Terkadang, menjadi mahasiswa semester akhir kok ya membawa berkah tersendiri. Loh, bukan mahasiswa akhir yang biasa-biasa saja ya. Emang kayak situ, baru semester tujuh, lagi nggarap skripsi terus koar-koar di media sosial.

"AKU KAPAN LULUSNYA???"

Hambok ya jangan manja amat. Baru saja semester tujuh sudah merasa menjadi mahasiswa paling sengsara dalam menempuh lamanya masa studi. Tidak pantas kalian menyandang gelar mahasiswa abadi! Cih!

Baca juga: Muda, Beda dan Berkarya

Sesungguhnya, kalian yang masih mengulang Kartu Rencana Studi (KRS) sebanyak tujuh kali alias 3,5 tahun itu masih termasuk usia yang relatif muda dalam menempuh masa studi. Kalo ndak percaya, lihat saja KRS mahasiswa fakultas sebelah. Kalo dilihat dari raut wajahnya sudah tergaris angka dua digit yang mencerminkan jumlah semesternya.

Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang masa studi. Sebab, apalah arti masa studi jika lamanya studi tidak dibarengi oleh pemahaman studi yang baik. Lha wong yang studinya lama aja ndak lekas paham, apalagi yang masa studinya cuman mak crit mak plekenthur. Nggih mboten?
Menjadi mahasiswa yang sudah bertahun-tahun menghabiskan waktunya untuk mengamati pergerakan kampus adalah nikmat tersendiri. Memerhatikan bagaimana dinamisme birokrasi, pembangunan sarana dan prasarana, serta mengamati bagaimana pertumbuhan dedek-dedek gemesh yang kok ya kalo ngampus ndak ada bedanya sama nge-mall. Duh dek paringono aku iman sing kuat.

Lahan parkir kampus adalah saksi bisu tentang masa studi bagi mahasiswa semester akhir dan semester lama. Jika kamu sudah kesulitan untuk menemukan lahan parkir yang kosong, sudah pasti, kamu adalah mahasiswa semester akhir. Jika jadwal sidang tugas akhir kamu sudah rebutan dengan adik kelas, maka tunaikanlah kewajibanmu untuk segera lulus.

S E G E R A!

Jika kantin kampus sudah tidak menyediakan tempat untuk menyandarkan bokongmu, maka itu juga pertanda bahwa kamu harus segera L U L U S!

Mengamati tentang bertambahnya jumlah populasi mahasiswa baru yang berbanding lurus dengan naiknya jumlah kendaraan adalah kenikmatan tersendiri. Mungkin, tahun pertama kita kuliah tidak akan menemukan kemacetan, parkir sulit hingga tempat makan yang habis dilahap dedek-dedek gemesh.

Tahun pertama, kedua dan ketiga memberikan kita wawasan dan tak jarang membuat bangga dengan gelar yang sungguh-amat-sangat mbelgedhes sekali, agent of change. Gelar yang membuat kita bisa membusungkan dada dengan sok keren lan mbois tenan. Haiyah!

Hingga suatu saat, memori nostalgia akan segera muncul ke permukaan.
"Dulu, tahun 2011 jalan ini ndak macet ya"
"Wah, dulu burjo utara belum pindah ke selatan ya"
Ya, nostalgia yang bisa berubah jadi nostalgila jika kemudian meratapi nasib tak kunjung lulus jua. Meminjam lirik dari Koboy Kampus ciptaan dari The Panas Dalam, akan ada waktu bagi seorang mahasiswa lama untuk mendengar hal ini dalam pikirnya, "Lalu kapan saya akan diwisuda. Adik kelas sudah lebih dulu."

***

Entah apa yang dipikirkan oleh dedek-dedek gemesh yang sedari tadi memandangiku sembari mencetak KRS perdana miliknya. Sedangkan aku, masih berkutat menyusun lembar-lembar skripsi dan ... ya KRS juga sih.

Baca juga: Tentang Pecel yang Ingin Naik Kelas

Dalam hati yang terdalam, saya hanya bisa berbisik pelan dan berpesan cukup singkat:

"Dek, senyummu itu jangan dilama-lamain di kampus ini ya. Cukup 8 semester saja."


Solo, 6 September 2016

---
Artikel ini pertama kali dipublikasikan melalui akun saya di Katanium dengan judul Berkah Menjadi Mahasiswa Lama dan Amanah Dedek-dedek Emesh


Sosial media bagaikan dua sisi mata uang. Memberikan kemudahan atau bahkan sebaliknya, memberikan sisi lain yang justru sangat menyebalkan, viralitas artikel hoax.

Saya sering geli sendiri ketika membaca sebuah post yang bahkan dari judul saja sudah sangat tendensius dan bersemangat sekali untuk memojokkan pihak lain. Konyolnya, masih banyak sekali yang percaya akan berita hoax tersebut. Termasuk teman saya sendiri. Duh dek!

Penalaran logika yang sering tidak masuk akal hingga saya geleng-geleng kepala. Bahkan saya sampai menelusuri berbagai komentar yang nyempil di bagian bawahnya untuk mempelajari wabah ini. Ya dari Twitter, Facebook maupun Instagram.

Baca juga: Telegram, Terorisme dan Pro Kontra Pemblokiran, Salah Siapa?

Di kolom komentar tersebut banyak sekali kata-kata kutukan hingga berbagai panorama kebun binatang, bisa kita jumpai dengan mudah. Seru sekali. Kadang, saya kemingkelen ketika harus berjumpa dengan logical fallacy yang terjadi.

Ketika sebuah berita muncul dengan nada kontroversi, baik secara tersirat maupun tersurat, maka tinggal menunggu hitungan jam untuk menjadikannya viral. Sayangnya, kontroversi yang ada tidak disikapi secara skeptis oleh audiens (inilah cikal bakal viralitas). Parahnya, masih banyak yang justru membagikan status maupun twit tersebut tanpa berpikir terlebih dahulu.

Istilah hoax dimulai sejak abad ke-18 yang justru sering dipakai di era digital sekarang ini. Sekali lagi...

Lucu? Memang.

Viskositas internat yang cenderung rendah mampu membuat berita, artikel, opini maupun status-mantan-pacar-kamu bisa menyebar dengan sangat mudah. But, kecepatan menyebarnya artikel tersebut tidak dibarengi dengan kecepatan berpikir dan kemauan untuk melakukan verifikasi kebenarannya.

"Ya ngapain diverifikasi, tunggu sampai ada yang menyanggah aja lah ya, ngapain gue repot-repot"

Hahaha... sebuah pemikiran konyol memang. Sehingga, bimsalabim semua berita hoax akan laris manis layaknya kacang goreng. Pembuat berita pun merasa senang. Apalagi berita hoax yang berada menggunakan kepercayaan sebagai genre utama untuk ditabuh.

Lucu? Memang.

Manusia dibuat seolah-olah tidak memiliki otak. Sebentar, terlalu kasar jika menyebut mereka adalah manusia tak berotak. Lebih baik jika kita sebut dengan manusia yang mengalami degenerasi otak. Lebih halus, bukan?

How to deal with it?

Bahaya dari hoax adalah menurunnya fungsi otak. Ya karena organ tubuh yang jarang dipakai akan mengalami penurunan fungsi dan pada akhirnya tidak bisa dipakai lagi. Mengerikan? Enggak ah, biasa saja kok.

Otak kita akan semakin mengkerut apabila jarang digunakan. Tapi, jika kita menggunakannya untuk hal-hal yang lebih baik seperti melakukan verifikasi berita dan tidak hanya bersumber dari satu channel saja, niscaya otak kita semakin terasah.

Baca juga: Ketika Media Sosial Melahirkan Penulis Handal
Pun dengan memiliki tendensi negatif akan sebuah portal berita bukan merupakan solusi. Contohnya? Beberapa orang menganggap bahwa KompusTV, BIBICI, SI EN EN dan MitrovTV adalah antek aseng yang tak pantas dipercaya.

Well, tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Menjadi judgemental dan menilai hanya dari luarnya saja. Lebih baik bersikap objektif untuk menghadapi portal-portal yang notabene hanya bermodalkan blogspot dan pengalihan domain menjadi .com seperti jungjawa.com ini. Hayoloh...!

Hanya dengan dana sebesar 200 ribu saja portal hoax bisa dengan mudah dibuat. Sedikit template untuk mempercantik tampilan dan pemilihan nama domain yang 'terlihat' dapat dipercaya, maka hoax akan dengan mudah disebarkan. Audiens tidak mungkin memeriksa whois, registrar dan hal lainnya. Mereka tidak mungkin sepintar itu.

Baca juga: Yaudah Baca Buku Aja Dulu

Kenapa? Karena (sekali lagi) mereka adalah orang-orang yang mengalami (tadi kita sudah sebut dengan) degenerasi otak.

What should we do?

Berusaha menjadi pintar adalah pilihan bijak. Well, bukan hanya berusaha hingga sok-sokan menjadi keminter yang keblinger. Bukan, bukan itu maksud saya.

Menjadi pintar adalah pilihan ketika bodoh adalah keharusan karena kondisi diri yang masih belum sadar. Belajar untuk tidak terlihat keminter itu sulit loh guys.

Bijaklah menggunakan jempol digital milikmu!
Cara paling cepat untuk mengatasi berita hoax adalah berhenti melakukan klik terhadap portal-portal berita tendenius disertai judul yang kontroversi-yang-ternyata-situsnya-banyak-iklannya.

Akhir kata, izinkan saya untuk mengutip TED Talk dari Sally Khon yang berjudul Don't like clickbait? Don't click:

"Don't engage with news that looks like it just wants to make you mad. Instead, give your precious clicks to the news sites you truly trust." — Sally Kohn





"Those who not work, shall not eat"
Saya memiliki frekuensi yang cukup tinggi untuk membeli makanan di luar atau sebut saja dengan jajan. Ya, enak sekali.

Bahkan, saya memiliki beberapa warung langganan yang kebetulan entah bagaimana caranya, saya juga suka dengan cita rasa masakan dan tentu saja yang paling penting, harganya.

Mudah saja bagi saya untuk akrab dengan beberapa penjual makanan. Mulai dari teteh-teteh Burjo dan kantin sego pecel di sekitar UNS hingga mas-mas warteg di sekitaran Cawang. Bahkan hingga penjual nasi goreng asal Tegal dengan rasa yang maknyus di Senipah, Balikpapan.

Atau kadang kala, mengisi kekosongan waktu dengan nongkrong di Pesta Buntel bersama penguasa Karesidenan Surakarta, Den Bagus Ilham di Pesta Buntel.

Seringnya intensitas saya jajan tentu menambah frekuensi ngobrol saya dengan penjualnya. Ya, sekadar basa-basi hingga belajar banyak sekali ilmu untuk hidup.

Apa yang bisa saya pelajari dari mereka adalah bekerja (melakukan sebuah pekerjaan yang menghasilkan) apa saja untuk hidup dan hidup untuk memaknai pekerjaan itu sendiri.

Baca juga: Tentang Passion dan Impian yang Lo Kejar

Ya, jual nasi goreng, jualan warteg, jualan sepatu di PGC Cililitan, berdagang sembako dan lain sebagainya. Well, ya kerja apapun asal halal, tidak mengganggu orang lain dan bisa mendapatkan keuntungan.

Lah, ya iya dong, masak kerja nggak untung.

Pasar Bisa Diciptakan Begitu Pun Lapangan Pekerjaan

Menarik sekali memang mendengar cerita para penjual yang saya jumpai. Tapi ada satu hal yang mereka tanamkan cukup dalam.

Bekerja jauh dari rumah untuk meninggalkan zona nyaman dan mendapatkan pendapatan untuk kehidupan yang lebih baik. Dari Tegal terbang jauh ke Balikpapan untuk berjualan nasi goreng. Pergi jauh dari Klaten ke Jakarta untuk berdagang pakaian dan lain sebagainya.

Mereka yang pergi merantau menciptakan pasar. Menjual nasi goreng pun begitu, tidak serta merta memiliki kios untuk berjualan. Dimulai dari emperan toko dan kemudian bisa menyewa tempat.

Pasar bisa menerima. Pasar bisa diciptakan sesuai dengan produk yang kita jual. Terutama untuk kebutuhan pokok, ya jual apa saja. Kerja apa saja. Yang penting bisa makan. Nggak perlu gengsi kerja apa. Toh gengsi nggak bisa memberi kita sesuap nasi untuk esok hari.

Oke mz, kwietiaw goreng versi lompat tali satu ya, pedes!


Tempo hari, Twitter ramai memperbincangkan sebuah twit yang konon dicuitkan oleh seorang selebtwit yang agar lebih mudah bisa kita sebut saja sebagai Paijo.

Paijo berpendapat bahwa orang bekerja sejak pagi dan selama satu hari penuh hingga lembur berjam-jam dan pulang hingga larut malam. Sedangkan upah yang ia dapatkan hanya sekadar lewat saja itu merupakan tindakan untuk mengerjai diri sendiri.

Saya pikir, Paijo masih belum mengerti bahwa pekerjaan bukan hanya perkara gaji. Pekerjaan, pendapatan hingga hiruk pikuk dapur agar mengepul tidak segampang menyebutkan bahwa kita bekerja apa dikerjain.

Kerja Apa Dikerjain? 

Bekerja bukan hanya perihal uang. Kadang saya lebih memilih untuk menjadi bodoh. Sehingga kebodohan, bisa saya pelihara untuk masa depan yang lebih baik.

Masalah pekerjaan tidak semudah terima gaji diawal bulan dan sesulit menumpuk piutang diakhir bulan. Life is unfair.

Terkadang, ada orang yang leha-leha untuk pekerjaannya dan dibayar mahal untuk itu. See? Terlihat gampang sehingga kadang kala sifat asli keluar. Mudah saja untuk menjustifikasi bahwa mereka yang bekerja terlalu keras untuk pekerjaan, sedang dikerjai oleh pekerjaannya sendiri.

Baca juga: Kalau Semua Orang Jadi Entrepreneur, Siapa yang Jadi Pegawai? Atau Sebaliknya?

Kalau dipikir lagi, "kamu siapa?". Memberikan label pada orang lain padahal tidak ada kaitannya dengan orang yang bekerja keras untuk membuat dapur mengepul.
Meminjam kata-kata bahwa keadilan adalah istilah utopis yang tidak mungkin dapat dicapai tatkala kita tidak mampu bersikap adil untuk diri sendiri. Hidup macam apa yang adil?

Apa yang lebih menyebalkan daripada beban pekerjaan? Tidak ada pekerjaan untuk dikerjaan. Apa sih enaknya pengangguran?

Dari hal itu saya sedikit memberikan kesimpulan. Hidup kita tentang pekerjaan, ya berujung untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Makan. Kalau kita masih mengeluh untuk memenuhi kebutuhan makan (atau bahkan "mengeluhkan" hidup orang lain-yang-nggak-ada-hubungannya) ya boleh dibilang konyol.

Kerja apa saja ya asal bisa makan. Kalau dirasa berat, ada baiknya perlu sedikit introspeksi bahwa mungkin saja hidup itu nggak sulit, kita yang terlalu lemah.

***

Versi asli artikel ini pertama kali dipublikasikan melalui akun saya di Medium dengan judul Kerja Apa Saja Asal Bisa Makan

Artikel ini disponsori oleh Reservasi.com, penyedia layanan pemesanan tiket pesawat dan hotel di Indonesia


Sudah lama sekali saya tidak naik gunung. Terakhir kali mendaki Gunung Slamet pada bulan September tahun 2015. Almost 2 years without watching sunset and sunrise on the top!

Bagi saya, mendaki gunung adalah salah satu cara untuk menghabiskan waktu liburan yang menyenangkan, seru, menantang, sekaligus melelahkan.

Perjalanan mendaki tak hanya berujung pada membelah belantara saja. Lebih dari itu.

Banyak sekali orang yang akhirnya ketagihan untuk mendaki gunung-gunung lainnya setelah melakukan pendakian pertama mereka. Sebab, gunung tidak hanya menawarkan panorama keindahan alam saja. Namun, berbagai tempat yang tak biasa kita temui ketika berada di bawah.

Gunung pun tidak hanya berkutat dipersoalan seberapa tinggi yang pernah kita daki atau seberapa banyak yang pernah kita taklukan. Singkat cerita, pendakian menawarkan panorama, drama dan motivasi dalam satu rangkaian perjalanan.

Entah benar atau tidak, masih banyak orang yang enggan untuk mendaki gunung. Apalagi mereka yang memiliki fisik yang cukup kuat, entah karena takut atau tidak memiliki waktu yang cukup banyak untuk melakukan pendakian.

Kalau kamu termasuk orang yang takut untuk mendaki gunung, saya memiliki beberapa kisah bocah kecil yang pernah mendaki. Ya, mungkin saja bisa memotivasimu untuk segera mengangkat tas carrier, jaket tebal, sleeping bag dan memulai langkah untuk pendakian pertama!

Max

Anak dari dari seorang dokter hewan asal Bali bernama Drh. Nyoman Sakyarsih ini sudah merasakan betapa indahnya pemandangan di samudra awan sejak usianya masih hitungan bulan. Sampai usianya sekitar 4,5 tahun, Max sudah mendaki lebih dari 25 gunung yang ada di Indonesia. Awesome!

Padahal, saya baru melakukan pendakian ketika umur sudah dua digit. Sedangkan Max, terpaut hampir 20 tahun dengan saya. Sungguh motivasi dan keinginan keras dari Max boleh dibilang tidak main-main.

Bahkan, Max sudah pernah sampai ke puncak tertinggi di Indonesia yang ada di Rinjani (3726 mdpl) saat usianya masih satu setengah tahun. Katanya, bocah ini juga pernah mendaki salah satu gunung di Nepal.

Max digendong bersama ibunya via wowcek.blogspot.com
Eits, tunggu dulu, jangan kamu pikir kalau Max mendaki gunung sendirian. Hal itu jelas tidak mungkin karena Max masih belum bisa berjalan saat melakukan pendakian pertamanya.

Bocah satu ini mendaki gunung dengan cara digendong oleh ibunya, Sakyarsih. Meskipun begitu, tetap saja anak kecil ini sudah mengalahkan orang dewasa yang belum pernah mendaki gunung.

Kegiatan yang tergolong sangat nekat ini dilakukan Sakyarsih agar dia bisa mengenalkan sang anak kepada alam sejak dini. Namun, wanita yang akrab disapa Nyomie ini tidak pernah memaksa anaknya untuk sampai ke puncak gunung.

Jika situasinya tidak memungkinkan, Nyomie lebih memilih berhenti mendaki sebelum mencapai puncak. Ia juga selalu membawa perlengkapan bayi lengkap bersama beberapa porter yang membantunya.

Menurut pengakuan Nyomie, Max terlihat selalu menikmati setiap langkah yang mereka lalui selama mendaki gunung.

Khansa Syahlaa

Di usianya yang baru 10 tahun, putri dari Aulia Ibnu Sina ini sudah mendaki puncak-puncak tertinggi yang ada di Indonesia seperti gunung Kerinci, Rinjani, Semeru, Latimojong, sampai Binaiya.

Bahkan Sangking gemarnya mendaki gunung, gadis cilik yang satu ini lebih memilih mendaki Gunung Rinjani dan Binaiya sebagai hadiah lebaran daripada dibelikan baju baru oleh orang tuanya.

Kegemaran bocah ini dalam mendaki gunung sepertinya tumbuh ketika diajak mengikuti kegiatan camping oleh keluarganya saat usia 4 tahun.

Pendaki cilik Khansa Syahlaa dengan semangatnya mampu mendaki Rinjani via netz.id
Lalu di usia 7 tahun, keinginan Khansaa untuk mendaki gunung pun semakin mencapai puncaknya setelah melihat keindahan Semeru lewat film berjudul ‘5 CM’.

Orangtua Khansa sendiri tidak pernah menghalang-halangi keinginannya untuk mendaki gunung asalkan tidak mengganggu kegiatan sekolah dan gunung yang akan didaki sedang dalam kondisi baik untuk didaki.

Orangtua Khansa bahkan selalu mendukung dan memberikan motivasi jika diperjalanan Khansa terlihat kelelahan. Mereka juga bahkan ikut Khansa sampai ke puncak gunung.

Namun Khansa tidak mendaki gunung dengan sembarangan. Ia selalu mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan pendakian, misalnya dengan rutin olahraga agar tidak mudah lelah saat mendaki.

Sehingga, menurut orangtuanya, Khansa tidak pernah rewel, nangis, atau merengek minta pulang. Ia justru sangat menikmati setiap proses pendakian yang dilalui.

Arya Cahya Mulyana Sugianto

Seolah tidak mau kalah dari Khansa, bocah asal Pamekasan, Madura ini juga sudah mendaki 10 gunung saat usianya baru menginjak 5 tahun. Mendaki gunung seolah sudah ada dalam hati putra dari pria bernama Agus Sugianto ini.

Bahkan, ia pernah sembuh dari sakit panas hanya dengan dibelikan sebuah VCD berisi video pendakian gunung.

Arya aja sudah pernah ke Welirang, kamu kapan? via pulangkerja.com
Mendaki gunung pun seolah sudah menjadi fitrah dari keluarga ini karena ah Arya merupakan seorang pecinta alam. Sama seperti Max, Arya juga sudah mulai diajak mendaki gunung sejak usianya baru menginjak usia beberapa bulan dengan cara digendong.

Baru pada usia 5 tahun, Arya sudah mulai melakukan pendakian gunung yang sesungguhnya.

Gunung yang sudah Arya daki bersama ayahnya antara lain gunung Ciremai, Selamet, Sindoro, Wonotirto, Lawu, Rinjani, Agung, Welirang, Arjuno, dan Semeru.

***

Bagaimana? Hebat, bukan? Jadi jangan kalah sama mereka. Ayo buat rencana pendakianmu sekarang juga. Untuk pendakian pertama, kamu bisa coba pergi ke puncak gunung yang tingginya sekitar 2000 mdpl dengan jalur pendakian yang cukup mudah. Seperti Gunung Ungaran atau pun Gunung Prau.

Kalau ingin mendaki gunung yang letaknya jauh di luar pulau, kamu perlu membeli ticket pesawat online lebih awal sebelum harganya naik.
Contohnya kalau kamu berencana terbang dari Jakarta menuju Lombok untuk mendaki Rinjani. Maka, ada baiknya rencana perjalanan dan akomodasi sudah kamu susun sejak jauh hari.

Kamu juga bisa kunjungi situs tiket online Reservasi.com untuk mendapat promo tiket dengan penawaran harga terbaik. Siapa tahu, kamu bisa mendapatkan diskon yang ujung-ujungnya menghemat pengeluaran untuk pendakian. Siapa tau kan?

Angkat ransel mu sekarang juga kawan!
Artikel ini disponsori oleh Sewatama, perusahaan penyedia jasa penyewaan genset diesel untuk keperluan PLN dan swasta

Well, seperti yang saya bilang sebelumnya. Blog ini akan banyak membahas tentang engineering. Walaupun saya sudah membuat blog tentang engineering, nggak ada salahnya jika saya juga membahasnya di sini.

Toh juga biar banyak yang baca. Enggak ribet kok. Mudah saja.

Buat kalian yang mayoritas anak teknik pasti tau betul lah ya bagaimana energi listrik dihasilkan. Ya, dari sumber bahan bakar sampai mengalir ke gadget kalian dan salah satunya adalah gadget yang kalian pakai untuk membaca artikel ini.

Perlu kalian ketahui, untuk menghasilkan energi listrik, tentu saja jika di Indonesia dikelola oleh PLN, maka kalian wajib untuk mengenal power plant. Dalam Bahasa Indonesia, bisa kita sebut dengan pembangkit listrik.

Nah, pembangkit listrik atau power plant ini adalah fasilitas industri yang digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Ketika menghasilkan energi listrik tersebut, sebuah power plant memerlukan bantuan dari generator.

Skema generator pada sebuah power plant


Fungsi dari generator adalah mengubah energi yang berbeda menjadi listrik. Gampangnya, listrik adalah sumber energi sekunder yang berarti bahwa energi listrik dapat diperoleh dengan mengubah sumber energi lainnya. Contohnya batu bara, gas alam, nuklir, aliran air atau panas matahari.

Nah, power plant tadi adalah tempat di mana sumber energi tersebut diubah atau dikonversikan menjadi energi listrik. Umumnya, pembangkit listrik berada di luar area perkotaan. Karena membutuhkan lahan yang cukup luas dan mempertimbangkan faktor keselamatan juga.

PLTG Senipah 2 x 41MW
Berbicara tentang sumber energi, sebuah power plant bisa menggunakan sumber energi terbarukan maupun tidak terbarukan. Secara umum, power plant Indonesia dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu konvensional dan non konvensional:

Pembangkit listrik konvensional:
  • Pembangkit listrik bahan bakar fosil: Menghasilkan tenaga listrik dengan membakar bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam atau diesel.
  • Pembangkit listrik tenaga nuklir: Reaksi nuklir terkendali dipelihara untuk menghasilkan listrik
  • Pembangkit listrik tenaga air: Listrik diproduksi dengan membangun bendungan yang sesuai.

Pembangkit listrik non konvensional: 
  • Pembangkit tenaga angin: Energi kinetik angin digunakan untuk menciptakan tenaga.
  • Pembangkit listrik tenaga surya: Menghasilkan tenaga dengan mengumpulkan radiasi matahari.
  • Pembangkit listrik tenaga panas bumi: Menggunakan panas alami yang ditemukan di tingkat bumi yang dalam untuk menghasilkan listrik.
  • Pembangkit listrik biomassa: Bahan organik alami dibakar untuk menghasilkan listrik.

Pros and Cons

Setiap teknologi pembangkit listrik tentu saja punya kelebihan dan kekurangan. Misalnya saja ya, pembangkit listrik tenaga nuklir memiliki kelebihan untuk menyediakan sejumlah besar daya yang dapat diandalkan dengan tingkat emisi gas rumah kaca yang rendah. Seperti artikel saya yang sudah pernah saya tulis membahas tentang clean energy.

Selain yang sudah disebutkan di atas, ada lagi potensi power plant Indonesia yang tak kalah penting, seperti pembangkit listrik tenaga diesel yang mana diaplikasikan pada penggunaan generator set termasuk service genset pada pembangkit seperti yang disediakan oleh Sewatama untuk keperluan suplay pasokan listrik untuk beragam kebutuhan.

Sepertinya enggak cukup satu artikel saja untuk membahas jenis power plant yang ada di Indonesia. Mungkin, lain kali saya akan membahasnya satu per satu. Stay tune aja. Oh iya, kalau ada pertanyaan, silakan tulis di kolom komentar yak. Thanks for reading and have a nice day!
Empat tahun lalu, saya sedang membaca buku. Terbitan Bukune dengan judul "Kancut Keblenger: Digital Love". Beberapa penulis yang cukup populer berkesempatan menuliskan kisahnya di sana. Saya menulis sebuah artikel untuk buku tersebut. Kemudian waktu berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa sudah empat tahun lebih sejak saya menulis artikel tersebut.

Saya mulai membuat blog sejak SMP, sebuah blog yang sangat kekanak-kanakan yang dulu terlihat keren, tapi sekarang terlihat menggemaskan jika diingat kembali. Menulis untuk klub sepak bola kesayangan, AC Milan dan sang bintang, Ricardo Issacson Dos Santos Leite yang lebih mudah jika dipanggil dengan nama Kaka saja.

Waktu itu saya tidak memiliki orientasi yang jelas tentang dunia blogging. Bahkan, mengerti tentang aktivitas blogging pun tidak.

Hanya menulis saja. Entah ada yang mau membaca, membagikannya atau pun rutin mengunjunginya. Saya tidak peduli. Sungguh.

Hingga akhirnya saya mengenal Dzalika. Seorang wanita yang hingga sampai saat ini saya anggap sebagai kakak dalam dunia kepenulisan. Khususnya sebagai orang yang memperkenalkan saya di dunia blogging lebih dalam lagi.

Dari dirinya, ada banyak hal yang saya bisa pelajari. Tentang bagaimana menulis yang baik untuk pembaca dan diri sendiri. Hingga mempelajari EYD dan diksi yang digunakan dalam menyusun sebuah artikel.
Membawa kami mengikuti sebuah project kolaborasi sebuah majalah online, Notif Magz. Sungguh menyenangkan. Pun dengan Katanium pada akhirnya.

Banyak hal yang terjadi selama empat tahun terakhir. Mengenal Blogger dari berbagai daerah hingga sampai dengan ikut bergabung bersama komunitas blogger. Ya, Warung Blogger dan Blogger Solo.

Dan rasanya, saya cukup kecil di dunia blogging yang sungguh sangat luas ini. Mungkin saya tidak bisa travelling kemana-mana layaknya Bena, Fubuki Aida maupun Om Yosh.

Mungkin juga saya tidak bisa meracik bahan masakan dan bumbu-bumbu agar menarik dalam sebuah artikel seperti yang dilakukan oleh Mak Ranny atau Mak Etyabdoel.

Pun saya harus mengakui ada banyak yang harus saya pelajari dari sisi teknologi Web/Blog development seperti Pandu Tuxlin, Mas Slara atau Udafanz.

Selain itu, saya juga banyak belajar dari blogger dengan sudut kemiringan pemikiran hampir 180 derajat seperti Ilham Bachtiar.

Atau menulis dengan lugas dengan mengandalkan inner beauty laksana Zulfana Imama. Bahkan, saya haru mengakui kalau untuk masalah lucu-lucu, Landhiani dan anime adalah juaranya.

Pada awalnya saya sudah memiliki roadmap yang saya pelajari dan pernah saya bahas bersama Dzalika. Membawa jungjawa.com pada niche desain. Yup, siapa yang tidak merasa terbantu dengan desain? Imagine words without design.

Keren tho?

Namun, semakin ke sini saya sadar. My subjective opinion was dominated here. Sehingga saya menulis untuk segalanya. Ya ndisen, ya nulis ya bantu-bantu orang lain juga. Apa yang lebih mengasyikkan ketika bisa membantu orang lain?

Sehingga, saya menulis tidak hanya untuk diri sendiri saja, tapi juga untuk orang lain. Berharap dengan begitu saya mampu membantu mereka. Menulis tutorial, tips dan segalanya tentang blogging based on my experience.

Baca juga: Mengejar Passion, Coba Pikir Dulu

Membantu membuat desain, template blogspot dan berharap akan ada banyak orang yang bahagia dengan usaha saya. Dan saya bahagia dari bayaran yang mereka sisihkan untuk saya sebagai syukur atas istilah harga teman. Sungguh simbiosis mutualisme yang mengasyikkan.

Untuk fee? Saya ndak mau pasang tinggi. Bagi saya, blogging bukan perkara uang. Bukan perkara berapa banyak yang saya hasilkan dari job review atau content placement selama satu bulan. Atau, perkara berapa banyak lomba yang dimenangkan.

Toh itu semua tidak akan ada artinya kalau kita tidak berguna untuk membantu orang lain. Untuk apa kaya tapi hanya untuk diri sendiri? Segala-galanya butuh uang, tapi uang bukan segala-galanya.

Di blog ini, saya ingin menulis apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Tentang apa yang kalian pedulikan. Sebisa mungkin saya menuliskannya dengan baik sehingga bisa membantu apa yang sedang dicari.

Saya ingin menggunakan pengalaman saya–tentang blogging, desain dan sometimes maybe about search engine optimization–untuk membantu orang lain di luar sana. Mempermudah mereka yang ingin mempelajarinya dan menghadapi permasalahannya.

Saya tidak ingin membuatnya ribet dan terkesan susah. Email saya selalu terbuka untuk kamu yang mungkin saja ingin bertanya-tanya. Jangan sungkan untuk mengirimkannya di hello@jungjawa.com.

Bebas. Mau ngobrol tentang SEO, ngobrolin desain blog atau kita bisa diskusi ringan tentang Attack on Titan. Bebas.

Pun jika memungkinkan, saya juga akan menuliskannya di jungjawa.com. Dengan harapan akan lebih banyak orang yang terbantu atas permasalahan yang sama dari diskusi kita tadi.

Terima kasih sudah bersama saya hingga saat ini. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kalian yang meluangkan waktu membaca di blog ini, terutama artikel ini.

Thank you, as always, for reading.
Artikel ini disponsori oleh Kumparan, platform media kolaboratif Indonesia sebagai wadah membaca, membuat dan berbagi beragam berita dan informasi.
Beberapa hari ini saya sibuk mengikuti pemberitaan mengenai pemblokiran Telegram oleh pemerintah melalui Kumparan. Justru hal ini membuat saya teringat dengan salah satu artikel saya yang membahas tentang hacking sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan.

Hampir satu minggu ini, baik pemberitaan di televisi maupun aplikasi berita seperti Kumparan ramai membahas pemblokiran Telegram. Mulai dari yang menghujat, memaki-maki hingga bercanda atas usaha pemerintah untuk melakukan pemblokiran aplikasi dari Pavel Durov tersebut.

Duh, padahal mau kalian pro dan kontra terhadap usaha pemerintah melakukan pemblokiran Telegram, saya yakin pelaku terorisme akan terus mencari celah lain untuk bisa berkomunikasi.

Saya lebih memilih untuk tidak memilih. Tidak terjebak di pro atau kontra atas usaha pemerintah untuk melakukan pemblokiran terhadap Telegram. Apalagi sampai kepada aksi memblokir presiden. Saya cuman tidak ingin terpengaruh dan mempengaruhi orang lain dan memaksakan keyakinan.

Mari kita bicara pelan-pelan saja.

Telegram adalah sebuah aplikasi, saya adalah salah satu pengguna aktifnya. Fiturnya pun cukup lengkap, layaknya aplikasi tandingannya, Whatsapp.

Namun, dari berbagai fitur yang ada, enkripsi dan delete automatically adalah celah yang bisa dimanfaatkan oleh orang (yang bermaksud) jahat untuk melakukan aksinya. Seperti aksi terorisme misalnya.

Enkripsi konon menjadikan pesan yang dikirim menggunakan Telegram menjadi 'tidak terjangkau' oleh kuasa pemerintah. Buat kalian yang ngerti atau pernah nonton film Snowden atau The Imitation Game pasti sedikit ngerti tentang pemberitaan mengenai Telegram ini.

Tapi, jika hal itu dikesampingkan, akan ada banyak sekali manfaat dari aplikasi ini. Salah satunya adalah fitur channel yang berguna untuk mencari lowongan kerja namun lagi-lagi dimanfaatkan untuk aksi terorisme. Bedebah!

Terorisme selalu beraksi untuk menyebarkan teror. Menciptakan kondisi yang tidak aman dan bisa meruntuhkan kedaulatan sebuah negara. Sekeumpulan orang-orang dengan faham ekstrim untuk melakukan segala hal yang menurut mereka benar. Menghilangkan nyawa orang lain, itu tidak masalah selama itu sejalan dengan keyakinan. Sungguh biadap!

Aplikasi Telegram via bbc.com
Nah, Telegram sendiri adalah sebuah aplikasi yang bisa saya sebut sebagai aplikasi terbaik untuk berkomunikasi. Terutama masalah privasi yang ada. Kembali kepada fitur enkripsi dan cloud based yang ada di Telegram.

But, great power comes great responsibility. Kehadiran Telegram dengan fitur enkripsinya secara tidak langsung membuat pemerintah yang memerlukan tindak pengawasan dan pencegahan terorisme menjadi cukup sulit karena enkripsi.
Maka, solusi cepat dan tepat adalah melakukan pemblokiran yang secara tidak langsung membuat Durov juga terpaksa bertindak cepat dan merespon usaha pemerintah untuk melakukan pemblokiran Telegram.

Hasilnya? Durov mengatasi masalah ini dengan mengimplementasi tiga langkah untuk bisa mengembalikan akses Telegram di Indonesia.

Pemblokiran Channel

Channel Telegram menjadikan informasi bisa menyebar dengan cepat dan massal. Seperti sebuah group, namun dapat memiliki ribuan anggota.

"Kami sudah memblokir semua kanal publik terorisme yang sebelumnya dilaporkan Kemkominfo. Saya sudah mengirim email balik ke Kemkominfo untuk membangun komunikasi langsung, yang bisa membuat kami bekerja lebih efisien dalam mengidentifikasi dan memblokir propaganda teroris ke depannya," papar Durov.

Ya, satu-satunya jalan untuk menghancurkan channel adalah dengan turun tangannya pihak Telegram agar menanganinya.

Tim Moderator dalam Bahasa Indonesia

Selain itu, Telegram juga akan membuat sebuah tim moderator yang memiliki kemampuan bahasa Indonesia agar mempercepat proses penanganan konten terorisme.

Tapi, menurut saya ada sebuah celah lebar di sini. Pelaku terorisme tidak mungkin sebodoh itu menggunakan Bahasa Indonesia saja. Apalagi jika mereka memiliki anggota yang banyak, ada kemungkinan besar mereka menggunakan sandi dalam berkomunikasi. Seperti kode Enigma yang digunakan Nazi dalam Perang Dunia ke 2.

Bekerja Sama dengan Pemerintah

Durov menyatakan telah mengirim email ke Kementerian untuk membentuk saluran komunikasi langsung, yang memungkinkan tim Telegram bekerja lebih efisien dalam mengidentifikasi dan menghalangi propaganda terorisme.

"Telegram adalah aplikasi yang sangat terenkripsi dan pribadi, tapi kami bukanlah teman dari teroris. Faktanya, setiap bulan kami memblokir ribuan kanal publik ISIS dan mempublikasikan hasilnya di @isiswatch. Kami dengan gigih terus mencegah penyebaran propaganda terorisme secara efisien, dan selalu menerima ide untuk menjadi lebih baik dalam hal ini," lanjutnya.

"Pemblokiran itu kalau sudah meng-address permasalahannya, ada proses normalisasinya. Kita lihat saja dalam waktu dekat ini, kan harus ada komunikasi yang intens dengan mereka," ujar Semuel A. Pangerapan, Dirjen Aptika Kemkominfo, dalam pesan singkat kepada kumparan (kumparan.com), Minggu (16/7).

Pemblokiran layanan Telegram di Indonesia saat ini baru sebatas Domain Name System (DNS) sehingga hanya web saja yang tak bisa diakses, sementara aplikasinya masih bisa digunakan. Tidak menutup kemungkinan Telegram akan diblokir sepenuhnya jika tidak bisa memenuhi regulasi yang berlaku di Indonesia.

Telegram di blokir via vox.com
Tidak ada yang salah dalam isu pemblokiran Telegram. Satu-satunya yang perlu disalahkan adalah tindakan terorisme. Itu saja.

Pun kita sebagai netizen masa kini yang bisa mendapatkan informasi dari mana saja, gali terus menerus. Jangan mau mengikuti arus besar tanpa memeriksa beritanya terlebih dahulu.

Opini milik siapa? Kok mau-maunya disetir. Baca semua summber berita. Cari dari berbagai sumber. Atau, kalau kalian perlu banyak referensi, ada banyak sekali forum dan blog untuk mencari opini plus solusi atas masalah ini.

Pokoknya jangan mau saling menyalahkan. Bikin capek.

Usaha pemblokiran kok dibalas blokir. Ya kalau gitu sama aja dong. Seperti tidak mengedukasi masyarakat saja, pukul dibalas pukul. Apa kita sudah lelah?

Mungkin.


Kalian bisa mengikuti tentang isu pemblokiran Telegram ini di Kumparan.com

Good Ideas. Great Stories.

Feel free if you want to send an email to me and ask anything, or just to say hello!

hello@jungjawa.com

Copyright © jungjawa 2017