Kalah Tak Menyerah, Menang Tak Jemawa



Sekilas, judul di atas bisa dibaca seperti ini:

Kalah Tak Menyerah, Menang Tak Jungjawa

Oke, tidak ada hubungan yang pasti antara judul dan kalimat pertama tulisan ini. Saya hanya ingin membahas sebuah topik yang cukup singkat. Padat dan jelas. Kompetisi.

Ya, sebuah kata yang bermakna sangat luas. Bahkan dalam kehidupan pun kita sudah ditakdirkan untul berkompetisi sejak dalam bentuk yang paling lucu, sperma.

Berlomba menjadi pemenang sejak dalam rahim. Mencoba mengalahkan pesaing lainnya untuk menjadi yang nomer satu untuk melakukan pembuahan. Beruntung bagi yang memiliki dua pemenang alias menjadi si kembar.

Sejak lahir ke dunia, kita sudah terbiasa untuk berkompetisi. Entah skala nasional maupun interlokal. Eh?

Sampai-sampai, segala film hadir dalam bentuk permainan yang menghadirkan kompetisi. Contohnya The Hunger Games.

Saya melihat ada dua hal dalam sebuah kompetisi. Pertama, pihak pemenang yang memiliki kapabilitas maupun kompetensi yang lebih daripada kompetitor. Mereka mungkin saja memiliki bakat untuk terlahir sebagai pemenang atau berambisi cukup kuat dan melibas lawan-lawannya dengan ciamik.

Kedua, pihak yang kalah karena keberuntungan, dicurangi maupun memang mereka sendiri yang hadir dan tidak mampu mengarungi kompetisi. Memilih untuk menyerah pada keadaan yang nyatanya masih bisa diubah sebelum terlambat. Ya, sebelum mereka menyadari kekalahan tersebut.

Jangan salahkan Manchester United yang terpuruk di era Van Gaal. Terlebih skeptis dengan performa Indonesia yang telah berjuang melawan Thailand di final piala AFF 2016. Pun jangan remehkan Maverick Vinales yang bergabung dengan tim Movistar Yamaha MotoGP di gelaran MotoGP 2017. Play on! Semuanya masih bisa dilakukan.

Semuanya akan terus berlangsung. Kompetisi tak akan pernah berakhir. Musim baru pun akan terus bergulir. Mengapa? Karena manusia terlahir untuk bersaing dan berkompetisi.

Kalah bukanlah alasan untuk menyerah dan terpuruk. Jika gagal? Ingat, masih ada kompetisi lain yang bisa diikuti dan mencoba untuk gagal lagi. Terbiasa gagal bukanlah perkara mudah. Tengok saja fans Arsenal, mereka sudah menang sejak dalam pikiran dan terpaan meme dan sindiran sarkas untuk The Gunners.

Kekalahan bukanlah pil pahit yang harus ditelan terus menerus. Ya, walaupun Lionel Messi harus konsisten menelan itu semua hingga saat ini. Gagal di final Piala Dunia 2014 dan Copa America 2016 yang telah lalu. Cukup tragis hingga ia menyatakan untuk pensiun secepatnya. Teleq pitiq!

Kekalahan bukanlah momok yang menakutkan. Sudah sewajarnya tidak menyerah akan kekalahan yang didapatkan. Boleh jadi kita kalah. Tapi kita tetap menang untuk berjuang. Termasuk berjuang menghadapi sidang tugas akhir. Hidup mahasiswa!

Kalau menyerah karena kalah, mesakke rahim si mbok mu yang sudah memenangkan dirimu sejak dalam bentuk sperma. Kompetisi atau perlombaan jangan dijadikan momok yang menakutkan. Anggap saja itu adalah cambuk yang cukup keras.

Mereka yang berhasil menjadi pemenang tak lantas membanggakan diri, sebab lengah sedikit saja, musuh bisa melibas mereka di gelaran kompetisi berikutnya.

Hidup adalah kompetisi. Kalah bukanlah alasan untuk menyerah. Kemenangan pun menjadi terlalu sombong jika dijadikan dasar untuk jemawa.

Header image credit: Sasin Tipchai on Pixabay

Komentar

  1. Setiap manusia yang lahir adalah mereka yang menang. Setelahnya hanya keputusan, apakah akan menang lagi atau harus kalah.

    BalasHapus
  2. Terlahir sebagai pemenang pasti langsung inget Rey. Muahaha.

    Hm... Messi taik, ya. Baru gitu doang udah nyerah. Gak bersyukur banget dia sering dapet Ballon. :)) Emaap kalau fans Messi baca ini. :p

    BalasHapus
  3. Titlenya bagus banget, dan sangat sulit dipraktekan :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Post

Pengalaman Pengembalian Dana (Refund) Tiket Pesawat di Traveloka

FONT UNTUK NUANSA RAMADHAN DAN IDUL FITRI

LOGO BARU PIZZA HUT