lebih suka di bacaan yang saya pahami. Apalagi kalau bahasannya seru dan membuat gatal untuk mengetik. Jika ditanya masalah link hidup tentu jadi masalah. Biasanya saya hapus daripada menimbulkan masalah kedepan

    BalasHapus
  21. Saya baru tau kalo link pasif termasuk komentar yang kejam hiks. Selama ini selalu mengoke-kan tiap ada orang yang komen begitu.

    Saya jadi rindu masa-masa ngeblog dulu, di mana ga terlalu memerhatikan komentar ada atau tidak tapi page views naik terus. Dan tiap jumpa teman selalu dibilang 'Ayiiii, tulisan yang ini bagus banget ya. Kami dapat info dari sana.' bagiku, itulah komentar yang paling bijak dan dimengerti :')

    BalasHapus
  22. Mantap tulisannya, jadi tambah ilmu tentang dofollow...

    BalasHapus
  23. Oalah begitu

    Pantes waktu search di google kdg muncul komentar yg ada dipost org tsb. Jd klo komentar baik dan relefan malah bantu mendongkrak post itu

    BalasHapus
  24. Wah wah... kok saya yang jadi contoh ini. (Tutup muka).
    Saya pernah Mas, googling tentang jati diri seorang teman blogger yang menang arisan link. karena masih awal dan sungkan wawancara, saya googling dengan banyak kata kunci. Blognya tidak ada label, arsip, atau navigasi lain. Bayangkan repotnya. Nah... data malah saya dapat dari komentar2nya di blog teman yang sehobi (hasil googling). Maka dari situlah saya bisa tahu jatidirinya, apa yang mau saya bahas, dan di mana mencarinya. Dari situlah saya tahu, betapa pentingnya komentar di posting yang satu tema.
    Btw, penjelasannya sangat rinci dan enak dibaca. Saya suka saya suka. Sabtu nanti jadi narsum ya....

    BalasHapus
  25. Iya jadi peer juga buat blog saya nih, kedetek ada 7 broken link.. saya malah ga ngeh kalau dulu vanyak banget komen spamnya..

    BalasHapus
  26. Berarti setiap komentar di blog kita sangat berpengaruh banget ya, mas. Kalo saya sih belum pernah komen dengan link aktif, biasanya malah pengunjung blog saya yang suka komen begitu.

    BalasHapus
  27. Wah dr dulu aku sudah moderasi komen. Meskipun dulu pun banyak spekulasi bahwa moderasi komen itu seperti kurang menghargai orang. Tapi kalau tidak di moderasi, gils spam itu bisa seratus dalam sebulan😭😭
    Makanya main aman saja dengan memoderasi kolom komentar 😂😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lalu, perihal komen sesuai konten. Aku selalu komen ketika pengen baca. Karena kalau ga pengen baca bisa jadi komen gak jelas yg isi nya "wah keren juga yah" meskipun kalimat tersebut menunjukkan kekaguman maupun asal-asalan😂

      Hapus
  28. Ealah, aku bacanya sambil manggut-manggut, mas. Jadi pengaruh juga ya komen2 yang nggak relevan gitu di mbah gugel. Untung aku anaknya nggak suka OOT #apeu.

    BalasHapus
  29. Aku malah baru tahu ternyata "dapat komentar link aktif" itu bisa mengganggu dan merugikan blog sendiri. Padahal dulu sering mendapat komentar2 yg banyak mengandung link aktif ataupun yg pasif. pantas aja pas kemarin cek DA eh spamnya dapet skor 4 -_-

    Cara moderasi komentar blog itu gmn bang jung? (kalau ada waktu) balas via wa ya :D makasih

    BalasHapus
  30. Nggih mas, aku durung paham. Wkwkwkw.
    Duh kemarinan aku malah biasanya cuek aja soal beginian. Lha masih belajar sih. Komentar kebanyakan dari teman teman wb. Ahahaha.

    BalasHapus
  31. Ini yang waktu itu dibahas di grup ya. Saya juga walau jumlah komen masih remah remah, tetap dimoderasi, soalnya beberapa kali nemu broken link yang ternyata dari komentar. Dan pinternya komentarnya ga ditulis linknya, tapi link aktifnya disisipin di tanda baca jadi ga begitu terlihat. Hiks.
    Terus saya juga sepakat soal bibit bebet bobot komen, walau komen saya kadang ga berbobot banget. Tapi ya masa sih cuma thanks for sharing, mantap dan petramax aja. Hehehe.

    BalasHapus
  32. waaa makasihhh mas jung, jadi paham soal perkomentaran di blog.
    oh ya mau share dikit, pernah ada yg komen di blog aku tdk relevan sama isi blog, dia nyebarin info buruk kalo ga salah wkt itu info untuk hub perempuan binal bla bla ada no hp yg dicantumin jg.
    taunya stlh korban yg no hp nya tersebar itu hub aku, baiknya emg dimoderasi ya komentar itu?

    *berfikir ulang

    BalasHapus
  33. Trus aku binggung mau komen apa hahaha

    Inti nya sech kalo gw bw ngak bakal kasih link hidup

    BalasHapus
  34. Jadi dapet ilmu baru setelah baca blog ini. Mantap ah...

    Jadi intinya kita harus berkualitas komentar lah ya? Hmm... agak sulit emang, tapi ya harus belajar. Belajar menjadi komentar yang handal. He

    BalasHapus
  35. rada malesin tuh kalo orang yang naro link active di sebuah comentar blog artikel. malahan cuman comment bagus nice. tidak relevan banget beda sama yang kita buat artikel

    BalasHapus
  36. Wah menurut aku ini hasil reviu dari celoteh -celoteh grup kemarin.

    Terima kasih mas sudah di sharing ilmu kayak begini, jadi makin berisi.

    #kandida

    BalasHapus
  37. Memang benar sih, kadang masih bnyak juga yang berkomentar tidak sesuai di dengan content yang dibahas, kadang malah di spam saja komentarnya, untuk soal link aktif dan pasif memang benar masih banyak blogger yang ingin naikan traffick dan ingin di kunjungi, padahal tetep akan di kunjungi blognya karena udah blogwalking
    Untuk SEO sendiri soal Backlink, sampe sekarang memang masih perlu, tapi tergantung dari teknik backlink yang dipakainya.
    Untuk KBT sebenernya gak beda jauh yang sudah saya perkirakan, Google masih mengutamakan Web yang traficknya besar dari sisi trafick dengan judul yang menipu tapi content kosong.

    BalasHapus
  38. Aku pernah buat tulisan yang isinya kurang lebih sama. Syukurnya di wp bisa instal akismet jadi semua link hidup dikomentar dijadiin spam

    BalasHapus
  39. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  40. huaaaa,
    barusan aku komen pasif, tak delet ganti yg baru...

    kalo penjelasanyya lengkap begini kan aku paham.
    tapi 1 pertanyaanku,
    jadi lebih baik dofollow atau nofollow?
    kalo misalnya aku nulis begini..

    blog kepunyaan jung jawa bagus, kontennya berkualitas. untuk mengenal jung jawa hubungi aja di twitter (insert url twitter), ig (insert url ig) dan facebook (insert url fb)

    (insert url) ini maksudnya aku masukin langsung ke http titik dua slash slahs twitter titik com slash jungjawa

    nah pertanyaan : itu dibuat no follow atau dibiarkan saja dofollow?

    BalasHapus
  41. Duh, baru tau kalau efeknya ternyata sampai berkepanjangan begitu :""

    BalasHapus
  42. Njir. Gue gak nyangka efek komentar bisa kayak gitu. Dulu, blog gue rame banget sama komen. Wuahaha. Kampretnya, blog yang isinya curhatan kok bisa ada komentar toys sex dan judi bolanya. :')

    BalasHapus
  43. hahaha
    komentar - komentar emang jadi salah satu alasan gue terus ngeblog si.
    jadi penyemangat dan jadi punya lasan buka blog karna mau bales-balesin komennya. :D

    BalasHapus
  44. jadi sebaiknya hati-hati kalau berkomentar gitu ya, pokok jangan spam banget :3

    BalasHapus
  45. Ini saya baru ngeh. Ternyata komentar bisa dihitung di google . selama ini saya selalu biarin saja ada komentar macem2 di blog dn yg juga saya tau itu spam. Ehh ternyata ngaruh di gugel ya? Makasih ms ilmunya

    BalasHapus
  46. Jadi paham Mas Jung,kenapa kamu ga nyantumin option name-url. Aku jg seringnya delete satu per satu,komentar2 yg ga relevan atau bhkan melenceng dr apa yg kutulis. Untungnya aku pake sistem moderasi.

    BalasHapus
  47. Oke mulai paham. Mending akika komen di blog yang hobi curhat aja deh yaa.. Haha..

    BalasHapus
  48. Sipp.. Info yang bermanfaat..

    Sebelumnya setau saya malah lebih baik mencantumkan link aktif.. Tentunya sambil berkomentar yang relevan dengan isi postingan..

    BalasHapus

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2018