SUCCESS IS OUR RIGHT!

Semasa kecil kita masih bisa membeli es teh seharga 500 rupiah. Iya nggak? Bisa iya, bisa juga nggak. Soalnya tiap daerah memiliki variasi harga yang berbeda-beda. Tapi disini gue nggak bakalan ngejelasin kenapa harga es teh bisa berbeda-beda.

Sebagai anak kecil yang baik, gue lebih sering membelanjakan uang jajan untuk membeli makanan atau minuman. Sebab, gue suka banget main di lapangan. Sungguh berbeda dengan anak-anak sekarang. Mainnya di ruangan ber-AC atau istilah lainnya adalah warnet. Berbagai macam permainan fisik sering gue mainkan dimasa itu. Bermain bola sepak, main kasti, bermain bola sepak pake tongkat kasti dan lain sebagainya.

Tapi ada satu hal yang menarik, dimana ada anak-anak bermain maka disanalah terdapat penjual makanan maupun minuman. Entah disadari atau tidak, lapangan merupakan lahan basah bagi mereka yang menginginkan anak-anak sebagai konsumen mereka.

"Pak, es tehnya satu. Nggak pake sedotan ya pak"

Dan sang penjual memberikan satu gelas es teh beserta bulir-bulir tetes air di sisi luar gelas yang sangatlah menggoda iman. Entah aji-aji apa yang digunakan, meminum es teh selepas bermain sangatlah nikmat. Seperti itulah.

Beranjak dewasa gue juga suka minum es teh, lo iya juga nggak? Tapi yang jadi persoalan adalah perbedaan harga es teh di warung milik paman tadi dengan yang ada dibandara itu harganya beda jauh. Di bandara, satu gelas es teh bisa dijual seharga 15 ribu. Mau ngomel harga segitu ke temen-temen malu. Yang ada di ketawain sama temen-temen. Katrok kamu ya.

"Jangan terlalu ndeso to, harga segitu kok nggumun. Biasa wae!!" komentar mereka.

Dipikir pikir harga segitu karena dari biaya pajak ini itu dibandara yak? Bayar cleaning service? Tarif keamanan? Atau iuran lain sebagainya? Mungkin karena tempatnya di bandara kali ya? Makanya harus mahal. Kan yang naik pesawat orang yang berduit dan punya duit, makanya teh es manis harus dijual dengan harga yang mahal. Dengan alasan gengsi. Kan orang kaya.

Seorang ahli marketing (katanya) mengatakan bahwa, jika suatu barang dijual di bandara maka hukumnya dijual mahal. Kenapa? Karena dibandara, jadi pantas buat mahal. Kalo murah bakalan dicurigai, jangan-jangan barang bermasalah walaupun cuma teh es. Gitu.

Jadi ditempat tertentu harga barang harus menyesuaikan diri dengan tempatnya. Dan juga di tempat lain barang bisa jadi murah dan tak pantas mahal jika ingin laku.

Sesungguhnya itu cuma bahasa marketing buat naikin harga. Suatu barang ga ditentuin sama zatnya, tapi dimana lokasinya. Bakso yang cuma dari tepung, ga pake daging dengan saos yang mlenyek dan dikemas dalam bahasa Inggris bisa dijual seharga 20ribu untuk satu bakso saja. Dan segala ke-mlenyek-an bakso tersebut dengan digantikan namanya sebagai meatball maka pembeli nggak perlu di protes walaupun harga yang diberikan seperti itu. Bayangkan saja jika meatball tersebut dijual di depan pangkalan ojek ujung jalan sebelah warung paman tadi dan dihargai 20 ribu. Jangankan ada yang datang, ditengok aja nggak. Kecuali Bang Sugeng yang udah naksir sama anaknya paman tadi yang bernama Susan.

Disini kita bisa belajar.

Bahwa pembeli ada tempat yang tepat agar nilai uang yang kita keluarkan untuk nilai yang pas!

Dan perbedaan itu semata-mata karena lokasi jual beli.

Masalahnya tinggal dimana kita menawarkan dagangan tersebut. Kita sudah dipinjemin barang dagangan (kehidupan) dan pembelinya adalah yang memiliki barang tersebut.

Tapi jika kita menjualnya di dekat pangkalan ojekan tadi ya harganya sama dengan es teh yang dijual di warung paman. Itu pun kalo laku. Inget daganganmu itu pinjeman loh! Harus laku karena ini adalah amanah

Harga hidup kita itu pantas untuk dijual di restoran bandara atau makanan sekelasnya bahkan berlipat lagi. Namun jika kita salah menempatkan hidup kita alias cuman asal hidup sing penting urip ya sama saja. Nggak amanah karena nggak menaikkan nilai jual. Hidup itu perlu perjuangan jika ingin menambahkan nilai pada kehidupan.

HIDUP ADALAH JUAL BELI, MAKA BERIKAN KEPADAPEMBELI YANG MEMBELI DENGAN HARGA TERBAIK.

Harga terbaik hidup kita adalah surga. Lha wong guru saya pernah bilang

"Jual saja diri Anda setinggi tingginya untuk sebuah penawaran"

Dimana jika ada kesempatan hadapi dan menangkan.

SUCCESS IS OUR RIGHT!

Komentar

  1. Gue setuju, kita harus menjual diri kita mahal

    BalasHapus
  2. bener banget.....
    yah, bedain aje, lo mau beli tanah buat dagang pasti lebih mahal di pinggir jalan dari pada di tengah hutan. hasil daganggnya juga bakalan mahal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, makelar tanah nih si abang kayaknya :))

      Hapus
  3. bener banget setuju deh sama postingan ini

    BalasHapus
  4. Es teh segelas 15rebu ? Iya kalau rasanya nggak pahit dan bukan gula buatan sih it's okay. Dulu zaman gue sd juga sama cuma 100 perak. Es teh paling mahal ya 3rebu perak kalau di sby. Kalau ke mall, bandara, dan lain-lain mending pesen yg lebih mahal ah, rugi kalau es teh doang cuma 15ribu.

    Love yourself, you'll deserve it. Cause we're priceless, and we know it. Nice post ! (walau bahasanya campur aduk, sedikit kurang nyaman di mata hehe).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agan satu uni kayaknya Pengamat Es Teh :)

      Hapus
  5. haha ya emang gitu.. ._. yang beli es teh di bandara ya orang2 yang pengen aja.. bukan orang iseng .-.
    btw gue orang jawa agak bingung euy baca bahasa jawa lu heheheh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di jawa numpang lahir, gede di Kalimantan, kuliah di Jawa lagi.
      Balik maning. Haha

      Hapus
  6. Yaa emang gitu harga es teh dibandara haha, pajaknya jauh lebih mahal daripada harga asli tehnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul itu, enakan bawa es teh ke bandara. haha

      Hapus
  7. Mantep Soob,,
    mudeng aku
    nakasih ya Pencerahannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, gimana? Udah semakin putih belum wajahnya? *dikira Ponds -___-"

      Hapus
  8. sip. jangan jadi murahan gitu. kudu punya "nilai" lah

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Post

Pengalaman Pengembalian Dana (Refund) Tiket Pesawat di Traveloka

LOGO BARU PIZZA HUT

SAMUDRA!