Artikel ini disponsori oleh Infobanknews, portal berita seputar perbankan dan keuangan.



Startup, saham dan venture capital adalah 3 pilar penunjang 'kesehatan' startup yang saling berkaitan. Ya gimana mau nggak saling terkait, startup yang ingin growth pasti membutuhkan dana segar yang tentu saja disediakan dengan mudah oleh venture capital. Itulah kenapa saya pernah bilang kalo ngerti teknologi aja nggak menjamin startup kalian bakalan sukses. Nah, mari kita bahas tentang yang namanya venture capital ini.

Venture Capital itu apa sih?

Venture capital atau bahasa kerennya bisa disingkat VC (biar gampang dan memorable aja sih) adalah pihak yang penting dari ekosistem startup. VC akan memberikan uang atau pendanaan untuk startup yang sedang berkembang dan punya potensi untuk meledak-ledak (unicorn). VC adalah modal dalam bentuk uang, sedangkan mereka yang menjalankan bisnis ini disebut dengan Venture Capitalist. Got it?

Biar kalian lebih ngerti lagi, saya punya saran untuk nonton The Social Network setelah baca artikel ini. Melihat sepak terjang Eduardo Saverin dan Sean Parker dalam perjalanan bisnis The Facebook-nya Mark Zuckerberg. Pokoknya, ya kerja apa saja asal bisa makan.

Darimana Venture Capitalist mendapatkan keuntungan?

Mungkin kita pernah bertanya-tanya, ngapain sih mereka yang udah punya uang kemudian berani bikin investasi yang pasti punya risiko besar untuk gagal. Tapi sebelum jauh ke sana, kita harus tau darimana asalnya dana yang didapatkan oleh VC.

Baca juga: Muda, Beda dan Berkarya

Venture Capital mendapatkan dana dari investor juga yang namanya LP atau Limited Partners. Biasanya sih mereka ini adalah orang-orang yang punya keuangan cukup besar, sebuah perusahaan yang memiliki dana endowment yang besar dan sumber lainnya. Bahkan pemerintah juga bisa kok jadi VC. Intinya sih mereka yang punya modal yang cukup banyak punya peluang cukup tinggi untuk menjadi VC.

Alurnya sih ya modal dari LP dikumpulkan oleh VC dan modal tersebut mereka investasikan ke startup melalui pendanaan dan mendapatkan saham. Nah, keuntungan dari investasi mereka tadi kemudian dikembalikan ke LP. Kasarnya sih gitu. Ngerti kan?
Itu sebabnya kenapa kalau ada startup unicorn atau startup yang punya potensi keuntungan yang sangat tinggi seringkali mendapatkan pendanaan yang cukup besar dan nggak cuman dari satu VC aja. Ya karena kalau sampai startup itu sukses, mereka juga akan mendapatkan keuntungan yang semakin besar.

Baca juga: Why We Should Know About Clean Technology?

Nah, keuntungan dari VC tadi bakalan mereka dapatkan ketika startup tersebut Exit. Bisa aja startup yang mereka berikan investasi masuk ke lantai saham. Ya kalo di Indonesia ya masuk ke pasar saham Indonesia lah misalnya. Atau bisa juga startup itu diakuisisi, merger (bergabung dengan perusahaan lain). Sehingga mereka bakalan dapat modal lagi dari exit-nya startup tadi. Mulai paham kan siklusnya?

Siklus VC via BC Gov Photos on Flickr

Di atas ini adalah siklus yang dialami oleh VC. Mereka akan mengeluarkan dana terlebih dahulu untuk membiayai startup sehingga cashflow mereka akan negatif. See that? Di awal kurva melengkung ke bawah menandakan cashflow negatif sampai dengan naik lagi hingga mencapai titik Growth di mana itu adalah titik BEP (Break Event Point) yang artinya titik di mana posisi jumlah pendapatan dan biaya sama atau seimbang sehingga tidak terdapat keuntungan ataupun kerugian dalam suatu perusahaan.

Baca juga: Coworking Space: It's All About Ideas and Networking

Kalo kita jeli lagi, luasan kurva cashflow negatif di atas diilustrasikan lebih sempit daripada luasan cashflow negatif. Artinya, inilah titik keuntungan dari investasi VC terhadap startup hingga maksimal saat startup tersebut sudah 'dewasa' dan Exit. Begitu.



Dari yang saya baca di Kumparan sih, Kioson jadi startup pertama yang masuk ke pasar saham Indonesia. Wow, bahkan unicorn lain seperti Go-jek dan Traveloka belum lah ya. Mungkin aja sih, ini merupakan strategi Kioson buat ngedapetin dana segar. Ya, seperti yang saya bilang di atas. Ujung-ujungnya kan ya profit juga.

"Chase the vision, not the money; the money will end up following you."- Tony Hsieh, CEO of Zappos


Judul artikel ini terinspirasi dari komentar Imama yang ia tulis di artikel Mengasah Otak, Membunuh Hoax. Thanks before!

Kenapa dengan hoax? Ada apa dengan hoax?

Gue menulis artikel ini karena gemes banget dengan orang-orang yang masih ngeyel dengan berita hoax dari website atau blog yang mereka percayai. Padahal, website tersebut ya abal-abal.

Alasan kenapa hoax menjadi gampang tersebar adalah internet. Kenapa internet bikin artikel hoax makin merajalela? Ya, karena tanpa internet, berita hoax masih cukup sulit disebarkan. Dulu, mereka harus mendapatkan atensi dari koran kalau mau bikin berita hoax.

Masih inget kan, dulu sebelum jejaring sosial dan aplikasi chat menjadi populer, banyak sms dengan isi seperti ini "Hey, sebarkan ke 10 kontak kamu, kalau tidak pesan ini akan meledak. Boom!". Ya kalo kontak di hapenya cuman 5 udah pasti meledak gitu? Plis nggak logis dan nggak penting banget.

Itu tadi adalah cara kerja hoax sebelum kids zaman now terbiasa dengan internet. Hoax lebih mudah disebarkan menggunakan media komunikasi seperti jejaring sosial, chat group atau fake account.

Terus, kenapa sih ada aja penulis handal yang hobi membuat artikel hoax? Jawabannya sih gampang. Ya, ngomongin aja soal perut yang ujung-ujungnya tentang uang.

Mayoritas berita hoax saat ini terkait dengan politik. Itu adalah lahan basah dimana berita hoax sering muncul. Argumentasi politik lah yang membuat hoax laris manis melalui media. Mungkin saja, mereka digunakan oleh pihak tertentu untuk kepentingan politik loh. Uhuk... Saracen!

Cara kerja lain dari berita hoax untuk mendapatkan keuntungan adalah dengan membuat website atau blog yang menampilkan iklan. Mereka ingin sekali artikel hoax yang dibuat bisa menjadi viral dan dibagikan banyak orang.

"Ngapain sih capek-capek bikin blog atau website untuk viral buat ngehasilin berita hoax?"

Ya supaya makin banyak orang yang mengunjungi blog atau website tersebut. Pengunjung sama dengan traffic dan traffic tinggi akan mengasilkan uang. They wants your click, they wants you making money for them!
Jadi, gampangnya, berita hoax adalah mesin uang mereka. Kalo kamu terus-terusan ngeklik berita hoax, ngikutin akun hoax di media sosial, scroll lini masa mereka di Instagram ya terserah kamu aja sih. Gue udah ngasih tau kalo kalian itu sedang digunakan untuk memberikan mereka penghasilan. Ya kalo artikel informatif, lha ini, artikel hoax. Damn!


Ada link-nya? Duh gusti, ini yang bikin gue pengin hijrah ke Mars
Everywhere in internet. They wants your attention to click and open up their website or blog. That's really ugly place with massive traffic for ads.

"Loh, gue kan cuman klik dan scroll. Nggak ngerugikan gue dong."

Nah, ini mindset dan statement yang salah. Benar-benar salah. Kenapa salah? Gini, gue kasih tau.

Pada dasarnya, kita semua adalah media. Kita yang bisa menentukan media. Kita yang mempengaruhi artikel mereka. Ini disebut dengan public act making media. We're all the media.

Karena, blog atau website tersebut akan mencatat perilaku kamu ketika mengakses berita hoax. Seperti usia kamu, lokasi saat mengakses, jenis smartphone dan browser yang kamu pakai sampai dengan provider internet yang kamu pakai!

Artikel hoax selalu dibuat berdasarkan preferensi dan selera publik. Kalo publik nggak suka berita hoax, ngapain mereka bikin berita hoax? Bikin capek aja kan? Nggak menghasilkan traffic ke blog atau website mereka. Logikanya gitu aja.

Nggak ada algoritma rahasia dari industri media. Ya kalau publik suka, ya media bakalan bikin berita gitu terus sampai selamanya.

Kalo kita ingin menghentikan berita hoax, ya berhenti klik judul artikel yang kira-kira hoax. Terus berhenti juga membagikannya ke orang lain. Ya daripada nge-share berita hoax, mending share artikel informatif kan.

Menghindari artikel hoax

Berhenti nge-klik artikel hoax adalah syarat utama menghentikan hoax yang menyebar. Artikel hoax gampang kok lihatnya. Judulnya bombastis, nggak menjawab langsung apa yang mau diomongin. Dan bikin kita penasaran. Pokoknya judulnya udah nggak jelas.

Tips menghindari berita hoax dari Kaskus
Artikel hoax juga bisa dilihat dari siapa yang menyebarkannya. Kalo kamu di Twitter atau Facebook, lihat dulu profil yang nge-share. Asli apa bukan, bisa kelihatan. Kalo mayoritas yang dia share selalu artikel dengan 'nada' sejenis, besar kemungkinan dia adalah fake account yang memang digunakan untuk menyebarkan hoax.

Kalau kalian sudah terlanjur click dan mengunjungi blog atau website tersebut, STOP! Nggak perlu membagikannya ke orang lain. Cukup kalian tau kalo yang kalian klik tadi adalah hoax. Bagusnya lagi kalo kalian kasih tau, ini adalah berita hoax. Be a hero!

Jangan lupa untuk selalu banyakin membaca. Kalo kita udah baca ini itu dari media manapun dan sumber manapun, ya kita dengan gampangnya bisa ngebedain mana yang hoax dan mana yang nggak. Ok?

Everything we blog, everything we tweet, every we click, everything we share can shape the future of internet. If someone abused online, be a hero! Tell them and spread positive things. You're not a fish, don't like to be clickbaited by hoax.

Foto header artikel ini diambil dari post Irwan Khoiruddin di Brilio.net
Artikel ini disponsori oleh PouchNation, startup yang bergerak dibidang event management solution.


Kalo kamu belum tau apa itu NFC artikel ini pas banget loh buat dibaca. Soalnya, kita akan ngebahas apa itu NFC beserta aplikasinya. Singkatnya, NFC atau Near Field Communication adalah teknologi konektivitas yang memungkinkan pertukaran data tanpa menggunakan kabel dalam jarak dekat. Fitur NFC ini menggunakan RFID atau Radio Frequency Identification. Sederhananya, NFC bisa dianggap bluetooth jarak dekat namun proses autentifikasi atau pengenalan antar device berlangsung sangat cepat. Nggak heran kalau teknologi tap to pay ya memakai NFC ini kan.

Banyak sekali manfaat yang bisa kita kembangkan menggunakan NFC. Selain untuk pertukaran file seperti gambar, audio dan video, teknologi ini memungkinkan menjadi penghubung antar perangkat elektronik yang memiliki fitur NFC juga. Perangkat lain bisa mengenali NFC dari perangkat lain pula.

Is That NFC The Next Big Opportunity?

Coba kita pahami dulu, apa yang membuat NFC menjadi primadona dan bisa diaplikasikan dimana saja. Intinya, teknologi ini memungkinkan untuk diaplikasikan pada aktivitas kita yang membutuhkan pertukaran data atau transaksi. Wajar kalau fitur NFC ini memberikan kita kesempatan besar untuk diaplikasikan di ranah apapun.

Hal yang paling bisa kita lihat jelas adalah penggunaan NFC sebagai wearable device untuk sebuah event atau festival. Sebelum NFC, kita masih menggunakan cara konvensional untuk memastikan pengunjung yang masuk ke event adalah mereka yang sudah registrasi dengan menunjukkan tiket yang disobek.

Ya, disobek. Benar-benar disobek!

Well, itu masih konvensional banget. Nggak ramah lingkungan lagi. Bahkan, masih ada saja event yang menggunakan stamp pada kulit untuk memberikan tanda pada peserta acara. I think, we missed big opportunity here.

Padahal NFC bisa digunakan sebagai event management solution. Masih belum kebayang? Gini, ada banyak data yang bisa diambil dengan fitur NFC ini. Tentu saja, stamp dan tiket yang disobek tadi tidak bisa digunakan sebagai alat pembayaran, tracking pergerakan pengunjung dan lain sebagainya. Great things might happen with NFC!

Nah, inilah kenapa fitur NFC ini sangat bagus digunakan apalagi untuk EO (Event Organizer) yang bergerak di sport event management, music festival, art exhibition dan lain sebagainya. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh salah satu startup asal Singapura, PouchNATION.

PouchNATION via pouchnation.com
PouchNATION memberikan solusi kepada sebuah event untuk mengambil data menggunakan teknologi NFC yang mereka sematkan pada wirstband yang dikenakan pengunjung. Nah, wirstband sebagai wearable device ini tadi nggak cuman sebagai entry pass aja, dia juga bisa dipakai untuk melakukan transaksi di dalam event tersebut.

Hmmm...untuk mengisi saldonya, pengunjung bisa mengisi melalui deposito bank atau menggunakan kartu kredit sebelum memasuki venue. Enaknya buat pengunjung sih nggak perlu bawa dompet atau uang banyak. Ya hitung-hitung bisa menghindari kecopetan, kan kalo event besar pasti crowded banget tuh.

Buat merchant (owner) produk makanan atau minuman, semua transaksi bisa terekam, sehingga bisa dianalisis performa penjualan dari sebuah event. Sebab teknologi ini bisa memberikan heatmap sehingga spot-spot yang jarang dikunjungi bisa terekspos.

Teknologi NFC juga bisa digunakan oleh organizer untuk membatasi akses ketika ada pengunjung yang memasuki restricted area. Gila gila... zaman sekarang serba teknologi. Itu semua bisa terjadi. Eh, memang benar-benar sudah terjadi sih!

***

Is that NFC the next big opportunity? Of course! Please don't print your ticket unless you really need to. Wristbands which replace paper tickets as passes and are used to pay for goods inside the venue, allowing people to go cashless.

Save Trees.. !
Header image credit: pexels.com


Mungkin kalian penasaran dengan soundtrack yang dipakai dari video Sam Kolder. Ya, saya juga pernah menulis tentang font yang digunakan oleh Kolder.

Nah, agar makin menarik, saya juga menyajikan list lagu atau soundtrack yang digunakan oleh Kolder.

Lagu-lagu yang dipakai oleh Sam Kolder tidak begitu memiliki beat yang tinggi. Itu menurut saya loh ya. Mayoritas soundtrack yang digunakan oleh Sam memang ditujukkan untuk background music (BGM) yang selow saja. Jadi, ya nggak nge-beat banget kok, sehingga..

I think it's true, they inspired form Sam Kolder by his video and bgm too.

Kenapa? Karena saking banyaknya video maker yang membuat video ala-ala Sam Kolder dan menggunggahnya ke YouTube. Kalo nggak percaya, ya saya sarankan saja untuk mencari di YouTube dengan keyword "inspired by Sam Kolder" aja sih. Fyi, sejak artikel ini dibuat, hasil pencarian untuk keyword tersebut sudah mencapai 146.000. Wow!

Sederhana aja sih, Kolder membuat video dengan tiga aspek pokok, transisi, font dan soundtrack. Nah, setiap footage digabungkan dengan transisi, ditambahkan font dan memiliki background musik atau lagu yang berbeda-beda.

Baca juga: Alan Walker, EDM dan Para Musisi Muda

Plusnya, Kolder membuat kombinasi soundtrack yang digunakan dengan ciamik. Sehingga banyak banget yang ehem.... 'inspired by Sam Kolder' dan mulai mencoba membuat video klip serupa. Mulai dengan download tutorial cara bikinnya lah, membuat transisi, mencari-cari musik yang digunakan hingga video tersebut diupload ke YouTube.

So, lagu apa aja sih yang dipakai oleh Kolder?

Nah, untuk urusan lagu yang dipakai, saya sudah membuat daftarnya di bawah ini. Ada sekitar 17 lagu saja, ini belum semua kok. Kalau ada tambahan, kalian bisa tambahkan di kolom komentar.

Baca juga: Yuk Download yang Dipakai oleh Sam Kolder! Free!

1. Purity Ring - Bodyache

 

2. Alessia Cara X G-Eazy - Wild Things (Young Bombs Remix)


3. ROZES - Burn Wild (Young Bombs Remix)


4. Troye Sivan X Alessia Cara - WILD (Young Bombs Remix)


5. Troye Sivan - Wild (Hibell Remix)


6. Vicetone - Nevada (feat. Cozi Zuehlsdorff)


7. Coasts - Oceans (Young Bombs Remix)


8. Aero Chord - The 90s


9. Anevo - Electric Heart (feat. Ameria)


10. MØ - Final Song (Jauz X Diplo Remix)


11. Rootkit - Wildfire


12. Papa Ya - Outta Here (feat. Con Bro Chill)


13. Stephen Walking - Hey


14. Porter Robinson & Madeon - Shelter


15. Seven Lions & Echos - Cold Skin


16. Illenium - Reverie (ft. King Deco)


17. Lost Kings - You Ft. Katelyn Traver (Evan Berg Remi)x


Happy travelling and makes great documentary. Cheers!
Artikel ini disponsori oleh Infobanknews, portal berita seputar perbankan dan keuangan.

startup sukses dan bisnis teknologi


Kids zaman now mana sih yang nggak ngerti tentang startup? Liputan startup udah sering banget seliweran di media massa kan? Semakin banyak orang yang membicarakannya, terutama generasi muda yang pengin banget belajar sesuatu yang baru dan terpacu untuk bikin suatu akselerasi untuk mencapai setiap milestone dalam hidupnya dengan cepat.

Kenapa dunia startup begitu menarik? Sederhana aja sih. Dunia startup terlihat menarik karena menawarkan tiga hal, yakni sesuatu yang baru untuk menjadi solusi, akselerasi untuk growth yang begitu cepat dan prospek untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru melalui bisnis. Singkatnya, solutions, growth and profit.

Tiga hal di atas yang bikin startup lebih menarik daripada perusahaan konvensional. Solusi yang ditawarkan akan menjadi menarik dengan adanya penggunaan teknologi dalam lini bisnis startup. Lo yang awalnya nggak tau tentang coding ya jadi ngerti dikit lah tentang berbagai platform, infrastruktur dan programming language. Soalnya, hal ini bisa kita pelajari otodidak dan memberikan keleluasaan untuk melakukan trial and error.
Teknologi di dalam startup juga punya andil besar buat scale up. Sebuah startup dituntut untuk growth dengan masif dan dalam waktu yang singkat. Solusinya? Ya growth hacking dan akselerasi. Mau nggak mau, startup yang dibangun bakalan di dorong untuk berkembang secepatnya. Kenapa sih kok harus seperti itu? Ya karena itu budayanya. Karena itu tuntutannya.

Well, perjuangan di dalam startup nyatanya nggak selamanya semulus dan polos gitu aja sih. Ada sisi lain yang tentunya nggak kita sadari. Kehidupan founders, venture capitals sampai semua stakeholder dari sebuah startup akan menentukan jalannya startup tersebut. Sukses atau tidaknya sebuah startup juga nggak bergantung kepada teknologi aja.

Loh, kok gitu?

Startup bukan hanya tentang perusahaan teknologi yang akan sukses kalo foundernya punya background dan skill yang memadai tentang penguasaan teknologi. Bukan.

Startup company is fast-growing business

Simpel aja sih, startup yang ingin growth akan mengeluarkan uang untuk membiayai aktivitas itu dan... okay, go public untuk mendapatkan support. Mulai dari mendapatkan investasi dengan melakukan pitching. Mendapatkan seed funding. Pendanaan tahap lanjut Serie A, B, C and goes on. You named it. Melantai ke bursa saham pada akhirnya.

Nah, dari sini kita bisa lanjut ke poin tiga dari yang sudah gue sebutkan di atas. Yap, bener banget, profit. Aktivitas yang akan kita lakukan harus menuntut kita untuk mampu membiayai startup kita sendiri tanpa harus repot-repot memikirkan revenue yang terus menurun. Okay?

Baca juga: We Could Be Heroes

Artinya, semua pihak akan ikut berkolaborsi untuk menuju sukses. Imbasnya, nggak cuman teknologi atau engineering aja yang akan menjamin kesuksesan sebuah startup. Tapi semua pihak. Termasuk marketing, bisnis dan lain sebagainya.

Bahkan untuk bisnis sendiri, perlu membiasakan diri untuk melihat trend pasar sehingga ketika ada seseorang yang bertanya, "Udah lihat daftar harga saham hari ini?" Kita mampu menjawabnya dengan mudah. Gampangnya sih kita bisa mengikuti perkiraaan harga saham gabungan atau IHSG dari KGI Sekuritas Indoneisa aja

“If you’re not a risk taker, you should get the hell out of business.” – Ray Kroc
Kenapa kita perlu melihat trend bisnis? Karena secara nggak langsung ini akan menentukan ke mana startup kita akan dibawa. Terlalu riskan rasanya keputusan terkait startup diambil tidak berdasarkan data apalagi tren pasar yang ada.
Ingat, startup itu bisnis. Minimal ia bisa berdiri sendiri dan memenuhi pembiayaan dari sisi operasional. Poin nomor tiga menjelaskan ini semua untuk membuat startup kita bisa secepatnya profitable.

Baca juga: Be Young and Ambitious

Business development team yang solid di dalam sebuah startup akan mampu memperkirakan ke mana pasar akan bergerak. Secara nggak langsung, akumulasi dari setiap potensi yang bisa dibuat oleh tim bisnis akan berimbas pada kesehatan finansial dari sebuah startup.

Valuasi yang semakin naik ditambah user base yang solid dan Key Point Indicator (KPI) yang tercapai akan menjadi dasar untuk kesuksesan startup yang lo buat. Kalo udah kayak gini, masih ngotot percaya bahwa ngerti teknologi aja akan menjamin kesuksesan startup lo? Ehehehe....

Gue sih nggak.

Gampangnya sih, sebagai founder atau pun seorang staff di sebuah startup, perlu banget untuk membaca tentang berita ekonomi dan bisnis. Why? Karena ngerti teknologi aja nggak akan menjamin startup kita akan sukses.

Lagian, jenuh nggak sih kalo lo tiap hari cuman ngoding mulu?

Jadi gini, kalo lo mau bikin startup, plis banget nih ya, ngerti teknologi aja nggak cukup. Karena lo itu bikin startup!


Terkadang, menjadi mahasiswa semester akhir kok ya membawa berkah tersendiri. Loh, bukan mahasiswa akhir yang biasa-biasa saja ya. Emang kayak situ, baru semester tujuh, lagi nggarap skripsi terus koar-koar di media sosial.

"AKU KAPAN LULUSNYA???"

Hambok ya jangan manja amat. Baru saja semester tujuh sudah merasa menjadi mahasiswa paling sengsara dalam menempuh lamanya masa studi. Tidak pantas kalian menyandang gelar mahasiswa abadi! Cih!

Baca juga: Muda, Beda dan Berkarya

Sesungguhnya, kalian yang masih mengulang Kartu Rencana Studi (KRS) sebanyak tujuh kali alias 3,5 tahun itu masih termasuk usia yang relatif muda dalam menempuh masa studi. Kalo ndak percaya, lihat saja KRS mahasiswa fakultas sebelah. Kalo dilihat dari raut wajahnya sudah tergaris angka dua digit yang mencerminkan jumlah semesternya.

Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang masa studi. Sebab, apalah arti masa studi jika lamanya studi tidak dibarengi oleh pemahaman studi yang baik. Lha wong yang studinya lama aja ndak lekas paham, apalagi yang masa studinya cuman mak crit mak plekenthur. Nggih mboten?
Menjadi mahasiswa yang sudah bertahun-tahun menghabiskan waktunya untuk mengamati pergerakan kampus adalah nikmat tersendiri. Memerhatikan bagaimana dinamisme birokrasi, pembangunan sarana dan prasarana, serta mengamati bagaimana pertumbuhan dedek-dedek gemesh yang kok ya kalo ngampus ndak ada bedanya sama nge-mall. Duh dek paringono aku iman sing kuat.

Lahan parkir kampus adalah saksi bisu tentang masa studi bagi mahasiswa semester akhir dan semester lama. Jika kamu sudah kesulitan untuk menemukan lahan parkir yang kosong, sudah pasti, kamu adalah mahasiswa semester akhir. Jika jadwal sidang tugas akhir kamu sudah rebutan dengan adik kelas, maka tunaikanlah kewajibanmu untuk segera lulus.

S E G E R A!

Jika kantin kampus sudah tidak menyediakan tempat untuk menyandarkan bokongmu, maka itu juga pertanda bahwa kamu harus segera L U L U S!

Mengamati tentang bertambahnya jumlah populasi mahasiswa baru yang berbanding lurus dengan naiknya jumlah kendaraan adalah kenikmatan tersendiri. Mungkin, tahun pertama kita kuliah tidak akan menemukan kemacetan, parkir sulit hingga tempat makan yang habis dilahap dedek-dedek gemesh.

Tahun pertama, kedua dan ketiga memberikan kita wawasan dan tak jarang membuat bangga dengan gelar yang sungguh-amat-sangat mbelgedhes sekali, agent of change. Gelar yang membuat kita bisa membusungkan dada dengan sok keren lan mbois tenan. Haiyah!

Hingga suatu saat, memori nostalgia akan segera muncul ke permukaan.
"Dulu, tahun 2011 jalan ini ndak macet ya"
"Wah, dulu burjo utara belum pindah ke selatan ya"
Ya, nostalgia yang bisa berubah jadi nostalgila jika kemudian meratapi nasib tak kunjung lulus jua. Meminjam lirik dari Koboy Kampus ciptaan dari The Panas Dalam, akan ada waktu bagi seorang mahasiswa lama untuk mendengar hal ini dalam pikirnya, "Lalu kapan saya akan diwisuda. Adik kelas sudah lebih dulu."

***

Entah apa yang dipikirkan oleh dedek-dedek gemesh yang sedari tadi memandangiku sembari mencetak KRS perdana miliknya. Sedangkan aku, masih berkutat menyusun lembar-lembar skripsi dan ... ya KRS juga sih.

Baca juga: Tentang Pecel yang Ingin Naik Kelas

Dalam hati yang terdalam, saya hanya bisa berbisik pelan dan berpesan cukup singkat:

"Dek, senyummu itu jangan dilama-lamain di kampus ini ya. Cukup 8 semester saja."


Solo, 6 September 2016

---
Artikel ini pertama kali dipublikasikan melalui akun saya di Katanium dengan judul Berkah Menjadi Mahasiswa Lama dan Amanah Dedek-dedek Emesh


Sosial media bagaikan dua sisi mata uang. Memberikan kemudahan atau bahkan sebaliknya, memberikan sisi lain yang justru sangat menyebalkan, viralitas artikel hoax.

Saya sering geli sendiri ketika membaca sebuah post yang bahkan dari judul saja sudah sangat tendensius dan bersemangat sekali untuk memojokkan pihak lain. Konyolnya, masih banyak sekali yang percaya akan berita hoax tersebut. Termasuk teman saya sendiri. Duh dek!

Penalaran logika yang sering tidak masuk akal hingga saya geleng-geleng kepala. Bahkan saya sampai menelusuri berbagai komentar yang nyempil di bagian bawahnya untuk mempelajari wabah ini. Ya dari Twitter, Facebook maupun Instagram.

Baca juga: Telegram, Terorisme dan Pro Kontra Pemblokiran, Salah Siapa?

Di kolom komentar tersebut banyak sekali kata-kata kutukan hingga berbagai panorama kebun binatang, bisa kita jumpai dengan mudah. Seru sekali. Kadang, saya kemingkelen ketika harus berjumpa dengan logical fallacy yang terjadi.

Ketika sebuah berita muncul dengan nada kontroversi, baik secara tersirat maupun tersurat, maka tinggal menunggu hitungan jam untuk menjadikannya viral. Sayangnya, kontroversi yang ada tidak disikapi secara skeptis oleh audiens (inilah cikal bakal viralitas). Parahnya, masih banyak yang justru membagikan status maupun twit tersebut tanpa berpikir terlebih dahulu.

Istilah hoax dimulai sejak abad ke-18 yang justru sering dipakai di era digital sekarang ini. Sekali lagi...

Lucu? Memang.

Viskositas internat yang cenderung rendah mampu membuat berita, artikel, opini maupun status-mantan-pacar-kamu bisa menyebar dengan sangat mudah. But, kecepatan menyebarnya artikel tersebut tidak dibarengi dengan kecepatan berpikir dan kemauan untuk melakukan verifikasi kebenarannya.

"Ya ngapain diverifikasi, tunggu sampai ada yang menyanggah aja lah ya, ngapain gue repot-repot"

Hahaha... sebuah pemikiran konyol memang. Sehingga, bimsalabim semua berita hoax akan laris manis layaknya kacang goreng. Pembuat berita pun merasa senang. Apalagi berita hoax yang berada menggunakan kepercayaan sebagai genre utama untuk ditabuh.

Lucu? Memang.

Manusia dibuat seolah-olah tidak memiliki otak. Sebentar, terlalu kasar jika menyebut mereka adalah manusia tak berotak. Lebih baik jika kita sebut dengan manusia yang mengalami degenerasi otak. Lebih halus, bukan?

How to deal with it?

Bahaya dari hoax adalah menurunnya fungsi otak. Ya karena organ tubuh yang jarang dipakai akan mengalami penurunan fungsi dan pada akhirnya tidak bisa dipakai lagi. Mengerikan? Enggak ah, biasa saja kok.

Otak kita akan semakin mengkerut apabila jarang digunakan. Tapi, jika kita menggunakannya untuk hal-hal yang lebih baik seperti melakukan verifikasi berita dan tidak hanya bersumber dari satu channel saja, niscaya otak kita semakin terasah.

Baca juga: Ketika Media Sosial Melahirkan Penulis Handal
Pun dengan memiliki tendensi negatif akan sebuah portal berita bukan merupakan solusi. Contohnya? Beberapa orang menganggap bahwa KompusTV, BIBICI, SI EN EN dan MitrovTV adalah antek aseng yang tak pantas dipercaya.

Well, tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Menjadi judgemental dan menilai hanya dari luarnya saja. Lebih baik bersikap objektif untuk menghadapi portal-portal yang notabene hanya bermodalkan blogspot dan pengalihan domain menjadi .com seperti jungjawa.com ini. Hayoloh...!

Hanya dengan dana sebesar 200 ribu saja portal hoax bisa dengan mudah dibuat. Sedikit template untuk mempercantik tampilan dan pemilihan nama domain yang 'terlihat' dapat dipercaya, maka hoax akan dengan mudah disebarkan. Audiens tidak mungkin memeriksa whois, registrar dan hal lainnya. Mereka tidak mungkin sepintar itu.

Baca juga: Yaudah Baca Buku Aja Dulu

Kenapa? Karena (sekali lagi) mereka adalah orang-orang yang mengalami (tadi kita sudah sebut dengan) degenerasi otak.

What should we do?

Berusaha menjadi pintar adalah pilihan bijak. Well, bukan hanya berusaha hingga sok-sokan menjadi keminter yang keblinger. Bukan, bukan itu maksud saya.

Menjadi pintar adalah pilihan ketika bodoh adalah keharusan karena kondisi diri yang masih belum sadar. Belajar untuk tidak terlihat keminter itu sulit loh guys.

Bijaklah menggunakan jempol digital milikmu!
Cara paling cepat untuk mengatasi berita hoax adalah berhenti melakukan klik terhadap portal-portal berita tendenius disertai judul yang kontroversi-yang-ternyata-situsnya-banyak-iklannya.

Akhir kata, izinkan saya untuk mengutip TED Talk dari Sally Khon yang berjudul Don't like clickbait? Don't click:

"Don't engage with news that looks like it just wants to make you mad. Instead, give your precious clicks to the news sites you truly trust." — Sally Kohn

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2017