Mengapa Balapan Formula 1 Tak Layak Ditonton? | Good Ideas. Great Stories.
toro-rosso-kenapa-f1-jangan-ditonton


Boleh setuju atau tidak, sosok Max Verstappen mengingatkan saya akan Fernando Alonso semasa mudanya. Max mencatatkan diri sebagai pebalap termuda di Australian Grand Prix 2015 pada usia 17 tahun. Menurut saya, Max layak disebut wonderkid yang akan menantang hegemoni seluruh konstruktor terbaik tahun 2016 ini, termasuk Mercedes.

Hegemoni Mercedes sebagai juara konstruktor F1 tahun 2015 harus mengalami insiden pahit di sirkuit Catalunya. Mercedes yang selalu mendapatkan posisi terbaik pun seakan-akan menjadikan mobil balapnya lelucon dan hiburan bagi penonton. Entah disengaja atau tidak, lucu saja melihat pertarungan Nico dan Hamilton ditikungan ketiga.

Duka Mercedes tidak berhenti begitu saja pada kecelakaan dua pilot mereka. Mungkin hanya kebetulan, tersingkirnya Nico dan Hamilton membuat cah cilik Max Verstappen merebut kemenangan perdana di gelaran Formula 1. Ah, sudah jatuh, diejek bocah cilik pula.

Dominasi kuat Mercedes seperti telah usai masa berlakunya. Pindahnya Max dari Toro Roso ke tim RedBull Racing berhasil merusak hegemoni dua pebalap Mercedes. Bahkan, Max seringkali berani berduel dengan pebalap senior yang membuat teman nonton saya bergumam, "Ngawur juga ini anak".

Kemudian dengan umur yang sangat muda dan disiarkan keberbagai penjuru dunia, apakah Max akan menginspirasi semua orang, terutama anak muda? Kekhawatiran saya muncul ketika komentator stasiun tv lokal pun berujar dan membandingkan usia Max dengan dedek-dedek SMA negeri ini.

Ketahuilah bung, dunia balap motorsport dan bangku SMA itu berbeda. Mengapa berbeda? Karena ia tidak bisa disandingkan seperti balapan anak jalanan. Ya, walaupun serial tentang topik tersebut terlalu serius untuk diperbincangkan.

Itulah mengapa balapan Formula 1 tak usah ditonton. Ia selalu memiliki penggemar tersendiri. Sirkuit balap mencontohkan hal yang tidak patut untuk ditonton. Contoh buruk dari adu kecepatan yang berujung pada perdebatan siapakah yang paling cepat dan membahas siapa yang paling lambat.

Atau seperti insiden di Rusia tahun ini antara Kvyat dan Vettel. Menabrak adalah hal yang legal. Ya, walaupun ada race director yang bertugas untuk melakukan investigasi, tetap saja. Balapan tidak dapat diulang.

Stop Comparing Yourself to Others

Tidak perlu membanding-bandingkan umur anak kuliahan dan Hamilton yang menjuarai F1 pada usia 22 tahun. Sebab semua orang memiliki pilihan dan jalan hidupnya masing-masing.

Sedikit catatan untuk stasiun tv kita. Balapan bukan arena candaan. Dunia motorsport tak perlu diberbincangkan dengan guyonan yang mungkin tidak segemes celana gemes dedek-dedek SMA. Apa salahnya jika lebih memberikan edukasi balap yang lebih serius? Apa salahnya membahas drag reduction system dan track yang bumpy disetiap balapan? Tidak ada yang salah. Justru itu yang kami inginkan.

Alasan mengapa balapan Formula 1 tak layak ditonton adalah keinginan diri saja. Sebab, dua jam mendengar deru debu jet darat akan lebih baik daripada menyimak mereka yang tampaknya terobsesi menjadi host dengan guyonannya.


Image credit: pixabay.com

Komentar 4

Sampaikan pendapatmu di sini:

  1. πŸ˜‚πŸ˜‚ itu fenomenal sih ya seri minggu lalu. Masih 19 tahun ngalahin pembalap seniorπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.
    Iya, pasti akan ada saja orang yang selalu membandingkan hal yg unggul dengan apa yang dimilikinya.hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kecil-kecil cabe rawit kalo dibilang

      Hapus
  2. judulnya langsung mengundang. kebayang kalo yang ngebaca pecinta F1. langsung haters bermuncuan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo nggak dibaca lebih dalam sih nggak tau kalo saya bahkan ndak mengulas F1 malahan. Loh? Hahaha

      Hapus

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2018